Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ni'am

Aro menatap wajahku. “Ayo, turun dari lift. Mereka tidak akan mati semudah itu, mereka jelas bukan orang sembarangan”

Lagi-lagi ku hanya tetap terperangah melihatnya. Sebesar apa tenaganya?

Aro melompat keluar. Turun beberapa meter sampai turun jembatan penghubung lantai enam dan lift. Aku lanjut menyusul. Melompat ringan, sial, lompatku terlalu tinggi, bertambah tiga meter dari lift. Tubuhku berakhir meluncur deras ke bawah. Menghentak keras permukaan jembatan. Memang, tidak ada rasa sakit sedikitpun. Serasa hanya terhentak dari ketinggian beberapa senti. Sepertinya metabolisme dalam tubuh juga mendesain fisik agar lebih kuat dan cocok dengan perubahan yang ada.

Aku segera berdiri di samping Aro, dia terdiam terdiam, matanya sedikit melebar.

“Urusaii......” Gumamuku.

Ya, aku tahu apa yang terjadi. Sesuai dugaanku. Para pasukan pasti tetap menyusul hingga di lantai enam ini. Keluar dari pintu masuk tangga manual penghubung lantai, personil yang hampir menahan kami di bawah tadi, kini telah naik mulai menyebar luas di sembarang tempat lantai enam. Senjata mereka tertahan, moncongnya menghadap ke bawah.

Tegang segera menyeruak. Suasana seisi gedung seolah tertahan.

“Kan aku bilang, bukan ide bagus kalau masuk ke gedung” Aku berkata di samping Aro.

Aro tetap menghadap ke depan. Fokus, siapapun bisa menembak kapan saja di depan sana. “Gak, kamu gak bilang gitu. Kamu bilang ‘Kau sama saja membawa pasukan itu ke tempat ini”

Dahiku merungut, masih ingat dia ya.

Pasukan-pasukan barusan mulai berjajar rapi, memenuhi lantai enam. Tampaknya tidak ingin menyerang langsung. Meski aku merasakan emosi memburu yang menggebu di depan sana.

Selang beberapa detik satu orang keluar barisan, mulai maju menaiki jembatan lift. Pakaiannya formal, bukan seragam militer dan petugas. Ku perhatikan, hemmm.. Dia pria paruh baya dengan gestur wajah tegas, berwok hitam, sedikit serpihan uban putih yang juga teerdapat pada rambutnya, meski tertata rapi. Entahlah, perawakannya juga gagah. Aku tidak mengenalnya.

Dia berjalan tegak. Menatap tajam ke arah kami. Hingga jarak kami terpisah dua meter, pria itu berhenti.

“Selamat malam tuan dan nyonya. Perkenalkan, nama saya Ni’am. Saya bapak ketua keamanan negara” Pria itu memulai bicara. Gestur wajahnya sumringah, tapi sangat terlihat jelek.

Nadanya memang sedikit mengintimidasi. Apalagi ketika ia mengatakan kata ‘nyonya’ barusan. Matanya sedikit melotot ke arahku.

“Semua tragedi dan konflik apapun ada pada tanggung jawab kami” lanjutnya. “Dan Anda, tuan. Bukankah anda tahu jika gadis yang sedang bersamamu itu adalah buronan”

Aku menelan ludah. Kali ini ketua keamanan kembali menatap Aro. Bagaimana dia akan menjawabnya.

“Tidak. Tidak ingin tahu dan tidak akan pernah ku benarkan” Aro membalas, tersenyum .

Deg! Jantungku berdetak kuat satu kali. Aro bisa berani berkata seperti itu? Bukannya dia tahu sedang bicara dengan siapa.

Ketua keamanan balas tersenyum –bukan senyuman yang menyenangkan juga. “Kalian tidak tahu? Sesuai dengan undang-undang yang ada, yakni tentang keamanan masyarakat dan lingkungan. Menyatakan bahwa, gadis yang berada di sebelah anda adalah ancaman keamanan. Sesuai juga prosedural yang berlaku di dalamnya, berupa ‘semua potensi yang dapat membuat kerusakan properti atau bahkan korban jiwa harus di sterilkan’ Dan satu hal lain yang perlu anda tahu, prosedur ini telah di tandangani kepala negara bersamaan memandang keamanan adalah prioritas negara hukum seperti negara tercinta ini”

“Ancaman yah?”  Aro melebarkan senyum, mulutnya terbuka. Laki-laki itu tampak semakin semangat menanggapi. “Bukankah yang dari tadi ngeluarin peluru adalah personil anda?”

Tak terasa Aro mencoba memigitasi keadaan. Menunding ketua keamanan. Ni’am. Pria di depan kami tertegun dengan jawaban barusan.

“Siapa yang arogan? Siapa yang naif. Bicara tentang sesuatu yang berpotensi bahaya, bukankah peraturan yang anda buat juga berbahaya? Merenggut hak fundamental individu? Anda sama saja membahayakan konsistensi keadilan peraturan dan hukum negara” belum sempat Ni’am menjawab, lelaki di sampingku berkata lagi.

“Sementara kami terus menghindar, mencoba untuk bersikap dewasa. Tidak gegabah dengan wewenang. Tidak menumpahkan darah. Coba untuk diam karena kami tahu suara kami akan di bungkam. Kami akan selalu terpojokkan” Aro menatapku. Terkekeh, “Benar tidak, Ila? Kau selama ini tidak pernah melukai siapapun dengan bakat hebatmu itu? Buktinya sudah pasti sangat terlihat pada kenyataan. Lagipula, semua yang terjadi di kota saat ini anda yang memulai, anda yang mengerahkan personil, anda yang mengincar kami demi keamanan, dan anda juga yang membuat warga resah”

Lengang. Aku justru termenung mendengar jawaban Aro. Kata-katanya sangat dalam. Ni’am, ketua keamanan terlihat dibuat kelu. Gestur wajah yang tadi fokus dan tegas kini mulai terbuyarkan, pupil matanya bergerak-gerak tidak jelas. Dia tidak menyangka jika akan mendapat jawaban diplomatis seperti itu.

Telak sudah, ketua tampak kaku. “Peraturan tetap peraturan. Selama kekuatan perempuan itu masih ada di dalamnya, kami tetap akan menahannya”

Aro terbahak. “Dasar konstitusi tirani, akal sehat di hilangkan. Jika dasar dakwa anda berasal dari kekuatan gadis ini. Well. Bagaimana anda menanggapi senjata yang digunakan unit-unit yang anda kerahkan? Bukankah itu di luar kemampuan manusia?”

“Semua itu ada prosedural resmi, dan hanya di keluarkan dalam keadaan tertentu” Ni’am masih mau membalas.

“Lah, prosedural resmi!” Aro menaikkan nada “Meski gegabah? Tidak berbeda dengan gadis ini. Dia hanya menjalankan kehidupannya sebagai gadis biasa. Sisi resminya, dia akan menggunakan kekuatannya juga dalam keadaan tertentu. Walau tidak terlihat bentuk resmi tersebut. Tapi dia berhasil menunjukkan penggunaan kekuatan yang benar sesuai prosedur sosial. Dalam arti tidak menggunakan untuk melanggar peraturan yang ada. Lah unit anda? Meski dalam prosedural, tapi anda yang justru gegabah, membuat warga terganggu. Anda kira lalu lintas yang terhambat oleh operasi identifikasi masalah tidak buat pengguna jalan geram?”

Ketua keamanan menelan ludah. Lagi-lagi aro berhasil menanggapi, beserta bukti nyatanya.

Aku membelai tangan Aro. Dia lagi-lagi membelaku.

“Pesan terakhir” Aro melanjutkan. “Jika anda ingin sebuah keamanan, maka saya menuntut keadilan. Siapa yang mau menerima jika punya anak terlahir dengan bakat –dimana dampak positif dan negatif yang akan timbul melalui bakatnya itu juga bergantung pada pilotnya tersebut, justru harus di renggut demi kepentingan negara yang sebenarnya ambigu dan arogan”

“Ambigu” Ketua keamanan menilik.

Aro berdecak. “Iya kan? anda menindak dari prosedur yang ada dengan embel-embel potensi. Itu sebuah kesenggangan yang sangat tampak. Seseorang belum melakukan sesuatu, hanya terlihat berbahaya justru anda tangkap”

“Tapi peraturannya_

“Halah, peraturan itu harus di cabut. Tidak pantas dalam undang-undang kemanusiaan, peraturan itu hanya berguna dalam konflik antar negara, dimana jika ada musuh hanya terlihat berdiam saja, tidak melakukan kericuhan di dalam negara, tetap harus ditangkap demi keamanan” Lelaki di sampingku semakin gemas.

Senyap, suasana sekitar benar-benar tertahan. Ketua keamanan negara mengepal tangan, mungkin mulai geram.

“Jadi minta saya simpel, hentikan penangkapan ini dan cabut undang-undang tersebut. Dan reward untuk anda, adalah keamanan karena saya akan memastikan Ila baik-baik saja"

Senyap lagi. Jantungku berdetak. Tinggal menunggu tanggapan Ni'am. Setelah Aro mendominasi debat barusan seharusnya orang itu bisa berfikir lebih sehat.

Ni’am terdiam cukup lama.

Aku sempat mengira dia akan membalas, namun pria itu justru menunduk. seolah menimbang kata-kata yang barusaja Aro lontarkan.

kemudian dia mengangkat wajahnya lagi.

"Panjang sekali pidatomu"

Aro terdiam.

Ni'am tersenyum tipis. "Dan sayangnya, kau benar dalam beberapa bagian"

Aku tertegun.

Aro mengernyitkan dahi, apa maksudnya.

"Tapi kau melewatkan satu hal" Ni'am kembali tenang "Kami menangkap Ila bukan karena apa yang trlah dia lakukan"

"Lalu"

"Ya sama kayak ucapanku tadi. Kami bertindak dengan kemungkinan yang akan terjadi setelah ini"

Aro menyipit.

Ni'am menunjuk ke arahku.

"Bakatmu itu bukan sekedar pukulan yang kuat atau dapat menghindari ribuan peluru, kami memilik data terkait perubahan tubuhmu. kerusakan yang terjadi. kami memiliki saksi dan data-data yang konkret terkait penangkapan"

Aku menelan ludah.

Aro tidak langsung menjawab.

"Dan kau" Ni'am menatap Aro. "Mau berdiri di sampingnya pasti hanya berdasarkan apa yang kau lihat dalam beberapa hari saja"

Aro tersenyum kecil. "Betul. bahkan baru kemarin aku kenalan"

Ni'am mengernyit.

"Tapi saya juga melihat apa yang kalian lakukan saat mengejarnya"

senyumnya menghilang.

"Dan itu cukup untuk saya menyatakan siapa yang hilang kendali"

Aku terdiam.

ku kira Aro tidak mampu membalasnya..

Aro berhembus. tangannya masih berada di sampingku.

"Kalau begitu, mari sama sama kita buktikan"

Ni'am terbelalak menatap Aro.

"Buktikan kalo Ila benar-benar berbahaya. atau rezim yang benar-benar ceroboh dalam penggunaan kuasa personil untuk penangkapan"

lengang. aku menahan nafas.

Aro melanjutkan dalam nada rendah.

"Yang pasti dengan bukti, saya ada bukti, anda ada bukti. tapi dilakukan atas dasar hukum yang kontan, bukan potensial atau asumsi yang ditameng-temengi undang-undang kalian"

Mata Aro menatap tajam.

“Buktikan semuanya, dampaknya, tanggapan orang di kota tentang oprasi yang arogan ini"

Hening panjang, aku menahan nafas. Aro tampak berani meminta bukti.

Ni'am, alias ketua keamanan akhirnya berhembus. "Baiklah, anda telah menemukan kekurangan yang ada" Namun dia juga mulai tersenyum. Aneh, padahal lagi ngaku kalah. "Saya juga bisa menduga akan kalah debat seperti ini. Kau Aro, aku tahu kau dibesarkan di lembaga pesantren, musyawarah ada di dalam programnya. Jadi saya maklum saja kalau saya kalah"

Aku dan Aro tersentak, bagaimana dia bisa tahu.

"Tapi, kamu tidak tahu nak. Adanya hukum ini juga tetap tak terlepas dari filosofi dalam yang membuat kenapa peraturan keamanan yang tampak ironi tersebut harus ada. Entah karena terkait tragedi sesuatu lah, atau apa lah. Jadi, meski anda benar, anda belum tentu memberikan dampak positif atau negatif setelah kebenaran tersebut jelas. Ingat, dunia belum tentu stabil hanya dengan adanya pahlawan"

Aku kembali terhening, tidak faham. Tapi dahi Aro mengkerut, seakan faham. "Jangan membual!" Hardik anak itu.

Ketua keamanan terbahak. "Peraturan tetap peraturan, ironi bisa jadi membuahkan dampak positif. Terserah kau saja mau berpendapat bagaimanapun. Tapi kekuasaan sekarang ada di tanganku. Silahkan bertahan, akal sehat!"

Ketua keamanan langsung berbalik. Memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.

"Woi!, dasar iblis" Aro membentak.

"Serang mereka anak-anak" Ni'am meberi perintah.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!