Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Sensasi dingin dari marmer ruang kerja di lantai dua seolah merambat masuk menembus telapak kaki Alvan. Pria itu berdiri kaku, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Ponsel yang tergeletak di atas karpet masih menayangkan pendar layar redup, sebuah bukti tak terbantahkan atas laporan Bima. Dokumen transaksi rahasia yang selama ini dijadikannya pijakan untuk memusuhi, mengurung, dan menghakimi Andira adalah sebuah rekayasa palsu bertingkat tinggi.
Penyesalan yang datang mendadak itu tidak hanya menghantam logikanya, tetapi meremukkan seluruh pertahanan batin Alvan. Ia adalah pria yang membanggakan ketepatan dan keadilan, namun selama berbulan-bulan ini, ia telah menjadi algojo buta bagi wanita yang sama sekali tak bersalah.
"Andira..." bisik Alvan, suaranya serak, tenggelam dalam kehampaan ruangan.
Ia membalikkan badan, melangkah cepat keluar dari ruang kerja. Pria itu berniat turun ke lantai bawah, menatap mata wanita itu, dan mencari cara untuk menebus seluruh dosa dan tuduhan kejam yang telah ia lemparkan.
Namun, di lorong lantai bawah, keheningan mansion mendadak pecah oleh suara dentuman benda berat yang jatuh di dalam kamar mandi area belakang.
BRUK!
Suara itu diikuti oleh dentang samar gayung logam yang menghantam lantai marmer.
Alvan menghentikan langkahnya di anak tangga tengah. Jantungnya meloncat kaget. "Andira?" panggilnya dengan kepanikan yang tak terikat.
Tidak ada jawaban. Hanya ada suara kucuran air keran yang terus mengalir tanpa henti dari dalam kamar mandi.
Alvan berlari menuruni sisa anak tangga dengan kecepatan penuh. Langkah kakinya yang lebar bergema keras di sepanjang koridor. Ia menerobos pintu area pelayan dan mendapati pintu kamar mandi sedikit terbuka.
"Andira!"
Alvan mendorong pintu kayu itu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di dalam kamar mandi membuat napas Alvan terhenti seketika.
Andira terbaring tidak sadarkan diri di atas lantai marmer yang basah. Tubuhnya yang ramping meringkuk pasrah. Keran wastafel yang meluap membasahi sebagian ujung pakaian kerjanya. Wajah wanita itu pucat pasi bagaikan kertas tanpa darah, sementara kedua bibirnya yang pecah-pecah bergetar hebat.
Tangan kanannya yang terbalut perban tampak membengkak parah. Luka bakar yang belum sepenuhnya sembuh, ditambah bekas tekanan perkelahian dengan penyusup serta trauma fisik di gala dinner, akhirnya meruntuhkan pertahanan fisik wanita itu. Tubuhnya yang memikul beban mental terlalu berat tak sanggup lagi bertahan.
"Andira!"
Alvan berlutut tanpa peduli celana kain mewahnya basah tergenang air. Ia merengkuh tubuh halus wanita itu ke dalam pelukannya. Saat kulit tangannya menyentuh leher dan dahi Andira, Alvan terperanjat hebat.
Panas. Tubuh Andira membakar bagaikan lahar! Demam tinggi yang ekstrem melilit tubuh rapuh itu.
"Bi Inah! Matikan airnya!" bentak Alvan penuh kepanikan, suaranya bergema memenuhi seluruh penjuru lorong.
Bi Inah yang berlari terburu-buru dari arah dapur seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat kondisi Andira. "Ya Tuhan! Nyonya Andira!"
"Jangan berdiri saja! Ambilkan handuk kering dan selimut tebal ke kamar utama sekarang!" perintah Alvan seraya menyusupkan kedua tangannya di bawah punggung dan lutut Andira.
Dengan satu hentakan kuat, Alvan mengangkat tubuh Andira ke dalam dekapannya. Kepala Andira terkulai lemah di dada tegap Alvan, napas wanita itu terasa memburu dan sangat panas menerpa kulit leher Alvan.
Rasa bersalah yang membakar dada Alvan kian memuncak, ia menyadari betapa gilanya tekanan yang harus ditanggung wanita ini sendirian hingga fisiknya ambruk total.
Alvan membawa Andira melintasi koridor utama, menaiki tangga menuju kamar tidur utamanya. Pria itu membaringkan Andira secara perlahan di atas tempat tidur king-size miliknya, menyelimuti tubuh yang gemetar itu hingga batas dada.
Bi Inah berlari masuk dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kering, disusul beberapa pelayan wanita yang tampak cemas di ambang pintu.
"Pak Alvan, biar kami yang mengganti pakaian dan merawat Nyonya..." ujar Bi Inah terengah-engah seraya mengulurkan tangan.
"Tidak," potong Alvan tegas. Pria itu berdiri di samping ranjang, menatap para pelayan dengan pandangan yang tak bantahkan. "Kalian semua keluar. Biarkan aku yang mengurusnya."
"Tapi, Pak..."
"Aku bilang keluar!" tegas Alvan lagi, nada suaranya begitu dingin hingga membuat para pelayan menunduk takut dan perlahan mundur meninggalkan ruangan, menutup pintu rapat-rapat.
Alvan menyapu jemarinya ke rambutnya yang berantakan. Ia menyambar ponsel pribadinya dan menekan nomor dokter pribadi keluarga Samudra, Dr. Gunawan.
"Dokter Gunawan, datang ke mansion Samudra sekarang juga," kata Alvan tanpa basa-basi begitu panggilannya diangkat.
"Pak Alvan? Ada apa? Apakah Anda atau Bu Elena sakit?"
"Istriku demam tinggi dan pingsan," jawab Alvan singkat, suaranya bergetar menahan cemas. "Bawa peralatan medis lengkap dan obat penurun panas terbaik. Gunakan pintu samping belakang, jangan sampai ada pers atau media yang melihat kedatanganmu."
Alvan tahu betul, jika berita mengenai kondisi Andira bocor ke luar, Elena dan para pemburu berita akan kembali memanfaatkan momen ini untuk membuat tuduhan palsu baru. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau menghakimi Andira lagi.
Setelah memutus sambungan telepon, Alvan menarik kursi kayu di samping tempat tidur. Pria itu duduk mendekat, memeras kain handuk basah dengan tangannya sendiri, lalu meletakkannya secara perlahan di atas dahi Andira yang panas.
Jemari Alvan yang biasanya kaku dan tegas kini bergerak dengan kehati-hatian yang luar biasa.
Ia menyapu helai-helai rambut basah yang menempel di pipi pucat Andira. Ia menatap bekas memar di leher wanita itu, sisa kejahatan yang hampir merenggut nyawanya, lalu berpaling menatap pergelangan tangan kanan Andira yang terbalut perban basah.
Dengan pelan, Alvan membuka ikatan kassa di tangan kanan Andira. Ia dapat melihat luka bakar yang meradang merah akibat infeksi demam. Namun, kali ini, Alvan tidak lagi berfokus pada benjolan keras flashdisk yang tersembunyi di dalamnya. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah rasa sakit yang harus ditanggung oleh wanita muda ini.
"Maafkan aku..." bisik Alvan halus, tangannya mengusap jemari dingin Andira yang kurus. "Maafkan aku yang terlalu buta untuk melihat kebenaran..."
Dua puluh menit kemudian, Dr. Gunawan tiba secara rahasia. Dokter paruh baya itu memeriksa suhu tubuh Andira, memberikan suntikan penurun demam, serta membersihkan dan membalut ulang luka bakar di tangan Andira dengan antiseptik dosis tinggi.
"Suhu tubuhnya mencapai tiga puluh sembilan koma lima derajat Celsius, Pak Alvan," terang Dr. Gunawan seraya merapikan stetoskopnya. "Ini adalah kombinasi dari infeksi luka yang terlambat ditangani dan stres emosional tingkat berat. Tubuhnya mengalami kelelahan ekstrem. Saya sudah memasang infus nutrisi dan penurun panas. Beliau membutuhkan istirahat total dan ketenangan."
"Apakah dia aman di sini?" tanya Alvan penuh penekanan.
"Aman, asal tidak ada tekanan mental tambahan. Saya akan meninggalkan obat-obatan ini. Jika demamnya tidak turun hingga besok pagi, beliau harus dirawat dengan fasilitas medis yang lebih lengkap."
Alvan mengangguk pelan, mengantar Dr. Gunawan keluar secara rahasia, lalu kembali mengunci pintu kamar utamanya rapat-rapat.
~
Malam kembali merayap turun menyelimuti mansion. Hujan di luar semakin deras, menghempaskan titik-titik air ke kaca jendela kamar utama.
Pendar lampu kamar dibuat sangat remang. Alvan tidak bergeming dari kursinya di samping tempat tidur. Pria itu menolak untuk memejamkan mata, memantulkan setiap tetes cairan infus yang mengalir lambat masuk ke dalam pembuluh darah tangan kiri Andira.
Ia mengganti kain kompres di dahi Andira setiap sepuluh menit sekali dengan ketelatenan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.
Sekitar pukul dua dini hari, napas Andira mulai terdengar tidak teratur.
Garis-garis kecemasan muncul di dahi wanita itu. Tubuhnya yang terbaring di bawah selimut tebal mulai berguncang pelan, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan dalam derita mimpi buruk yang dipicu oleh demam tinggi.
"Tidak... jangan..." bisik Andira terengah-engah, suaranya parau dan terputus-putus.
Alvan seketika menegakkan duduknya, memajukan tubuhnya. "Andira? Kamu mendengarku?"
Air mata dingin menetes dari sudut mata Andira yang masih terpejam rapat. Wanita itu tenggelam dalam delusi demam yang hebat, ingatan masa lalunya pada malam berdarah itu kembali terulang dalam bawah sadarnya.
Jemari tangan kiri Andira yang bebas tiba-tiba bergerak liar di atas sprei. Dengan gerakan refleks yang penuh keputusasaan, tangan yang kurus dan dingin itu meraba udara hingga akhirnya mencengkeram erat jemari tangan kanan Alvan!
Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah Alvan adalah satu-satunya pegangan hidupnya di tengah samudra kegelapan.
Alvan membeku. Ia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia membalas genggaman jemari halus itu dengan kehangatan telapak tangannya.
"Aku di sini, Andira," bisik Alvan pelan di dekat wajah wanita itu. "Kamu aman."
Andira makin mengetatkan genggamannya pada jemari Alvan. Bibirnya yang pucat bergerak-gerak, menyuarakan bisikan indigo yang keluar langsung dari kedalaman jiwanya yang paling jujur.
"Roy..." bisik Andira dengan isakan halus yang memilukan dada. "...bukan aku... demi Tuhan, aku tidak membunuhmu..."
Air mata Andira mengalir makin deras membasahi bantal.
"...aku menyayangimu sebagai teman... aku tidak pernah menyentuh pisau itu... Roy, percaya padaku..."
DEGGGG!
Kata-kata yang meluncur dari mulut seorang wanita yang sedang dalam kondisi tidak sadar dan di puncak demamnya adalah kejujuran yang paling murni tanpa sandiwara.
Suara isakan ketakutan Andira yang menyebut nama Roy dengan kepedihan yang mendalam menghantam tepat di pusat jantung Alvan. Seluruh sisa keraguan yang ada di dalam benak pria itu seketika lebur tak bersisa.
Alvan memejamkan matanya rapat-rapat, menggigit bibirnya seraya memeluk jemari Andira yang gemetar dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan wanita itu, sementara hatinya terguncang hebat oleh rasa penyesalan yang tak tertanggungkan.
"Aku percaya..." bisik Alvan dengan suara bergetar dan tercekik emosi di dalam keheningan malam. "Aku percaya padamu, Andira..."
...----------------...
To Be Continue ....