Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyabotase Kamar Orang Tua

Tak lama kemudian, Cyriel datang memecah obrolan sambil membawa beberapa mangkok bakso di atas nampan. Setelah meletakkannya di meja, cowok itu berbalik lagi ke arah stan kantin.

kemungkinan besar Cyriel harus bolak-balik dua kali lagi untuk mengambil sisa mangkok bakso dan minuman mereka.

Kenya yang menyadari hal itu langsung menatap Novel dan Kaisan dengan kening berkerut. "Lo pada gak bantuin?" selorohnya heran.

Novel menyahut dengan santai tanpa beban, "Biarin aja, biar kapok dia."

"Ih, jahat banget!" kecam Kenya, merasa tidak tega melihat punggung Cyriel yang kembali harus berdesakan di kantin.

Tanpa memedulikan tatapan heran cowok-cowok di meja itu, Kenya langsung bangkit dari kursinya dan berlari menghampiri Cyriel untuk mengulurkan bantuan.

Silva sempat bergerak hendak ikut menyusul sahabatnya, namun gerakan itu langsung dikunci oleh cekalan tangan Baffin.

"Duduk aja, diem," perintah Baffin mutlak.

Silva tidak memprotes. Ia kembali merapatkan punggungnya ke kursi. Namun, saat jemari Silva hendak meraih sumpit di tengah meja, tangan Baffin lagi-lagi menahannya.

Benda bambu panjang itu... Benda yang sudah membuatnya kehilangan muka di mall tempo hari. Gadis itu tidak boleh lagi menyentuhnya. Apalagi di tempat umum.

"Gak usah pake sumpit. Pake garpu aja," ujar Baffin tegas sambil merampas benda itu dan menjauhkannya dari jangkauan Silva.

Lagi-lagi, Silva hanya bisa pasrah tanpa protes. Lagipula, Baffin sudah mengikat janji sepihak agar gadis itu menurut tanpa bantahan selama di sekolah.                     Namun, saat Silva hendak mengambil garpu yang tersisa, Baffin kembali menepis tangannya pelan."Ini buat kamu," tunjuk Baffin pada mangkok bakso yang baru ditarik ke hadapannya sendiri. "Aku potongin dulu."

Novel dan Kaisan yang menyaksikan pemandangan itu secara langsung seketika speechless. Mulut mereka sedikit menganga, tidak percaya bahwa singa dingin Highscape High School bisa berubah menjadi pelayan pribadi yang super telaten.

Sementara itu di dekat stan makanan, Kenya sudah berdiri di samping Cyriel. "Gue bantu," ujarnya sambil mengambil alih nampan berisi gelas-gelas es teh manis.

"Lama, ya?" tanya Cyriel merasa tidak enak karena membuat mereka menunggu.

"Enggak, kok. Kasihan aja gue liat gak ada yang bantuin lo. Emang biasanya mereka gitu, ya?" tanya Kenya balik, melirik sinis ke arah meja pojok.

Cyriel hanya tersenyum penuh arti,

"Temen lo jahat, ya?" bisik Kenya blak-blakan.

Pertanyaan polos nan sarkas itu sontak membuat Cyriel tertawa renyah. Sifat berapi-api Kenya ternyata cukup menghibur di tengah penatnya hari pertama sekolah.

Kembali ke meja pojok, Baffin baru saja selesai memotong-motong bakso di mangkok hingga ukurannya menjadi kecil dan aman untuk dimakan.             Begitu mangkok itu didekatkan, Silva buru-buru ingin mengambilnya sendiri, namun garpu di dalam mangkok sudah lebih dulu dikuasai oleh jemari Baffin.Bersamaan dengan itu, Kenya dan Cyriel tiba di meja membawa sisa pesanan.

"Aku suapin," ucap Baffin datar namun tak terbantah.

Silva sempat menarik kepalanya mundur, wajahnya memerah karena malu disaksikan oleh seisi kantin. "Malu, Baffin... lagian aku kan gak makan pake sumpit," mohon Silva, mencoba mencari keringanan agar tidak perlu disuapi layaknya anak balita.

"Lupa?" potong Baffin singkat, mengingatkan tentang janji kepatuhan mereka.

Silva menggigit bibir bawahnya. "Kalopun gak pake sumpit Tetep aja. Aku gak tenang," imbuh Baffin dengan suara rendah yang hanya didengar mereka berdua. "Mending aku suapin kamu, semua baik-baik aja, habis itu baru aku bisa makan. Lagian bukan cuman itu, kamu udah janji bakal nurut, kan?"

Silva merengut cemberut. Dengan pipi yang menggembung kesal, ia akhirnya terpaksa menerima suapan demi suapan bakso dari tangan tunangannya itu.

Di sudut kantin yang lain, siswi-siswi Highscape yang sejak tadi mencuri pandang ke meja pojok mendadak mengalami shick shack shock massal.

Jantung mereka serasa mau copot melihat pemandangan langka itu. Pangeran dingin mereka menyuapi seorang gadis dengan begitu telaten!

Mana tuh cewek sok masang wajah terpaksa lagi! Gak tahu diri banget! batin siswi-siswi itu berteriak geram sekaligus iri setengah mati.

Di tengah riuhnya suasana kantin, Novel masih saja mematung dengan garpu yang menggantung di udara. Matanya tidak berkedip, terus-menerus menatap interaksi antara Baffin dan Silva di depannya seperti sedang menonton pertunjukan ajaib.

Ia masih tidak habis pikir bagaimana seorang Baffin bisa menjadi sejinak itu.

Plak! Sebuah geplakan mendarat mulus di belakang kepala Novel, membuat cowok itu tersentak kaget.

"Makan, Vel. Malah bengong." cibir Cyriel yang baru saja mendudukkan diri di sampingnya setelah meletakkan mangkok terakhir.

Novel yang baru tersadar dari lamunannya seketika terkekeh geli. Bukannya kesal karena digeplak, otaknya yang jahil justru mendadak punya ide cemerlang untuk mencairkan suasana tegang di meja mereka.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat-buat manis, Novel menyendok sebutir bakso dari mangkoknya sendiri, lalu mengarahkannya tepat ke depan bibir Cyriel.

"Buka mulutnya, sayang... Aaaa," goda Novel dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan, meniru gaya Baffin secara ekstrem.

Cyriel spontan memundurkan kepalanya dramatis dengan wajah super jijik, hampir saja menjungkirbalikkan kursi kantin.

Namun, sebelum Cyriel sempat melayangkan makian, sebuah suara rendah dan dingin sudah lebih dulu memotong dari seberang meja.

"Gue gak gitu, b*ngst," maki Baffin ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari Silva.

Melihat itu semua yang ada di meja terkekeh, selain Archard tentunya. sementara Silva hanya bisa menahan senyum di balik pipinya yang masih penuh dengan bakso.

Setelah memastikan mangkok Silva kosong dan gadis itu kenyang, barulah Baffin menarik mangkok miliknya sendiri untuk mulai makan.

Meski begitu, makannya tidak bisa sepenuhnya tenang. Mata elangnya masih sesekali melirik waspada ke arah tangan Silva yang kini sedang memegang gelas es teh, bersiap siaga kalau-kalau sifat ceroboh gadis itu mendadak kambuh lagi dan membuat kekacauan.

•••

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, menandakan berakhirnya hari pertama yang cukup melelahkan di Highscape High School.

Di dalam kelas yang mulai riuh oleh siswa yang berbenah, Baffin berjalan mendekati meja Silva.

"Ayo pulang," ajak Baffin dengan suara datarnya yang khas.

Silva mendongak, lalu menatap cowok itu dengan polos. "Emang kamu bawa helm buat aku?"

Baffin seketika terdiam. Ia baru teringat kalau pagi tadi ia berangkat terburu-buru dan sama sekali tidak menyiapkan helm cadangan di motornya.

Melihat Baffin yang membisu, Silva langsung mengalihkan pandangannya kepada Kenya yang saat itu sedang sibuk membereskan buku-buku di atas meja. "Kenya, aku pulang sama kamu ya?"

enya menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu mengangguk cepat. "Boleh, yuk."

Melihat Silva sudah mendapatkan tumpangan aman dan menolak ajakannya, Baffin akhirnya tidak punya pilihan lain. Cowok itu berbalik dan melangkah pergi terlebih dahulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah punggung Baffin menghilang di balik pintu kelas, Silva menghela napas panjang sambil menyampirkan tasnya. "Tadi pagi aku sebenarnya mau berangkat sama kamu," curhat Silva membuka obrolan.

"Tapi, kamu malah udah berangkat duluan. Aslinya aku mau berangkat sama Apin, tapi dia malah ninggalin aku. Habis itu mau minta anter Ayah, tapi Ayah lama banget di kamar mandi. Terus aku sempat ke rumahmu, eh, kamunya juga udah berangkat. Untung Om Galdar baik banget, beliau langsung nyuruh sopir lain buat nganterin aku ke sekolah."

"Oh, ya?" Kenya tampak terkejut mendengar perjuangan epik sahabatnya hanya untuk sampai ke sekolah pagi ini.

Silva mengangguk meyakinkan sambil berdiri dari kursinya. Ia mulai berjalan keluar kelas bersama Kenya menyusuri koridor yang mulai sepi.

"Sorry ya, Sil... Gue tadi pagi—" kalimat Kenya terputus begitu saja saat sebuah suara ceria menginterupsi langkah mereka.

"Hai, Kak Silva!" Tiba-tiba Edel muncul dari arah depan dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya. Langkah gadis itu melambat begitu posisinya sejajar dengan mereka. "Kakak pulang sama siapa? Sama Kak Baffin?" tanyanya antusias.

"Enggak," jawab Silva jujur sembari tersenyum tipis. "Dia cuman bawa satu helm."

Edel mengangguk-angguk paham, "Oh... gak sama Kak Baffin ya... Ya udah, aku pulang duluan ya? Dah, Kak Silva! Kakak yang satunya juga!" pamit Edel ceria sembari berlari kecil menjauh, tangannya melambai heboh ke arah mereka.

Kenya menatap punggung Edel yang menjauh dengan kening berkerut,  "Lo kenal dia sebelumnya? Dia kan sepupunya Baffin," tanya Kenya, agak lupa dengan obrolan mereka yang lalu.

"Aku pernah lihat beberapa kali," terang Silva sambil terus melangkah menuju area parkir. "Awalnya udah lupa sih... Cuman pas tahu dia sepupunya Baffin, aku coba inget-inget lagi apa pernah ketemu sebelumnya. Dan ternyata iya, beberapa kali di depan rumah. Sekilas doang.  kita gak pernah saling sapa."

Kenya manggut-manggut mendengar penjelasan itu, mulai memahami lingkaran pertemanan dan keluarga yang mengelilingi tunangan sahabatnya itu.

•••

Malam pun tiba. Di dalam rumahnya, Silva berdiri ragu di depan kamar orang tuanya.

Tarikan napas dalam diambilnya sebelum jemarinya mengetuk pintu kayu itu beberapa kali.

Tok! Tok! Tok!

Tak berselang lama, pintu terbuka dan menampilkan sosok Airin. "Kenapa?" tanya bundanya itu.

Wajah Silva langsung berubah kecewa. Respons ini sama sekali tidak sesuai dengan harapannya. Rencana awalnya, ia ingin bundanya menyahut dari dalam dan menyuruhnya masuk sendiri, sehingga ia bisa melancarkan aksi.

Namun, rencana itu tidak akan terwujud selama Airin berdiri tegak menghalangi pintu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Silva langsung berbalik badan dan berjalan pergi, meninggalkan Airin yang hanya bisa melongo kebingungan sebelum akhirnya menutup pintu kamar kembali.

Namun, tidak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk putar balik.

Tok! Tok! Tok!Pintu kembali terbuka dengan cepat. "Apa lagi?" tanya Airin, nada suaranya kini terdengar galak sekaligus lelah menghadapi tingkah absurd putrinya.

Silva buru-buru mengangkat buku paket tebal di dadanya, memasang wajah sepolos mungkin. "Ini, Bun... Silva lagi ngerjain PR, terus ada bagian yang gak paham. Mau minta diajarin Ayah," alibinya diluncurkan dengan mulus.

Dari dalam kamar, terdengar suara bariton Baskara menyahut, "Ya udah, sini masuk."

Silva tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Ia melangkah masuk mendekati sang ayah yang sedang bersantai di kasur.

Di depan ayahnya, Silva berpura-pura sibuk membolak-balikkan halaman buku paket tersebut beberapa kali, menanti dengan sabar sampai fokus bundanya teralih dan menjauh dari area pintu.

Begitu posisi dirasa aman, Silva tiba-tiba menepuk jidatnya dengan dramatis. "Aduh, Ayah! Tadi Silva buru-buru, jadi malah keambil buku Bahasa Indonesia, bukan matematika. Bentar ya, Silva ambil dulu," pamitnya tergesa-gesa.

"Ceroboh," gumam Baskara menggelengkan kepala gemas melihat kelakuan putrinya.

Silva bergerak cepat menuju ambang pintu. Sambil melirik posisi ayah dan bundanya sekilas, jemari lentik Silva dengan gerakan secepat kilat menarik kunci yang menggantung di bagian dalam pintu.

Ia melompat keluar, menutup daun pintu rapat-rapat, dan...Cklek! Glek!

Airin yang menyadari pergerakan aneh itu sontak membelalakkan mata begitu mendengar suara pintu kamarnya dikunci dari luar.

Ia langsung bangkit berdiri dan memeriksa knop pintu. Benar saja, pintunya sudah terkunci rapat dan tidak bisa dibuka sama sekali."Heh! Silvaaa! Buka pintunya! Kamu ya, Silva!" teriak Airin menggedor-gedor pintu dari dalam, sementara Silva sudah kabur terbirit-birit menuju dapur untuk melancarkan misi rahasianya: memasak tanpa interupsi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!