Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Menerima Perjodohan
"Serius kamu dijodohkan dengan dokter Bagas!" pekik Amira saat keduanya duduk di atas rumput taman rumah sakit yang terdapat pohon rindang di sana sehingga terasa begitu sejuk.
"Benar, Bunda juga mengatakan bahwa yang ingin dijodohkan Ayah kepadaku adalah dokter Bagas," jawab Aisyah.
"Tetapi bukankah dokter Bagas dekat dengan dokter Amanda?" tanya Amira.
"Aku aku juga tidak tahu. Tidak bertanggung jawab dan sekarang sok-sokan ingin mencarikan pasangan yang tepat kepadaku, bagaimana mungkin bisa memberikan pasangan yang tepat kepada putrinya, sementara dia saja tidak pernah menjadi cerminan," ucap Aisyah tiba-tiba saja jadi kesal.
"Lalu kamu akan menerima perjodohan ini?" tanya Amira.
"Kamu sangat mengenal bagaimana ayah, meski dia tidak terlalu dekat denganku, tetapi dia akan melakukan sesuatu jika menurutnya benar, jika dokter Bagas menolak maka dia akan mencari laki-laki lain, aku benar-benar akan dioper-oper dan entah sampai kapan, jika membantah maka akan dibilang tidak tahu diri, anak yang lupa daratan, dan yang adanya Bunda yang akan disalahkan," jawab Aisyah mencurahkan perasaan yang galau kepada sahabatnya.
Amira turut prihatin dan pasti kasihan kepada Aisyah yang hidupnya tidak pernah tentram dan damai.
*****
Amira baru saja pulang dari rumah sakit, langkahnya terhenti ketika melihat Kaivan berada di sofa yang sedang membaca buku. Amira tiba-tiba saja kepikiran sesuatu, membuatnya pasang buru-buru menghampiri sofa dan duduk di Kaivan.
"Ada apa?" tanya Kaivan dengan satu alisnya terangkat melihat tingkah laku adiknya itu.
"Kakak tahu tidak jika Aisyah akan menikah dengan orang lain," ucap Amira.
"Apa hubungannya dengan saya?" tanya Kaivan benar-benar datar tanpa ekspresi dan kembali melihat ke arah buku itu.
"Huhhhh, sahabatku yang malang, bagaimana mungkin dia akan menikah dengan laki-laki yang tidak tepat, Aisyah sudah sangat menderita selama ini, impiannya pasti ingin menikah dengan laki-laki yang bisa menerimanya apa adanya, mencintainya dan sayang kepadanya, Aisyah takut jika kehidupan rumah tangganya akan sama seperti kehidupan Ayah, Bundanya, adanya pengkhianatan dalam pernikahan itu," Amira tiba-tiba terlihat galau dengan ekspresi sedih.
"Amira jika kamu ingin merenungi sahabatmu, sebaiknya di kamar dan jangan ganggu Kakak," ucap Kaivan.
"Kakak akan membiarkan Aisyah menikah dengan laki-laki lain?" tanyanya memastikan menatap serius kepada Kaivan yang benar-benar ekspresinya tidak bisa dibaca.
"Aisyah menikah dengan siapapun itu bukan menjadi urusan Kakak!" tegas Kaivan.
"Kak, jangan membohongi diri sendiri jika sebenarnya menyukai Aisyah. Kakak akan menyesal ketika melihat wanita yang disukai sudah menjadi milik orang lain, Kakak masih punya kesempatan untuk kembali menerima perjodohan itu dan dengan begitu Aisyah bisa menikah dengan Kakak," ucap Amira.
Kaivan menghela nafas dan kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Kakak mau kemana? Amira belum selesai bicara, Kak!" panggil Amira diabaikan Kaivan yang menaiki anak tangga yang tidak memperdulikan rengekan dari adiknya.
"Astagfirullah....."
"Kak, Kaivan tetap saja gengsi dan tidak mau mengakui. Bagaimana jika benar-benar Aisyah akan menjadi milik orang lain, dapat dipastikan dia akan menyesal seumur hidup," Amira mengoceh dengan kesal.
******
Aisyah berada di dalam kamar, tanpa hijab dengan rambutnya yang digerai, bersandar di kepala ranjang dengan bersila kaki dan laptop yang berada di atas kaki.
Tok-tok-tok-tok-tok.
Aisyah melihat ke arah pintu kamar, melihat Rahma yang tersenyum dan kemudian melangkah menghampiri sang putri.
"Minum susunya dulu!" ucap Rahma.
"Aisyah sudah sebesar ini dan masih saja setiap malam diberikan susu," ucap Aisyah yang memang sudah menjadi kebiasaan kecil perempuan ceramah tersenyum dengan duduk di samping Aisyah dengan mengusap-usap kepala Aisyah.
Meski sudah enek dengan rasa susu itu tetapi dia sangat menghargai kebiasaan bundanya dan meminum susu tersebut sampai habis.
Rahma gemes melihat kotornya bibir Aisyah bekas susu tersebut membuat Rahma membersihkan dengan tangannya.
"Bagaimana jika kamu sudah menikah nanti, siapa yang akan membuatkan kamu susu setiap malam," ucap Rahma.
"Bunda kenapa membicarakan pernikahan, lagi pula Aisyah sudah enek minum susu, kalaupun sudah menikah Aisyah tidak mau minum susu ini lagi," ucap Aisyah.
"Kalau begitu kamu harus secepatnya menikah, agar tidak minum susu lagi," ucap Rahma.
"Sama saja seperti ayah yang membicarakan pernikahan," sahut Aisyah tampak tidak bersemangat dan melihat kembali ke arah laptopnya.
"Mungkin Ayah hanya ingin kamu mendapat pasangan yang terbaik," sahut Rahma.
"Pasangan yang terbaik versi dari seorang pria yang memiliki istri lebih dari satu itu seperti apa? Apa dia akan mencarikan hal yang sama untuk Aisyah?"
"Ibu tahu tidak dokter Bagas itu memiliki kekasih di rumah sakit, hubungan mereka sangat dekat dan mungkin saja ada permasalahan yang membuat kedua orang tua mereka tidak bisa menyatu, tetapi jika adanya pernikahan yang dipaksakan, banyak kemungkinan mereka bisa saja memiliki hubungan diam-diam, apa yang terjadi pada bunda dan ayah akan terjadi pada Aisyah, Aisyah tidak ingin terjebak dalam rumah tangga seperti itu, Aisyah tidak sekuat Bunda," ucap Aisyah.
Rumah tangga kedua orang tuanya benar-benar membuatnya trauma dan harus teliti mencari pasangan.
"Tapi bukan dokter Bagas yang akan menikah dengan kamu," sahut Rahma.
"Lalu laki-laki mana lagi? pada akhirnya dokter Bagas menolak dan ayah akan mencari yang lain, lalu pria itu juga menolak dan akan mencari yang lain, lalu sekarang siapa lagi yang ingin dijodohkan kepada Aisyah?" tanyanya dengan kesal yang dijadikan sebagai tempat gilir oleh sang ayah.
"Kaivan!" Aisyah kaget mendengar nama itu dan melihat ke arah Rahma.
"Kakaknya Amira?" tanya Aisyah memastikan.
"Benar!" jawab Rahma.
"Bukankah waktu itu Aisyah mendengar pembicaraan Bunda dan Ayah, jika Kak Kaivan menolak perjodohan itu?" tanyanya memastikan.
"Tetapi beliau akhirnya menerima perjodohan itu dan setuju untuk menikah dengan kamu jika kamu juga setuju, menurut beliau jika tidak ada paksaan dalam pernikahan dan mengapa tidak untuk dilanjutkan, beliau juga sudah mengenal kamu dan begitu juga dengan kamu, kalian saling mengenal dekat," jelas Bunda.
"Aneh sekali, kenapa tiba-tiba Kak Kaivan menerima perjodohan itu," batin Aisyah.
"Aisyah, Kaivan adalah laki-laki yang baik, Bunda juga sangat mengenalnya, kamu juga mengenal adiknya dengan sangat baik dan kamu juga mengenal keluarganya, beliau pasti bisa menjadi imam yang baik dan suami yang tepat untuk kamu," ucap Rahma berusaha untuk membujuk putrinya.
"Bukankah dulu Ayah juga seperti itu? Ayah juga laki-laki yang baik dan imam yang baik, tetapi pada nyatanya karena kesibukannya yang bekerja dan siapa sangka sudah memiliki persinggahan di tempat lain, entah hubungan itu sudah berapa lama tiba-tiba saja sudah menikah, memiliki anak yang bahkan usianya lebih besar daripada Aisyah," ucap Aisyah.
"Bunda Aisyah bukan anak kecil lagi, jika seorang pria memiliki anak dari wanita lain sementara masih memiliki istri dan anak itu lebih besar dari anak istri yang telah dikhianati, sudah dipastikan ada hubungan haram di balik semua itu dan akhirnya menikah untuk mensucikan hubungan itu, jadi bagaimana mungkin kebaikan seseorang bisa menjadi patokan akan menjadi imam untuk kehidupan selanjutnya," ucap Aisyah benar-benar sangat trauma dan takut menjalani rumah tangga.
Rahma pasti mengerti dengan ketakutan putrinya.
Bersambung......
suaminya loh ....pengantin baru looh