Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA-MATA DI BALIK BAYANGAN
Ketegangan di gang sempit itu memuncak dalam kesunyian yang mencekam. Puluhan anggota tim elit bersenjata lengkap menyergap dua SUV hitam yang kini terkunci rapat. Tanpa memberi celah untuk melawan, para pengawal menyeret empat pria bertubuh besar dari dalam kendaraan. Tubuh-tubuh kekar itu dihempaskan ke permukaan aspal yang kotor, tangan mereka dikunci erat dengan borgol baja.
Bara melangkah mendekat dengan tatapan dingin, bersiap interogasi singkat di tempat. Namun, sebelum kata pertama terucap, tubuh keempat pria itu mendadak kejang secara bersamaan. Mata mereka mendelik lebar, disusul busa putih beracun yang keluar dari sudut bibir. Hanya dalam hitungan detik, tubuh kekar itu terkulai kaku tanpa nyawa. Mereka memilih mengunyah kapsul racun yang tersembunyi di balik gigi geraham daripada membocorkan rahasia sang majikan.
"Sialan!" umpat Bara geram. Garis wajahnya menegang keras menahan kekecewaan. Tangan kekarnya mengepal hingga buku-buka jarinya memutih. "Selalu seperti ini! Mereka lebih memilih mati daripada membuka mulut!"
Abiyan yang menyaksikan adegan itu dari kaca jendela mobil hanya menatap datar.
Bara memutar badan, menatap bosnya dengan napas naik-turun. "Pak, apakah mereka ada kaitannya dengan kecelakaan Anda tujuh tahun lalu? Rasanya kita seperti membentur dinding tebal. Lawan selalu berhasil menghilangkan jejak tanpa sisa!"
"Tenanglah, Bara," suara Abiyan terdengar tenang, namun mengintimidasi. "Nanti kita akan tahu setelah sampai di kantor. Siapa pun yang menginginkan aku mati, niat busuk itu akan segera terlihat dari wajah-wajah palsu yang menyambut kita di sana. Sekarang, sebaiknya kita berangkat."
Abiyan kembali berpindah dan duduk anggun di kursi roda canggihnya. Sesuai prosedur keamanan darurat, tim elit bergerak cepat dalam hitungan menit. Sebuah mobil pengganti dengan merk, warna, dan plat nomor yang sama persis disiapkan di lokasi. Mobil lama yang bodi sampingnya sudah penyok parah akibat benturan keras langsung diamankan oleh tim pembersih.
Setelah memastikan sang bos duduk dengan nyaman dan aman di kabin belakang, Bara mengambil alih kemudi dan melajukan kendaraan membelah jalanan kota menuju markas besar Zimraan Group.
Di tengah perjalanan, keheningan kabin dipecahkan oleh suara berat Abiyan.
"Bara, carikan Inayah seorang teman yang memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi."
Bara sedikit melirik lewat kaca spion. "Maksud Anda, pengawal pribadi, Tuan Muda?"
"Ya. Musuh-musuhku pasti sudah mencium kabar pernikahan ini. Saat ini, besar kemungkinan mereka sudah menempatkan mata-mata untuk mengawasi setiap gerak-gerik Inayah," ujar Abiyan, ada selapis kecemasan yang tersirat dalam nadanya. Tanpa sadar, keputusannya membawa Inayah masuk ke dalam hidupnya kini menempatkan wanita polos itu dalam bahaya besar. "Carikan dia pengawal rahasia, prioritaskan seorang wanita. Tempatkan dia di perusahaan tempat Inayah bekerja. Minta Budi untuk mengatur posisinya agar tidak mencurigakan."
"Baik, Tuan Muda. Saya mengerti dan segera memprosesnya," jawab Bara tegas.
Tak berapa lama, mobil mewah itu memasuki pelataran gedung pencakar langit Zimraan Group. Di depan pintu masuk utama, puluhan eksekutif dan staf berbaris rapi. Begitu pintu mobil terbuka, seluruh jajaran manajemen membungkukkan badan secara serentak penuh hormat.
"Selamat datang, Tuan Presdir!" seru mereka kompak.
Bara yang keluar dari pintu pengemudi langsung menebarkan pandangan tajam bagaikan elang yang sedang berburu. Matanya menyapu satu per satu wajah jajaran direksi, mencari gestur sekecil apa pun yang mencurigakan.
Penglihatannya terhenti di barisan paling ujung. Seorang pria paruh baya bertubuh agak gempal tampak berulang kali menyapu keringat dingin di dahinya dengan sapu tangan, padahal udara pendingin di area lobby cukup menusuk tulang.
Bara memberikan kode halus berupa anggukan kecil pada Abiyan. Ia lalu melangkah maju, berpura-pura mendorong kursi roda sang bos menuju arah lift khusus eksekutif. Namun, sebelum melangkah masuk ke dalam lift, Bara sengaja memberikan isyarat mata kepada salah satu pengawal elit untuk menggantikan posisinya mendorong kursi roda. Bara memilih memutar arah dan bersembunyi di balik pilar besar, ingin membuktikan dugaan logisnya.
Tebakan Bara tepat sasaran. Pria paruh baya yang terlihat gelisah tadi bergegas memisahkan diri dari rombongan dan menyelinap masuk ke dalam pintu tangga darurat yang sepi.
Dari balik bayangan pintu, Bara mendengarkan dengan seksama saat pria itu menelepon seseorang dengan suara berbisik dan panik.
"Pak, Tuan Abiyan baik-baik saja! Dari tampilan mobilnya, sepertinya hari ini tidak terjadi serangan apa pun. Mobil mereka mulus tanpa lecet sedikit pun! Apa... apa jangan-jangan pembunuh bayaran yang Anda sewa belum beraksi?"
Hening sejenak saat suara dari seberang telepon memberikan instruksi.
"Baik, Pak. Saya akan terus mengawasi. Mungkin mereka memang belum menemukan celah yang tepat," lanjut pria itu sebelum mengakhiri panggilan.
Bara menyunggingkan senyum sinis. Tanpa menimbulkan suara, ia berbalik meninggalkan tangga darurat dan menuju ruangan kerja Presdir di lantai teratas.
"Bagaimana?" tanya Abiyan langsung saat Bara melangkah masuk ke ruang kerja megahnya.
"Benar, Pak. Pak Haris adalah mata-mata mereka di dalam kantor ini," lapor Bara mantap.
"Cukup awasi dan laporkan setiap gerak-geriknya. Catat dengan siapa saja dia bertemu atau berkomunikasi," perintah Abiyan tegas dengan tatapan mengintimidasi.
"Baik, Pak. Segera dilaksanakan," sahut Bara seraya memutar badan, hendak keluar.
"Tunggu!" potong Abiyan cepat. "Apakah Haris itu pria yang sama yang memiliki hubungan gelap dengan sepupunya Inayah?"
Bara menoleh kembali dan mengangguk. "Benar, Pak. Pria itu yang selama ini bermain di belakang bersama sepupu Nyonya."
"Kalau begitu, cari kelemahannya. Buat skenario sampai dia sendiri yang berlutut dan mengakui siapa bos besar di belakangnya."
"Baik, Pak!" Bara membungkuk hormat lalu menghilang di balik pintu kayu jati yang tebal.
Sepeninggal Bara, Abiyan melangkah pelan mendekati dinding kaca transparan berukuran raksasa yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. Rahangnya mengatup rapat, menyembunyikan amarah yang bergolak di dalam dada.
"Jangan sampai keluargaku terlibat dalam skandal menjijikkan ini," gumam Abiyan dingin dengan tatapan mata yang begitu tajam dan membunuh. "Jika sampai terjadi... aku sendiri yang akan menghancurkan kalian tanpa sisa."
Sementara itu, suasana di kantor cabang terasa jauh lebih tenang. Inayah masih berkutat penuh konsentrasi di depan layar komputer, mengedit beberapa draf konsep visual. Dering nyaring telepon kantor di atas mejanya seketika memecah konsentrasi.
Melihat nomor internal yang tertera, Inayah bisa menebak siapa yang menghubungi. Ia mengangkat gagang telepon dengan nada professional. "Halo, Pak Budi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Datang ke ruanganku sekarang, Nayah," ucap Pak Budi singkat dari seberang saluran.
"Baik, Pak."
Panggilan terputus. Inayah menghela napas panjang seraya menyandarkan punggungnya di kursi. "Ada apa lagi sih? Kenapa akhir-akhir ini Pak Budi sering banget manggil gua?" gerutunya pelan.
Meski berprasangka, ia tetap bangkit dan berjalan menuju ruangan sang direktur yang berada tak jauh dari divisinya. Setelah mengetuk pintu dua kali dan mendengar sahutan dari dalam, Inayah memutar gagang pintu dan melangkah masuk.
Di dalam ruangan, tampak seorang wanita asing sedang duduk anggun di hadapan meja kerja Pak Budi. Wanita itu tampil sangat elegan dalam balutan blazer warna navy, dipadukan dengan celana kulot rapi serta hijab yang terpasang sempurna. Pancaran matanya tegas namun ramah.
Pak Budi langsung tersenyum dan menyambut kedatangan staf andalannya. "Inayah, kenalkan. Ini Jesika. Beliau adalah utusan khusus dari kantor pusat Zimraan Group."
Inayah sedikit terkejut dan mendadak canggung, sementara Jesika berdiri lalu mengulurkan tangan dengan senyuman hangat.
"Kantor pusat sedang menangani proyek besar bernilai miliaran," lanjut Pak Budi menjelaskan. "Mbak Jesika diutus untuk bekerja sama langsung dengan tim kreatif kantor kita, karena pihak pusat sangat tertarik dan puas setelah melihat hasil kerjamu. Jadi, untuk sementara waktu, Mbak Jesika akan bergabung dalam timmu."
Dada Inayah seketika berdesir mekar oleh rasa bangga. Kerja kerasnya selama ini akhirnya dilirik oleh jajaran eksekutif tertinggi di kantor pusat. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Inayah menyambut uluran tangan Jesika dengan antusias.
"Selamat bergabung, Mbak Jesika. Mohon bantuannya," ujar Inayah ceria.
Jesika membalas genggaman tangan itu dengan hangat, mengangguk pelan. "Sama-sama, Inayah. Mohon kerjasamanya."
Inayah tidak pernah menyadari, di balik senyum ramah dan penampilan elegannya sebagai rekan kerja baru, Jesika adalah seorang agen pengawal elit yang dikirim langsung oleh Abiyan, perisai tersembunyi yang siap mempertaruhkan nyawa demi melindunginya dari bahaya yang mulai mendekat.