Indonesia
NovelToon NovelToon
Trauma Ranjang

Trauma Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Tegas

Suasana kelas langsung meledak dalam kepanikan. Para mahasiswa berteriak histeris, serempak bangkit dari tempat duduk mereka untuk menghindar. Beberapa mahasiswi menutup mulut karena terkejut melihat tindakan aneh dan brutal dari wanita tersebut.

​"Bu Evita!" seru beberapa mahasiswa panik, bersiap maju hendak menolong dosen mereka.

​Namun Evita mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada para mahasiswanya untuk tetap tenang dan tidak mendekat. Evita sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia melangkah satu langkah ke depan, menatap meja kerjanya yang kini hancur berantakan di lantai dengan sorot mata yang menyala-nyala oleh amarah yang sudah mencapai puncaknya.

Viola berdiri tegak di balik reruntuhan meja itu, dadanya naik-turun karena napas yang memburu. Matanya melotot tajam menatap Evita, penuh dengan seringai sadis.

​"Dengar baik-baik, Evita!" teriak Viola tepat di depan wajah Evita, suaranya melengking tinggi penuh kebencian. "Jangan pernah, sekali lagi jangan pernah kamu berani menyuruh Xander datang ke sini atau memohon agar dia kembali padamu! Xander itu jijik sama kamu! Dia sudah bosan melihat wajah sok suci dan dosen kaku sepertimu! Suamimu itu sekarang sepenuhnya milikku! Kalau kamu berani macam-macam lagi, aku pastikan hidupmu hancur berkeping-keping dan rasa malu ini akan jadi konsumsi publik se-Indonesia!"

​Ancaman itu dilontarkan Viola dengan nada yang begitu kejam, tanpa secercah pun rasa bersalah. Ia merasa berada di atas angin, berpikir bahwa dengan aksi brutal dan gila ini, Evita akan ciut nyali dan menyerah begitu saja.

​Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh Evita di luar dugaan siapa pun—termasuk Viola sendiri.

​Alih-alih menunjukkan wajah ketakutan, gemetar, atau menangis histeris seperti wanita lemah yang ia bayangkan, Evita justru perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman yang begitu dingin, penuh arti, dan mengerikan. Sorot mata Evita menatap tajam menembus bola mata Viola, seolah tengah melihat seekor serangga kecil yang bodoh yang sedang berjalan menuju jurang kehancurannya sendiri.

****

Evita merapikan sedikit kerah jas blazernya yang tidak kotor, lalu melangkah pelan mendekati Viola hingga jarak di antara mereka berdua hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Tinggi badan Evita yang semampai, dipadu dengan aura dominasi yang mendadak bangkit dari dalam dirinya, membuat Viola tanpa sadar menelan ludahnya sendiri—sedikit merasa gentar melihat perubahan drastis pada diri istri sah tersebut.

​"Kamu sudah selesai berbicara, Viola?" suara Evita mengalir sangat pelan, namun terdengar begitu berwibawa dan menusuk hingga ke tulang sumsum.

Viola tertegun sejenak, namun ia segera mengeraskan rahangnya, mencoba mempertahankan keberanian palsunya. "A-apa? Kenapa? Kamu takut, hah?!"

​"Takut?" Evita tertawa pelan. Tawa hambar yang sarat akan ejekan dan rasa jijik yang teramat sangat.

​Tiba-tiba, dalam gerakan yang sangat cepat dan di luar prediksi siapapun di ruangan itu, tangan kanan Evita terayun bebas...

​Plak!

​Sebuah tamparan keras, telak, dan bergema nyaring membentur pipi mulus Viola. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat kepala Viola terhuyung ke samping, dan cincin bermata kecil di jari Evita sempat meninggalkan goresan tipis kemerahan di pipi wanita jalang tersebut.

Viola menjerit kaget, memegang pipinya yang langsung membengkak dan memerah panas. Ia menatap Evita dengan mata melotot tidak percaya.

​"Kau... Kau berani menamparku?!" murka Viola dengan suara melengking tinggi penuh histeris, tangannya terangkat hendak balas mencakar wajah Evita.

​Namun sebelum tangan kotor Viola sempat menyentuh kulitnya, Evita dengan tanggap menangkap pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang begitu kuat—kuat sekali, layaknya cengkeraman baja yang tidak memberikan ruang untuk melawan. Evita memelintir sedikit pergelangan tangan Viola ke belakang, memaksa wanita arogan itu mendesis kesakitan sambil membungkuk.

****

Evita mendekatkan wajahnya tepat di telinga Viola, membisikkan kalimat yang membuat sekujur tubuh wanita itu mendadak merinding ketakutan.

​"Dengar baik-baik, perempuan murahan..." bisik Evita dengan nada suara yang bergetar penuh kemarahan namun sangat terkontrol. "Kamu pikir dengan datang ke sini merusak properti kampus dan berteriak seperti orang kesurupan, aku akan menyerah? Kamu salah besar. Kamu baru saja membangunkan macan yang sedang tidur."

Evita menegakkan tubuhnya, menatap sekeliling kelas di mana para mahasiswanya menatapnya dengan penuh kekaguman. Ia lantas menaikkan suaranya dengan tegas:

​"Rama, tolong hubungi bagian keamanan kampus dan pihak kepolisian sektor terdekat sekarang juga. Laporkan ada wanita tidak dikenal yang melakukan perusakan fasilitas negara, membuat keonaran, dan bertindak aneh di dalam lingkungan kampus kita."

​Mendengar kata kepolisian, warna wajah Viola mendadak berubah pucat pasi. Sisa-sisa keangkuhan yang tadinya melingkupinya mendadak menguap seketika digantikan oleh kepanikan yang luar biasa. Masalah hukum, apalagi yang melibatkan kepolisian dan kampus ternama, adalah hal terakhir yang ia inginkan karena bisa mencoreng nama baik keluarganya di lingkaran sosial elite Jakarta.

****

​"Kau... Kau gila, Evita! Beraninya kamu bawa-bawa polisi?!" teriak Viola histeris dengan napas memburu, memegang pipinya yang masih terasa panas.

​"Aku jauh lebih gila dari yang kamu bayangkan, Viola," balas Evita dingin sambil merapikan sisa-sisa berkas di lantai dengan bantuan beberapa mahasiswa yang sigap maju. "Dan selamat menikmati konsekuensi dari perbuatan bodohmu hari ini. Pintu keluar ada di belakangmu. Silakan lari sebelum petugas keamanan kampus datang dan menyeretmu keluar dengan tidak hormat."

Viola menggertakkan giginya kesal luar biasa. Matanya memerah menahan amarah, dendam, dan rasa malu yang membakar ubun-ubunnya. Ia tahu ia tidak bisa berlama-lama di sini jika tidak ingin berurusan dengan aparat hukum. Dengan napas tersengal-sengal dan isak tangis tertahan karena kesal, Viola memutar tubuhnya dengan kasar. Ia berlari keluar dari ruang kuliah sambil menutupi wajahnya dengan tas tangan, meninggalkan riuh rendah sorakan dan kehebohan dari seluruh mahasiswa di dalam kelas.

​Evita berdiri terpaku di depan kelas yang kini kembali senyap. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur degup jantungnya yang sempat memacu kencang. Pertempuran hari ini baru saja dimenangkan olehnya, namun ia tahu perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

****

Tamparan keras yang mendarat di pipinya di hadapan puluhan mahasiswa tadi siang masih menyisakan rasa panas dan perih yang luar biasa di kulit wajah Viola Sanustika. Di dalam kabin sedan mewahnya, Viola mencengkeram kuat setir kemudi dengan jemari lentiknya yang dihiasi kuku akrilik mewah. Napasnya memburu tidak beraturan, naik turun seiring dengan gelombang amarah dan rasa malu yang membakar ubun-ubunnya hingga ke ujung kepala.

Harga dirinya telah diinjak-injak. Seorang Viola Sanustika, sosialita kota yang terbiasa dipuja, dituruti segala kemauannya, dan hidup dalam limpahan kemewahan, baru saja dipermalukan secara telak oleh seorang dosen kaku bernama Evita Desniati. Tidak hanya diusir secara tidak hormat, ia bahkan nyaris diseret oleh pihak keamanan kampus akibat ulahnya sendiri.

​"Sialan... Sialan kau, Evita!" teriak Viola histeris di dalam mobilnya yang sunyi. Air mata amarah menitik di sudut matanya, bercampur dengan seringai iblis yang terukir mengerikan di wajah cantiknya. "Beraninya kau mempermalukan aku di depan umum! Kau pikir dengan menamparku kau sudah menang, hah? Kau salah besar, dosen kampungan! Aku bersumpah... aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu karena sudah berani mencari masalah denganku!"

1
Ma Em
Evita balas perbuatan Xander dan jalang nya buat mereka menyesal karena sdh berani bawa selingkuhan ke rumah tempat Evita tinggal .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!