Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Persiapan Lamaran

Enam hari kemudian, rumah kami dipenuhi kotak seserahan dan keputusan yang dibuat tanpa bertanya kepadaku.

"Kita berangkat ke Surabaya hari Jumat," kata Ibu sambil memeriksa daftar barang. "Sekar ikut."

Aku yang sedang menempel label pada kotak mukena langsung mengangkat kepala. "Kenapa?"

"Karena ini pertemuan keluarga."

"Aku bisa menjaga rumah."

"Orang-orang Wirajaya akan menilai kita. Kalau anggota keluarga tidak lengkap, dikira kita nggak menghormati mereka."

Mbak Laras duduk di lantai dikelilingi pita dan kotak kue. "Ikut saja, Sekar. Cuma dua malam. Aku juga butuh teman."

Dua malam di rumah Damar.

Jari yang memegang label kehilangan tenaga. "Aku sedang menunggu kabar kerja."

"Bisa lewat ponsel," jawab Ibu. "Jangan cari alasan. Kamu tinggal datang, pakai baju bagus, dan jangan banyak bicara."

Jadi kehadiranku wajib, suaraku tidak.

Aku hendak menolak lagi ketika Ayah masuk membawa dua tas belanja. Ia melihat wajahku lalu daftar perjalanan di meja.

"Sekar harus ikut?"

"Tentu," kata Ibu. "Kita satu keluarga."

Kalimat itu terdengar indah hanya saat berguna untuk keperluan Ibu.

Persiapan berlangsung sepanjang hari. Pakdhe Warto dan Budhe Sari datang membantu memilih makanan yang tahan perjalanan. Mereka membicarakan rumah keluarga Wirajaya, jumlah pegawai, dan betapa beruntungnya Mbak Laras akan masuk keluarga konglomerat.

"Jaga sikap di sana," Budhe Sari menasihatiku. "Jangan sampai masalah arisan terdengar ke calon besan."

"Masalah arisan sudah terdengar ke tiga blok," jawabku.

Ibu melotot. Aku kembali menempel label.

Sore hari, Mbak Laras menarikku ke kamarnya. Tiga stel pakaian terhampar di atas kasur.

"Menurutmu yang mana untuk makan malam?"

Aku menunjuk tunik hijau gelap. "Yang ini. Potongannya lebih rapi."

Ia mencobanya di depan cermin. "Mas Damar suka warna netral."

"Mas Damar juga memilih tirai biru yang nggak Mbak suka. Pakai yang membuat Mbak nyaman."

Tangannya berhenti membetulkan lengan. "Kamu masih memikirkan tirai itu?"

"Menurutku aneh."

"Mungkin dia bosan dengan warna netral." Mbak Laras menatap pantulan kami. "Sekar, aku ingin perjalanan ini berjalan baik. Bisa nggak untuk dua hari saja kamu nggak curiga pada semua tindakannya?"

"Kalau tindakannya nggak aneh, aku juga nggak akan curiga."

"Mas Damar sudah banyak membantu keluarga."

"Itu bukan alasan aku harus merasa aman sama dia."

Mbak Laras menutup mata sesaat. "Aku nggak mau bertengkar."

"Aku juga."

Kami berdiri di depan cermin, hanya terpisah beberapa sentimeter tetapi rasanya jauh. Akhirnya ia memilih tunik hijau yang kusarankan. Saat memelukku dari belakang, suaranya melembut.

"Aku senang kamu ikut."

Rasa bersalah kembali menekan. Aku berharap kebahagiaannya tidak dibangun di atas sesuatu yang terjadi kepadaku.

Di ruang tengah, Ayah membagikan tiket kereta pagi menuju Surabaya Gubeng. Perjalanan akan memakan hampir seharian. Ibu sudah mengatur tempat duduk: dirinya dengan Mbak Laras, Pakdhe Warto dengan Ayah, sedangkan aku ditempatkan bersama Budhe Sari di baris belakang.

"Kenapa bukan aku dengan Mbak Laras?" tanyaku.

"Laras harus menyelesaikan pekerjaan lewat laptop. Jangan manja," jawab Ibu.

Ayah mengambil tiket dari tangannya. "Sekar duduk sama Ayah. Warto duduk dengan istrinya."

"Jangan merepotkan orang."

"Pakdhe nggak masalah," kata Pakdhe Warto, meski terlihat enggan melepas kursi dekat jendela. Budhe Sari justru langsung setuju karena tidak ingin duduk jauh dari suaminya.

Ibu hendak membantah, tetapi Ayah sudah menulis perubahan nomor kursi di belakang tiket. Gerakannya sederhana, suaranya tidak keras. Tetap saja itu pertama kalinya ia mengubah rencana Ibu di depan keluarga demi melindungiku.

Damar akan menunggu kami di Surabaya Gubeng. Setidaknya selama perjalanan, aku tidak perlu memikirkan ia muncul di lorong kereta atau duduk terlalu dekat. Beberapa jam itu menjadi jarak terakhir yang masih sepenuhnya milikku.

Aku menyimpan tiket baru di dompet. Kursiku berada di samping Ayah, dekat lorong, jauh dari siapa pun yang bisa menutup jalan keluar.

Malam sebelum keberangkatan, aku memasukkan pakaian ke ransel kecil. Gelang giok tetap di laci terkunci. Kunci kuselipkan ke rantai leher. Bungkusan teh dan seluruh catatan juga kutinggalkan, sementara salinannya aman di surel.

Jadwal kereta, alamat rumah Wirajaya, dan nomor Ayah kukirim kepada Rangga serta Tania. Aku mengunduh peta Surabaya untuk dipakai tanpa jaringan dan menyimpan uang tunai di dua tempat. Mungkin berlebihan. Namun kewaspadaan terasa lebih baik daripada kembali terbangun dengan pertanyaan yang tak bisa kujawab.

Semua itu disiapkan jika aku harus bergerak seorang diri lagi.

Ayah mengetuk dan masuk membawa obat, plester, serta uang tunai.

"Surabaya panas. Minum yang banyak," katanya.

"Ayah bicara seperti aku mau ekspedisi sebulan."

Ia tidak tersenyum. "Sekar, tentang Mas Damar yang kamu bilang kemarin. Pintu mobil itu benar-benar dikunci?"

Aku mengangguk.

"Kenapa baru bilang?"

"Aku takut Ayah nggak percaya."

Wajahnya runtuh sebentar. "Ayah mungkin lambat, tapi bukan berarti Ayah akan memilih orang lain daripada kamu."

Aku menahan napas agar tidak menangis.

"Di Surabaya, jangan pergi sendirian," lanjutnya. "Tetap dekat Ayah. Kalau Mas Damar mengajak ke mana-mana, bilang tidak. Kalau sulit, telepon Ayah meski kita cuma beda kamar."

"Iya, Yah."

"Janji."

"Janji."

Ayah menutup ranselku dan meletakkannya dekat pintu. Di ruang depan, kotak-kotak seserahan tersusun seperti jembatan menuju keluarga Wirajaya.

Besok aku akan menyeberang bersama semua orang.

Dan untuk pertama kalinya, Ayah juga melihat bahwa sesuatu menunggu di sisi lain.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!