Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:256.3k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh

Tak terasa, hampir tiga bulan sudah Azka dan Reatha tinggal di rumah baru mereka.

Tiga bulan yang awalnya terasa begitu asing, perlahan berubah menjadi rutinitas yang hampir sama setiap harinya.

Pagi hari, Reatha selalu bangun lebih dulu. Bukan karena ia ingin terlihat seperti istri sempurna. Bukan juga karena ingin mendapatkan perhatian dari Azka.

Ia hanya merasa itu bagian dari perannya, sebagai seorang istri. Walaupun pada kenyataannya, status itu hanya tertulis di atas kertas.

“Azka, sarapannya sudah siap," ucap Reatha.

Suara Reatha hampir selalu terdengar dari lantai bawah setiap pagi. Ia selalu masak, walau hanya sederhana. Kadang nasi goreng, roti panggang. Dan terkadang hanya telur dadar dan sup sederhana. Tidak pernah terlalu mewah.

Reatha tahu, Azka bisa membeli sarapan di restoran mana pun yang ia mau. Bahkan mungkin makanan yang jauh lebih mahal daripada masakan buatannya.

Namun entah kenapa, setiap pagi ia tetap menyiapkan sarapan. Sementara itu, Azka yang awalnya tidak terbiasa perlahan mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar, ia mulai mencari keberadaan Reatha setiap kali turun dari kamar.

“Pagi,” sapa Azka suatu hari.

Reatha yang sedang menuangkan kopi langsung menoleh. “Pagi," balasnya.

“Ada sarapan?” tanya Azka.

“Ada. Memangnya selama tiga bulan ini pernah tidak ada?” Reatha balik bertanya.

Azka tersenyum tipis. “Enggak.”

“Ya sudah, makan," balas Reatha.

Reatha kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Tidak ada percakapan panjang. Apalagi kemesraan. Namun anehnya, suasana itu terasa nyaman.

Begitu juga saat malam tiba. Azka hampir selalu pulang tepat waktu. Bukan karena pekerjaannya tidak sibuk, melainkan karena ia selalu berusaha menyelesaikan.

Reatha tidak pernah mempermasalahkan itu sebenarnya, mau Azka makan malam di rumah atau diluar bersama Vania. Ia akan tetap masak.

Baginya, ia hanya perlu menjalankan peran sebagai Raisa selama satu tahun. Setelah itu semuanya akan berakhir. Ia akan mendapatkan uang yang dijanjikan kedua orang tuanya, lalu pergi dari kehidupan Azka.

Sederhana. Setidaknya itulah yang selalu Reatha tanamkan dalam pikirannya.

Vania pun mulai memahami batasannya. Wanita itu tidak pernah menuntut Azka terlalu banyak.

Tidak meminta Azka meninggalkan Reatha. Dan juga tidak memaksa Azka memilih dirinya. Vania takut. Sebab semakin ia menuntut, semakin besar kemungkinan Azka merasa lelah. Dan ia tidak ingin kehilangan pria yang selama ini dicintainya.

Maka mereka bertiga seolah menjalani kehidupan masing-masing. Azka bersama Vania ketika akhir pekan. Reatha bersama Azka di rumah pada hari-hari biasa. Mungkin aneh bagi yang mendengarkan. Tapi entah kenapa semuanya berjalan cukup baik.

Sampai suatu sore, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Pintu rumah terbuka lebih cepat dari biasanya. Reatha yang sedang berada di dapur langsung menoleh.

Jam baru menunjukkan pukul lima sore. Keningnya berkerut. “Azka ...,” sapanya.

Tidak ada jawaban. Reatha segera berjalan keluar dari dapur. Ia melihat Azka berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat. Jasnya bahkan belum sempat dilepas.

“Lho? Kamu kenapa pulang cepat?” tanya Reatha.

Azka hanya mengangguk.

“Kenapa?” tanya Reatha dengan suara sedikit kuatir..

“Kepalaku pusing.” Jawabannya singkat.

Reatha langsung mendekat. “Kamu sakit?”

“Enggak tahu.”

Azka kemudian berjalan menuju tangga. Reatha mengikuti dari belakang.

“Kamu sudah makan siang?”

“Sudah.”

“Obat?”

“Belum.”

“Kenapa enggak bilang dari tadi!" seru Reatha.

Azka tidak menjawab. Langkahnya terlihat berat. Begitu sampai di kamar, ia langsung membuka kancing jasnya dan membaringkan tubuh di atas tempat tidur.

Reatha berdiri di ambang pintu. Mereka memang tidak pernah tidur sekamar. Sejak awal, kamar masing-masing sudah disiapkan. Namun, pintu kamar sengaja tidak pernah dikunci. Mereka bebas keluar masuk jika membutuhkan sesuatu.

Reatha menatap Azka yang kini memejamkan mata. Pria itu terlihat sangat lemas. Tanpa banyak berpikir, Reatha mendekat.

Ia berjongkok di depan kaki Azka. Tangannya perlahan membuka tali sepatu pria itu. Azka yang semula memejamkan mata langsung membukanya.

“Raisa, kamu sedang apa?” tanya Azka.

Reatha tidak menjawab. Ia melepaskan sepatu Azka satu per satu. Kemudian kaus kakinya. Azka hanya bisa menatap dengan wajah bingung.

Selama ini, justru dirinya yang terbiasa melayani Vania. Membukakan pintu. Mengambilkan barang. Memastikan Vania nyaman. Namun sekarang, ia justru sedang dilayani oleh istrinya sendiri.

“Sudah,” kata Reatha setelah selesai.

Azka masih menatapnya. “Terima kasih, Raisa.”

Reatha mengangguk kecil. “Sama-sama.”

Kemudian tangannya terangkat. Ia menyentuh dahi Azka. Seketika kening Reatha berkerut.

“Ya ampun," ucapnya Reatha dengan wajah terkejut.

“Apa?” tanya Azka.

“Panas banget.”

Azka kembali memejamkan mata. “Mungkin cuma kecapekan.”

“Ini bukan cuma kecapekan.”

Reatha berdiri.

“Aku ambil obat penurun panas. Sekalian mau buatkan teh hangat. Kamu tunggu sebentar.”

Azka hanya mengangguk. Tubuhnya benar-benar terasa lemas. Reatha segera keluar dari kamar.

Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa segelas teh hangat, obat, dan baskom kecil berisi air hangat. Ia meletakkan semuanya di meja samping tempat tidur.

“Minum obat dulu!" seru Reatha.

Azka membuka mata. Reatha menyerahkan obat dan segelas air. Pria itu menurut tanpa banyak bicara.

Setelah itu Reatha mengambil kain kecil, mencelupkannya ke air hangat, lalu memerasnya.

“Angkat kepala sedikit.”

Lagi-lagi Azka hanya menurut. Reatha meletakkan kain tersebut di dahinya. Ia memejamkan mata lagi. Beberapa detik kemudian, suara Reatha terdengar lembut.

“Kamu istirahat saja," ucap gadis itu.

Azka mengangguk. Reatha berdiri hendak pergi. Namun, sebelum keluar, ia kembali menoleh.

“Aku mau buatkan bubur ayam.”

Azka membuka mata. “Buat apa?”

“Kamu demam. Masa makan nasi biasa!" ujar Reatha.

“Aku bisa pesan.”

“Enggak perlu.”

Reatha tersenyum kecil. “Bubur buatanku lebih enak.”

Azka hampir tersenyum. “Percaya diri sekali.”

“Memang enak," ucap Reatha.

Kemudian Reatha berjalan keluar. Azka hanya memandanginya. Langkah wanita itu semakin menjauh. Sampai akhirnya sosoknya menghilang di balik pintu.

Ruangan kembali sunyi. Azka menatap langit-langit kamar. Entah kenapa, dadanya terasa berat. Selama tiga bulan ini, Reatha tidak pernah menuntut apa pun darinya.

Tidak pernah memaksa dan bertanya tentang Vania. Tidak pernah meminta hadiah. Ia juga tidak meminta diperlakukan seperti seorang istri sungguhan.

Bahkan ketika dirinya pergi bersama Vania di akhir pekan, Reatha hanya diam. Dan sekarang, ketika dirinya sakit, wanita itu tetap menjadi orang pertama yang mengurusnya.

Azka menghela napas panjang. Rasa bersalah menyelinap begitu dalam. Ia menutup mata. “Mungkin aku yang terlalu egois," ungkapnya.

Suara Azka terdengar lirih. Selama ini ia selalu berpikir bahwa dirinya sedang berusaha mempertahankan cinta.

Namun perlahan ia mulai menyadari sesuatu. Ia memiliki seorang istri yang begitu baik. Istri yang selalu menunggunya pulang. Istri yang setiap pagi menyiapkan sarapan. Istri yang tidak pernah meminta apa-apa.

Dan sekarang, istri itu bahkan sedang sibuk membuatkan bubur untuknya. Sementara dirinya? Masih membagi hati kepada wanita lain.

Azka menelan ludah. Rasa bersalah semakin memenuhi dadanya. Ia menatap pintu kamar yang baru saja dilewati Reatha.

“Maafkan aku, Raisa.”

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Naufal Affiq
kamu wanita yang baik rea,jadi sudah sewajar nya kamu mendapatkan kasih sayang yang utuh dari mama mertua mu,kalau masalah orang tua mu gak usah kau dengar kan rea,anggap aja angin lalu
Sri Supriatin
ikut seneng buat Azka sm Reatha 👍👍😍😍
Teh Euis Tea
semoga secepatnya kalian menikah dan ortunta reatha ga bikin drama yg menyalahkan reatha lg
Patrick Khan
akhirnya. 👏👏👏👏rea azka bersatu
.kawal sampai sahh
Teh Euis Tea
achhhh meleleh hati ade bang 🤣🤣🤣🤣🤣
Cicih Sophiana
jgn bilang klo orang tua mu akan menjegal pernikahan kamu Reatha... seandai nya iya kamu harus bisa melawan jgn cuma nangis atau mengalah..
Patrick Khan: siap siap demo aja kak.
klo sampai emaknya rea ngereog🔨🔨🔨
total 1 replies
Cicih Sophiana
wadau so sweet deh kalian... terus lah bahagia untuk kalian... klo ada cobaan pun kalian tetap bergandengan tangan jgn lepas kan... pasti ujian yg lebih berat lg akan datang
vania larasati
lanjut kak
Sri Angga
davidd patah hati donk
ken darsihk
Saat nya bahagia 👏👏👏
Nar Sih
kira,,gimana reaksi org tua mu ya reatha klau kmu dtg minta restu mereka ,
Sri Supriatin
Air mataku bombay, pasti ortunya Azka seneng banget 👍👍🙏🙏🙏
Novita Sari
setelah ini..muncul vania
Nar Sih
alhamdulilah lamaran diterima wah...ikutan seneng nih dgn azka dan reatha
Naufal Affiq
Romantis banget kamu azka,cepetan nikahin reatha azka,sebelum di ambil orang
Lusi Hariyani
akhir y perjuanganmu berhasil aska
Eka ELissa
Ahir nya rea ktmu orang yg cinta dgn nya secara ugal ugalan...♥️♥️♥️♥️
tinggal Risa nih ksian yg mengenaskan.....🤦
Apriyanti
Alhamdulillah di terima Azka semoga lancar sampe hari h nya
Linda Ayu Tong-Tong
aaaa meleleh..tp kak itu si azka ceraiin dlu npa yg sah secara negara sama raisa...gmn ya konsepnya aduh gk tau dah pokoknya selesain dlu urusan pernikahannnya sma raisa dlua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!