Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Tut.
Panggilan pun ditutup dari seberang sana.
Jiang Ming mematung menatap layar ponselnya yang kini menjadi gelap.
Dia melemparkan ponsel itu ke samping bantalnya dengan perasaan frustrasi.
'Tiga ribu yuan untuk Xiaolin dan lima ratus yuan untuk sewa... dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu?!' teriaknya dalam hati.
Jiang Ming mengusap wajahnya dengan kasar, merasa benar-benar putus asa.
Dia bukanlah orang hebat yang tiba-tiba mendapatkan warisan miliaran seperti dil novel, komik maupun drama ceo terkenal.
Dia juga bukan jenius yang bisa menciptakan penemuan luar biasa.
Dia benar-benar hanya seorang pemuda miskin biasa yang sedang terjebak di titik terendah dalam kesulitan hidup.
Karena perutnya mulai berbunyi minta diisi, Jiang Ming akhirnya bangkit dari kasurnya.
Dia memutuskan untuk berjalan ke luar mencari kedai mie termurah di sekitar lingkungannya.
Saat dia sedang duduk sendirian di sudut kedai mie pinggir jalan, sebuah suara memanggil namanya.
"Jiang Ming? Wah, benar ini kau, kawan lama!" seru seorang pria muda berpakaian rapi dari luar kedai.
Jiang Ming menoleh dan melihat wajah yang sangat familiar di masa sekolah menengah dulu.
"Wang Hao? Lama tidak bertemu denganmu," sapa Jiang Ming dengan senyum canggung.
Wang Hao yang memakai jas mahal langsung masuk dan duduk di depan Jiang Ming tanpa diundang.
"Kapan tepatnya kau keluar dari kamp militer? Kenapa tidak mengabariku sama sekali?" tanya Wang Hao sambil menepuk pundak Jiang Ming keras-keras.
"Baru hari ini aku keluar. Aku belum sempat menghubungi siapa-siapa karena sibuk mengurus barang," jawab Jiang Ming jujur.
"Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini! Bibi, tolong beri temanku ini porsi daging tambahan, biar aku yang bayar semuanya!" teriak Wang Hao kepada pemilik kedai yang sedang sibuk.
"Eh, tidak usah repot-repot begitu, Hao. Aku bisa bayar sendiri," tolak Jiang Ming merasa sangat tidak enak.
"Santai saja, kawan. Gaji dari perusahaanku bulan ini kebetulan sedang turun cukup besar, hahahaha!" Wang Hao tertawa lebar memamerkan kesuksesannya.
Jiang Ming hanya bisa tersenyum masam melihat tingkah temannya itu.
"Kau sekarang kerja di perusahaan mana?" tanya Jiang Ming sekadar berbasa-basi.
"Aku sudah diangkat jadi manajer proyek di Grup Teknologi Tianyu. Yah, gajinya lumayanlah untuk pemula, sekitar lima belas ribu yuan sebulan," jawab Wang Hao dengan nada merendah yang jelas-jelas dibuat-buat.
'Lima belas ribu yuan sebulan...' batin Jiang Ming sambil menelan ludah.
Jumlah itu terasa seperti angka fantastis yang mustahil digapai oleh Jiang Ming saat ini.
"Lalu, kau sendiri rencananya mau kerja apa setelah ini, Ming?" tanya Wang Hao sambil menyeruput teh hangatnya.
"Entahlah, Hao. Aku belum memikirkannya secara detail. Mungkin aku akan coba melamar jadi satpam gedung atau buruh pabrik di kawasan industri," jawab Jiang Ming apa adanya.
Wang Hao langsung menggelengkan kepalanya dengan pandangan penuh rasa kasihan.
"Sayang sekali. Berarti dua tahun di militer tidak memberimu sertifikat keahlian apa pun ya untuk dunia kerja?"
"Hanya keahlian fisik kasar dan kedisiplinan mental saja," jawab Jiang Ming singkat.
"Di zaman modern sekarang ini, otot saja tidak cukup untuk bertahan hidup, Ming. Kau butuh otak yang cerdas dan koneksi orang dalam," nasihat Wang Hao dengan gaya sok pintar.
Jiang Ming hanya mengangguk pelan, membenarkan perkataan menyakitkan temannya itu di dalam hati.
"Kalau kau memang sedang butuh uang, aku bisa coba memasukkanmu jadi petugas kebersihan di kantorku. Gajinya memang kecil sih, tapi setidaknya lumayan untuk biaya makan sehari-hari," tawar Wang Hao.
Meski kata-katanya terdengar seperti sebuah bantuan, Jiang Ming bisa menangkap nada meremehkan yang sangat jelas dari ucapan itu.
"Terima kasih banyak atas tawarannya, Hao. Tapi biar aku coba cari pekerjaan sendiri dulu saja," tolak Jiang Ming sehalus mungkin agar tidak memancing keributan.
"Terserah kau saja kalau begitu. Kalau nanti kau benar-benar putus asa dan butuh bantuan, jangan sungkan mencariku," ucap Wang Hao sambil berdiri dari kursi plastiknya.
Pria itu mengeluarkan dompet kulit mahalnya dan meletakkan selembar uang seratus yuan di atas meja basah itu.
"Ambil saja kembalian mienya, anggap saja ini sedekah dariku untuk teman yang sedang menganggur," canda Wang Hao sebelum berjalan pergi menuju mobil sedan mengkilapnya di seberang jalan.
Jiang Ming mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Dia tidak marah pada sikap arogan Wang Hao yang pamer kekayaan.
Dia murni marah pada dirinya sendiri karena begitu lemah dan tidak berguna sebagai seorang laki-laki.
Setelah menghabiskan mienya dengan perasaan hampa, Jiang Ming berjalan pulang menembus gelapnya malam.
Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat dia kembali merebahkan diri di atas kasur.
Di titik terendah dalam keputusasaannya inilah, sesuatu yang sangat aneh tiba-tiba muncul.
Ting!
Sebuah notifikasi berbunyi nyaring dari ponsel lamanya.
Jiang Ming mengambil ponsel itu dengan malas dan menatap layarnya.
'Paling juga pesan dari operator seluler yang menyuruhku mengisi pulsa bulanan,' keluhnya dalam hati.