Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Sang Jenderal di Mimbar Akademik

Matahari pagi bersinar cerah menembus jendela-jendela besar di Gedung Fakultas Seni Universitas St. Jude, namun atmosfer di dalam ruang kelas Sejarah Eropa Kuno terasa sangat berbeda dari biasanya. Desas-desus menyebar dengan cepat di kalangan mahasiswa bahwa profesor lama mereka telah mengundurkan diri secara mendadak subuh tadi, dan hari ini, seorang dosen pengganti akan mengambil alih mimbar.

Di barisan kursi tengah, Maya Lin duduk dengan tenang sambil mengetik sesuatu di laptopnya. Sebagai mahasiswi tingkat akhir jurusan jurnalistik, insting Maya selalu lebih tajam dari mahasiswa rata-rata. Di layar laptopnya yang diredupkan, terpampang deretan data rahasia, mutasi rekening, dan artikel-artikel tersembunyi mengenai aliran dana gelap milik Yayasan Thorne. Sudah berbulan-bulan Maya menyelidiki Julian Thorne, putra pewaris yayasan yang arogan, dan menyadari bahwa pria itu menggunakan kampus ini sebagai tempat pencucian uang sindikat kriminal.

Tepat pukul sembilan, pintu kayu berpelitur gelap di depan kelas terbuka. Suara bising para mahasiswa seketika mereda.

Langkah kaki yang tenang namun tegas terdengar memasuki ruangan. Arthur Summers melangkah masuk dengan balutan jas wol kasual berwarna abu-abu dan kemeja putih tanpa dasi. Ia membawa sebuah tas kerja kulit yang tampak sederhana, meletakkannya di atas meja dosen, lalu berbalik menghadap puluhan mahasiswa yang kini menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Bagi sebagian besar mahasiswi di kelas itu, Arthur hanyalah sosok dosen muda yang sangat tampan, memiliki rahang tegas dan sorot mata yang tajam. Namun, Maya Lin mengerutkan keningnya. Insting jurnalistiknya seketika berdering keras.

Gadis cerdas itu mengamati cara Arthur berjalan. Pria itu melangkah tanpa menimbulkan suara decitan sepatu sedikit pun, sebuah ciri khas seseorang yang terbiasa bergerak dalam senyap. Posturnya terlalu tegap untuk ukuran seorang akademisi yang biasanya menghabiskan waktu membungkuk di depan buku. Dan yang paling mencolok adalah matanya—mata yang terus bergerak konstan, memindai setiap sudut ruangan, setiap wajah, mencari potensi ancaman dalam hitungan detik.

Maya mencatat di dalam benaknya: Pria ini bukan dosen biasa. Dia bergerak seperti seorang tentara. Tidak, lebih dari itu... dia bergerak seperti seorang pemburu. Maya tidak tahu bahwa di balik penampilan sederhananya, pria di depan kelas ini sebenarnya adalah sosok yang memegang otoritas tertinggi di dunia ini, bersama dengan kekayaan dan status sosial yang sangat luar biasa.

"Selamat pagi," suara Arthur mengalun, baritonnya tidak terlalu keras namun cukup berwibawa untuk membuat seluruh ruangan terdiam total. "Nama saya Arthur Summers. Mulai hari ini, saya akan mengambil alih kelas Sejarah Eropa Kuno."

Arthur mengambil sebatang kapur dan menuliskan namanya di papan tulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan presisi. "Hari ini, kita akan melewati bab pengantar dan langsung membahas tentang Kejatuhan Kekaisaran Romawi. Bagaimana sebuah kekuasaan yang tampak kuat, yang dibangun di atas kesombongan dan korupsi, bisa diruntuhkan dari dalam hanya dalam waktu satu malam."

Arthur mulai menjelaskan materi dengan sangat fasih. Ia tidak membaca buku teks. Ia menceritakan taktik perang kuno, strategi pengepungan, dan pengkhianatan politik seolah-olah ia sendiri pernah berada di medan pertempuran tersebut dan memimpin pasukan-pasukan itu. Maya Lin mendengarkan dengan saksama, matanya sesekali terpaku pada bekas luka halus di buku-buku jari Arthur yang menyembul dari balik lengan kemejanya. Semakin lama ia mengamati, Maya semakin yakin ada misteri besar yang menyelimuti dosen baru ini.

Sementara itu, di luar ruang kelas, suasana di lorong fakultas berbanding terbalik dengan ketenangan di dalam.

Julian Thorne melangkah dengan napas terengah-engah dan keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya. Pewaris muda yang biasanya berjalan dengan dagu terangkat itu kini tampak sangat kacau. Di belakangnya, empat orang pengawal bayaran berbadan tegap bersiaga, mata mereka menyapu lorong dengan paranoid.

Julian sedang melakukan "inspeksi fakultas", namun semua orang tahu itu hanyalah alasan baginya untuk berlindung di tengah keramaian kampus. Sejak pukul enam pagi, dunia Julian seolah runtuh. Ponselnya tidak berhenti berdering membawa kabar buruk. Saham perusahaan ayahnya anjlok bebas tanpa alasan yang logis. Bank-bank tiba-tiba membekukan aset mereka. Dan yang paling mengerikan, dua belas mayat pembunuh bayaran dari sindikat Viper yang ia sewa semalam telah ditemukan di dalam truk sampah di depan gerbang rumahnya—semuanya dengan kondisi tulang hancur lebur.

Di samping Julian, Elena berjalan dengan wajah yang tak kalah pucatnya. Wanita yang mengenakan setelan blazer dekan itu terus menoleh ke belakang dengan gelisah. Semalam, perasaannya berkecamuk. Ia pernah meremehkan Arthur, menganggap suaminya hanyalah pecundang miskin yang tidak bisa memberinya masa depan, dan lebih memilih untuk bersenang-senang di tempat hiburan bersama pria-pria bejat yang memiliki kekuasaan seperti Julian. Namun, tatapan mematikan Arthur semalam dan tamparan brutal yang mendarat di wajah Julian telah menghancurkan ilusi kenyamanannya.

"Julian, kumohon, kita harus pergi dari sini," bisik Elena dengan suara bergetar, menarik lengan jas pria itu. "Jika Viper saja bisa dihabiskan dalam satu malam... bagaimana jika Arthur menargetkan kita selanjutnya?"

"Tutup mulutmu, Elena!" desis Julian, giginya gemeretak menahan panik. "Ini kampusku! Wilayah kekuasaanku! Tidak ada yang berani menyerangku di sini. Arthur hanyalah anjing liar yang beruntung. Aku sudah menyewa tim pengamanan elit dari luar kota. Mereka akan tiba siang ini."

Walaupun kata-katanya terdengar berani, langkah Julian sangat ragu. Ia butuh memastikan bahwa kekuasaannya di kampus ini masih kuat. Ia menatap ke arah deretan ruang kelas di lorong tersebut, mencoba mencari ketenangan dari rutinitas akademik yang normal.

Langkah Julian membawanya tepat ke depan ruang kelas Sejarah Eropa Kuno. Kaca transparan persegi di daun pintu kelas itu memungkinkan siapa saja dari luar untuk melihat ke dalam.

Julian menghentikan langkahnya. Ia mengintip ke dalam, sekadar ingin melihat siapa dosen yang sedang mengajar. Elena berdiri di sebelahnya, ikut menatap ke arah mimbar kelas.

Seketika itu juga, jantung Julian terasa berhenti berdetak.

Udara di lorong itu seolah tersedot habis. Kaki Julian mendadak lemas, memaksanya berpegangan pada kusen pintu agar tidak ambruk ke lantai. Matanya terbelalak lebar, memancarkan teror yang kuat.

Di depan kelas, berdiri di balik mimbar dengan kapur di tangannya, adalah pria yang sama yang semalam ia perintahkan untuk dihancurkan tulang-tulangnya. Arthur Summers berdiri di sana, mengajar dengan tenang, tanpa ada satu pun luka memar, tanpa ada satu pun goresan di wajah tampannya. Jas wol kasualnya terlihat rapi dan bersih. Pria itu hidup, bernapas, dan sepenuhnya tidak tersentuh.

"T-tidak mungkin..." gumam Julian dengan suara tercekat. Wajahnya yang arogan kini seputih kertas. Ia merasakan kakinya bergetar hebat. Pria yang telah membuang belasan algojo elit ke tempat sampah itu... kini ada di kampusnya. Di dalam gedung miliknya.

Elena, yang berdiri di samping Julian, menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Napasnya terengah-engah. Ia menatap Arthur dengan campuran antara rasa tidak percaya, penyesalan, dan ketakutan yang mencekik. Bagaimana mungkin pria yang selalu ia anggap rendah ini bisa selamat dari kejaran pembunuh bayaran paling mematikan di kota? Siapa Arthur sebenarnya? Perasaan pria itu sangat hancur ketika melihat Elena mengkhianatinya semalam, dan kini, Elena mulai menyadari betapa mengerikannya konsekuensi dari menghancurkan hati seorang pria seperti Arthur.

Seolah memiliki mata di belakang kepalanya, Arthur yang sedang menulis di papan tulis tiba-tiba menghentikan gerakannya.

Ia meletakkan kapurnya dengan gerakan pelan. Ia menoleh ke arah pintu kelas, tepat ke arah wajah Julian dan Elena yang menempel di kaca pintu.

Selama beberapa detik, waktu seolah membeku. Arthur menatap lurus ke dalam mata Julian. Di hadapan para mahasiswanya, ekspresi Arthur tampak tenang. Namun bagi Julian dan Elena, tatapan mata Arthur saat itu sangat berbeda. Wajah Arthur seketika menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam kapan saja. Sebuah senyum yang sangat tipis, dingin, dan mengancam terbentuk di sudut bibir Arthur senyum seorang malaikat maut yang baru saja menemukan mangsanya.

Julian terkesiap mundur, menabrak salah satu pengawalnya hingga nyaris terjatuh. "T-Tuan Thorne? Anda baik-baik saja?" tanya pengawal itu kebingungan.

"Pergi... kita pergi dari sini! SEKARANG!" raung Julian histeris, memutar tubuhnya dan berlari terbirit-birit menyusuri lorong menjauhi kelas itu layaknya orang gila. Elena, yang kakinya sudah lemas, terpincang-pincang mengejar Julian di belakangnya, wajahnya berlinang air mata ketakutan.

Di dalam kelas, Arthur kembali menghadap mahasiswanya seolah tidak terjadi apa-apa. "Baiklah, mari kita lanjutkan. Seperti yang saya katakan, kesombongan adalah awal dari sebuah kejatuhan yang menyakitkan."

Semua mahasiswa di kelas itu tidak menyadari drama mengerikan yang baru saja terjadi di ambang pintu mereka. Semuanya, kecuali satu orang.

Maya Lin, yang duduk dengan sudut pandang sempurna ke arah pintu, telah menyaksikan seluruh kejadian tersebut. Ia melihat bagaimana Julian Thorne pria yang paling ditakuti dan berkuasa di kampus ini pucat pasi dan gemetar hebat hanya karena bertatapan mata dengan dosen sejarah baru mereka.

Mata Maya berbinar terang. Tangan gadis itu bergerak cepat di atas keyboard laptopnya, membuka sebuah dokumen kosong yang baru. Ia menyadari sebuah pola yang luar biasa. Runtuhnya saham Yayasan Thorne pagi ini, pembantaian sindikat Viper semalam, dan ketakutan Julian Thorne saat ini semua benang merah itu terhubung pada satu titik pusat yang sama.

Maya menatap sosok Arthur Summers yang tengah berdiri di depan mimbar. Pria ini bukan sekadar dosen. Dia adalah gempa bumi yang datang untuk meruntuhkan kekaisaran Julian Thorne dari akarnya. Senyum tipis yang penuh intrik mengembang di wajah Maya Lin. Jurnalis muda itu tahu, ia baru saja menemukan sekutu paling berbahaya dan sekaligus paling kuat yang pernah menginjakkan kaki di kota ini.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!