Indonesia
NovelToon NovelToon
Kamu Di Lapangan Padel

Kamu Di Lapangan Padel

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan di bukit sunset

Untuk merayakan satu bulan hubungan mereka, Baska merencanakan sebuah kejutan spesial, mengajak Zia untuk pergi ke sebuah bukit di pinggiran kota yang terkenal dengan pemandangan matahari terbenam yang begitu indah, sebuah lokasi yang dia temukan setelah mencari referensi dari berbagai rekomendasi teman kantornya. Dia sengaja merahasiakan tujuan tersebut, hanya memberi tahu Zia untuk bersiap-siap tanpa menjelaskan detail rencananya secara lengkap.

"Mas, kita mau ke mana sih? Dari tadi nggak dikasih tau," tanya Zia dengan nada penasaran, duduk di jok belakang motor Baska yang melaju menuju arah pinggiran kota yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.

"Udah, nikmatin aja perjalanannya, ntar juga tau sendiri," jawab Baska sambil tersenyum misterius, menikmati kejutan yang telah dia persiapkan dengan begitu matang tersebut.

Setelah perjalanan sekitar empat puluh menit, mereka akhirnya tiba di sebuah bukit dengan pemandangan yang begitu menakjubkan, matahari mulai turun perlahan menciptakan gradasi warna jingga dan ungu yang begitu memukau di ufuk barat. Zia yang turun dari motor tersebut, langsung terpesona dengan keindahan pemandangan yang tersaji di hadapannya.

"Mas, ini indah banget! Kok kamu bisa tau tempat kayak gini?" tanya Zia dengan mata berbinar, tidak menyangka Baska akan membawanya ke lokasi seindah tersebut.

"Cari-cari referensi dari temen kantor, Zia. Aku pengen banget ngajak kamu ke tempat yang spesial buat rayain satu bulan kita jadian," jawab Baska dengan senyum tulus, menggelar tikar kecil yang sudah dia persiapkan sebelumnya untuk mereka duduk bersama menikmati pemandangan tersebut.

Mereka berdua duduk berdampingan di atas tikar tersebut, menikmati semilir angin sore yang berembus lembut sambil menyaksikan matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Baska mengeluarkan sekotak kue kecil yang sudah dia siapkan, sebuah kejutan tambahan yang membuat Zia semakin terharu dengan perhatian detail yang ditunjukkan kekasihnya tersebut.

"Selamat satu bulan, Zia. Makasih udah mau jadi bagian dari hidup aku," ujar Baska sambil menyodorkan kue kecil tersebut, sebuah perayaan sederhana namun penuh makna bagi keduanya.

"Makasih juga, Mas, udah bikin bulan ini jadi salah satu bulan paling bahagia dalam hidup aku," jawab Zia dengan mata berkaca-kaca, menerima kue tersebut sambil menyandarkan kepalanya di bahu Baska, menikmati momen kebersamaan yang begitu hangat tersebut.

Mereka berdua duduk dalam keheningan yang nyaman selama beberapa saat, menikmati pemandangan matahari terbenam tersebut sambil sesekali bercanda mengenai berbagai kejadian lucu yang telah mereka lalui bersama sejak pertemuan pertama mereka di lapangan padel beberapa bulan yang lalu.

"Zia, aku pengen kita terus kayak gini ya, terus bahagia bareng-bareng, apapun yang terjadi ke depannya," ujar Baska dengan nada serius, mengungkapkan harapannya mengenai masa depan hubungan mereka.

"Aku juga mau banget, Mas. Aku yakin, kita bisa lewatin apapun bareng-bareng, asal kita saling percaya dan saling jujur," jawab Zia dengan penuh keyakinan, menggenggam tangan Baska erat-erat sebagai simbol komitmen yang mereka ikrarkan bersama tersebut.

Ketika matahari akhirnya sepenuhnya tenggelam dan langit mulai gelap dipenuhi bintang, mereka berdua bergegas turun dari bukit tersebut sebelum jalanan menjadi terlalu gelap untuk dilalui, membawa pulang kenangan indah dari kencan spesial tersebut yang akan mereka simpan sebagai salah satu momen paling berharga dalam perjalanan cinta mereka, tanpa menyadari bahwa kebahagiaan sempurna yang mereka rasakan sore itu akan segera diuji oleh kejadian tak terduga yang sudah mulai mendekat dalam kehidupan mereka berdua.

Sepanjang perjalanan pulang, Zia bersandar di punggung Baska, merasakan kehangatan dan kenyamanan yang begitu mendalam, sesekali tertawa kecil mengenang kembali berbagai momen indah yang baru saja mereka lalui di bukit tersebut. "Mas, ini beneran hari paling indah yang pernah aku alami. Makasih ya, udah repot-repot nyiapin semuanya."

"Nggak repot kok, Zia. Malah aku seneng banget bisa liat kamu bahagia kayak gini," jawab Baska sambil tersenyum, meski Zia tidak bisa melihat ekspresi wajahnya tersebut dari posisi duduknya di jok belakang motor.

Sesampainya di depan rumah Zia, mereka berdua berpisah dengan pelukan hangat, sebuah kebiasaan kecil yang mulai terbentuk setiap kali mereka harus berpisah setelah menghabiskan waktu bersama. "Hati-hati di jalan ya, Mas. Sampai ketemu lagi minggu depan," ujar Zia sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan, sama sekali tidak menyangka bahwa minggu depan yang dia maksud tersebut akan membawa kejutan yang jauh berbeda dari yang dia harapkan.

Di dalam rumah, Bu Marlina yang masih terjaga menunggu kepulangan putrinya tersebut, langsung menyadari kebahagiaan yang terpancar dari wajah Zia begitu gadis tersebut masuk. "Gimana kencannya, Nak? Keliatannya seru banget dari raut mukamu."

"Seru banget, Bu! Baska ngajak aku ke bukit, liat sunset bareng, romantis banget deh," jawab Zia dengan penuh semangat, menceritakan detail kencan tersebut kepada ibunya dengan antusiasme yang jarang sekali dia tunjukkan sebelumnya.

Bu Marlina tersenyum mendengarkan cerita putrinya tersebut, merasakan kebahagiaan yang sama besarnya menyaksikan Zia begitu bersemangat menceritakan momen indah yang baru saja dia alami, berharap dalam hati bahwa kebahagiaan tersebut bisa terus bertahan lama tanpa gangguan apa pun di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!