Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. Rahasia di Buku Sketsa
Siang itu, Mikael dipanggil mendesak ke ruang rapat direksi. "Tunggu sebentar, ya. Aku akan segera kembali," katanya sambil mengusap puncak kepala Naira sebelum bergegas keluar pintu.
Naira duduk di kursi tamu ruangan itu, membiarkan matanya menyapu sekeliling. Ruang kerja Mikael yang luas dan rapi, penuh dengan rak buku tebal, piala penghargaan, dan lukisan-lukisan yang menenangkan.
Namun hari ini, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Laci meja kerja Mikael yang sedikit terbuka, seolah tergeser saat ia terburu-buru tadi.
Naira tidak bermaksud mengintip. Ia hanya ingin menutup laci itu agar terlihat rapi. Tapi saat ia menariknya perlahan tertutup, sudut sebuah benda terselip di sana dan membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Sebuah buku sketsa.
Sampulnya berwarna cokelat tua, sedikit usang di bagian sudut, terlihat seperti sudah lama disimpan dengan penuh kehati-hatian. Rasa penasaran menguasainya.
Tangan Naira bergetar saat ia mengeluarkan buku itu perlahan dari lacinya. Berat di tangannya terasa seperti menyimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi darinya.
Dengan napas tertahan, Naira membuka halaman pertamanya.
Dan dunia di sekitarnya seakan berhenti berputar.
Halaman pertama : gambar seorang perempuan berdiri di dalam bus, tangan memegang tiang besi dengan erat, alisnya sedikit berkerut, bibirnya mengerucut kesal.
Wajahnya. Wajah Naira. Saat pertama kali mereka bertemu. Saat mereka bertengkar soal tempat duduk. Di sudut bawah, tertulis tulisan tangan yang rapi namun sedikit miring: Hari pertama bertemu. Dia galak, tapi matanya indah.
Naira menelan ludah. Tangannya gemetar saat membalik halaman berikutnya.
Halaman kedua : gambarnya sedang berjalan terburu-buru di lorong kantor, membawa banyak map di pelukannya, rambut sedikit berantakan tertiup angin.
Selalu terburu-buru. Seperti burung kecil yang takut terlambat pulang.
Halaman ketiga : gambarnya sedang duduk di meja kerja di butik, kepalanya sedikit menunduk, mata terfokus pada sketsa di tangannya, ujung bibirnya tersenyum tipis. Saat dia menggambar, seluruh dunia berhenti. Dia tidak tahu betapa indahnya dia saat sedang melakukan apa yang dia cintai.
Halaman demi halaman, Naira membaliknya satu per satu dengan hati yang berdebar semakin kencang.
Ada gambarnya saat tertawa di warung pinggir jalan dengan mulut penuh makanan, ada gambarnya saat berjalan pulang di bawah payung, ada gambarnya saat menatap hujan dari jendela, bahkan ada gambarnya saat ia tidak sengaja menabrak tiang lampu dan tersenyum malu, momen yang Naira sendiri pikir tidak ada yang melihatnya.
Dari semua gambar itu Naira bisa merasakan sesuatu yang mendalam. Cinta. Kekaguman. Perhatian yang tak pernah terucap.
Pintu ruangan terbuka. Langkah kaki Mikael terhenti.
Naira menoleh, buku sketsa itu masih digenggam erat di tangannya, air mata masih mengalir di pipinya, dan di matanya tercampur antara terkejut, haru, dan cinta yang meluap-luap.
Mikael berdiri di ambang pintu, menatap buku di tangan Naira, lalu menatap wajah perempuan itu. Wajahnya perlahan berubah merah padam, terlihat malu dan canggung, seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan rahasia. Ia tidak berjalan mendekat. Ia hanya berdiri di sana, gugup dan diam.
"Aku..." suaranya tertahan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menghela napas panjang, seolah memutuskan untuk mengakui semuanya sekaligus.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku hanya takut kamu menganggapku aneh. Takut kamu merasa terganggu. Takut kamu berpikir aku terlalu berlebihan."
Ia berjalan perlahan mendekat, lalu duduk di tepi meja, tidak jauh dari Naira, matanya menatap lurus ke mata perempuan itu dengan kejujuran yang malu-malu namun terlihat indah.
"Sejak hari pertama kita bertemu di bus itu, aku tidak bisa melupakanmu. Satu detik pun tidak. Aku bahkan tidak tahu namamu saat itu. Tapi aku tahu, ada sesuatu yang berubah di dalam diriku saat melihatmu. Sesuatu yang aku tidak bisa jelaskan dengan kata-kata."
Mikael menunjuk buku sketsa di tangan Naira dengan senyum yang malu-malu namun tulus.
"Jadi aku menggambarmu. Setiap kali aku melihatmu, aku pulang dan aku menggambar. Aku ingin mengingat setiap ekspresimu.
Setiap senyuman, setiap kerutan di dahi saat kamu bingung, setiap cahaya di matamu saat kamu bahagia. Aku takut jika aku tidak menggambarmu, aku akan lupa betapa indahnya wajahmu. Dan aku tidak ingin lupa. Tidak pernah."
Ia menunduk sejenak, lalu menatap Naira lagi dengan mata yang berbinar.
"Sudah lama aku diam-diam memperhatikanmu. Aku tahu jadwal kerjamu. Aku tahu rute bus yang kamu naiki. Aku tahu kapan kamu senang dan kapan kamu sedih. Aku tahu semua itu, tapi aku tidak berani mendekat dan berharap suatu hari nanti aku punya keberanian untuk berbicara denganmu dengan benar. Bukan dengan pertengkaran, bukan dengan kesalahan."
Naira tersenyum begitu lebar, begitu bahagia, begitu penuh rasa syukur hingga ia merasa hatinya akan meledak.
Ia berdiri, berjalan mendekat, dan meletakkan buku sketsa itu di meja dengan hati-hati, seolah itu adalah benda paling berharga di dunia ini.
Lalu ia memeluk Mikael erat-erat, memeluknya seakan ingin menyatu dengannya, menyembunyikan wajah di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang berpacu sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri.
"Aku tidak menyangka, Mikael," suaranya bergetar namun penuh kasih sayang. "aku merasa tidak pantas dicintai sedalam ini. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kamu menungguku. Memperhatikanku. Mencintaiku."
Mikael memeluknya balik, lengannya melingkar erat di tubuh Naira, mencium puncak kepalanya berulang-ulang dengan penuh rasa syukur.
Naira melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah pria itu dengan mata yang berbinar penuh cinta. Ia menyentuh wajah Mikael dengan lembut, telapak tangannya mengusap pipinya dengan penuh kelembutan.
"Terima kasih sudah menungguku. Terima kasih sudah memperhatikanku. Terima kasih sudah mencintaiku bahkan sebelum kita saling mengenal. Aku janji... aku akan berusaha sebaik mungkin untuk layak dicintai olehmu."
Mikael menutup matanya sejenak, mencium telapak tangan yang ada di pipinya dengan penuh rasa sayang.
"Kamu sudah lebih dari cukup, Naira. Dan buku sketsa itu... itu baru permulaan. Halaman-halaman selanjutnya adalah tentang kita. Tentang hari-hari yang kita lalui bersama. Tentang masa depan yang kita bangun berdua.
Dan aku akan terus menggambarmu, setiap hari, setiap tahun, sampai rambutku memutih dan tanganku gemetar tak bisa memegang pensil lagi. Karena bagiku, tidak ada subjek yang lebih indah daripada perempuan yang aku cintai ini."
Naira tersenyum, lalu menarik wajahnya mendekat, mencium bibirnya dengan lembut, penuh rasa terima kasih yang tak terucapkan. Sebuah ciuman yang mengatakan: Aku tahu. Aku merasakannya juga. Dan aku tidak akan pernah pergi.
Saat mereka melepaskan ciuman itu, Mikael mengambil buku sketsa itu dari meja, lalu menyerahkannya kepada Naira dengan kedua tangannya.
"Ini milikmu sekarang. Simpanlah. Karena semua gambar di dalamnya adalah milikmu. Semua perasaan di dalamnya adalah milikmu. Dan aku juga milikmu. Sepenuhnya."
Naira memeluk buku itu di dadanya, merasakan detak jantungnya yang berpacu di bawah benda itu. Ia menatap Mikael, dan di saat itu ia tahu, cinta sejati bukanlah tentang siapa yang lebih dulu datang.
Ia adalah tentang seseorang yang melihatmu bahkan saat kamu tidak tahu sedang dilihat, yang mencintaimu bahkan sebelum kamu menyadari keberadaannya, dan yang menunggumu sampai kamu siap untuk berjalan berdampingan.
mudah2an cocok 💪