Olivia Kania Smith mati dengan tragis ditangan adik angkatnya.
Olivia tidak tahu selama ini, kenapa keluarga kandungnya begitu sangat membencinya, dan bahkan juga teman-temannya sangat membencinya.
Mereka lebih percaya, dan perhatian kepada adik angkat Olivia.
Hingga pada detik terakhir Olivia akan mati, barulah ia tahu kenapa semua orang sangat membencinya.
Suara hati adik angkatnya dapat didengar semua orang, kecuali dia!
Siapa sangka, setelah kematian tragisnya, ia dapat mengulang kembali kehidupannya, dan dapat mendengar suara hati adik angkatnya.
Bagaimana sikap Olivia menghadapi keluarga kandungnya, setelah kehidupan ke duanya untuk membalas sakit hatinya pada kehidupan sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26.
"Datang berteriak begitu saja, langsung menyerangku?!"
Dosen itu mendengus dingin acuh tak acuh membenarkan kacamatanya, "Memangnya harus perlu menanyakan lagi?! dari semua orang yang ada disini, hanya kau bermasalah!!"
Hans menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan Dosen mereka itu.
Olivia mendengus dingin mendengar apa yang dikatakan Dosennya tersebut.
"Baik!" Olivia menganggukkan kepalanya.
Ia kemudian melangkah mendekati Dosen, lalu kemudian tangannya mencengkram rambut pada tengkuk Dosennya itu.
"Aduh!!!"
Dosen itu pun menjerit terkejut.
Akibat tarikan tangan Olivia mencengkram rambutnya, kepalanya tertarik ke belakang, dan membuat wajahnya tengadah ke atas memandang langit.
"Olivia! sekarang kau bahkan sudah berani memukul Dosen mu!!!"
Dosen mereka semakin marah mendapatkan perlakuan Olivia, yang tidak sopan pada Dosen yang harus ia hormati.
"Iya!" jawab Olivia.
Ia tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya pada Dosennya.
Masih menarik rambut Dosennya dengan kuat, Olivia melangkah menarik paksa rambut Dosennya, sehingga Dosen itu pun melangkah dengan susah payah menuju anak tangga.
Olivia akan memperlihatkan kepada Dosen mereka, apa permasalahan yang sebenarnya, yang membuatnya bisa sampai marah kepada Lydia.
"Olivia! lepaskan!!!" Dosen itu berontak, mencoba melepaskan tangan Olivia dari mencengkram rambutnya.
Sesampai di depan kelas mereka, baru lah Olivia melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Dosennya.
Ia mendorong Dosen mereka dengan kasar masuk ke dalam kelas.
Siswa-siswi yang berada di dalam kelas sampai terkejut menoleh melihat ke arah mereka.
Olivia memperlihatkan mejanya yang masih terjatuh di atas lantai bersama tas, kursi, dan buku-bukunya.
Olivia menunjuk ke arah mejanya, dan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku duduk baik-baik di kursi ku, aku malah jadi korban! makanya kejadian yang kau lihat tadi bisa terjadi!!"
Dosen itu terdiam melihat pemandangan yang ada di dalam kelas.
"Sekarang kau sudah mengerti, kan?!"
"Tapi, kau juga tidak bisa seperti begitu!!" Dosen itu menoleh memandang Olivia.
Ia kembali menyalahkan Olivia.
"Orang sepertimu apakah pantas menjadi seorang Dosen?!!" bentak Olivia dengan berani melotot pada Dosennya tersebut.
"Kau.. !!" mata Dosen itu membulat memandang Olivia, yang begitu berani menegurnya.
"Kalau mejaku seharian tidak juga di balikkan seperti semula, aku akan laporkan kepada Rektor!!" Olivia menantang tatapan sorot mata tajam Dosennya memandangnya.
Jari telunjuk Olivia kemudian menunjuk tepat pada wajah Dosennya, "Agar kau segera di pecat!!"
"Olivia kenapa kok bisa berubah begitu, ya?"
Melihat sikap garang Olivia, seorang siswi yang berada di dalam kelas, bertanya kepada teman di sampingnya, "Dulu dia kan orangnya penakut??"
"Iya, benar!" jawab temannya yang ditanya menyadari akan perubahan sikap Olivia.
Setelah selesai Olivia mengatakan apa yang ia sampikan kepada Dosennya itu, ia pun melangkah keluar dari dalam kelas.
Dosen wanita yang merasa diancam Olivia itu, menghentakkan satu kakinya satu ke lantai dengan raut wajah menggeram.
Ia sangat marah sekali, bisa-bisanya di ancam seorang mahasiswi.
Sementara itu, Olivia yang telah ditunggu Vincent, masuk ke dalam mobil Vincent.
Ia duduk di samping bangku sopir.
"Maaf!" ucap Vincent yang telah duduk di bangku sopir, "Aku yang kurang memikirkan semuanya!"
Olivia menoleh memandang ke arah Vincent sembari memasang sabuk pengaman.
"Harusnya aku mengatur bodyguard untuk menemani Nona di kampus!"
"Haihhh, tidak usah! walau pun kak Vincent tidak datang, mereka tidak akan bisa mengalahkanku!" jawab Olivia menenangkan perasaan bersalah Vincent.
"Lagi pula, kalau aku bawa bodyguard ke kampus, rasanya tidak pantas!"
"Kalau begitu, cari orang selain bodyguard untuk menemani kamu!" Vincent tetap merasa bersalah, kalau tidak seorang pun yang memperhatikan Olivia.
Ia khawatir kejadian seperti tadi terulang kembali, dan Olivia tidak dapat mengatasinya sendirian, saat ia bertepatan tidak datang dengan cepat untuk menolong Olivia.
Bersambung.......
..