Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"Iyyhh... nyebelin banget sih!" gerutu Estella setengah berbisik sambil memegangi lengannya yang terasa panas bekas cengkeraman kasar Lucian. Ia memanyunkan bibirnya, merapikan pakaiannya yang agak kusut, lalu melangkah gontai mengikuti pria itu menuju pintu masuk mansion.
Saat melintasi koridor megah berpilar tinggi, pandangan Estella tertuju pada punggung tegap Lucian yang berjalan kokoh beberapa langkah di depannya. Otaknya yang sibuk mengingat kilasan mimpi tadi mendadak berputar cepat.
Tunggu deh... batin Estella membeku. Anak kecil yang nangis di bawah pohon waktu gue umur enam tahun itu... apa beneran Lucian yang ini? Masa iya anak cowok yang dulu pasrah dipukulin bapaknya sekarang tumbuh jadi psikopat nomor satu di novel ini?!
Estella menelan ludahnya yang terasa mengganjal. Jika teori ingatannya benar, bukankah seharusnya Lucian memiliki sedikit rasa kasihan padanya?
Tapi... kalau gue ge-er dan ternyata tebakan gue salah, bisa-bisa leher gue digorok lebih cepat dari batas waktu sebulan! ringisnya dalam hati, memutuskan untuk menyimpan rapat-rapt spekulasi tersebut sampai ia menemukan bukti yang lebih jelas.
Keesokan harinya, suasana di sekitar area kampus tampak seperti biasa. Namun, di sudut jalanan sepi yang tak jauh dari gerbang utama, sebuah mobil van hitam bertinted tebal terparkir diam.
Di dalam van tersebut, beberapa pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam sedang mengawasi gerak-gerik mahasiswa yang lalu-lalang. Wajah mereka penuh garang dan berhias bekas luka. Mereka bukan bagian dari jaringan Vex Noir, melainkan kelompok preman bayaran yang diutus oleh rival bisnis orang tua Estella yang berdomisili di luar negeri. Karena tidak mampu menjangkau orang tua Estella yang dijaga ketat di luar negeri, mereka mengalihkan target balas dendam pada anak tunggal keluarga Aurora itu.
"Itu targetnya. Keluar sendirian," bisik salah satu preman sambil menunjuk sosok gadis berambut panjang yang baru saja berjalan melewati gerbang.
Estella melangkah santai, mengusap lehernya yang masih terasa agak pegal. Namun, saat ia melewati celah lorong di antara dua gedung perkuliahan yang lengang—
SRET!
Sebuah tangan besar berbulu secara mendadak keluar dari balik semak-semak dan membekap mulut Estella menggunakan kain tebal!
"Mmmphhh!" Estella terperanjat hebat, matanya membelalak lebar. Bau bahan kimia menyengat menyeruak masuk ke hidungnya, tetapi sebelum efek biusnya bekerja penuh, dua pria bertubuh tegap lainnya langsung menyeret tubuhnya dengan kasar ke arah mobil van yang sudah membuka pintunya lebar-lebar.
BAMM!
Pintu van ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Van hitam itu langsung tancap gas membelah jalanan dengan kecepatan tinggi.
Estella dilemparkan begitu saja ke lantai van yang kotor. Kepala dan tubuhnya terantuk dinding besi, membuat rasa pusing seketika menguasai pikirannya. Namun, karena dosis bius yang tidak sempurna, Estella masih mempertahankan kesadarannya. Ia terbatuk-batuk, berusaha duduk seraya memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Ugh... aduh! Woy! Siapa kalian, heh?!" teriak Estella hysteris, suaranya naik beberapa oktav di dalam ruang van yang sempit.
Tiga pria berwajah garang menatapnya dari atas kursi dengan senyuman licik dan meremehkan.
"Diam kau, Nona Muda! Jangan banyak tingkah kalau tidak mau wajah mulusmu ini terluka!" bentak salah satu preman berkepala botak dengan tato di lehernya.
"Gue tanya kalian siapa, Om?!" oceh Estella panik setengah mati, suaranya bergetar antara marah dan takut luar biasa. "Gue ini udah pusing diancam mati sama psikopat kampus, dijadikan babu, disuruh mungut organ manusia di hutan... Sekarang malah diculik preman pasar kayak kalian?! Maksudnya apa coba?! Kenapa di segala sisi hidup gue diincar orang-orang gila terus, hah?!"
Ketiga preman itu saling pandang dengan raut bingung mendengar rentetan racotan absurd dari tawanan mereka.
"Bicara apa kau ini, hah?! Bapakmu sudah merugikan bos kami miliaran rupiah di luar negeri! Sekarang kau yang harus bayar harganya sebagai jaminan!" gertak preman berkepala botak seraya mengacungkan sebuah pisau lipat ke wajah Estella.
Estella menyandarkan punggungnya rapat-rapt ke dinding van, jantungnya berdegup kencang seperti mau melompat keluar. Peluh dingin membasahi dahinya saat menyadari bahwa nyawanya kini tidak hanya terancam oleh Lucian, tetapi juga oleh musuh-musuh bisnis keluarganya yang tak kalah kejam.
Ya Tuhan... jerit Estella dalam hati seraya memejamkan mata erat-erat. Penderitaan gue kenapa bertumpuk-tumpuk begini sih?!