Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garisan Pensil Dan Rahasia Dibalik Kanvas
Tugas kesenian membuat waktu istirahat dan jam kosong di kelas 7-B tidak lagi sama. Sudut-sudut sekolah menengah yang biasanya terabaikan kini dipenuhi oleh murid-murid yang membawa papan jalan dan pensil gambar. Ada yang berjongkok di dekat tiang bendera, ada yang duduk di undakan tangga, semua sibuk memindahkan sudut bangunan sekolah ke atas selembar kertas putih besar.Termasuk Auren dan Evan.Siang itu, setelah jam pelajaran bahasa Inggris kosong, Evan langsung menoleh ke arah Auren. Tanpa berkata apa-apa, cowok itu mengetuk meja dua kali, lalu mengangkat kotak pensil sketching-nya dengan senyuman tipis. Auren yang langsung paham segera mengambil papan gambarnya, lalu mereka berjalan bersama mencari tempat yang tenang.Mereka akhirnya memilih sudut koridor lantai dua yang menghadap langsung ke arah lapangan basket dan pohon-pohon peneduh di bawahnya. Tempat itu cukup sepi, jauh dari hiruk-pikuk anak-anak lain.Evan duduk bersila di lantai koridor, menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang terasa agak adem. Ia meletakkan kertas gambar di atas pangkuannya. Sementara Auren duduk agak berjarak di sebelahnya, mulai mengamati siluet tiang ring basket di bawah sana yang akan menjadi objek utama sketsa mereka."Ren, lo yang bikin garis besarnya dulu atau gue yang bikin arsiran bayangannya?" tanya Evan, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar santai, berbaur dengan deru angin siang yang berembus pelan."Kamu aja yang bikin garis besarnya, Van. Aku agak kurang rapi kalau bikin proporsi bangunan," jawab Auren jujur.Evan terkekeh pelan. "Oke, siap Sekretaris."Jari-jari Evan mulai bergerak dengan lihai. Goresan pensil 2B miliknya tampak sangat mantap di atas kertas putih. Auren tertegun sejenak, memperhatikan bagaimana fokusnya mata cowok itu saat menggambar. Di balik sifat santainya sebagai Ketua Kelas yang sering bercanda, Evan ternyata bisa terlihat seserius ini jika sedang memegang pensil gambar.Saat Evan sedang asyik menarik garis linear untuk atap gedung sekolah, Auren melihat ada sesuatu yang mengganjal di sudut bawah kertas. Di sana, ada coretan kecil berbentuk siluet seorang gadis berambut kuncir kuda yang sedang duduk di bangku kelas—sangat mirip dengan posisi duduk Auren setiap hari. Coretan itu tampak sengaja disamarkan di balik arsiran tebal.Jantung Auren memberikan letupan kecil yang tak beraturan. "Van... ini gambar siapa?" tanya Auren pelan sambil menunjuk coretan rahasia di sudut kertas tersebut.Evan menghentikan gerakan pensilnya sejenak. Ia melirik ke arah yang ditunjuk Auren, lalu buru-buru membalikkan posisi pensilnya untuk menggunakan penghapus. Namun, sebelum karet penghapus itu menyentuh kertas, sebuah bayangan tiba-tiba runtuh menutupi cahaya matahari di atas mereka."Wah, kompak banget ya Ketua Kelas sama Sekretaris kita."Suara yang santun namun bernada dingin itu seketika membuat gerakan tangan Evan terhenti. Auren mendongak, dan di sana sudah berdiri Balisya. Jilbab putihnya yang tegak tanpa cela tampak kontras dengan sorot matanya yang menyipit tajam, menatap lurus ke arah kertas gambar di pangkuan Evan, tepat ke arah rahasia kecil yang baru saja disadari oleh Auren.
Sebelum Balisya sempat melangkah lebih dekat untuk menyelidiki coretan di sudut kertas itu, Evan dengan gerakan refleks yang sangat cepat langsung membalikkan papan gambarnya hingga menghadap ke lantai. Ia mendongak, menatap Balisya dengan ekspresi tenang seolah tidak ada apa pun yang terjadi di antara mereka."Ada apa, Sya? Mau ngumpulin berkas kas lagi?" tanya Evan, nadanya sengaja dibuat santai untuk mengalihkan perhatian.Balisya sempat melirik papan gambar yang tertelungkup itu dengan sisa rasa curiga, namun ia segera menguasai dirinya kembali. Sambil merapikan ujung jilbab putihnya, ia tersenyum formal. "Enggak, Van. Cuma mau ngingetin aja, nanti setelah jam istirahat ada rapat pengurus kelas sebentar di ruang OSIS. Jangan lupa datang ya, ajak Sekretaris-mu juga." Setelah memberikan tatapan tajam yang tertuju lurus pada Auren, Balisya berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ketegangan yang perlahan mengurai di koridor lantai dua.
Besok harinya, suasana di kelas 7-B terasa jauh lebih sibuk dari biasanya. Sejak bel masuk berbunyi, gosip tentang tugas kesenian yang harus dikumpulkan minggu depan membuat seisi kelas riuh saling mencocokkan hasil gambar mereka.Auren berjalan menuju bangkunya di barisan paling belakang dengan langkah yang agak ragu. Kejadian kemarin siang di koridor, terutama tentang siluet rahasia di sudut kertas gambar milik Evan, masih berputar-putar di kepalanya dan membuat pipinya terasa hangat setiap kali mengingatnya.Begitu ia duduk di kursinya, Evan sudah berada di sana. Cowok itu sedang menopang dagunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk permukaan meja dua kali begitu melihat kedatangan Auren—sebuah gestur yang kini selalu berhasil membuat dada Auren berdesir.Evan menoleh, lalu menggeser papan gambar mereka yang sempat disembunyikan kemarin ke tengah meja. "Pagi, Ren. Nih, coba lihat. Semalam gue lanjutin arsirannya di rumah."Auren menunduk untuk memperhatikan kertas putih tersebut. Di sana, sketsa ring basket dan gedung sekolah mereka sudah tampak sangat hidup dengan gradasi hitam putih yang rapi. Namun, mata Auren langsung mencari sudut bawah kertas, tempat siluet rahasia itu berada kemarin.Ternyata, coretan siluet gadis berambut kuncir kuda itu sudah tidak ada. Evan sudah menghapusnya dengan sangat bersih dan menimpanya dengan arsiran bayangan tiang sekolah yang tebal.Auren merasakan ada sedikit cubitan kecewa yang aneh di hatinya, namun sebelum ia sempat membuka suara, Evan tiba-tiba menyodorkan sebuah pulpen gel hitam baru ke hadapannya."Buat Sekretaris gue, biar makin semangat nulis agenda kelas," bisik Evan pelan dengan senyuman tipis yang sangat tulus. Di balik arsiran hitam putih yang sengaja dihapus itu, Auren sadar bahwa ada rahasia lain yang kini mulai tumbuh perlahan di antara mereka, tersembunyi rapat dari pandangan dingin Balisya yang sejak tadi mengawasi mereka dari barisan depan.
Kesalahpahaman itu bermula pada hari Jumat, tepat seminggu setelah tugas kesenian mereka dikumpulkan. Pemicunya adalah sebuah buku agenda tebal milik Auren yang mendadak hilang dari kolong mejanya saat jam olahraga berlangsung. Buku itu bukan sekadar buku catatan biasa, melainkan buku agenda resmi sekretaris kelas yang juga berisi draf catatan iuran kas dan coretan sketsa pribadi milik Auren.Siang itu, koridor kelas sudah sepi karena sebagian besar murid langsung pulang ke rumah. Auren berjalan tergesa-gesa kembali ke kelas 7-B dengan raut wajah cemas. Ia menggeledah seluruh kolong mejanya, namun hasilnya nihil.Saat ia berbalik untuk mencari ke meja guru, ia tertegun. Di sana, Balisya sedang berdiri bersedekah dada di dekat papan tulis, sementara Evan duduk di kursi guru sambil memandangi buku agenda tebal berwarna biru milik Auren yang terbuka lebar di atas meja."Nah, Evan, kamu lihat sendiri kan?" suara Balisya terdengar sangat santun namun penuh penekanan yang menyudutkan. Jilbab putihnya yang rapi berayun saat ia menunjuk salah satu halaman buku itu. "Sebagai bendahara, aku gak terima kalau catatan keuangan kas yang kemarin kita rapatin malah ditulis berantakan begini oleh sekretaris kita. Bahkan di halaman belakang, Auren malah pakai buku inventaris kelas buat coret-coret gambar mukamu. Ini kan fasilitas kelas, gak profesional banget."Jantung Auren rasanya mau copot. Halaman belakang buku itu memang berisi sketsa wajah Evan yang ia gambar secara sembunyi-sembunyi saat jam kosong minggu lalu. Ia tidak pernah bermaksud memperlihatkannya pada siapa pun, apalagi menggunakannya untuk merusak inventaris kelas.Evan mendongak, menatap Auren yang berdiri mematung di ambang pintu kelas. Sorot mata Ketua Kelas yang biasanya hangat dan penuh canda itu mendadak berubah menjadi datar dan sulit dibaca. Ada guratan kekecewaan yang sangat jelas di wajahnya."Ren," panggil Evan, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin—nada suara yang belum pernah Auren dengar sebelumnya. "Gue pikir selama ini lo serius bantu gue ngurus kelas sebagai sekretaris. Tapi kalau buku agenda kelas aja lo pakai buat main-main begini, gue jadi mikir dua kali soal tanggung jawab lo."Kalimat Evan terasa seperti hantaman keras yang membuat dada Auren seketika sesak. Air mata mendadak menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin menjelaskan bahwa catatan keuangan kas itu sengaja ia pisah di buku lain agar lebih rapi, dan sketsa itu hanya keisengan di lembar paling belakang yang kosong. Namun, tenggorokannya mendadak terkunci rapat oleh rasa sedih dan kecewa.Di sebelah meja guru, Balisya melemparkan pandangan dingin ke arah Auren. Sebuah senyuman kemenangan yang sangat tipis terukir di wajahnya yang bersih, seolah ingin menunjukkan bahwa benteng persahabatan yang dibangun Auren dan Evan selama sebulan ini bisa runtuh begitu saja hanya dengan satu kesalahpahaman yang ia rancang dengan rapi.
Sebelum Auren sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah koridor. Putra masuk ke dalam kelas sambil membawa sebuah buku tulis tipis bersampul cokelat di tangan kanannya. Napas Wakil Ketua Kelas itu sedikit terengah-engah, seolah ia baru saja berlari dari ruang OSIS."Tunggu, Van, Sya! Jangan langsung menyimpulkan begitu," potong Putra sambil melangkah mantap ke tengah ruangan, berdiri tepat di antara meja guru dan Auren.Putra menaruh buku bersampul cokelat itu di atas meja, tepat di samping buku agenda Auren yang terbuka. "Gue gak sengaja dengar perdebatan kalian dari luar. Sya, lo bilang catatan kas yang ditulis Auren berantakan? Nih, lo lihat dulu buku yang gue bawa. Ini buku rekap resmi yang sebenarnya mau diserahin Auren ke lo sore ini. Dia sengaja mindahin semua data dari agenda ke buku ini biar catatannya bersih, gak kecampur sama coretan rapat."Evan langsung meraih buku dari Putra dan membukanya. Kedua bola mata sang Ketua Kelas menyapu lembar demi lembar yang berisi barisan angka yang ditulis dengan sangat rapi, runut, dan mendetail—jauh dari kata berantakan.Putra kemudian menoleh ke arah Balisya, sorot matanya yang biasa santai kini berubah menjadi serius. "Dan satu lagi, Sya. Buku agenda biru itu punya Auren pribadi, dia beli pakai uangnya sendiri, bukan inventaris kelas. Buku inventaris yang asli masih ada di laci meja gue. Jadi, Auren bebas mau gambar apa aja di halaman belakang bukunya sendiri."Mendengar penjelasan Putra yang sangat gamblang dan telak, wajah Balisya seketika berubah pucat. Senyum kemenangan yang sempat terukir di bibirnya langsung lenyap tanpa sisa. Jilbab putihnya yang rapi seolah tidak mampu menyembunyikan rasa malu dan gugupnya karena taktiknya untuk menyudutkan Auren justru terbongkar di depan Evan dan Putra."Aku... aku cuma salah lihat. Aku pikir itu buku kelas," kilih Balisya dengan suara yang mendadak pelit dan terbata-bata. Tanpa berani menatap mata Auren maupun Evan, Balisya buru-buru menyambar tasnya dan melangkah pergi keluar kelas dengan terburu-buru.Setelah pintu kelas tertutup, keheningan kembali menguasai ruangan 7-B. Evan perlahan menutup buku agenda biru milik Auren, lalu berdiri dari kursinya. Ia menatap Auren yang masih menahan genangan air mata di pelupuk matanya dengan tatapan penuh penyesalan yang amat mendalam."Ren..." panggil Evan, suaranya kembali melembut, penuh rasa bersalah. "Gue minta maaf. Gue benar-benar minta maaf karena udah egois dan langsung nuduh lo tanpa nanya kebenarannya dulu."Putra yang melihat situasi itu hanya tersenyum tipis dan menepuk bahu Evan sekali. "Gue duluan ya, Van, Ren. Selesaikan baik-baik," pamit Putra dengan bijaksana, meninggalkan mereka berdua untuk mengurai sisa kesalahpahaman di sore hari itu.