Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Asli Sang Preman
Devi seperti terhipnotis. Tanpa sanggup menolak atau bertanya lebih lanjut di tempat yang dipenuhi pasang mata penasaran itu, ia mengangguk pelan. Ia melangkah mengekor di belakang Devan menuju sepeda motor bebek tua yang terparkir di pelataran.
Sepeda motor tua itu melaju perlahan meninggalkan gerbang PT Buana Raya. Sinar matahari petang menyorot punggung mereka berdua, menciptakan bayangan panjang di atas jalanan aspal kecamatan.
Sepanjang perjalanan, keheningan yang serba canggung membentang di antara mereka. Devi duduk di boncengan belakang, kedua tangannya memegang erat ujung kemeja denim Devan. Rerumputan di pinggir jalan dan perkebunan bambu melintas cepat, namun pikiran Devi tertinggal jauh di pelataran pabrik tadi.
Setelah melewati tikungan jalan desa yang sepi dan dikelilingi rindangnya kebun jati, Devi tidak sanggup lagi menahan bendungan rasa penasarannya. Ia memajukan kepalanya mendekati telinga Devan, menaikkan volume suaranya di antara deru mesin motor yang bising.
"Mas Devan!" panggil Devi keras-keras.
Devan melirik dari kaca spion motornya yang retak, mengulas senyum tipis. "Ya, Nyonya?"
"Jangan panggil aku Nyonya!" serkas Devi cepat, meski nada bicaranya kini lebih dipenuhi rasa penasaran daripada kemarahan. "Jelaskan sama aku sekarang! Kamu ... kamu ini sebenarnya siapa?!"
Devan terkekeh pelan, menggoyangkan stang motornya sedikit menembus lubang jalanan. "Kan saya sudah bilang tadi pagi, saya ini Devan. Suamimu yang tampan dan bertato."
"Jangan bercanda, Devan Pratama!" bentak Devi gemas, tangannya meremas kain kemeja denim Devan agak kencang. "Aku tidak bodoh! Pak Hendro yang galak itu sampai menyembah-nyembah di depan kamu! Telepon dari Dirut Pusat tadi dibilang kamu itu pemilik saham utama Pratama Mega Konstruksi! Kamu ... kamu bukan preman pengangguran kan?!"
Devan menghentikan laju motornya perlahan di pinggir jalan perkebunan jati yang sepi. Pria itu mematikan mesin motor, membiarkan angin sore yang dingin membelai wajah mereka berdua.
Keheningan hutan jati menyergap seketika.
Devan memutar badannya sedikit di atas jok, menatap Devi yang sedang menuntut penjelasan dengan mata membelalak lebar.
"Devi," suara Devan terdengar sangat dalam dan jujur. Pria itu merogoh saku kemeja denimnya, mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam yang tebal, lalu membukanya di hadapan Devi.
Di balik plastik transparan dompet tersebut, terselip sebuah kartu identitas resmi berwarna perak dengan lambang garuda emas yang sangat gagah. Di bawah foto Devan yang mengenakan pakaian dinas rapi tanpa tato yang terlihat, tertera tulisan tebal:
KOLONEL (INF) DEVAN PRATAMA
DIREKTUR INTELIJEN DAN INVESTIGASI KHUSUS - PRATAMA HOLDINGS / MABES*
Devi menahan napasnya. Matanya membelalak sempurna membaca deretan huruf dan pangkat yang tertera di kartu tersebut.
"K-Kolonel ...?" bisik Devi gagap, suaranya nyaris tak keluar dari tenggorokan. "K-kamu ... perwira tentara? Pemilik perusahaan holdings?!"
Devan mengulas senyum tipis yang sarat akan makna mendalam. Ia memasukkan kembali dompet kulitnya ke dalam saku kemeja.
"Tato di leher dan lengan saya ini adalah samaran resmi untuk misi penyamaran kasus mafia tanah dan korporasi ilegal di wilayah Jawa Tengah ini, Devi," jelas Devan dengan nada tenang yang sangat berwibawa. "Saya menyamar jadi perantau kumal buat membongkar jaringan mereka dari bawah. Tapi semalam ... saat hujan lebat itu ... takdir mempertemukan saya sama kamu di gubuk sawah."
Devi memegang dadanya yang berdebar kencang luar biasa. Kejutan demi kejutan yang dihantamkan padanya sejak semalam rasanya terlalu dahsyat untuk diterima oleh akal sehatnya. Laki-laki yang dikiranya preman pasar kasar yang menghancurkan masa depannya ... ternyata adalah seorang perwira tinggi berwenang penuh dan pengusaha kaya raya yang sedang menyamar!
"Kenapa ... kenapa kamu tidak bilang dari awal di balai desa?" tanya Devi bergetar. "Kenapa kamu biarkan warga mengira kamu preman?"
"Karena kalau saya buka identitas saya di balai desa semalam," jawab Devan seraya menatap manik mata Devi dengan ketulusan yang pekat, "misi penyamaran saya selama enam bulan akan terbongkar dan hancur total. Tapi demi menyelamatkan kehormatanmu dan nama baik keluargamu dari kebuasan warga ... saya merelakan diri saya untuk terikat dalam pernikahan ini."
Devi masih terdiam.
Matanya tidak beranjak dari wajah Devan, seolah-olah dengan menatap pria itu lebih lama, ia akan menemukan jawaban bahwa semua yang baru saja didengarnya hanyalah sebuah lelucon.
Namun, Devan tidak tertawa.
Tidak ada seringai mengejek.
Tidak ada tatapan jahil seperti biasanya.
Pria itu justru menatapnya dengan tenang, membuat dada Devi semakin sesak oleh kebingungan.
“Kolonel ...” gumam Devi sekali lagi.
Lalu ia menggeleng pelan.
“Tidak mungkin.”
Devan mengangkat sebelah alis.
“Kenapa tidak mungkin?”
“Karena ...” Devi menunjuk pakaian Devan dari atas sampai bawah. “Kamu?”
Devan melihat dirinya sendiri. Kemeja denim yang sedikit kusut, celana panjang sederhana, sandal yang sudah berdebu, dan rambut yang sengaja dibuat berantakan.
Ia tersenyum tipis.
“Memangnya kenapa dengan saya?”
“Kamu kelihatan seperti orang yang hidupnya pas-pasan!”
Devan tertawa kecil.
Devi justru semakin frustrasi.
“Jangan tertawa! Aku serius!”
“Saya juga serius.”
Devi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Pikirannya terasa penuh.
Semalam ia mengira Devan adalah seorang preman yang kebetulan berada di gubuk sawah. Pagi tadi ia mengira pria itu hanya lelaki aneh yang tiba-tiba mengaku sebagai suaminya. Lalu siang ini, ia menyaksikan Pak Hendro yang terkenal galak mendadak pucat dan patuh di hadapan Devan.
Sekarang?
Devan mengaku seorang kolonel sekaligus orang penting dalam perusahaan besar.
Bagaimana mungkin semua itu benar?
“Jadi ...” Devi menarik napas panjang. “Kamu benar-benar bukan preman?”
“Bukan.”
“Tidak punya pekerjaan tetap?”
“Punya.”
“Tidak miskin?”
Devan menahan senyum.
“Kalau soal itu, saya rasa definisinya harus diperjelas.”
Devi melotot.
“Mas Devan!”
“Baik. Saya bukan orang miskin.”
Devi terdiam lagi.
Ia memandangi jalanan di hadapan mereka. Angin sore menggerakkan daun-daun jati di atas kepala. Suara gesekan dedaunan terdengar seperti bisikan panjang yang justru membuat pikirannya semakin kacau.
“Tapi kenapa hidupmu seperti itu?”
“Karena penyamaran.”
“Selama enam bulan?”
Devan mengangguk.
“Enam bulan.”
“Tidur di tempat sederhana, naik motor tua, memakai pakaian seperti itu ... semuanya cuma penyamaran?”
“Betul.”
Devi menatap motor tua yang mereka tumpangi.
“Termasuk motor ini?”
Devan melirik motornya.
“Ini bagian dari penyamaran.”
Devi mengembuskan napas panjang.
“Ya ampun ...”
Ia menepuk dahinya sendiri.
“Berarti selama ini aku salah menilaimu.”
Devan tidak langsung menjawab.
Devi menatapnya lagi.
“Tapi ada satu hal yang masih tidak masuk akal.”
“Apa?”
“Kenapa kamu mau menikah denganku?”
Pertanyaan itu membuat wajah Devan berubah lebih serius.
Devi buru-buru melanjutkan.
“Kamu bilang demi menyelamatkan kehormatanku. Tapi kamu bisa saja menunjukkan identitasmu. Kamu punya jabatan, punya kekuasaan, punya banyak orang. Kenapa harus menikah denganku?”
Devan terdiam beberapa saat.
“Karena saat itu saya melihat kamu ketakutan.”
Devi menelan ludah.
“Saya tahu kalau saya meninggalkanmu sendirian, warga akan semakin menghakimi. Mereka sudah terlanjur membuat kesimpulan sendiri.”
Devan menatap mata Devi.
“Saya tidak mau hidupmu hancur hanya karena sebuah kejadian yang tidak pernah kamu lakukan.”
Devi kembali terdiam.
Kali ini bukan karena tidak percaya.
Melainkan karena perkataan itu menyentuh bagian hatinya yang sejak tadi terluka.
“Tapi ...” suaranya mengecil. “Aku tetap tidak mengerti.”
“Tidak apa-apa.”
Devan menyalakan kembali mesin motor.
“Kamu tidak harus langsung percaya semuanya hari ini.”
Devi masih mematung.
“Lalu?”
Devan menoleh sebentar.
“Saya akan membuktikannya.”
Devi menatap punggungnya ketika motor mulai bergerak perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia tidak lagi melihat Devan sebagai pria asing yang telah menyeretnya ke dalam pernikahan mendadak.
Namun, ia juga belum mampu melihatnya sebagai suami.
Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar.
Siapa sebenarnya Devan Pratama?
Dan mengapa seorang pria dengan kehidupan sebesar itu justru memilih menyelamatkan seorang perempuan sederhana seperti dirinya?
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja