Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:949.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tengah juga ikut berdiri. Meski tidak se-ekspresif istrinya, senyum di wajah lelaki tua itu sulit disembunyikan. "Pulang juga."

"Iya, Yah." Tak lama kemudian meja makan kembali dipenuhi makanan. Seolah Vivi tidak pernah meninggalkan rumah. Padahal ia hanya datang beberapa jam.

Ibunya tentu saja tidak bisa menahan rasa penasaran. Sejak tadi pertanyaannya tidak berhenti. "Bagaimana Baskara? Anak-anak? Masih nakal?"

Vivi tertawa. "Masih." Lalu perlahan ia mulai bercerita. Tentang Sean. Tentang Yuan. Tentang Saka. Tentang Ella. Dan terutama tentang Lili yang hampir setiap hari menempel padanya.

Ibunya mendengarkan dengan mata berbinar. Sesekali tertawa. Sesekali menggeleng. Sesekali tampak terharu. "Jadi sekarang Sean sudah mulai akur?"

"Lumayan." Vivi tersenyum. Ia sendiri kadang masih sulit percaya. Beberapa bulan lalu Sean bahkan ingin mengusirnya. Sekarang anak itu mulai khawatir kalau ia pulang terlalu lama.

Saat cerita selesai, ibunya tiba-tiba berkata, "Lain kali ajak mereka ke sini ya."

Vivi berkedip. "Mereka? Anak-anak?" Vivi tidak langsung menjawab. Karena entah kenapa dadanya terasa hangat. "Boleh?" tanyanya pelan.

Ibunya langsung mengernyit. "Kenapa tidak boleh?"

"Aku cuma..." Vivi tersenyum canggung. "Takut merepotkan."

Ibunya tertawa. Tertawa cukup keras sampai ayahnya ikut tersenyum. "Nenek mana yang tidak senang dikunjungi cucu-cucunya?" Kalimat itu sederhana. Namun membuat Vivi terdiam. Cucu-cucunya. Bukan anak Baskara. Bukan anak orang lain. Bukan anak sambung. Cucu-cucunya.

Untuk sesaat Vivi tidak bisa berkata apa-apa. Karena selama ini ia selalu khawatir. Khawatir orangtuanya hanya menerima pernikahan ini karena ingin ia menikah. Khawatir mereka sebenarnya keberatan. Khawatir mereka hanya bersikap baik demi dirinya. Namun sekarang Ibunya bahkan sudah menganggap kelima anak itu sebagai bagian dari keluarga.

Ayahnya yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya ikut berbicara. "Ajak saja. Rumah ini memang tidak besar." kata ayahnya. "Tapi masih cukup untuk lima anak yang suka berisik."

Ibunya langsung tertawa. "Betul. Nanti Ibu masakkan yang banyak. Kasihan Ella kalau datang terus nggak dibuatkan kue. Lili juga pasti suka halaman belakang." Mereka bahkan sudah mulai membicarakan anak-anak itu seolah sudah mengenalnya.

Tanpa sadar mata Vivi mulai berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Justru sebaliknya. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya Ia merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah berani ia bayangkan. Ia mungkin tidak melahirkan Sean. Tidak melahirkan Yuan. Tidak melahirkan Saka. Tidak melahirkan Ella. Tidak melahirkan Lili. Tetapi ketika mendengar kedua orangtuanya menerima mereka tanpa syarat Ia sadar bahwa kasih sayang memang tidak selalu lahir dari darah yang sama. Kadang kasih sayang lahir dari pilihan.bDari kesediaan membuka hati. Dari keputusan untuk menerima seseorang sebagai keluarga.

Dan sore itu, di rumah sederhana tempat ia dibesarkan, Vivi tersenyum sendirian. Karena untuk pertama kalinya ia merasa bahwa keluarganya dan keluarga Baskara tidak lagi berdiri terpisah. Perlahan Mereka mulai menjadi satu keluarga yang utuh.

***

Sore itu, sebelum kembali ke rumah Baskara, Vivi memutuskan mampir ke sebuah klinik kecil yang sudah sangat dikenalnya. Klinik itu tidak mewah. Namun selama lebih dari sepuluh tahun, tempat itulah yang menjadi bagian dari hidupnya. Tempat ia menerima vonis yang mengubah masa depannya. Tempat ia menangis diam-diam setelah mendengar dirinya tidak akan bisa memiliki anak. Dan tempat ia rutin datang untuk mengambil obat-obatan serta terapi hormon yang diberikan oleh Dokter Sinta. Atau yang lebih akrab ia panggil Tante Sinta.

Saat memasuki ruang praktik, Sinta tampak terkejut. "Vivi?" Sinta tersenyum. Namun senyumnya terlihat sedikit kaku. Tumben datang tanpa janji."

Vivi duduk di kursi pasien. Hari ini wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibanding beberapa bulan lalu.

Hal itu justru membuat Sinta tidak nyaman. Entah kenapa. "Bagaimana rumah tanggamu?" tanya Sinta.

Vivi tersenyum. "Alhamdulillah baik."

"Suamimu menerima kondisimu?" Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun Vivi tidak menyadari bagaimana jemari Sinta sedikit menegang di atas meja. Matanya tampak gelisah, apalagi setelah Vivi mengangguk, menyatakan semuanya baik-baik saja.

Lalu Vivi mengeluarkan beberapa lembar resep lama dari tasnya. "Tante. Aku sebenarnya datang mau konsultasi soal ini."

Sinta menunduk melihat resep-resep yang sudah sangat dikenalnya. Resep yang selama bertahun-tahun ia tulis sendiri. "Apa ada keluhan?"

"Tidak." Vivi tersenyum. Senyum yang membuat jantung Sinta berdetak lebih cepat. "Justru karena sudah tidak ada keluhan."

Sinta mengernyit. "Maksudnya?"

Vivi menarik napas panjang. "Aku berpikir, apa aku boleh berhenti terapi hormon?"

Wajah Sinta langsung berubah. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Namun cukup untuk membuat seseorang yang mengenalnya lama menyadarinya. "Berhenti?"

"Iya." Vivi tertawa kecil. "Aku sudah menerima semuanya, Tante."

Sinta tidak ikut tertawa. "Menerima apa?"

"Kalau aku memang tidak bisa punya anak." Untuk sesaat ruang praktik terasa terlalu sempit. "Aku sudah ikhlas." lanjut Vivi. "Dulu aku terus berobat karena berharap ada keajaiban. Tapi sekarang..." Matanya berbinar. "Sekarang aku sudah punya lima anak." Sinta membeku. "Mereka memang tidak lahir dari rahimku." "Tapi mereka tetap anak-anak yang aku sayangi."

Semakin Vivi berbicara, semakin sulit Sinta mempertahankan ekspresinya. Karena perempuan di hadapannya terlihat damai. Padahal selama bertahun-tahun. Ia sengaja memastikan Vivi tidak pernah mendapatkan kedamaian itu.

"Jadi aku berpikir..." Vivi melanjutkan. "Kalau aku sudah menerima takdirku, apa masih perlu terapi ini?"

Sinta langsung mengambil berkas medis di meja. Membukanya. Menutupnya lagi. Membukanya lagi. Tangannya sedikit gemetar.

"Tante?"

"Eh..."Sinta berdeham. "Menurut Tante..." Kalimatnya terputus. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak siap menghadapi pertanyaan itu. Dulu semuanya mudah. Saat Vivi masih lajang. Saat Vivi masih menangis setiap kali membahas masa depan. Saat ia masih bergantung penuh pada penjelasan dokter. Tetapi sekarang berbeda. Vivi sudah menikah. Sudah memiliki keluarga. Dan yang paling berbahaya, Sudah mulai mempertanyakan pengobatan yang selama ini dijalaninya.

"Tante?" ulang Vivi.

Sinta memaksakan senyum. "Mungkin..." Ia berhenti lagi. "Mungkin kita evaluasi dulu."

"Evaluasi? Bukannya hasilku selama ini sama saja?" Vivi mengikuti terapi itu agar hasilnya membaik, agar ia bisa normal, tetapi tak ada perubahan sejak hampir sepuluh tahunan.

Pertanyaan sederhana itu membuat tengkuk Sinta terasa dingin. Karena sebenarnya Ada banyak hal dalam berkas itu yang tidak pernah diketahui Vivi. Banyak hasil yang tidak pernah benar-benar dijelaskan. Dan banyak keputusan yang diambil bukan karena alasan medis. Melainkan alasan yang jauh lebih pribadi. Dan jauh lebih gelap.

"Aku cuma merasa..." kata Vivi polos. "Aku capek minum obat terus." Sinta menelan ludah. "Kalau memang tidak ada harapan punya anak..." Vivi tersenyum kecil. "Lebih baik aku fokus membesarkan lima anakku saja."

1
mimma
Luar biasa
Inooy
dengan kata lain..bu Mega bisa meninggalkan Baskara dn anak2 nya dengan tenang, karena mereka udh ada d tangan yg tepat..
Inooy
hhuuaaaa,,jd keingat ibu aq yg udh pergiii 😭😭😭😭

ternyata firasat bu Mega begitu cepat terjadi,,,pantas aj bu Mega mendesak Vivi teroos utk d jadiin menantu nya, ternyata beliau tidak ingin meninggalkan anak dn cucu2 nya tanpa pendamping hidup..kini bu Mega udh tenang meninggalkan Baskara dn anak2 nya, karena bu Mega udh percaya dengan Vivi yg akan menjaga dn melindungi cucu2 nya termasuk Baskara....
bab paling mengsedihkan 😭😭😭
Inooy
s kulkas 7 pintu mulai terserang virus bucin 😂
jaga kewibawaan mu Baas,,maaasa jealous ama anak2 sendiri Baas..Baaass...ckckck
Wulhan Agustyna Ismail
Bisanya cuman bisa bikin anak lima pula, tapi tidak tau mengurusnya
Inooy
mantap Vii jawaban mu..biar mikir tuh suami muu 😂
Inooy
punya dendam apaan siih dook,,sumpah aq puyeng mikirin dendam nya dokter..emg dokter g cape apaa tiap hari mikirin dendam? mendingan d lepasin aj dook,,nanti klo ketahuan Vivi kebusukan dokter..citra dokter d mata Vivi pasti runtuh karena kebusukan hati dokter 😮‍💨
Inooy
makin puyeng aq gara2 dokter Sinta yg d panggil TANTE ama Vivi,,ternyata berhati buuuussuuuukk...😤
Inooy
waduuuhh,,makin mencurigakan aj nih dokter Sinta...
ada masa lalu apa nih sampe2 sekelas dokter Sinta menutupi kebenaran yg seharus nya Vivi ketahui...apakah dulu Vivi sempat menolak cinta nya anak dokter Sinta, ato bagaimana niih??
karena dr cara dokter Sinta melihat kebahagian Vivi seperti tidak teriiimaa....
Inooy
nah lhooo,,maksud nya apa nih dokter Sinta tidak mo menerima kedamaian Vivi? apakah ada yg d sembunyikan dr dokter Sinta,,ada rahasia apakah d balik vonis ketidak mampuan Vivi utk mengandung seorang anak?
hheem semakin mencurigakan nih dokter Sinta yg kata nya temen ibu nya Vivi ini..🤔
Hesty Mamiena Hg
yeee MP dehh 🫣🤭
Hesty Mamiena Hg
Klinik itu punya dokter Sinta? Karena selama 10 th ini dia gk pindah2 ke tempat lain,.. dan betah memelihara dendamnya demi jadi dokter konsul Vivi 😌
Hesty Mamiena Hg
Apa alasanmu dokter Sinta? Kamu dendam sama siapa? Sama Vivi? 🤔
Hesty Mamiena Hg
Naahhh...😌
Hesty Mamiena Hg
Kenapa Vivinya pulang sendiri aja?
Harusnya Baskara dan anak2 ikut, silaturahmi kermh ortu Vivi utk pertama kalinya 🙄
Inooy
bab termewek,,siapa pun anak nya pasti akan merasa tersisihkan jika ayah nya menikah kembali...karena banyak kenyataan nya yg seperti ini, apalagi anak2 nya masih d bawah 12 tahun yg pola pikir nya belum dewasa utk mencermati setiap masalah orang dewasa,,khusus nya masalah orangtua...
Inooy
perang mu akan segera d mulai Vii,,tp ini lain perang nya..anak2 yg pada dasar nya tidak nakal, akan lebih cepat menurut dengan pendekatan, pengertian dn tentu nya dengan kasih sayang yg tulus..
karena inti nya anak2 yg d tinggal meninggal oleh ibu nya, mereka tidak mo memiliki ibu tiri yg stigma nya udh jelek dr jaman dulu..dn mereka tidak mo posisi ibu nya d gantikan oleh siapa pun, apalagi klo ibu nya termasuk ibu idaman bagi anak2 nya..
jd ini PR bwt kamu Vii utk meluluhkan hati anak2, termasuk ayah nya..😂
Inooy
ini sih aq bangeet Vii, suka panas dingin klo d ajak k rumah orang yg belum begitu dekat 😁
Inooy
klo mesin mobil udh d matiin, itu tanda nya udh nyampe Baaas...🤦‍♀️😁
Inooy
irit banget jawaban mu, Baas...

beri sedikit semangat kek apa kek..ini kaya orang lg ngirit uang belanja aaaja 🤦‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!