Indonesia
NovelToon NovelToon
Love In The Crossfire

Love In The Crossfire

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan di parkiran rumah sakit

Kwila baru saja menyelesaikan shiftnya yang panjang malam itu, berjalan menuju parkiran rumah sakit yang mulai sepi mengingat waktu yang sudah menunjukkan hampir tengah malam. Dia merasakan kelelahan yang begitu mendalam setelah menangani beberapa pasien gawat darurat sepanjang malam tersebut, namun perasaan lega mulai muncul mengingat sebentar lagi dia akan sampai di rumah untuk beristirahat.

Ponselnya yang tergeletak di dalam tas kerja tersebut sebenarnya telah berdering beberapa kali, namun suara dering tersebut teredam oleh kesibukannya menangani pasien kritis yang baru saja stabil beberapa menit lalu, membuat dia sama sekali tidak menyadari panggilan-panggilan cemas yang telah dilakukan Dawin sebelumnya tersebut.

Ketika dia melangkah mendekati motor maticnya yang terparkir di sudut parkiran yang agak gelap tersebut, tiba-tiba sebuah tangan kekar membekap mulutnya dari belakang, sementara tangan lainnya menahan tubuhnya agar tidak bisa memberontak.

"Diem, atau lo bakal nyesel," bisik suara berat di telinganya, membuat Kwila membeku ketakutan, mencoba berontak namun cengkeraman tersebut terlalu kuat untuk dia lawan sendirian. Dua orang pria lain segera mendekat, salah satunya membawa selembar kain yang langsung dibekapkan ke hidungnya, membuat kesadaran Kwila perlahan mulai memudar akibat bahan kimia yang meresap melalui kain tersebut.

Piku, yang berdiri mengawasi dari kejauhan, tersenyum puas menyaksikan rencananya berjalan sesuai harapan. "Cepetan, masukin ke van sebelum ada yang liat," perintahnya kepada anak buahnya yang segera menyeret tubuh Kwila yang mulai lemas tersebut menuju mobil van yang telah mereka siapkan sebelumnya.

Tepat pada saat itu, mobil Dawin memasuki area parkiran rumah sakit tersebut dengan kecepatan tinggi, ban berdecit keras ketika dia mengerem mendadak menyaksikan kerumunan mencurigakan di sudut parkiran yang gelap tersebut. Insting militernya langsung mengenali situasi tersebut sebagai upaya penculikan, membuat dia segera melompat keluar dari mobilnya tanpa mematikan mesin terlebih dahulu.

"LEPASIN DIA!" teriak Dawin dengan suara yang menggelegar, berlari cepat menuju lokasi kejadian tersebut, adrenalin yang telah lama terlatih melalui berbagai misi berbahaya langsung mengambil alih seluruh gerakannya.

Piku, yang terkejut mendengar suara tersebut, langsung mengenali sosok Dawin yang berlari mendekat dengan kecepatan yang begitu mengejutkan. "Cepetan bawa dia kabur! Saya yang tahan tentara itu!" perintahnya kepada anak buahnya, sementara dia sendiri bersiap menghadapi Dawin yang telah menjadi musuh bebuyutannya tersebut.

Dawin, yang menyaksikan tubuh Kwila yang sudah tidak sadarkan diri diseret menuju mobil van tersebut, merasakan kemarahan yang begitu meluap, namun tetap berusaha menjaga fokus dan ketenangan yang telah lama dia latih selama bertahun-tahun bertugas sebagai anggota pasukan khusus elite tersebut.

Piku melancarkan serangan pertama, namun dengan mudah dielakkan Dawin yang segera membalas dengan pukulan telak ke rahang pria tersebut, membuat Piku terhuyung mundur sambil merasakan rasa sakit yang begitu hebat. "Kali ini saya nggak akan kasih ampun buat lo," ujar Dawin dengan nada dingin, matanya menyala penuh amarah menyaksikan upaya penculikan terhadap wanita yang telah mencuri hatinya tersebut.

Sementara pertarungan tersebut berlangsung, dua anak buah Piku lainnya berusaha memasukkan tubuh Kwila ke dalam mobil van, namun gerakan mereka terhambat oleh kepanikan yang mulai muncul menyaksikan betapa mudahnya bos mereka dikalahkan oleh lawan yang begitu tangguh tersebut.

Dawin, setelah berhasil melumpuhkan Piku dengan beberapa pukulan dan tendangan yang begitu presisi, segera berbalik menuju mobil van tersebut, menghadapi dua anak buah yang masih mencoba menahan tubuh Kwila yang tidak berdaya tersebut. Dengan gerakan cepat dan efisien, dia berhasil melumpuhkan kedua pria tersebut hanya dalam hitungan detik, menggunakan teknik bela diri militer yang telah dia kuasai dengan begitu sempurna.

"Kwila!" seru Dawin panik, segera menghampiri tubuh Kwila yang tergeletak lemas di dekat mobil van tersebut, memeriksa denyut nadinya dengan tangan yang sedikit gemetar akibat kekhawatiran yang begitu besar.

Merasakan denyut nadi yang masih berdetak meski lemah, Dawin merasakan sedikit kelegaan, menyadari bahwa Kwila hanya pingsan akibat bahan kimia yang digunakan penculik tersebut, bukan mengalami cedera fatal. Dia segera menggendong tubuh Kwila dengan hati-hati, membawanya kembali ke dalam gedung rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis segera.

Sementara itu, Piku yang masih meringis kesakitan akibat pukulan Dawin, bersama kedua anak buahnya yang mulai sadar kembali, memutuskan untuk melarikan diri secepatnya sebelum keamanan rumah sakit atau pihak berwajib tiba di lokasi tersebut, menyadari bahwa rencana mereka kali ini gagal total menghadapi kemampuan luar biasa yang ditunjukkan Dawin tersebut.

"Awas lo, tentara sialan! Ini belum selesai!" teriak Piku sebelum akhirnya melarikan diri bersama kedua anak buahnya tersebut, menghilang di kegelapan malam yang menyelimuti area parkiran rumah sakit tersebut, meninggalkan Dawin yang masih fokus penuh menangani kondisi Kwila yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Beberapa menit kemudian, tim medis rumah sakit tersebut berhasil menstabilkan kondisi Kwila, memastikan bahwa efek bahan kimia yang digunakan penculik tersebut tidak menimbulkan dampak jangka panjang yang berbahaya bagi kesehatannya. Dawin duduk di samping ranjang tersebut, menggenggam tangan Kwila dengan penuh kekhawatiran, menunggu gadis tersebut siuman dari pingsannya tersebut.

Beberapa jam kemudian, Kwila mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran, membuka matanya perlahan dan mendapati Dawin duduk di sampingnya dengan raut wajah yang menunjukkan kelelahan sekaligus kelegaan yang begitu besar. "Mas... Dawin? Apa yang terjadi?"

"Kamu diculik, Kwila, tapi untung saya berhasil sampe tepat waktu buat nyelametin kamu," jelas Dawin dengan suara yang masih menunjukkan sisa kekhawatiran, menceritakan kronologi kejadian tersebut secara singkat kepada Kwila yang masih terlihat bingung akibat efek bahan kimia yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya tersebut.

Mendengar penjelasan tersebut, Kwila merasakan ketakutan yang begitu besar, namun juga rasa syukur yang mendalam menyadari bahwa Dawin telah menyelamatkan nyawanya tersebut tepat pada waktunya. "Terima kasih, Mas. Kalau nggak ada kamu, entah apa yang bakal terjadi sama saya."

"Saya janji, saya nggak akan biarin siapa pun nyakitin kamu lagi, Kwila. Mulai sekarang, saya bakal pastiin keamanan kamu jauh lebih ketat," ujar Dawin dengan penuh ketegasan, mengungkapkan tekad yang semakin kuat untuk melindungi wanita yang telah menjadi bagian begitu penting dalam hidupnya tersebut.

Kejadian penculikan yang gagal tersebut, meski berhasil digagalkan berkat keberanian dan kemampuan luar biasa Dawin, menandai eskalasi besar dalam konflik antara keluarga Lidar dengan organisasi BlackSystem tersebut, sebuah eskalasi yang akan segera memaksa Kapten Endrik untuk mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap organisasi kriminal tersebut, sekaligus menandai berakhirnya babak awal perjalanan cinta dan perjuangan Dawin dan Kwila, membuka jalan bagi babak baru yang jauh lebih menegangkan dan penuh bahaya yang masih menanti mereka di depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!