Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Yang Tulus
Waktu perlahan berjalan, matahari sore semakin condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang semakin meredup di halaman belakang restoran itu. Angin sore yang tadi berhembus lembut kini sedikit berubah menjadi lebih sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga melati yang makin terasa menyentuh hidung.
Rania duduk di kursi kayu yang tidak jauh dari tempat Dimas berdiri, tangannya sesekali meremas ujung kain bajunya, matanya terus melirik ke arah pintu belakang restoran—pintu yang menuju ke arah kamar mandi dan ruang-ruang di bagian belakang bangunan itu.
Sudah cukup lama ibunya pergi, dan Rania mulai merasa gelisah. Ia menatap jam tangan di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap pintu itu dengan ragu.
"Sudah cukup lama, sepertinya ada sesuatu yang terjadi..." batin Rania. Ia segera bangkit berdiri, menyingkirkan kursi kayu yang duduknya hingga berbunyi pelan di at lantai keramik.
Niatnya bulat, ia akan menyusul ibunya ke bagian belakang restoran, memastikan semuanya baik-baik saja, atau setidaknya tahu mengapa ibunya begitu lama di sana. Kakinya melangkah cepat menuju pintu belakang itu, langkahnya mantap dan penuh keingintahuan.
Namun, belum sempat ia melangkah jauh, tangan Dimas terulur pelan namun kokoh menahan lengannya. Rania berhenti seketika, menoleh ke arah pemuda itu dengan tatapan yang penuh pertanyaan dan sedikit keberatan. Dimas berdiri di sampingnya, menatap Rania dengan senyum lembut namun matanya menyiratkan permohonan agar gadis itu tidak pergi.
"Tunggu sebentar lagi, Rania" ucap Dimas pelan, suaranya tenang namun meyakinkan.
"Pasti Ibu sedang baik-baik saja. Mungkin ada hal kecil yang harus ia selesaikan di dalam. Tunggu saja di sini sebentar, ya? Jangan terburu-buru. Aku yakin sebentar lagi mama akan keluar menemui kita"
Rania menatap wajah Dimas yang tampak begitu tenang dan tulus, lalu menoleh kembali ke arah pintu belakang itu. Hatinya masih gelisah, keinginan untuk menyusul ibunya masih kuat, namun melihat ketenangan yang terpancar dari wajah Dimas, ia perlahan menurunkan tangannya yang sempat terangkat.
Dengan berat hati, napas panjang terhembus dari bibirnya, menandakan kepatuhan yang penuh keraguan. Akhirnya ia mengangguk pelan, duduk kembali di kursi kayunya, namun matanya tak lepas dari arah pintu belakang itu.
"Baiklah..." jawab Rania pelan, suaranya masih terdengar cemas.
"Aku tunggu sebentar lagi" ucapnya.
Dimas tersenyum lega, berdiri di samping Rania dengan sikap yang tetap sopan dan menjaga jarak, namun kehadirannya seolah memberikan perlindungan halus bagi gadis itu.
Tak lama berselang, pintu belakang restoran itu terbuka perlahan. Jihan berjalan keluar dari sana, berjalan menyusuri jalan menuju tempat mereka berada. Langkahnya tenang namun terasa ringan, seolah beban berat yang tadi sempat memikul pundaknya telah hilang sepenuhnya.
Ia berjalan persis dari arah kamar mandi restoran itu, pakaiannya rapi kembali, wajahnya tampak segar dan bersih, namun ada sesuatu yang berbeda—cahaya di matanya bersinar lebih terang, senyum di bibirnya begitu tulus dan lebar, seolah ia baru saja kembali dari tempat yang penuh kebahagiaan.
Sesampainya di dekat mereka, Jihan berhenti sejenak, menyeka sudut matanya dengan punggung tangan seolah ingin memastikan tidak ada jejak air mata yang tertinggal, lalu tersenyum hangat kepada keduanya.
"Maaf ya kalau lama sekali tadi" ucap Jihan dengan nada lembut dan penuh kehangatan, suaranya terdengar begitu damai.
"Tadi perut Mama sedikit mulas, jadi agak lama di kamar mandi. Sekarang sudah jauh lebih baik kok" ucap jihan.
Rania menghela napas panjang, napas lega yang bercampur dengan rasa heran yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Ohhh..." ucapnya pelan, nada suaranya menyiratkan pengertian namun juga keraguan yang samar.
"Syukurlah kalau Mama sudah merasa lebih baik" ucap rania.
Jihan tersenyum lembut, lalu berjalan menuju kursi kayunya di hadapan meja makan yang masih tertata rapi. Ia duduk kembali di tempatnya semula, meluruskan pakaiannya dengan tenang, lalu meraih sendok dan garpu di atas meja.
Dengan santai dan penuh kelembutan, ia mulai kembali menikmati hidangannya, sesekali menyesap teh hangat yang masih mengepulkan uap putih di gelasnya. Gerakannya begitu tenang dan luwes, seolah tidak ada hal istimewa yang baru saja terjadi.
Namun mata Rania yang cermat dan tajam tak bisa berhenti menatap wajah ibunya. Sementara ia sendiri sudah selesai makan sejak lama, piringnya sudah kosong, ia justru semakin memperhatikan setiap ekspresi yang terukir di wajah ibunya.
Semakin ia menatap, semakin ia merasa ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata namun terasa begitu nyata di matanya. Wajah ibunya tampak begitu berseri-seri, matanya berbinar gembira, bibirnya sesekali tersenyum tipis tanpa alasan yang jelas, seolah hatinya sedang menyanyikan lagu kebahagiaan yang tak terdengar oleh telinga siapa pun selain dirinya sendiri.
"Aneh..." gumam Rania pelan dalam hatinya, matanya tak berkedip menatap wajah ibunya yang tampak begitu muda dan bersinar.
"Kok wajah Mama terlihat seperti orang yang sedang sangat bahagia? Lebih dari biasanya... lebih dari sekadar senang bisa makan bersama kami. Seolah-olah beban hidupnya hilang seketika" gumam rania dalam hati.
Menyadari tatapan tajam putri keduanya itu, Jihan berusaha menenangkan dirinya. Ia menunduk sedikit, fokus pada makanan di piringnya, berusaha menjaga agar tidak ada satu pun ekspresi yang terbaca oleh mata Rania yang tajam itu.
Ia berusaha tampil biasa saja, menampilkan wajah yang tenang dan damai, seolah tidak ada apa-apa yang tersembunyi di balik senyumnya. Namun tangan yang memegang sendok itu sedikit gemetar, begitu halus hingga tak terlihat kecuali jika diperhatikan dengan sangat teliti. Ia berusaha menyembunyikan kebahagiaannya, berusaha menyembunyikan jejak pertemuan yang baru saja terjadi di antara ibu dan anak sulungnya itu.
Dari kejauhan, di balik jendela kaca besar restoran yang tertutup tirai tipis, Rina berdiri diam menatap ke arah mereka berdua—ibunya yang sedang duduk tenang di meja makan dan adiknya yang masih menatap penuh keheranan.
Rina tersenyum tipis, senyum yang penuh kasih sayang dan kelegaan melihat ibunya tampak begitu damai. Hatinya tenang mengetahui ibunya baik-baik saja dan bisa kembali duduk di meja makan itu dengan senyum yang tulus.
Namun ketika Rania tiba-tiba menoleh ke arah jendela itu, seolah merasakan ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan, Rina segera berbalik badan. Punggungnya menghadap ke arah jendela, menyembunyikan dirinya dari pandangan adiknya, menyembunyikan keberadaannya agar tidak menimbulkan keraguan yang lebih dalam lagi di hati Rania.
Saat itu, sesuatu yang luar biasa terlihat jelas jika seseorang memperhatikan mereka dengan saksama. Reaksi dan perubahan wajah kedua ibu dan anak itu—Jihan dan Rina—sangatlah sama. Cara mereka tersenyum, cara mereka menunduk menyembunyikan perasaan, cara mata mereka berbinar saat bahagia—semuanya begitu mirip. Rina bagaikan salinan persis dari ibunya, Jihan. Garis wajahnya, bentuk matanya, senyumnya, bahkan cara ia menahan tangis dan menyembunyikan perasaannya—semuanya diwarisi sempurna dari wanita yang melahirkannya.
Sementara itu, Rania yang masih duduk di meja makan itu menatap ke arah jendela yang kini kosong, lalu kembali menatap ibunya yang sedang makan dengan tenang. Di dalam hatinya, Rania menyadari sesuatu yang tak bisa ia sangkal, ia tidak memiliki kemiripan yang sama dengan ibunya.
Rania lebih mirip dengan ayah mereka. Garis wajahnya yang tegas, matanya yang tajam dan penuh keingintahuan, rahangnya yang kokoh—semuanya menampakkan ciri khas ayahnya. Ia mewarisi ketegasan dan kecurigaan yang sama, kemampuan membaca situasi yang tajam, namun juga keraguan yang tak mudah hilang.
Di halaman belakang itu, di antara kehangatan sore yang perlahan berganti malam, dua anak perempuan berdiri dan duduk di tempat yang berbeda, mewarisi dua sisi yang berbeda pula dari orang tua mereka.
Satu mewarisi kelembutan dan kedalaman hati ibunya, sementara yang lain mewarisi ketegasan dan ketajaman ayahnya. Namun di balik perbedaan itu, darah yang mengalir di tubuh mereka tetaplah darah yang sama—darah yang menghubungkan mereka dengan ikatan yang tak akan pernah putus, walau waktu dan keadaan memisahkan mereka dengan jarak yang tak terlihat mata.
Makan malam itu pun berakhir dengan tenang. Piring-piring yang tadinya penuh kini bersih tak bersisa, teh hangat di gelas-gelas itu pun habis tergup pelan.
Rania segera berdiri dari kursinya, menatap ibunya dengan senyum yang hangat namun masih menyisakan sedikit keraguan yang tak bisa ia hilangkan sepenuhnya dari benaknya. Jihan ikut berdiri, merapikan kain bajunya dengan lembut, lalu menyandarkan tangan Rania di lengannya seolah tak ingin melepaskan putri keduanya itu dari dekatnya.
"Mari kita pulang, Nak" ucap Jihan lembut, menatap Rania dengan kasih sayang yang tulus.
"Sudah cukup hari ini..Mama ingin segera beristirahat di rumah" ucap jihan.
Rania mengangguk patuh.
"Iya, Ma. Ayo kita pulang"
Mereka pun bergegas meninggalkan restoran itu, berjalan menuju kendaraan yang menunggu di depan. Dimas ikut mengantar mereka, membukakan pintu mobil untuk Jihan dan Rania, memastikan keduanya duduk dengan nyaman sebelum ia melangkah ke sisi kemudi.
Mobil itu melaju perlahan membelah jalanan desa yang mulai sepi, lampu-lampu jalan yang remang-remang menerangi perjalanan pulang mereka. Sepanjang jalan, Jihan duduk tenang di kursi belakang, sesekali menatap pemandangan di luar jendela dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya, sementara Rania duduk di sampingnya, menatap wajah ibunya dari samping dengan perasaan yang semakin bercampur aduk—antara bahagia melihat ibunya tersenyum, dan bingung dengan perubahan drastis yang terasa begitu tiba-tiba.
Sesampainya di rumah kecil mereka yang sederhana namun hangat, Dimas memastikan Jihan dan Rania sudah masuk dengan selamat, menutup pintu mobil, lalu berpamitan dengan sopan.
"Saya pamit dulu, Tante, Rania. Istirahatlah yang cukup ya" ucapnya sebelum berbalik menuju kendaraannya.
Namun Dimas tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia mengarahkan mobilnya ke arah taman kota, tempat yang tenang dan sejuk, tempat di mana ia tahu Rina sedang menunggunya di sana. Langit malam sudah sepenuhnya gelap, ditaburi bintang-bintang yang bersinar lembut di atas kepala.
Lampu-lampu taman menyala keemasan, menciptakan bayangan lembut di antara pepohonan rindang yang berdiri kokoh mengelilingi taman itu. Di bangku kayu yang tersembunyi sedikit di balik rimbunan tanaman hias, Rina duduk sendirian, menatap lurus ke arah jalan setapak yang berkelok, menunggu kedatangan pemuda itu.
Dimas memarkirkan mobilnya, lalu berjalan perlahan mendekati bangku tempat Rina duduk. Ia duduk di samping Rina, menatap profil wajah wanita itu yang tampak tenang namun menyimpan ketegangan yang dalam.
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hanya terdengar suara jangkrik yang berkicau pelan di semak-semak dan suara napas mereka yang teratur. Dimas menatap Rina lekat-lekat, lalu membuka suara dengan nada yang berat namun penuh perhatian.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Rina?" tanya Dimas pelan namun tegas, matanya tak lepas dari wajah wanita di sampingnya.
"Sampai kapan kamu akan terus menyembunyikan diri dan membiarkan semuanya berjalan seperti yang kamu rencanakan sendirian?" Tanya dimas.
Rina menoleh perlahan ke arah Dimas, menatap mata itu dengan tatapan yang tenang namun tak tergoyahkan.
"Sebentar lagi" ucapnya lembut namun bulat tekadnya.
"Hanya tinggal sebentar lagi. Semuanya akan selesai" ucap rina.
"Rin..." Dimas menghela napas panjang, tangannya mengepal di atas pangkuannya, menahan rasa cemas yang menggunung di dadanya.
"Kamu sudah bermain terlalu lama dengan Laras. Kamu sudah menyeret Rania ke dalam permainan ini terlalu jauh. Apakah kamu tidak sadar betapa berbahayanya semua ini?"
Rina tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan pemahaman namun tak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
"Aku hanya memberi sedikit pelajaran pada Rania"jawabnya tenang namun tegas.
"Semua ini berawal dari dia, Dimas. Kalau saja dia tidak begitu mudah dipengaruhi, kalau saja dia tidak begitu butuh menyayagi Laras, hal-hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Aku tidak membenci adikku... kamu pun tahu itu. Aku tidak pernah membencinya. Justru karena aku sayang padanya, aku melakukan semua ini. Karena melalui permainan ini, Rania tahu siapa Laras sebenarnya. Dia sekarang tahu siapa orang yang selama ini dianggapnya begitu baik dan penyayang itu. Dia melihat wajah aslinya dengan matanya sendiri"
"Tapi, Rin..." Dimas mencoba menyela, suaranya terdengar cemas dan tidak tenang.
"Tapi caranya... apakah tidak ada cara lain yang lebih baik daripada menyakiti diri sendiri dan menyakiti hati Rania juga? Apakah kamu tidak menyadari betapa terlukanya dia nanti saat dia tahu kebenarannya?"
"Aku tidak memintamu membantuku jika kamu ragu, Dimas"potong Rina pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke depan, seolah menatap masa depan yang sedang ia perjuangkan.
"Kamu sendiri yang memilih untuk membantuku. Jadi yang harus kamu lakukan adalah membantu aku membuat Rania menuntut haknya. Bantu dia menyadari bahwa dia berhak atas apa yang seharusnya menjadi miliknya, bantu dia berani melawan Laras itu. Dan satu hal lagi... kamu harus pastikan Rania mau melanjutkan sekolahnya. Jangan biarkan dia berhenti hanya karena keadaan atau karena kata-kata dari Laras. Dia harus sekolah, dia harus punya masa depan " ucap rina.
Rina berdiri perlahan, menyandarkan tubuhnya ke batang pohon besar di samping bangku itu, menatap langit malam yang gelap namun penuh bintang. Sosoknya tampak tegak dan kuat, namun Dimas bisa melihat betapa rapuhnya ia di balik ketegasan itu.
Dimas segera bangkit berdiri, meraih tangan Rina dengan kedua tangannya, menggenggamnya erat seolah takut jika ia melepaskan, wanita itu akan menghilang ke dalam kegelapan malam. Matanya menatap Rina dengan penuh kasih sayang yang mendalam dan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
"Aku membantumu bukan karena aku ragu pada mu, Rina" ucap Dimas dengan suara bergetar namun penuh keyakinan, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tegas dan tulus.
"Aku membantumu karena aku sayang padamu. Aku mencintaimu, Rina, lebih dari apa pun di dunia ini. Aku ingin semua ini segera selesai. Aku ingin semua beban ini terangkat dari pundakmu. Aku ingin kita bisa tenang, damai, dan... kita bisa menikah. Aku ingin membangun rumah tangga bersamamu, Rina. Aku ingin melindungimu seumur hidupku" ucap dimas.
Rina terdiam, menatap wajah Dimas yang tampak begitu tulus dan penuh harap di hadapannya. Genggaman tangan pemuda itu terasa hangat dan kokoh, memberikan kekuatan yang selama ini ia cari-cari namun tak pernah ia akui.
Air mata menggenang di sudut matanya, bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur dan haru yang begitu dalam—menyadari bahwa di tengah semua badai yang ia hadapi, ada seseorang yang berdiri tegak di sisinya, tidak pergi, tidak menyerah, justru menggenggam tangannya lebih erat saat ia merasa ingin terjatuh.
Angin malam berhembus pelan di antara mereka, mengibaskan rambut Rina dan menyapu dedaunan di sekitar kaki mereka. Di taman kota yang sunyi itu, di bawah cahaya bintang yang lembut, dua hati saling berjanji—satu hati yang berjuang demi keadilan dan perlindungan bagi orang yang dicintainya, dan satu hati yang berjuang demi wanita yang ia cintai, siap menempuh jalan apa pun asal bisa melihatnya tersenyum bahagia.
Bersambung...