Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI ALTAR LANGIT
Hari Upacara Pengorbanan Musim Gugur tiba bersama kabut pagi yang pekat, menyelimuti puncak Kuil Langit yang berdiri megah di puncak bukit suci, tiga mil di luar tembok istana utama. Ribuan anak tangga marmer putih yang menuju ke puncak altar tampak berkilau oleh embun dingin. Di tempat suci inilah, setiap tahunnya, Kaisar Han akan mempersembahkan hasil bumi dan hewan buruan demi memohon berkah surga bagi kelangsungan dinastinya.
Kaisar Han duduk di atas tandu megah berselimut kain sutra emas, dikawal oleh barisan prajurit Pengawal Emas berkuda yang mengenakan zirah berat berkilat. Di sampingnya, Permaisuri duduk dengan wajah tegak lurus, namun gurat kecemasan di matanya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Kematian tragis Shen Meili dan hilangnya faksi militer keluarga Li masih meninggalkan lubang besar dalam stabilitas kekuasaan mereka.
"Yang Mulia, udara hari ini terasa tidak biasa," bisik Perdana Menteri Shen, yang berjalan di sisi tandu Kaisar dengan tangan tersembunyi di balik lengan jubah panjangnya. "Laporan dari mata-mata kita di Barak Barat menyebutkan bahwa Jenderal Lu dan yang lainnya menolak mengirimkan kavaleri tambahan untuk menjaga perimeter bukit ini. Mereka berdalih sedang melakukan latihan pertahanan perbatasan."
Kaisar Han mendengus dingin, matanya yang mulai menua menatap puncak altar di atas sana. "Lu dan para veteran itu sudah terlalu lama menikmati kedamaian hingga melupakan siapa tuan mereka. Setelah upacara ini selesai, Aku sendiri yang akan mencabut lencana militer mereka dan menggantinya dengan orang-orang dari faksimu, Perdana Menteri."
Namun, kalimat Kaisar Han tidak akan pernah bisa terlaksana.
DUUUUMMMM!
Suara tabuhan genderang perang yang sangat dahsyat mendadak bergema dari arah kaki bukit suci, memecah kesunyian kabut pagi dan menggetarkan anak tangga marmer tempat barisan prosesi kekaisaran sedang mendaki. Suara itu begitu berat, disusul oleh derap langkah ribuan kaki kuda yang bergerak dengan kecepatan penuh, membuat permukaan tanah bergetar hebat.
"Ada apa?! Siapa yang berani menabuh genderang perang di hari suci?!" teriah Kaisar Han, berdiri dari tandunya dengan wajah murka.
Dari balik pekatnya kabut di kaki bukit, muncul sepasang panah berkibar yang robek ditiup angin. Namun, panah itu bukan lagi berwarna emas milik kekaisaran. Panah tersebut berwarna merah darah, dengan sulaman berbentuk bunga magnolia putih di tengahnya—panah pemberontakan milik Barak Barat.
"Pemberontak! Barak Barat telah membelot!" teriak wakil jenderal Pengawal Emas dengan suara panik. "Lindungi Yang Mulia Kaisar! Amankan area tangga!"
Pasukan Pengawal Emas segera menarik pedang mereka, membentuk formasi lingkaran di sekeliling tandu kaisar. Namun, serangan yang sesungguhnya tidak datang dari bawah bukit.
Syuuutt! Syuuutt! Syuuutt!
Dari atas pepohonan pinus dan balik pilar-pilar batu Kuil Langit di puncak bukit, ratusan sosok berpakaian hitam legam melompat turun seperti bayangan malam yang mematikan. Mereka adalah Pasukan Bayangan milik Long Junwei. Menggunakan belati pendek dan busur panah otomatis, mereka langsung menghujani barisan pengawal istana dengan serangan kejutan yang sangat presisi.
"Argh! Musuh dari atas!"
Kekacauan total pecah dalam hitungan detik. Darah segar mulai mengalir, menodai marmer putih anak tangga Kuil Langit, mengubah tempat suci itu menjadi medan pembantaian berdarah.
Di tengah-tengah kepulan asap dan dentingan senjata, dua sosok melangkah menembus kabut, menaiki anak tangga marmer dengan ketenangan yang mengerikan. Long Junwei berjalan di sisi kiri dengan pedang kunonya yang memancarkan pendaran biru keperakan yang kian terang, menyapu setiap prajurit yang mencoba mendekat dalam satu tebasan bersih.
Dan di sampingnya, melangkah Shen Xianle.
Malam ini, ia melepaskan seluruh topeng kelemahlembutannya. Xianle mengenakan baju zirah panglima berwarna hitam legam dengan jubah merah darah yang berkibar megah di belakang tubuhnya. Rambut hitamnya diikat tinggi, memperlihatkan wajah porselennya yang dingin tanpa emosi sedikit pun. Di tangan kanannya, ia memegang sebilah pedang panjang yang ujungnya sudah meneteskan darah para pengawal yang mencoba menghalangi langkahnya.
"Kau..." Kaisar Han membelalakkan matanya, mundur selangkah hingga menabrak sandaran tandunya saat melihat wajah Xianle. "Xianle?! Kau... bagaimana mungkin kau masih hidup?!"
Permaisuri yang berada di sampingnya langsung memekik histeris, wajahnya memucat bagai kain kafan. "Hantu! Dia adalah hantu dari Paviliun Anggrek! Meili benar... kau seharusnya sudah membusuk di dasar jurang!"
Xianle menghentikan langkahnya tepat sepuluh anak tangga di bawah tandu Kaisar. Ia menatap pria paruh baya berpakaian emas itu—pria yang merupakan ayah kandungnya, namun tidak pernah memberinya kehangatan sedikit pun, pria yang membiarkannya diperlakukan seperti sampah dan membiarkan ibunya mati diracun.
"Ayahanda Kaisar yang agung," suara Xianle terdengar merdu namun sedingin es di puncak gunung. "Surga menolak menerima jiwaku karena mereka tahu, hutang darah di istana ini belum lunas. Aku kembali untuk mengembalikan semua rasa sakit, semua air mata, dan semua darah yang telah kalian peras dari ibuku dan diriku selama belasan tahun ini."
"Kurang ajar! Tangkap wanita penyihir ini!" teriak Perdana Menteri Shen, memerintahkan sisa-sisa Pengawal Emas untuk menyerang.
Namun, sebelum para pengawal sempat bergerak, Jenderal Lu dan Jenderal Zhao memimpin pasukan kavaleri berat Barak Barat telah berhasil menembus barisan pertahanan bawah dan mengepung seluruh area tangga utama. Empat puluh ribu prajurit kavaleri mengarahkan ujung tombak mereka langsung ke arah tandu kaisar dan faksi Perdana Menteri.
"Perdana Menteri Shen, hari ini adalah hari di mana kejahatan faksimu akan diadili di bawah langit!" seru Jenderal Lu dengan suara menggelegar.
Long Junwei melangkah maju, berdiri di depan Xianle dengan pedang yang terarah ke leher Kaisar Han. "Kaisar Han, takdir dinastimu telah berakhir hari ini. Turunlah dari tandumu dan serahkan stempel kekaisaran jika kau ingin sisa keluargamu mati dengan tubuh yang utuh."
Kaisar Han menatap sekelilingnya. Pasukan Pengawal Emasnya telah habis dibantai, Perdana Menterinya gemetar ketakutan, dan ia kini sepenuhnya terpojok di atas bukit suci oleh puluhan ribu pasukan pemberontak yang dipimpin oleh putrinya sendiri yang paling ia abaikan.
Keangkuhan seorang kaisar runtuh seketika di atas Altar Kuil Langit, digantikan oleh keputusasaan yang amat sangat.
Xianle mengangkat pedangnya, menunjuk langsung ke arah Permaisuri yang kini bersujud gemetar di lantai marmer. "Permaisuri... ibuku mati dalam kesunyian di paviliun tua yang dingin. Hari ini, aku akan memastikan bahwa kau dan seluruh faksimu akan merasakan penderitaan yang sepuluh kali lebih menyakitkan sebelum ajal menjemput kalian."
Badai di Kuil Langit telah berakhir dengan jatuhnya sang penguasa tertinggi. Balas dendam Shen Xianle telah mencapai puncaknya, dan dari atas abu dinasti yang runtuh ini, sebuah era baru yang dipimpin oleh sang Teratai Hitam dan Pangeran Bayangan siap untuk dituliskan dalam sejarah kekaisaran.