Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:602.2k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Kebohongan yang mulai mengelupas

Suara gemerincing cangkir murah di atas meja kayu yang bernoda tidak mampu menenangkan debaran jantung Vera yang berdegup liar.

Alih-alih aroma menenangkan di kafe mewah yang biasa dia kunjungi, udara di sudut kedai kopi remang-remang di pinggiran kota ini berbau pengap dengan aroma asap rokok.

Di hadapan Vera, duduk seorang pria dengan kemeja flanel kumal dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. dr. Hendra.

Mantan Dokter spesialis serta kepala laboratorium yang pernah direkomendasikan oleh Vera kepada Bram untuk memalsukan dokumen fertilitas milik Larissa, kini tampak mengenaskan.

Vera sudah mendengar kabar bahwa izin praktik Hendra telah dicabut secara tidak hormat. Pria itu terseret skandal malpraktik berat setelah terbukti memalsukan dokumen medis pasien lain demi uang.

Tapi dia tidak menyangka bahwa selain reputasinya hancur lebur secara hukum, Hendra juga sedang dikejar-kejar oleh utang judi yang menumpuk.

"Aku butuh satu miliar, Vera. Cash atau transfer siang ini juga," desis Hendra, suaranya serak dan bergetar akibat tekanan mental. Dia condong ke depan, menatap Vera dengan sepasang mata merah yang dipenuhi keputusasaan seorang buronan.

Vera membelalakkan matanya, mencengkeram tas jinjing mahalnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Satu miliar?! Kamu gila! Aku baru menikah dengan Bram dan keuangan perusahaannya sedang goyah. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?!"

"Aku tidak peduli!" Hendra menggebrak meja kayu dengan kepalan tangan, membuat beberapa pengunjung kafe sempat menoleh curiga.

"Para lintah darat itu mengancam akan menghabisi nyawaku kalau malam ini aku tidak bayar! Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Izin praktikku dicabut, namaku hitam di dunia medis! Jika aku harus masuk neraka, aku pastikan kamu dan Bram ikut terseret!"

Hendra menyeringai sinis, menatap Vera dengan pandangan mengancam. "Aku masih menyimpan semua rekaman suara kita, lengkap dengan bukti digital transaksi suap untuk memalsukan dokumen lab milik Larissa. Bayangkan apa yang akan dilakukan Bayu Wicaksono jika dia atau kepolisian tahu istrinya baru saja difitnah dan diusir karena konspirasi busuk kalian. Nama besar suamimu akan hancur, dan kamu... kamu akan membusuk di penjara bersama Bram!"

Ancaman itu menghantam pertahanan batin Vera hingga runtuh total. Dia memang merekomendasikan Hendra pada Baram demi menyingkirkan Larissa dengan alasan legal agar dia bisa masuk ke keluarga Baskoro.

Namun kini, Hendra yang berada di ujung tanduk sudah tidak memiliki beban moral lagi. Pria itu pasti nekat melakukan apa saja, termasuk membocorkan konspirasi mereka jika tidak diberi uang judi.

Dengan jemari yang bergetar karena panik, Vera buru-buru mengeluarkan ponselnya. Mengabaikan logika, dia terpaksa membuka aplikasi perbankan dan mentransfer uang sebesar tiga ratus juta rupiah, seluruh sisa uang belanja bulanan dari rekening bersama yang dia pegang bersama Bram, sebagai uang muka jaminan bungkam agar Hendra tidak nekat.

"Ini baru uang muka. Sisanya harus lunas dalam tiga hari!" ketus Hendra setelah melihat notifikasi masuk di ponselnya, lalu bangkit berdiri dan melangkah pergi membelah pintu kafe tanpa pamit.

Vera menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tubuh bermandikan keringat dingin. Dia merasa lega untuk sesaat, tanpa menyadari bahwa tepat dua meja di belakangnya, seorang pria paruh baya mengenakan topi pet—Pak Hermawan, detektif sewaan Ibu Maya—diam-diam telah membidikkan lensa kamera saku digitalnya, merekam setiap detik transaksi rahasia dan wajah tegang Vera secara utuh.

Malam harinya, kamar tidur utama kediaman Baskoro terasa begitu dingin dan kaku. Bram duduk di tepi ranjang besar mereka, masih mengenakan kemeja kantor yang kusut tanpa dasi. Pria itu hanya menatap kosong ke lantai dengan sorot mata yang dipenuhi emosi tertahan.

Vera melangkah masuk dengan gaun tidur satin merah yang seksi, mencoba memasang wajah semanis dan setenang mungkin demi menutupi kepanikan batinnya setelah pertemuan siang tadi.

Dia berjalan mendekati Bram, lalu duduk di samping suaminya, mengulurkan tangan untuk mengusap bahu tegap Bram dengan gestur manja.

"Mas Bram... kamu pasti lelah sekali hari ini," ujar Vera dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba memancing simpati suaminya.

"Bagaimana kalau aku buatkan teh hangat? Oh ya, Mas, kartu belanja kita sepertinya butuh tambahan limit penarikan untuk keperluan rumah tangga minggu ini—"

"Siapa Hendra?"

Kalimat potong yang keluar dari bibir Bram terasa begitu dingin, dan tajam, seketika membekukan gerakan tangan Vera di bahunya.

Bram memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke dalam bola mata Vera dengan sepasang mata yang dipenuhi kilat kecurigaan.

"Kemarin malam, saat kamu sedang mandi, ponselmu berdering. Nama kontaknya tertulis 'Dokter Lab (Hendra Emergency)'. Mengapa istriku masih berhubungan dengan nama itu? Bukankah itu dokter yang kita bayar untuk memalsukan hasil tes Larissa?"

Vera merasakan seluruh pasokan darah seolah disedot habis dari wajahnya dalam sekejap. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Otak manipulatifnya langsung berputar cepat.

Bram tahu persis siapa Hendra, dia tidak boleh membiarkan Bram tahu bahwa Hendra sedang memeras mereka karena hal itu akan membuat Bram panik dan menyalahkannya. Vera harus melakukan sesuatu demi menyelamatkan dirinya.

Vera menarik napas dalam, memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar natural di bibirnya untuk menutupi kepanikan.

"Astaga, Mas... jadi karena itu wajahmu ditekuk sejak tadi?" rintih Vera, memasang raut wajah sayu seolah dirinya adalah pihak yang disalahpahami. Dia menggenggam tangan Bram dengan lembut.

"Itu dokter Hendra yang berbeda, Mas. Nama Hendra kan ada di mana-mana. Yang ini adalah dr. Hendra Spesialis Kandungan dan Rahim (Obgyn) dari rumah sakit lain, bukan dokter yang kita suap itu."

Vera mengusap dada Bram dengan jarinya, "Dia adalah dokter kandungan yang direkomendasikan temanku untuk program hamil rahasia kita. Aku sengaja tidak bilang-bilang karena aku ingin memberikan kejutan kalau aku sudah positif hamil nanti, supaya Ibumu tidak terus-menerus menekan kita. Dia melabeli dirinya 'Emergency' karena jadwal praktiknya sangat padat dan obat suplemen impornya sering habis. Aku melakukan semua ini demi kita, Mas. Kenapa kamu malah mencurigai niat tulusku?"

Bram menatap lekat-lekat pada wajah Vera selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa. Pria itu mengembuskan napas panjang, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis, berpura-pura menerima penjelasan tersebut.

"Begitu rupanya. Maafkan aku, Vera. Akhir-akhir ini tekanan pekerjaan karena pembatalan dana Bank Nasional Utama membuat otakku terlalu sensitif."

"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti," sahut Vera lega, merasa telah berhasil meloloskan diri dari lubang jarum sekali lagi menggunakan alasan program kehamilan.

Satu jam kemudian, keheningan malam menyelimuti kamar. Vera telah tertidur lelap di samping Bram, napasnya terdengar teratur akibat kelelahan mental yang menguras energinya semalaman.

Begitu memastikan istrinya benar-benar telah terlelap, Bram perlahan membuka sepasang matanya. Alasan Vera terdengar terlalu rapi, sementara instingnya membisikkan bahwa ada bahaya besar yang sedang mengintai.

Bram bangkit dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia melangkah pelan menuju meja di sudut kamar, lalu membuka laptop pribadinya. Pria itu berniat mengecek apakah "dr. Hendra Spesialis Kandungan" yang dibilang Vera itu benar-benar nyata atau ada sesuatu yang disembunyikan.

Layout pencarian internet segera memuat hasil, dan detik itu juga, detak jantung Bram mendadak beritme liar dengan rasa panik yang mencengkeram ulu hatinya. Sepasang matanya membelalak lebar menatap layar yang bersinar terang di dalam kegelapan kamar.

Nomor telepon yang tertera di kontak Vera bukan milik seorang dokter kandungan baru. Nomor itu secara valid terdaftar sebagai nomor pribadi milik dr. Hendra yang mereka suap.

Dan yang membuat ulu hati Bram bagai dihantam gada besi adalah sebuah artikel berita nasional terhangat yang dirilis oleh kepolisian medis:

“SKANDAL MANIPULASI MEDIS: IZIN PRAKTIK DICABUT, DR. HENDRA DARI RUMAH SAKIT MEDIKA KIRANA RESMI JADI BURONAN POLISI SETELAH REKAM JEJAK DIGITAL PEMALSUAN DOKUMENNYA TERBONGKAR.”

Bram terpaku diam, wajah tampannya seketika berubah menjadi sangat pucat pasi, sementara urat-urat di pelipisnya menegang hebat.

Jika dr. Hendra sekarang berstatus buron dan sedang diburu oleh kepolisian atas skandal manipulasi dokumen, itu berarti pihak berwajib sedang mengumpulkan semua rekam jejaknya!

Konspirasi pemalsuan hasil medis Larissa yang melibatkannya dana pribadinya sedang di ujung tanduk pembongkaran hukum. Jika pria itu putus asa dan sengaja menyerahkan bukti suap demi meringankan hukumannya sendiri, Bram bisa langsung diseret ke penjara.

Ditambah lagi, sekarang Larissa sudah menjadi Nyonya Besar Megah Corp yang punya kekuasaan hukum tak terbatas untuk meruntuhkannya.

Dan yang membuat kemarahan Bram memuncak adalah: jika Hendra sedang bermasalah dengan hukum, mengapa Vera malam ini berbohong mati-matian dan diam-diam masih menjalin kontak darurat dengan pria berbahaya itu di belakangnya?

Bersambung

1
Herlina Niputu
kayaknya Larissa terlalu kejam,masak sampai tanah kuburan diambil
Ninik Rochaini
males bc lht org oon n goblok
Ninik Rochaini
sek goblok ae
Ninik Rochaini
msh jg goblok
Deni marvianawati
kapan unboxingnya kok tiba² udah hamidun 😄 padahal yg di tunggu part unboxingnya
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
say't
wow mau dong 1 kyk bayu #halu 🤭
say't
🤣 karma burukmu sdh berjalan vera si bram pst lg cari cwek buat bersenang2 tanpa ikatan 🤪 mabok n making lope itu yg akan dilakukan si bram 🤣
say't
bram istri keduamu akan mmbuatmu jatuh sejatuhx bhkn gelandangan lbh terhormat dari dirimu bram
say't
tenang hbs gelap trbitlah terang pisah dari batu kali(sungai) hbs ni dpt batu berlian permata jamrud dsb kau lar
say't
kutunggu karmamu bram n famiily pst nanti kecewa bhwa anak yg dikandung vera bkn anakmu cz hasil "tabungan bersama" ibumu mati krn serangan jantung n loe bram dipenjara n mati bunuh ke diri 🤪 sebel aq 😤
siska nirmala
kok bodoh banget sie karakter larissa disini
pipin rezky1010
harrys nya Bayu dan Larisa kena karma dulu atas kekejaman nya baru di tamatin
pipin rezky1010
dari ratusan novel yg pernah sy baca,baru ini Nemu novel yg begitu kejam dan tidak. berbelas kasih PD sesama manusia apa yg. di lakukan Bayu dan Larisa itu lebih kejam dari figur2. mafia yg pernah sy baca/tonton,tidak ada kata ampun,terlalu sombong
pipin rezky1010
terlalu kejam...katanya Larisa ga marah,ga dendam,tapi smpy segitu kejam nya,smpy benar2 menghancur leburkan jiwa dan raga bram dan ibu nya
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
oh mungkin kepleset ya namanya😎
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
lana siapa ya.. perasaan namanya Larissa deh😎
Wirda Wati
Rasain
Emi Widyawati
bagus ceritanya.... kejam? kurasa enggak yaa, pembalasan yang sepadan dengan kejahatan nya. 👍👍
MiMi Chan
nice story teach for all woman not giving up even in hard time👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!