Indonesia
NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Festival Akademi

Beberapa minggu berlalu sejak insiden dungeon dan ruang rahasia dengan lingkaran Elaria di dalamnya. Beberapa minggu yang cukup damai, jika bisa dibilang damai.

Setelah laporan tentang perangkap tombak dan ruangan tersembunyi itu diserahkan kepada tim investigasi akademi, pihak akademi menutup Goblin Cave untuk sementara, dengan alasan "perbaikan struktur". Tidak ada yang tahu tentang gadis rambut hitam mata merah yang dilihat Yamada di dalam visi, tidak ada yang tahu tentang soul resonance 32% antara Yamada dan Aria. Hanya mereka berdua yang tahu, dan mereka berdua sepakat untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun, bahkan kepada Elena.

Kehidupan akademi kembali normal. Kelas teori yang membosankan, latihan pedang yang melelahkan, tugas sirkuit mana yang menumpuk, dan tidur siang di bawah pohon ek yang kini selalu ditemani oleh Aria yang duduk di sebelahnya dengan buku catatannya.

Dan kemudian, festival akademi dimulai. Festival tahunan terbesar Akademi Asteria, yang diadakan setiap akhir musim gugur untuk merayakan berdirinya akademi 200 tahun lalu.

Selama tiga hari, seluruh akademi berubah menjadi pasar malam raksasa. Semua siswa bersenang-senang. Ada stan makanan dari seluruh kerajaan, ada pertunjukan sihir kembang api dari murid kelas S, ada turnamen pedang kecil-kecilan, ada rumah hantu yang dibuat oleh klub sihir ilusi, ada panggung musik, ada kios ramalan, dan ada ratusan lampion yang melayang di langit malam akademi, membuat seluruh akademi terlihat seperti negeri dongeng.

Semua siswa bersenang-senang, berlari dari satu stan ke stan lain, tertawa, berteriak, mencoba makanan, mencoba menantang teman-temannya.

Yamada justru mencari tempat sepi. Seperti biasa.

Keramaian adalah musuh utama seorang pemalas. Keramaian berarti berisik, berarti harus antri, berarti harus berinteraksi dengan banyak orang, berarti harus tersenyum, berarti harus menghabiskan energi. Semua hal yang paling dibenci oleh filosofi Lazy Genius.

Dia duduk di belakang gedung perpustakaan utama, di tempat yang paling sepi di seluruh akademi, di sebuah bangku kayu tua yang tersembunyi di balik semak-semak tinggi, tempat di mana lampion festival tidak sampai, tempat di mana suara musik dan tawa dari lapangan utama hanya terdengar samar-samar seperti gema jauh.

Di sana dia duduk, dengan secangkir teh hangat yang dia ambil dari stan gratis— karena gratis adalah satu-satunya alasan dia mau datang ke festival— dan dengan jaketnya yang dilipat sebagai bantal di pangkuan, siap untuk tidur siang di tengah festival.

Namun, seperti biasa dalam beberapa minggu terakhir, tempat sepinya tidak bertahan lama.

Langkah kaki pelan terdengar di atas rumput, langkah yang sudah sangat dia kenal, langkah yang ringan dan tidak tergesa-gesa.

"Kau di sini." Suara yang tenang, suara yang lembut, suara yang sudah menjadi penanda bahwa waktu tidurnya akan terganggu lagi.

Yamada bahkan tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa itu.

"Ya. Di sini. Tempat paling sepi yang bisa kutemukan." Jawabnya, masih dengan mata terpejam, menyesap teh hangatnya.

Aria Luvellia menemukannya. Lagi. Entah bagaimana, bahkan di akademi sebesar ini dengan ribuan orang yang berlalu-lalang, dengan ratusan tempat persembunyian, Aria selalu bisa menemukan tempat persembunyian Yamada. Seolah-olah ada kompas di dalam dirinya yang selalu menunjuk ke arah Yamada.

Dia mengenakan pakaian festival sederhana, bukan seragam akademi, tapi gaun biru muda dengan pita putih, dengan rambut biru keperakannya yang hari ini diikat setengah, dengan beberapa hiasan bunga kecil. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sedikit lebih cerah karena cahaya lampion yang samar-samar sampai ke belakang gedung.

"Kau tidak ingin ikut festival? Di depan ada pertunjukan naga ilusi, ada sate naga— bukan naga beneran, cuma ayam yang dibumbui— dan ada lomba makan roti." Tanya Aria, berdiri di depan bangku kayu itu.

"Berisik. Ramai. Banyak orang. Antri panjang. Capek." Jawab Yamada singkat, dengan empat alasan yang sangat Yamada. "Di sini lebih tenang. Lebih ideal untuk tidur."

Aria tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya tersenyum tipis, lalu duduk di sampingnya, di bangku kayu tua yang sama, dengan jarak sekitar 20 sentimeter, jarak yang sama seperti di bawah pohon ek. Dia juga membawa secangkir teh hangat yang sama.

"Kalau aku di sini? Apakah masih berisik?" Tanyanya, menoleh ke Yamada, dengan mata ungu yang memantulkan cahaya lampion jauh.

Yamada menoleh, membuka matanya sepenuhnya, menatap Aria yang duduk di sebelahnya dengan gaun biru muda dan teh hangat, dengan daun-daun kering yang jatuh di rambutnya.

"Kau tidak terlalu berisik. Kau termasuk kategori tidak berisik yang masih bisa ditoleransi. Bahkan... cukup tenang." Jawabnya jujur, dengan nada yang sedikit lebih lembut dari biasanya.

Aria tersenyum, senyum yang lebar, senyum yang membuat wajah dinginnya yang biasanya seperti danau beku kini mencair sepenuhnya, menjadi hangat seperti teh di tangan mereka.

"Itu pujian? Dari Yamada yang bahkan memuji bukunya sendiri dengan kata 'lumayan'?"

"Mungkin. Anggap saja begitu. Pujian tingkat tinggi dari pemalas profesional." Jawab Yamada, dengan senyum tipis yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun, senyum yang hanya muncul saat dia benar-benar nyaman.

Mereka duduk diam setelah itu. Tidak ada percakapan lanjutan. Tidak ada pertanyaan tentang teori sirkuit mana, tidak ada pertanyaan tentang dungeon, tidak ada pertanyaan tentang lingkaran Elaria atau tentang visi gadis rambut hitam.

Hanya diam. Duduk berdampingan di bangku kayu tua di belakang gedung perpustakaan, di tengah festival yang ramai di depan, dengan dua cangkir teh hangat yang mengepul, dengan suara musik festival yang samar-samar, dengan lampion-lampion yang terlihat dari celah semak-semak.

Anehnya, keheningan itu terasa nyaman. Tidak canggung, tidak perlu diisi dengan kata-kata. Keheningan yang hanya bisa dirasakan oleh dua orang yang sudah cukup mengenal satu sama lain untuk tidak perlu berbicara terus-menerus. Keheningan yang bagi Yamada, jauh lebih nyaman daripada keramaian festival di depan.

Beberapa menit berlalu, hanya suara jangkrik malam dan suara teh yang disesap.

Aria kemudian berkata, dengan suara yang pelan, hampir berbisik, tapi jelas terdengar di tengah keheningan belakang gedung,

"Yamada."

"Hm?" Yamada menjawab, tanpa menoleh, masih menatap lampion-lampion yang melayang jauh di atas lapangan utama.

"Kalau suatu hari kau menghilang..." Aria berhenti sejenak, menatap cangkir tehnya, jari-jarinya yang putih memegang cangkir itu sedikit lebih erat. "...kalau suatu hari kau tiba-tiba tidak ada di kelas, tidak ada di bawah pohon ek, tidak ada di perpustakaan, tidak ada di bangku ini..."

Yamada menoleh, menatap Aria, dengan alis sedikit terangkat, tidak mengerti arah pembicaraan ini.

"...aku akan mencarimu. Ke mana pun kau pergi. Bahkan kalau harus ke Hutan Elaria, bahkan kalau harus ke balik lingkaran sihir itu, aku akan mencarimu." Lanjut Aria, dengan suara yang masih pelan, tapi dengan tatapan mata ungu yang kini menatap lurus ke mata Yamada, tatapan yang serius, yang dalam, yang tidak seperti tatapan penasaran biasanya.

Yamada terdiam, menatap mata ungu itu, yang memantulkan cahaya teh hangat dan cahaya lampion jauh. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, degup yang tidak biasa, degup yang membuat dadanya terasa hangat.

"Kenapa? Kenapa repot-repot mencariku? Aku kan cuma anak desa mana 0 yang malas." Tanyanya, dengan suara yang sedikit lebih pelan dari biasanya, karena degup jantung itu membuatnya sedikit gugup.

"Karena..." Aria tersenyum, senyum yang lembut, senyum yang sama seperti senyum gadis rambut hitam di dalam visi ruang rahasia, senyum yang penuh janji, senyum yang sudah menunggu lima tahun.

"...aku tidak ingin kehilanganmu. Sekali lagi. Aku sudah pernah kehilanganmu sekali, lima tahun lalu. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya."

Kalimat itu membuat Yamada membeku. Sekali lagi. Kehilangan sekali. Lima tahun lalu.

Kata-kata yang sama persis dengan kata-kata gadis rambut hitam di dalam visi: "Aku akan menunggumu."

Jantung Yamada berdetak sedikit lebih cepat lagi, lebih kencang, hingga terasa di telinga. Degup yang tidak bisa dikendalikan, degup yang membuat wajahnya sedikit memanas.

Dia tidak tahu apakah itu perasaannya sendiri, perasaan Yamada yang pendatang yang baru pertama kali merasakan jantung berdebar karena seorang gadis, atau perasaan tubuh ini, perasaan jiwa asli pemilik tubuh yang berusia 10 tahun, yang pernah berjanji pada gadis rambut hitam itu bahwa dia akan kembali, yang kini merasakan janji itu ditepati, yang merasakan gadis yang menunggunya akhirnya menemukannya, meskipun dengan rambut dan mata yang berbeda.

Namun untuk pertama kalinya sejak dia bereinkarnasi, sejak dia mati ditabrak truk dan bangun di tubuh orang lain, sejak dia selalu menganalisis segala sesuatu dengan logika malasnya, mencari efisiensi, mencari jalan pintas—

dia tidak ingin mencari jawabannya. Dia tidak ingin tahu apakah degup itu miliknya atau milik jiwa lain. Dia tidak ingin menganalisis apakah Aria adalah gadis rambut hitam itu atau bukan. Dia tidak ingin membuka sistem untuk mengecek Soul Resonance yang mungkin sudah naik lagi.

Dia hanya ingin duduk di sini, di bangku kayu tua di belakang gedung perpustakaan, di tengah festival yang berisik di depan, dengan teh hangat di tangan, dengan Aria di sampingnya, dengan keheningan yang nyaman, sedikit lebih lama.

[New Bond Effect: Aria Luvellia - Trust Level Increased to 48%]

[Effect: Will not leave host's side during important events.]

[Soul Resonance: 32% -> 41% - Increasing due to emotional synchronization.]

Sistem muncul dengan notifikasi pelan, tapi Yamada menutupnya dengan kibasan tangan tanpa membacanya, karena untuk pertama kalinya, dia lebih memilih untuk menikmati momen daripada menganalisisnya.

"Repot." Gumamnya pelan, tapi kali ini dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan, senyum yang terlihat oleh Aria.

Aria yang melihat senyum itu, tertawa kecil, dan menyandarkan kepalanya pelan ke bahu Yamada, bahu anak desa mana 0 yang malas, yang kini menjadi tempat bersandar paling nyaman di seluruh festival yang ramai itu.

Dan Yamada, yang biasanya akan menggeser bahunya karena repot, kali ini membiarkannya, membiarkan kepala berambut biru keperakan itu bersandar di bahunya, sambil menatap lampion-lampion yang melayang di langit malam festival, dengan jantung yang masih berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!