Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Lima hari yang dinanti akhirnya tiba. Hari di mana semua drama, kebohongan, dan pengkhianatan akan bermuara pada titik akhirnya.

Di pelataran rumah, Narendra sudah bersiap dengan pakaian rapinya.

Ia menatap Tiyas yang kini berdiri tegak, jauh lebih segar dan penuh ketenangan dibanding lima hari lalu.

Wajah pucat Tiyas telah berganti dengan binar ketegasan yang tak tergoyahkan.

Narendra menggenggam kedua bahu Tiyas sejenak, memberikan dorongan kekuatan terakhir.

"Kabari aku kalau kamu sudah menyelesaikan semuanya," ucap Narendra dengan suara baritonnya yang mantap.

"Aku, juga harus memberikan kejutan manis untuk istriku, Mia."

Tiyas menganggukkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna.

"Hati-hati di jalan, Naren. Kita selesaikan bagian kita masing-masing."

Narendra mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan rumah Tiyas untuk menemui Mia.

Sementara itu, sebuah mobil melaju memasuki wilayah Yogyakarta.

Di dalam mobil, Gio duduk di balik kemudi dengan senyum puas yang menghiasi wajahnya, sementara Mia duduk di sampingnya seraya merapikan riasan.

Saat mendekati area perempatan jalan utama yang tak jauh dari pusat kota, Gio memelankan laju kendaraannya dan menepi.

Gio tidak mau jika ada yang melihat atau tahu tentang hubungan gelap mereka berdua, terutama orang-orang di sekitar lingkungan rumahnya dan Tiyas.

"Aku turun di sini ya," ujar Mia manis. Ia berpaling menatap Gio, lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra di bibir pria itu.

"Sampai berjumpa besok, Sayang."

Gio tersenyum tipis, membalas tatapan Mia dengan kedipan mata.

"Sampai bertemu besok,"

Setelah Mia turun dan pintu mobil tertutup, Gio kembali melajukan kendaraannya menuju rumah utama.

Di sepanjang jalan, pikirannya melayang membayangkan Tiyas.

Ia tersenyum picik, sama sekali tidak tahu bahwa rumah yang ditujunya bukan lagi tempat perlindungan yang naif, melainkan sebuah panggung eksekusi yang siap meruntuhkan seluruh hidupnya.

Gio menyandarkan punggungnya, menekan pedal gas lebih dalam.

Ia sudah tidak sabar untuk kembali berakting menjadi suami penyayang di hadapan Tiyas—istri yang ia kira masih bisa dibodohi dengan mudah.

Sesampainya di depan rumah, Gio menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang.

Keningnya berkerut dalam saat meneliti bangunan di hadapannya. Warna cat rumahnya yang semula bernuansa pastel hangat kini telah berganti total menjadi kombinasi warna modern yang tegas dan asing.

Ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke area carport.

Matanya liar menyapu sekeliling, namun ia tidak melihat mobil mewah ataupun motor sport kesayangannya yang biasa terparkir rapi di sana.

"Sayang, aku pulang!" seru Gio seraya mendorong pintu utama yang tidak terkunci.

Begitu melangkah ke dalam, Gio kembali dikejutkan dengan suasana rumah yang berubah total.

Seluruh furnitur lama yang dulu ia pilih bersama Tiyas telah sirna, digantikan oleh jajaran perabotan baru bernuansa minimalis elegan.

Seulas senyum percaya diri mengembang di bibirnya.

Gio berpikir kalau istrinya sengaja merombak dan merapikan seluruh rumah ini sebagai bentuk kejutan manis untuk menyambut kepulangannya dari luar kota.

Ceklek.

Suara pintu kamar atas terbuka. Tiyas turun melangkah menaiki satu per satu anak tangga dengan tenang, membawa seberkas dokumen tebal di tangannya.

Wajahnya begitu dingin, tanpa ada binar kerinduan seperti biasanya.

"Sayang, kamu yang mengubah semuanya?" tanya Gio dengan nada riang seraya mendekat.

Tiyas menganggukkan kepalanya santai tanpa menatap Gio, lalu melangkah menuju kulkas dan mengambil segelas susu kedelai dingin.

"Iya, aku mengubah semuanya."

Gio mengedarkan pandangannya lagi ke luar jendela.

"Lalu, di mana mobil dan motor sport-ku?"

Tiyas menyesap susu kedelainya perlahan, lalu menatap lurus ke dalam mata Gio.

"Aku berikan kepada Herman dan Riko."

Gio tertegun sejenak, lalu tertawa kecil mengira Tiyas sedang bercanda.

"Sayang, apa kamu mau membelikan aku mobil dan motor baru?"

Tiyas tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang memancarkan bahaya. Dengan gerakan tenang, ia meletakkan gelasnya di atas meja.

"Kopermu sudah aku siapkan di depan pintu, dan keluar dari rumahku sekarang," ucap Tiyas datar, penuh penekanan di setiap kata.

Raut wajah Gio seketika berubah tegang. Pria itu maju se langkah dengan panik.

"S-sayang, kamu kenapa? Kamu marah karena aku lama ya di Bandung-nya? Sayang, pekerjaanku sangat banyak di sana. Maaf ya kalau bikin kamu kesepian."

SRAK!

Belum sempat Gio menyelesaikan kalimatnya, Tiyas melempar seluruh dokumen tebal beserta tumpukan foto berukuran besar tepat ke dada Gio. Berkas-berkas itu berserakan di atas lantai marmer.

Foto-foto Gio dan Mia dalam pelukan mesra di vila Lembang terhampar jelas di depan mata pria itu.

"Ini yang kamu sebut namanya bekerja?!" bentak Tiyas, suaranya menggelegar memecah keheningan rumah.

Sebelum Gio sempat membela diri atau menyangkal, Tiyas meraih gawai di sakunya dan menekan tombol play.

Suara rekaman audio berputar dengan sangat jernih di dalam ruangan.

Suara desahan Gio dan Mia bergaung memenuhi udara, disusul oleh suara Gio sendiri yang terdengar begitu dingin dan licik:

"Aku butuh strategi, bukan sikap terburu-buru. Kalau aku ceraikan Tiyas sekarang tanpa persiapan, semua aset dan posisiku bisa terancam balik menyerang kita. Aku harus pastikan seluruh dokumen dan uang yang bisa kuambil dari Tiyas beres dulu."

Wajah Gio seketika pucat pasi bagai mayat. Seluruh persiapannya runtuh dalam sekejap tepat di hadapan wanita yang selama ini ia sepelekan.

“Ini bukti semuanya, Gio! Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu persis apa yang kalian lakukan!” suara Tiyas bergetar, namun sarat akan kekuatan yang membakar.

Gio tersentak mundur. Ia mencoba berkelit, tetapi setiap patah kata yang keluar dari bibir Tiyas menghantamnya bagai sembilu yang menguliti kesombongannya.

“Kamu sudah menghancurkan rumah ini dengan kebohongan dan pengkhianatan biadabmu! Aku tidak akan pernah lagi jadi korban kebusukan kalian!”

Wajah Gio padam seketika. Bibirnya kelu, terkunci dalam kebisuan yang menyiksa saat rasa panik mulai menggerogoti dadanya.

Tiyas melangkah mendekat, mengunci tatapannya pada Gio tanpa berkedip.

“Sekarang kamu tahu. Aku bukan lagi wanita lemah yang bisa kamu permainkan dan kamu bodohi seumur hidupmu!”

Gio mengerutkan alisnya. Rahangnya mengetat hebat ketika ia berusaha keras menutupi rasa salah dan ketakutan yang kini membedah topeng tenangnya.

“I-itu semua cuma editan, Tiyas! Ada orang yang mau menjatuhkanku! Seseorang sedang memanipulasi bukti-bukti itu!” seru Gio defensif, suaranya meninggi, mencoba menipu dirinya sendiri dari kenyataan yang mengancam.

Tiyas menatap Gio dengan manik mata berkilat tajam.

Detik berikutnya, tawa Tiyas pecah—sebuah tawa terbahak-bahak yang dingin dan menggelegar, memenuhi setiap sudut ruang tamu yang hening.

“Editan? Hahaha! Kamu pikir aku sebodoh itu, Gio?!” cetus Tiyas dengan nada penuh sarkasme yang menusuk.

Tiyas melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka hingga ia berada tepat di hadapan Gio, menembus manik mata suaminya yang gemetar.

“Bukan cuma rekaman itu yang aku punya. Aku menyaksikannya sendiri! Setiap detik, setiap gerakan kebusukanmu dan Mia di vila Lembang, semuanya terekam jelas di tanganku!”

Tawanya perlahan surut, berganti menjadi senyuman penuh kemenangan dan ketegasan yang mengancam.

“Kalau aku mau, detik ini juga aku bisa sebarkan seluruh bukti-bukti busuk ini ke semua orang, ke relasi bisnismu, ke keluarga besar! Seluruh borok yang kamu sembunyikan rapat-rapat sudah ada di dalam genggamanku!”

Gio terhenyak. Wajah sengaknya luntur total, berganti menjadi pucat pasi bagai mayat.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa Tiyas tidak sedang menggertak.

Tiyas menarik napas panjang. Suaranya memelan, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan dan penuh tekad.

“Ini bukan cuma soal kamu dan Mia. Ini tentang harga diriku yang kamu injak-injak. Aku tidak akan biarkan kamu terus memanfaatkan harta dan hidupku!” Tiyas menunjuk lurus ke dada Gio.

“Mulai detik ini, siapkan dirimu untuk menghadapi kehancuranmu sendiri.”

Suasana seketika mencekam. Hanya hembusan napas berat Gio yang terdengar memburu di tengah ruangan.

Di hadapannya, Tiyas berdiri amat tegap—seorang wanita yang telah bangkit dari kerapuhan dan menemukan kembali kekuatannya untuk mengeksekusi pembalasan.

Tiba-tiba, benteng pertahanan Gio runtuh total. Urat-urat di lehernya menegang saat ia meledak dalam amarah yang brutal, suaranya membahana menggelegar!

“OK!! APA, KAMU TAHU ALASAN AKU BERSELINGKUH DENGAN MIA, TIYAS?! AKU MELAKUKANNYA KARENA AKU MALU! AKU SELALU ADA DI BAWAH BAYANG-BAYANG KAMU! KAMU SEORANG DIREKTUR, DAN AKU CUMA KARYAWAN KECIL! GAJIKU CUMA EMPAT JUTA, SEMENTARA KAMU TIGA PULUH JUTA!!”

Tiyas tersentak sejenak mendengar pengakuan jujur yang begitu picik itu.

Dadanya berdenyut nyeri, teriris antara kemarahan yang membuncah dan rasa pedih akan kebodohan pria yang pernah dicintainya.

Namun, Tiyas tak biarkan dirinya runtuh. Tatapannya menajam kembali, mata berkaca-kaca itu justru memancarkan kebangkitan yang tak tergoyahkan.

“Jadi itu alasanmu, Gio?” desis Tiyas, suaranya sarat akan penghinaan.

“Kamu menghancurkan rumah tangga kita, menjual kehormatanmu, dan merencanakan kebangkrutanku hanya karena kamu merasa malu?! Ego picikmu itu tidak akan pernah bisa membenarkan pengkhianatan biadab ini!”

Gio membuang pandangannya ke samping. Napasnya memburu, raut wajahnya bercampur antara penyesalan, amarah, dan kebingungan atas posisinya yang kini benar-benar terkunci.

“Aku, cuma merasa tertekan, Tiyas.” gumam Gio serak, suaranya mendadak mengecil dan kehilangan taring.

"Terlalu banyak beban yang aku rasakan. Aku tidak tahu harus bagaimana,”

Tiyas menarik napas dalam-dalam, menguasai penuh emosi di dadanya lalu menatap Gio tanpa belas kasihan.

“Kalau kamu merasa berat, kenapa tidak pernah bicara jujur sebagai seorang pria?! Kenapa kamu harus menusukku dari belakang dan berusaha merampok semua milikku?!”

Tiyas menunjuk pintu keluar yang terbuka lebar.

“Sekarang, angkat kopermu dan angkat kaki dari rumahku. Pengacaraku dan pengacara Naren yang akan menyelesaikan sisanya untukmu dan Mia!”

1
Noey Aprilia
Suami spupunya aja dia rbut,aws aja kl suami kknya jg d rebut....🙄🙄🙄....
Noey Aprilia
Gmana ga ngsih rstu....naren bnr2 clon suami plus clon mntu idaman...
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
Noey Aprilia
Stlh psah sm suami durjana,tiyas dptn clon suami idaman....sng mntan pst nysel krna akhrnya hdp mndrta..
sokooorrr.....😛😛😛
Noey Aprilia
Tuuhhh....
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
sunaryati jarum
Akhirnya dapat restu dari orang tua
Ariany Sudjana
Tyas masih juga memikirkan pekerjaan, yang penting kamu sehat dulu. dokter sudah minta kamu istirahat, patuhi nasehat dokter
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘
my name is pho: Terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
owh ternyata prank 🤣🤣😂😂
sunaryati jarum
so sweet banget Naren ngeprank kamu
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Emak suka ceritanya tidak muter dan bertele-tele
sunaryati jarum
Baru mampir
my name is pho: Selamat membaca kak 🥰🙏
total 1 replies
Heny
Bearti yg kaya Tyas dan Naren gio dan mia benalu
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
harusnya Tyas kasih jawaban tunggu sampai putusan pengadilan keluar, kalau pas baru mediasi sudah ada jawaban dari Tyas, bisa jadi senjata untuk gio dan Mia, mereka nanti berpikir Tyas dan Narendra juga selingkuh di belakang mereka
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai Mia, kan pilihan kamu sendiri untuk selingkuh dari Narendra demi seorang gio, jadi jalani saja yah 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
pertimbangkan baik-baik lamaran Narendra tadi Tyas,betul kamu masih terluka, tapi tetap kamu perlu seorang yang bisa melindungi kamu
Ariany Sudjana
bodoh kamu Tyas, sama saja kamu itu sampah seperti Mia, kamu menghancurkan diri kamu sendiri dengan mabuk alkohol
Ariany Sudjana
bagus Tyas dan Narendra, kalian berdua sudah tegas terhadap pasangan pengkhianat tersebut, dan tinggal tunggu sidang saja 😄🙏
Ariany Sudjana
dasar suami bodoh kamu gio, kamu merasa insecure terhadap Tyas, terus apa itu bisa jadi alasan untuk kamu selingkuh ? dasar laki-laki pengecut kamu gio, kamu memilih mengkhianati perempuan hebat seperti Tyas, demi seorang pelacur murahan 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
bagus Imelda ngomong gitu ke Tyas, biar sadar belum berjuang kok sudah tumbang, karena kesehatan tidak mendukung dan juga ga perlu sok kuat, kamu juga perlu orang untuk berbagi, dan sekarang kamu buat semua orang sibuk Tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!