Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Jenderal Tua di Ujung Telepon
Kamar penthouse itu sunyi. Lin Chen duduk bersila, sebuah kotak kayu kecil berada di pangkuannya. Kotak itu adalah peninggalan ibunya, Shen Yan, yang ia dapatkan dari Kakek Su di Donghai.
Setelah mengambil Giok Penelan Surga dari dalam kotak itu beberapa waktu lalu, Lin Chen baru menyadari bahwa ada kompartemen rahasia di dasar kotak tersebut.
Ia menekan ujung kompartemen itu, dan sebuah token logam hitam pekat seukuran telapak tangan meluncur keluar. Di permukaannya terukir lambang seekor naga bersayap, dengan satu baris nomor telepon satelit kuno yang diukir menggunakan jarum Qi.
"Ibu... rahasia apa lagi yang kau tinggalkan untukku?" gumam Lin Chen.
Ingatannya tentang sang ibu hanyalah sosok wanita lembut yang pandai merangkai bunga. Namun, kepingan-kepingan kenyataan—mulai dari kemampuannya mengalahkan puluhan petarung bayaran di Donghai, artefak Giok Penelan Surga, hingga token ini—membuktikan bahwa Shen Yan adalah eksistensi mengerikan yang menyembunyikan identitas aslinya.
Lin Chen mengambil ponsel satelit khusus yang telah dienkripsi oleh Ah Fei, lalu menekan deretan nomor pada token tersebut.
Tuut... Tuut...
Panggilan itu tersambung setelah dering kelima. Tidak ada suara sapaan. Hanya suara napas berat dan ritmis dari seberang sana, memancarkan aura tekanan batin yang bisa dirasakan bahkan melalui gelombang radio.
"Musim dingin telah berlalu," ucap Lin Chen perlahan, membacakan sandi yang terukir di balik token, "namun salju di Pegunungan Kunlun belum mencair."
Keheningan yang mencekam mendadak pecah oleh suara tarikan napas kaget dari seberang telepon. Sebuah suara serak, tua, namun penuh wibawa layaknya auman singa, terdengar bergetar.
"Sandi itu... Suara itu... Kau bukan Shen Yan. Siapa kau?!" bentak suara pria tua itu.
"Aku Lin Chen. Putra Shen Yan," jawab Lin Chen tenang.
Terdengar suara dentingan cangkir keramik yang pecah menghantam lantai dari seberang telepon, disusul oleh suara pria tua itu yang tiba-tiba melunak, dipenuhi emosi yang meledak-ledak.
"Putra Nyonya Besar... Astaga! Kau masih hidup?! Bajingan dari Keluarga Lin itu menyiarkan bahwa kau mati dalam kecelakaan setelah diusir! Nak... di mana kau sekarang?! Aku adalah Qin Cang! Kakek Qin-mu!"
Mata Lin Chen sedikit menyipit. Qin Cang. Nama itu tidak asing.
Jenderal Besar Qin Cang. Salah satu dari tiga pilar militer tertinggi Tiongkok yang telah pensiun sepuluh tahun lalu, namun pengaruh dan murid-muridnya masih menguasai lebih dari separuh komando militer Ibukota! Jika Jenderal Zhao Kuang (paman Lin Tian) adalah seekor serigala militer, maka Qin Cang adalah naga penjaga yang bahkan Presiden pun harus bersikap sopan padanya.
"Aku ada di Ibukota, Kakek Qin," jawab Lin Chen. "Dan aku butuh sedikit bantuanmu."
"Katakan saja! Bahkan jika kau memintaku meratakan Kediaman Lin malam ini juga, aku akan mengerahkan pasukan artileri ke depan pintu mereka!" raung Qin Cang tanpa ragu sedikit pun.
Lin Chen tersenyum hangat. Ia bisa merasakan kesetiaan mutlak pria tua ini kepada ibunya. "Tidak perlu sejauh itu. Meratakan Keluarga Lin adalah tugasku sendiri. Tapi besok malam, di Paviliun Sembilan Harta, aku akan mengadakan pelelangan. Seseorang mungkin akan membawa pasukan militer untuk menggangguku."
Lin Chen memberikan jeda sejenak. "Aku hanya butuh Kakek Qin datang, meminum secangkir teh di kursi VIP, dan menonton pertunjukan."
Di seberang sana, Jenderal Qin tertawa terbahak-bahak. Tawa yang menggetarkan langit-langit ruangannya. "Hahaha! Menggunakan militer untuk menindas putra Shen Yan di wilayahku?! Anak sapi mana yang berani mencari mati ini?! Baiklah, Nak! Besok malam, kakek tua ini akan datang untuk menikmati tehmu!"
Sambungan telepon terputus. Lin Chen menyimpan kembali token hitam itu.
[Status Pemulihan Qi: 85%]
Dua hari telah berlalu dengan cepat. Fisiknya hampir kembali ke puncak.
Sementara itu, di dunia bawah Ibukota, kepanikan massal sedang terjadi.
Ketua Asosiasi Assassin Ibukota sedang duduk gemetar di markas rahasianya. Laporan demi laporan masuk ke mejanya. Tiga markas cabang mereka hancur total dalam semalam. Tidak ada mayat musuh yang ditinggalkan, hanya logo seekor naga hitam yang diukir menggunakan darah di dinding reruntuhan.
"Batalkan semua kontrak yang berhubungan dengan Keluarga Lin!" teriak sang Ketua Asosiasi dengan keringat dingin bercucuran. "Tolak semua uang dari Lin Tian! Orang ini... Dewa Kematian Bayangan ini... bukan seseorang yang bisa kita provokasi! Siapa pun yang berani mengambil misi untuk membunuh Lin Chen, akan aku bunuh dengan tanganku sendiri!"
Hanya dalam satu malam, kekuatan dunia bawah Keluarga Lin dipotong bersih oleh Paviliun Naga yang bergerak dalam bayangan.
Hari Ketiga - Malam Pelelangan Paviliun Sembilan Harta.
Jalanan di Distrik Timur Ibukota telah diblokir secara halus oleh puluhan pengawal berjas dari berbagai keluarga elit. Mobil-mobil mewah seharga puluhan miliar berbaris rapi.
Lima puluh undangan eksklusif telah disebar oleh Fang Meng. Dari jumlah tersebut, empat puluh dua Kepala Keluarga besar hadir! Mereka didorong oleh rasa penasaran yang tak tertahankan terhadap Pil Pemanjang Umur dan desas-desus tentang pemilik baru paviliun yang secara terang-terangan menantang Keluarga Lin.
Sisa delapan keluarga yang tidak hadir adalah sekutu setia Keluarga Lin (termasuk Keluarga Xiao).
Di dalam aula pelelangan yang telah direnovasi mewah dengan gaya klasik, para tamu duduk di kursi-kursi beludru. Mereka saling berbisik, menatap panggung utama.
"Apakah benar pil itu bisa memperpanjang usia hingga sepuluh tahun?"
"Kudengar Keluarga Lin sangat marah malam ini. Apakah aman bagi kita berada di sini?"
"Hmph, Keluarga Lin sedang melemah. Kita adalah pengusaha. Di mana ada harta karun dan peluang, di situlah kita berada."
Di ruang kontrol lantai dua, Fang Meng memantau situasi dengan gugup. Ia menatap Lin Chen yang berdiri dengan tenang menatap layar monitor.
Lin Chen mengenakan setelan jas three-piece berwarna hitam legam yang dipesan khusus. Posturnya tegap, auranya setenang danau es, namun menyembunyikan badai mematikan di bawah permukaannya.
"Tuan Lin, lelang akan dimulai dalam lima menit," lapor Fang Meng.
Lin Chen mengangguk. "Biarkan Paman Bai yang membuka acaranya. Ingat, pil itu hanya dijual kepada mereka yang bersedia menandatangani kontrak aliansi bisnis dengan Grup Su dan Keluarga Shen. Aku tidak butuh uang mereka, aku butuh kesetiaan mereka."
Tepat saat Paman Bai melangkah ke atas panggung dan memukul palu lelang, suara sirine yang memekakkan telinga tiba-tiba memecah malam Ibukota.
Ngingg... Ngingg... Ngingg!
Suara deru mesin diesel bertenaga besar terdengar mendekat. Bukan hanya satu atau dua, melainkan belasan!
Para tamu di dalam paviliun tersentak kaget. Beberapa dari mereka menoleh ke arah jendela kaca raksasa di lantai dasar.
Di luar paviliun, jalanan telah dikepung!
Lima belas truk militer lapis baja berwarna hijau tua berhenti dengan rem mendecit, memblokir semua akses keluar masuk. Ratusan tentara berseragam kamuflase lengkap dengan senapan serbu laras panjang melompat turun, langsung membentuk barikade.
Di atas sebuah jip militer komando, berdiri Jenderal Zhao Kuang. Wajahnya keras, dihiasi bekas luka tembak di pipi kirinya. Di sampingnya, Zhao Yuhua dan Lin Tian turun dari mobil mewah yang mengikuti di belakang iring-iringan militer.
"Pasukan Serigala Besi! Segel seluruh perimeter! Jangan biarkan seekor lalat pun terbang keluar!" teriak Jenderal Zhao melalui megafon, suaranya menggema penuh ancaman.
Lin Tian tertawa penuh kemenangan. Ia memandangi bangunan megah Paviliun Sembilan Harta seolah itu adalah kuburan bagi Lin Chen. "Lihatlah, Lin Chen! Kau pikir kau ahli bela diri yang hebat? Coba lawan moncong senjata serbu ini!"
Para elit di dalam paviliun mulai panik.
"I-Itu Jenderal Zhao Kuang dari Divisi Keamanan Khusus! Apa yang militer lakukan di sini?!"
"Gawat! Keluarga Lin benar-benar menggunakan kartu militer mereka untuk membalas dendam! Kita terjebak!"
Pintu utama paviliun didobrak paksa dari luar. Dua puluh tentara bersenjata lengkap merangsek masuk, menodongkan senjata mereka ke arah kerumunan taipan yang ketakutan.
Jenderal Zhao Kuang melangkah masuk dengan langkah berat, sepatu laras militernya bergema di atas lantai marmer. Zhao Yuhua dan Lin Tian mengikutinya dengan dagu terangkat sombong.
"Atas nama Divisi Keamanan Khusus Ibukota!" suara bariton Jenderal Zhao menggelegar. "Gedung ini dicurigai sebagai tempat pencucian uang sindikat kriminal berbahaya! Semua yang ada di sini akan diinterogasi! Di mana pemilik baru tempat ini?! Serahkan dirimu!"
Suasana menjadi sangat hening. Para pengusaha besar yang tadi dengan sombong berdebat soal harga pil, kini menundukkan kepala mereka, tak berani menatap Jenderal Zhao. Di hadapan moncong senjata negara, kekayaan mereka tidak ada artinya.
Zhao Yuhua tersenyum sinis, menatap panggung di mana Paman Bai berdiri dengan wajah tegang. "Lin Chen! Kau pengecut! Keluarlah dan hadapi hukuman atas kejahatanmu mengganggu stabilitas Ibukota!"
Prok... Prok... Prok...
Sebuah suara tepuk tangan pelan, namun berirama, terdengar dari arah tangga utama lantai dua.
Semua mata, termasuk moncong senapan para tentara, seketika tertuju ke arah suara tersebut.
Lin Chen berjalan menuruni tangga pualam dengan sangat santai, satu tangannya berada di dalam saku celana. Ia menatap ratusan moncong senjata itu seolah menatap mainan plastik anak-anak.
"Stabilitas Ibukota?" Lin Chen tersenyum tipis, matanya mengunci Zhao Yuhua dan Lin Tian. "Sungguh lucu mendengar kata 'kejahatan' keluar dari mulut seorang wanita yang meracuni anak tirinya, dan seorang adik yang mencuri hak waris kakaknya."
Lin Tian menggertakkan giginya. "Tutup mulutmu, cacat! Paman Zhao, tangkap dia! Dialah terorisnya!"
Jenderal Zhao Kuang mendengus dingin. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat. "Lin Chen. Atas tuduhan membahayakan keamanan nasional, kau ditahan. Jika kau melawan, pasukanku memiliki izin menembak mati di tempat. Borgol dia!"
Dua prajurit bertubuh besar melangkah maju sambil membawa borgol besi.
Namun Lin Chen tidak mundur selangkah pun. Ia justru maju mendekati para prajurit itu.
"Menembak mati di tempat?" Lin Chen tertawa pelan. Tawanya membuat bulu kuduk para tentara itu tanpa sadar merinding. Auranya, meskipun ditekan, perlahan mulai menyebar, membuat suhu di dalam paviliun turun drastis.
"Jenderal Zhao," ucap Lin Chen dengan nada yang sangat meremehkan. "Kau membawa seratus tentara untuk menangkapku. Tidakkah kau merasa... jumlah itu terlalu sedikit?"
"Sombong!" Jenderal Zhao Kuang murka. "Prajurit! Banting dia ke lantai!"
Namun, sebelum kedua prajurit itu sempat menyentuh jas Lin Chen...
"SIAPA YANG BERANI MENYENTUHNYA?!"
Sebuah raungan menggelegar dari arah pintu masuk utama. Suara itu begitu keras dan penuh dengan tekanan spiritual (Qi) tingkat dewa, hingga kaca-kaca paviliun bergetar hebat. Dua prajurit yang hendak memborgol Lin Chen terlempar ke belakang hanya karena gelombang suara tersebut!
Jenderal Zhao Kuang terkejut dan berbalik dengan marah. "Siapa yang berani mencampuri urusan—"
Kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, dan wajahnya yang keras seketika berubah sepucat kertas putih.
Kerumunan tentara di pintu masuk terbelah layaknya Laut Merah.
Seorang pria tua berusia tujuh puluhan, mengenakan tunik militer sederhana berwarna hijau tanpa pangkat, berjalan masuk dengan bertumpu pada sebuah tongkat kayu. Di belakangnya, mengikuti empat orang pria paruh baya yang mengenakan seragam Jenderal Bintang Tiga—komandan militer tertinggi aktif di Ibukota!
Pria tua itu berjalan perlahan, namun setiap hentakan tongkat kayunya ke lantai membuat jantung setiap prajurit di ruangan itu seolah berhenti berdetak.
"J-J-Jenderal Besar Qin...?!" Zhao Kuang nyaris menggigit lidahnya sendiri. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya. Lututnya seketika lemas.
Qin Cang! Sang Naga Penjaga Militer Tiongkok! Legenda hidup yang fotonya terpajang di setiap barak pelatihan militer nasional! Mengapa eksistensi seperti dewa ini bisa berada di tempat pelelangan sipil?!
Qin Cang mengabaikan puluhan moncong senjata yang masih terangkat, berjalan lurus melewati Zhao Kuang seolah pria itu hanya udara kosong.
Qin Cang berhenti tepat di hadapan Lin Chen. Mata pria tua yang tajam itu meneliti wajah Lin Chen dari atas ke bawah. Saat ia melihat kemiripan garis wajah Lin Chen dengan Shen Yan, mata tua sang Jenderal Besar memerah.
Di bawah tatapan terkejut ratusan orang, ribuan prajurit, dan Keluarga Lin yang membeku...
Qin Cang, sang legenda militer, tiba-tiba berdiri tegap dan memberikan hormat militer yang paling sempurna kepada Lin Chen!
"Prajurit Tua Qin Cang... melapor kepada Tuan Muda Lin!" suara Qin Cang bergema, dipenuhi dengan rasa hormat dan kesetiaan yang mutlak.
BOM!
Seolah ada nuklir yang meledak di dalam pikiran semua orang.
Jenderal Zhao Kuang jatuh berlutut di lantai. Zhao Yuhua dan Lin Tian nyaris pingsan berdiri. Jenderal Besar Tiongkok... memberi hormat pada Lin Chen?!
Lin Chen tersenyum tipis, melirik ke arah keluarga ayah dan ibu tirinya yang kini terlihat seperti badut yang kehilangan panggungnya.
"Kau datang tepat waktu, Kakek Qin," ucap Lin Chen santai. "Tehmu baru saja diseduh."