Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Angin yang tak terlihat

Jalan buntu yang sempit itu terasa semakin sesak saat ketiga perampok melangkah maju secara perlahan. Suara hentakan kaki mereka bergema berat di antara dinding batu yang tinggi, menutup satu-satunya jalan keluar yang tersisa.

Cedric mendorong Arlen semakin jauh ke belakang tubuhnya. Kedua tangan Cedric mengepal erat, bersiap bertarung meskipun sadar peluang menang sangat kecil melawan musuh yang unggul jumlah dan bersenjata tajam.

"Kalian tidak perlu mencelakai kami," ujar Cedric dengan suara tegas, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang memuncak. "Kami hanya orang biasa yang tidak membawa barang berharga apa pun."

Salah satu perampok tertawa kasar sambil memutar belati di genggamannya. "Kami melihatmu keluar dari kedai Valian. Orang yang berurusan dengan orang tua itu pasti membawa harta.

Serahkan kantong itu, atau kau dan anakmu akan berakhir membusuk di sini."

Jarak mereka mengikis. Cedric bersiap menerjang maju demi membuka celah, berharap tindakan nekat ini bisa memberi waktu bagi Arlen untuk lari menyelamatkan diri. Namun tepat saat kaki Cedric hendak melangkah, tangan kecil Arlen mencengkeram ujung baju sang ayah.

"Ayah... diam saja di situ," bisik Arlen, begitu rendah hingga hanya terdengar oleh Cedric. "Biarkan aku yang mengurus ini."

Sebelum Cedric sempat menoleh atau memprotes, Arlen sudah melangkah maju melewati perlindungan ayahnya. Bocah itu berdiri tegak di tengah lorong sempit, menatap ketiga pria bertopeng tanpa sedikit pun rasa takut.

"Kalian seharusnya tidak mengganggu kami," ucap Arlen lantang namun dingin. Suara anak kecil yang terdengar datar itu mendadak membuat ketiga perampok menghentikan langkah karena heran.

Arlen perlahan mengangkat kedua tangan ke samping tubuh. Tidak ada rafalan mantra, juga tidak ada kilatan cahaya sihir yang menyilaukan. Namun jauh di dalam dada, Arlen memicu kekuatan yang selama ini dilatih diam-diam—Aura tingkat Perunggu yang kini mengalir stabil di sepanjang pembuluh jiwa.

Arlen tidak berniat membunuh. Targetnya hanya memberikan pelajaran dan melumpuhkan pergerakan musuh. Setelah memadatkan energi tak kasat mata di sekeliling telapak tangan, Arlen mengayunkannya perlahan ke arah depan seolah sedang mengusir debu.

Wusss!

Hantaman angin bertekanan berat meledak dari tempat Arlen berdiri. Angin itu tidak memukul secara kasar, melainkan mendorong maju dengan daya tekan masif seperti dinding padat yang tidak terlihat.

Ketiga perampok bahkan tidak sempat berteriak. Tubuh mereka seketika terdorong ke belakang, terlempar menghantam dinding batu hingga suara retakan tipis terdengar dari balik pakaian mereka.

Napas ketiga penjahat itu langsung tersendat. Belati dan tongkat kayu yang dipegang terlepas, jatuh berdentang di atas tanah yang berlumpur.

Mereka merasa seolah-olah ada sebongkah batu raksasa yang menindih dada mereka, membuat tubuh kaku dan sulit bahkan sekadar untuk menegakkan kepala.

Mata para perampok membelalak ketakutan menatap anak kecil yang berdiri tenang di hadapan mereka. Tidak ada bola api atau lingkaran sihir mana, tetapi tekanan fisik yang menghimpit tubuh mereka jauh lebih mengerikan daripada sihir biasa.

"Pergilah," ucap Arlen singkat, suaranya menggema dingin di lorong sempit. "Dan jangan pernah mengikuti kami lagi.

Kalian beruntung aku tidak berniat melukai manusia fana."

Tekanan berat itu lenyap dalam sekejap.

Ketiga pria itu saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Mereka merangkak bangun dengan tubuh gemetar, lalu berlari panik membelah kegelapan lorong tanpa berani menoleh lagi.

Suasana di sana kembali sunyi. Cedric berdiri kaku di tempatnya dengan mata terbelalak, menatap sang putra dengan pandangan tidak percaya.

Cedric menyaksikan semuanya dengan jelas—bagaimana hempasan angin berat itu muncul entah dari mana, dan bagaimana para pria kekar itu lari ketakutan hanya karena intimidasi fisik dari Arlen.

Arlen menghela napas pelan, lalu berbalik menatap sang ayah dengan wajah polos, seolah baru saja melakukan hal biasa. Arlen berjalan mendekat dan menggenggam tangan Cedric yang masih terasa sedingin es.

"Ayah... kita harus segera pulang sebelum ada orang lain yang lewat," ucap Arlen lembut.

Cedric mengerjap berkali-kali, mencoba menyusun kalimat namun lidahnya terasa kaku. Pandangan Cedric menyapu sekeliling, mencari penjelasan logis lain atas kejadian luar biasa tadi.

"Itu... angin alami... atau ada jebakan sihir tersembunyi di tempat ini?" tanya Cedric ragu, berharap ada alasan yang masuk akal demi menepis dugaan gila di kepalanya.

Arlen menggeleng pelan sambil mulai menuntun langkah keluar dari area tersebut. "Aku tidak tahu. Tapi rasanya tempat ini memang memiliki atmosfer yang aneh. Mungkin mereka ketakutan karena lorong ini terlalu gelap.

Yang penting kita selamat dan bisa membawa pulang uang ini."

Arlen sengaja menutup rapat penjelasan lebih jauh. Mengungkapkan kebenaran sekarang hanya akan menambah beban pikiran sang ayah. Biarlah waktu yang membuat Cedric paham dengan sendirinya.

Cedric berjalan diam di samping Arlen dengan pikiran yang berputar kacau. Logikanya tahu betul itu bukan sekadar angin atau ketakutan biasa. Namun melihat Arlen yang berjalan tenang di sisinya, Cedric memilih untuk menyimpan pertanyaan itu untuk sementara waktu.

Mereka berjalan cepat meninggalkan kota, melewati pos pemeriksaan gerbang utama tepat saat matahari sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi, namun kali ini hati Cedric campur aduk antara rasa syukur karena selamat dan rasa takjub akan rahasia besar yang disimpan oleh putra kecilnya.

Sesampainya di rumah, Elena sudah menunggu dengan cemas di depan pintu. Begitu melihat suami dan anaknya datang dengan selamat, Elena langsung berlari menyambut dan memeluk keduanya dengan erat.

"Kalian membuatku sangat khawatir," ucap Elena sambil mengusap keringat di dahi Cedric dan memeriksa kondisi tubuh Arlen. "Apakah semuanya berjalan lancar?"

Cedric mengangguk sambil menyerahkan kantong berisi uang kepada sang istri. Mata Cedric sempat bertemu dengan tatapan isyarat dari Arlen, seolah meminta agar insiden di jalan tadi tidak diceritakan terlebih dahulu.

"Semua berjalan baik," jawab Cedric pelan. "Kita berhasil melunasi utang pajak. Ancaman kehilangan tanah leluhur ini sudah berakhir."

Malam itu, setelah Elena tertidur lelap karena rasa lega yang luar biasa, Cedric duduk di teras rumah sambil menatap kegelapan bukit hitam di kejauhan.

Arlen duduk di sebelah sang ayah, diam-diam menemani.

"Arlen..." panggil Cedric akhirnya, memecah keheningan malam. Cedric tidak menoleh, matanya tetap menatap lurus ke depan. "Di lorong sempit kota tadi... apa yang sebenarnya terjadi? Kau melakukan sesuatu, bukan?"

Arlen diam sejenak, lalu menjawab dengan suara rendah namun jujur sebatas batas aman yang bisa diungkapkan.

"Ayah... aku memang tidak memiliki bakat Mana seperti para penyihir. Tapi aku punya cara lain untuk memperkuat tubuhku sendiri. Sesuatu yang tidak tertulis di buku mana pun dan mungkin sudah dilupakan oleh dunia. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, aku hanya takut jika orang lain tahu, keberadaanku akan menjadi bahaya bagi kalian."

Arlen menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan dengan nada mantap.

"Kekuatan itu ada di dalam diriku sejak lahir, dan aku sedang berusaha mengendalikannya agar hanya digunakan untuk melindungi Ayah, Ibu, dan rumah kita. Tolong percayalah padaku."

Cedric menghela napas panjang, lalu mengusap kepala sang putra dengan lembut. Meskipun tidak mengerti sepenuhnya, Cedric bisa merasakan ketulusan yang mendalam di balik kata-kata sang anak.

"Ayah percaya padamu," ujar Cedric tulus. "Apa pun kekuatan yang kau miliki... selama itu tidak digunakan untuk mencelakai orang yang tidak bersalah, Ayah akan selalu mendukungmu. Tapi ingat satu hal: kekuatan besar selalu mengundang bahaya besar. Berhati-hatilah dalam menyembunyikannya."

Arlen tersenyum lega sambil mengangguk. "Aku janji, Ayah."

Namun, kedamaian itu tidak akan bertahan lama.

Jauh di dalam kota, di sebuah ruangan remang di kedai tua, Tuan Valian duduk diam di balik meja kerjanya. Di hadapan pria tua itu, terbentang sebuah peta wilayah yang sudah kusam. Di satu sudut peta, ada tanda lingkaran kecil yang digambar dengan tinta merah pudar—tepat di titik kediaman keluarga Ashford.

Tuan Valian memegang sepotong kristal kecil yang berkedip samar. Kristal itu sedikit bergetar saat pemilik kedai memusatkan fokusnya.

"Energi yang murni dan kokoh... bukan Mana, melainkan sesuatu yang jauh lebih tua," gumam Tuan Valian pelan.

Tatapannya beralih menatap pantulan diri di cermin. "Anak kecil itu bukan orang biasa. Apakah ini awal dari perubahan yang sudah lama dinanti, atau justru awal dari malapetaka baru?"

Tuan Valian menghela napas berat lalu menutup peta tersebut.

"Apa pun itu... aku harus terus mengawasi perkembangannya. Kehadiran bocah itu bisa mengguncang keseimbangan yang sudah terjaga ribuan tahun ini."

Selain itu, jauh di pusat kota yang megah, di dalam sebuah bangunan tinggi berhias lambang lingkaran emas, seorang pria berpakaian jubah putih duduk di kursi kebesarannya.

Pria itu baru saja menerima laporan samar tentang adanya gangguan energi asing di wilayah pinggiran, meskipun informasi itu masih terlalu kabur untuk ditindaklanjuti.

"Terus pantau setiap pergerakan di wilayah tersebut," perintah sang pria jubah putih dengan nada dingin kepada sosok yang bersujud di hadapannya. "Jangan sampai ada hal yang tidak biasa luput dari perhatian kita.

Dunia ini sudah terlalu lama diam... aku tidak suka ada hal yang bergerak tanpa sepengetahuanku."

Di kediaman Ashford, malam semakin larut. Arlen berdiri perlahan untuk kembali ke kamar tidur. Arlen tahu kejadian hari ini pasti meninggalkan jejak yang melesat lebih jauh dari perkiraan. Urusan mengamankan masa depan keluarga memang selesai untuk sementara, namun Arlen juga sadar bahwa setiap pergerakan yang dilakukan akan memperbesar risiko terdeteksi oleh mata-mata yang mengawasi dunia.

Latihan harus dipercepat. Tingkat Aura Perunggu baru permulaan. Masih ada perjalanan panjang menuju tingkat Perak, Emas, hingga tingkat tertinggi yang bisa menjadikannya benar-benar tak tertandingi.

Arlen berhenti sejenak di dekat jendela, menatap ke arah bukit hitam di kejauhan. Di sana tanaman berharganya tumbuh, di sana kekuatan yang terlupakan bangkit, dan di sana pula Arlen bersumpah akan membangun pertahanan terkuat bagi orang-orang yang dicintai.

Langkah kecil sudah tercapai, batin Arlen meneguhkan tekad. Tapi perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!