Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK YANG MULAI TERGANTI

Hari-hari berikutnya berjalan dengan usaha yang sungguh-sungguh dariku. Aku secara aktif mengajak Haruto menghabiskan waktu bersama di kampus belajar bersama di selasar perpustakaan, makan siang di kantin, hingga menunggunya selesai rapat organisasi. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa fokus sepenuhnya pada Haruto, pria yang telah memilihku dengan begitu tulus.

Siang itu, udara di area selasar gedung perkuliahan terasa cukup berangin dan berdebu karena ada perbaikan taman di dekat kantin utama. Haruto duduk di sampingku, sibuk membantuku merapikan catatan kuliah yang berserakan di meja kayu.

"Hana, habis ini kita beli es krim di depan kampus, ya?" bisik Haruto manis sambil menatapku dengan binar jenaka.

Aku menyunggingkan senyum tipis, hendak mengetik jawaban di ponselku, ketika mendadak tenggorokanku terasa gatal hebat. Angin sore yang membawa debu halus dari arah taman mendadak menusuk saluran pernapasanku.

Ahem... ahem!

Dada bagian atasku mendadak menyempit. Suara napas berdecit khas yang sangat kukenal mulai terdengar dari tenggorokanku. Angin dingin dan debu adalah kombinasi terburuk untuk asmaku.

"Hana? Kamu kenapa?" raut wajah Haruto langsung berubah cemas.

Aku memegang dadaku, menghembuskan napas pendek-pendek sambil berusaha mencari tas kecil tempatku menyimpan inhaler. Namun, sebelum rasa panik sempat menguasai diriku, Haruto bergerak cepat.

Berbeda dengan minggu lalu ketika ia sempat kebingungan, kali ini Haruto tampak sangat sigap. Tanpa membuang waktu, ia membuka kantong depan ranselnya sendiri. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah obat semprot inhaler baru yang persis sama dengan milikku, lengkap dengan satu botol air hangat yang sudah ia siapkan di dalam termos kecilnya.

"Sstt... tenang, Hana. Angkat sedikit dagumu, hirup pelan-pelan," bisik Haruto dengan suara yang ditahan agar tetap tenang.

Haruto meletakkan inhaler itu di bibirku dan menekannya tepat saat aku menghembuskan napas. Satu semprotan... dua semprotan. Rasa dingin dari obat itu merayap masuk, perlahan-lahan melonggarkan himpitan di dadaku.

Haruto memegang bahuku dengan lembut, membantuku bersandar di kursi sambil menyodorkan botol air hangat. "Minum sedikit-sedikit, jangan terburu-buru."

Aku meneguk air hangat itu perlahan. Saluran napasku yang tadinya menyempit lambat laun mulai terbuka kembali. Suara decitan di dadaku menghilang, berganti dengan helaan napas yang makin teratur.

Haruto menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Ia mengusap dahiku yang sedikit berkeringat dengan sapu tangannya. "Bagus... pintar. Aku selalu menyimpan inhaler cadangan di tasku sejak minggu lalu. Aku tidak mau melihatmu kesakitan lagi."

Melihat kesigapan dan kepedulian Haruto, mataku berkaca-kaca oleh rasa tersentuh. Haruto benar-benar belajar dan berusaha keras untuk bisa menjagaku dengan baik.

Aku mengambil ponselku dari atas meja dengan jemari yang masih sedikit gemetar, lalu mengetik pesan dengan cepat:

[Terima kasih banyak, Haruto. Kamu baik sekali dan selalu ada untukku.]

Aku menunjukkan layar ponsel itu ke hadapannya. Haruto membaca tulisan itu, lalu tersenyum sangat manis sambil mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

"Sama-sama, Hana. Itu tugas kekasihmu," balas Haruto hangat.

Saat rasa sesak di dadaku sudah sepenuhnya mereda, mataku tak sengaja mengarah ke sudut selasar di seberang lapangan. Di bawah pendar bayangan pohon maple, berdiri sosok tinggi yang sangat kukenal.

Itu Kaito.

Kaito berdiri di sana dengan ransel tersampir di bahunya dan beberapa lembar maket arsitektur di pelukannya. Ia tampaknya sedang melintas dari laboratorium dan terhenti saat melihat asmaku kumat tadi. Kaito memperhatikan seluruh kejadian itu dari kejauhan—melihat bagaimana Haruto merawatku dengan sigap dan tanpa cela.

Pandangan mata kami bertemu di udara.

Kaito tidak melangkah mendekat. Ia tetap berdiri di tempatnya, menatapku lekat-lekat dari kejauhan. Ketika ia yakin napasku sudah benar-benar pulih dan wajahku tidak lagi pucat, Kaito memindahkan maket di tangannya ke sebelah kiri.

Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, menari pelan menyampaikan isyarat tangan dari kejauhan khusus untukku:

[Kamu tidak apa-apa?] gerak jari Kaito bertanya dengan lembut.

Aku mengangguk pelan dari tempat dudukku, mengisyaratkan bahwa aku sudah baik-baik saja.

Kaito tersenyum—sebuah senyuman tipis yang amat hangat dan tenang. Jemarinya kembali bergerak di udara, menyampaikan beberapa kata isyarat berikutnya:

[Baguslah. Haruto tidak panik lagi. Dia menjagamu dengan sangat baik.]

Aku menatap gerakan tangan Kaito dengan dada yang mendadak berdesir halus. Ada rasa lega yang begitu murni terpancar dari binar matanya di balik kacamata tipis itu. Kaito benar-benar bersyukur melihat ada orang lain yang kini mampu menjagaku sama baiknya seperti dirinya.

Sebelum aku sempat mengangkat tanganku untuk membalas isyaratnya, Kaito membetulkan posisi ransel di bahunya. Ia mengangkat dua jarinya dekat pelipis, memberikan satu gerakan isyarat terakhir:

[Dah, Hana. Sampai jumpa.]

Kaito berbalik badan, melangkah pergi menyusuri koridor selasar yang sepi. Punggung tingginya perlahan-lahan menghilang di balik belokan gedung kampus.

"Hana? Kamu melihat apa?" tanya Haruto lembut sambil ikut menoleh ke arah pandanganku. Namun koridor itu sudah kosong.

Aku memalingkan wajahku kembali ke arah Haruto, lalu menggelengkan kepala pelan.

Aku tersenyum pada Haruto dan meminum air hangatku kembali. Namun di dalam batinku, kata isyarat terakhir dari Kaito—[Dah, Hana. Sampai jumpa]—terasa bergema begitu panjang dan sunyi. Seolah-olah lewat gerakan tangan sederhana itu, Kaito secara perlahan mulai menyerahkan seluruh tugas menjagaku kepada Haruto, melepaskan genggaman yang sudah ia pegang sejak kami masih kecil.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!