"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 Garis Batas yang Tegas
Jumat sore menggantung tenang di pelataran parkir belakang Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Udara sejuk menyusup di antara deretan pepohonan yang mulai kehilangan riuhnya. Satu per satu mahasiswa meninggalkan gedung perkuliahan, sebagian berjalan berkelompok sambil bercanda, sebagian lainnya tergesa-gesa mengejar kendaraan yang telah menunggu di depan gerbang. Namun, di sudut belakang fakultas yang jarang dilewati orang, suasana terasa jauh lebih sunyi.
Hanya terdengar gesekan dedaunan yang diterpa angin dan suara samar kendaraan dari jalan raya di kejauhan.
Liora berdiri menyandar pada sebuah pilar beton di dekat taman kecil yang nyaris terlupakan. Kedua tangannya memeluk erat map berisi laporan akademis yang baru saja ia ambil dari ruang dosen. Rambut panjangnya bergerak perlahan diterpa angin sore, sementara kacamata barunya bertengger rapi di wajah.
Di hadapannya, Kaivan berdiri dengan tubuh kaku.
Tak ada lagi sosok mahasiswa yang dua hari lalu datang dengan penuh keberanian dan kesombongan. Bahunya kini merosot, wajahnya pucat, dan mata yang biasanya penuh keyakinan tampak sembap karena kurang tidur. Ia terlihat seperti seseorang yang baru menyadari bahwa satu keputusan buruk dapat menghancurkan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia anggap tidak akan pernah hilang.
"Liora..." suara Kaivan terdengar parau. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Tolong kasih gue waktu sebentar buat jelasin."
Liora tidak menjawab.
Matanya menatap Kaivan lurus. Tatapan yang dulu mungkin akan membuatnya merasa bersalah kini tidak lagi memiliki celah untuk ditembus.
"Gue khilaf, Ra," lanjut Kaivan terbata-bata. "Gue emosi dan kalap waktu lihat foto itu. Gue... gue nggak bermaksud bikin lu takut atau tertekan."
Liora menatapnya beberapa detik.
Dulu, mungkin ia akan mencoba memahami. Mencari alasan di balik kemarahan Kaivan. Bertanya apakah ada sesuatu yang bisa diperbaiki.
Hanya saja hari ini berbeda.
Di balik mata cokelat Liora tidak ada lagi kepanikan, kecemasan, atau rasa prihatin yang dulu selalu ia berikan kepada Kaivan sebagai seorang teman. Yang tersisa hanyalah kekecewaan yang begitu dalam, bercampur dengan ketegasan yang telah matang melalui luka.
"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, Kaivan," suaranya pelan dan tenang. Sayangnya, ketenangan itu justru terdengar lebih tajam daripada bentakan.
"Ra, gue mohon..." Kaivan maju satu langkah. Tangannya terulur, seolah refleks hendak meraih lengan Liora.
Akan tetapi, Liora segera mundur satu langkah. Gerakannya singkat, tetapi cukup untuk menghentikan Kaivan.
Ia tidak membiarkan satu sentimeter pun dari batas yang telah ia tetapkan disentuh kembali.
"Gue ngelakuin itu semua karena gue sayang sama lu!" Kaivan menahan napas, berusaha mempertahankan suaranya yang mulai bergetar, "gue cemburu lihat lu dekat sama Pak Ravian! Gue cuma mau nyelamatin lu dari..."
"Menyelamatkan aku?" Liora tersenyum.
Bukan senyum hangat seperti yang biasa ia berikan kepada orang-orang yang ia sayangi. Senyum itu kaku dan pahit, seolah setiap kata yang hendak keluar telah melewati pertimbangan panjang.
"Kamu nggak lagi menyelamatkan siapa-siapa, Kaivan," Liora menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu mengancam aku. Kamu menuduh aku menjual diri demi nilai dan jabatan. Kamu bahkan berusaha menghancurkan reputasi orang lain hanya karena kamu nggak bisa menerima kenyataan bahwa aku memilih jalan hidupku sendiri."
Kaivan terpaku di tempatnya.
Liora menarik napas perlahan. "Apakah itu bentuk rasa sayang menurut kamu?"
Tak ada jawaban.
Kata-kata itu menghantam Kaivan lebih keras daripada apa pun yang pernah ia bayangkan. Bibirnya bergerak, tetapi tidak satu pun suara berhasil keluar.
Angin sore kembali berembus.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya berdiri dalam keheningan yang terasa begitu panjang.
"Kita kenal dari awal masuk kuliah," ujar Liora akhirnya. Suaranya lebih lembut, tetapi justru semakin menyakitkan. "Aku selalu menganggap kamu sebagai teman yang baik. Teman yang bisa dipercaya."
Tatapan Liora perlahan meredup.
"Tapi setelah apa yang kamu lakukan kemarin..." ia berhenti sejenak, seolah harus mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat berikutnya. "Menghina harga diri aku. Menuduh aku tanpa bukti. Dan mencoba menghancurkan masa depan orang lain demi rasa cemburu kamu yang egois..."
Liora menggeleng pelan. "Aku sadar, mungkin selama ini kita nggak pernah benar-benar berteman."
Kaivan menundukkan wajah. Kalimat terakhir itu membuat dadanya bagai dihimpit batu.
"Liora..." suaranya nyaris hanya berupa bisikan. "Tolong, jangan kayak gini. Kita bisa perbaiki dari awal, kan?"
Ia mengangkat wajahnya kembali. "Gue janji. Gue nggak bakal bahas soal Pak Ravian atau Evander Corp lagi. Gue bakal hapus semuanya dari pikiran gue. Gue bakal berubah."
Liora terdiam beberapa saat ketika sesuatu yang menyerupai kesedihan melintas di matanya.
Bukan karena ia ingin kembali.
Melainkan karena ia sedang berduka atas sebuah persahabatan yang ternyata tidak pernah menjadi seperti yang ia kira.
"Aku percaya setiap orang bisa berubah," katanya pelan. "Tapi perubahan seseorang nggak selalu berarti kita harus tetap berada di sampingnya."
Kaivan terdiam.
Liora melanjutkan, "Urusan hukum kamu dengan tim Pak Ravian mungkin sudah selesai karena kebaikan beliau. Tapi hubungan persahabatan kita..." ia menatap Kaivan untuk terakhir kalinya. "...selesai di sini."
Kaivan memejamkan mata, menahan napas rapat-rapat.
Pandangannya mulai memburam. Ia ingin mengatakan sesuatu, apa saja, yang mungkin dapat membuat Liora mengurungkan keputusan itu. Namun, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengembalikan kepercayaan yang telah ia hancurkan sendiri.
"Liora, gue..."
"Mulai hari ini," potong Liora tegas, "jangan pernah temui aku di luar urusan kuliah formal."
Kaivan terdiam.
"Jangan telepon. Jangan kirim pesan. Dan jangan pernah bertindak seolah-olah kamu masih mengenal aku secara pribadi."
Liora mengeratkan genggamannya pada map di dadanya. "Tolong hormati keputusan aku."
Kalimat itu menjadi titik akhir. Bukan sebuah ancaman. Bukan pula bentuk kebencian.
Hanya sebuah garis batas yang akhirnya ditarik dengan tegas setelah terlalu lama ia biarkan dilanggar.
Kaivan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin meminta satu kesempatan lagi.
Tapi, kesempatan telah diberikan berkali-kali, hanya saja selama ini ia terlalu sibuk menganggap kehadiran Liora sebagai sesuatu yang akan selalu tersedia.
Sebelum Kaivan sempat membalas, suara mesin kendaraan terdengar mendekat dari sisi jalan.
Sebuah sedan hitam berkaca gelap perlahan berhenti di tepi taman. Kendaraan itu tampak mencolok di tengah suasana kampus yang mulai sepi.
Beberapa detik kemudian, pintu pengemudi terbuka.
Pak Hendra, pengemudi pribadi Ravian, turun dengan sikap tenang dan sopan. Ia berjalan mengitari bagian belakang kendaraan, kemudian membukakan pintu belakang untuk Liora.
Liora melirik sekilas ke arah mobil. Kemudian, ia kembali menatap Kaivan.
Untuk sesaat, tak ada kata-kata.
Tatapan mereka bertemu untuk terakhir kalinya sebagai dua orang yang pernah menyebut satu sama lain sebagai teman.
"Aku harap kamu menemukan kedamaian dengan pilihanmu sendiri, Kaivan." Setelah mengatakan itu, Liora membetulkan posisi tas ranselnya. Ia tidak menunggu jawaban. Tidak memberi kesempatan untuk perdebatan baru.
Liora berbalik dan mulai melangkah menuju sedan hitam itu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin jauh jarak di antara mereka, semakin jelas bagi Kaivan bahwa perempuan yang selama ini ia pikir dapat ia pertahankan dengan segala cara justru telah benar-benar terlepas dari genggamannya.
Liora masuk ke dalam mobil.
Pak Hendra menutup pintu dengan hati-hati, lalu kembali ke kursi pengemudi.
Beberapa saat kemudian, sedan hitam itu bergerak perlahan meninggalkan area parkir.
Kaivan tetap berdiri di tempatnya. Ia menyaksikan kendaraan itu semakin jauh, hingga akhirnya menghilang di balik deretan pepohonan dan tikungan jalan kampus.
Barulah setelah mobil itu benar-benar tidak terlihat, Kaivan menundukkan kepalanya.
Dadanya terasa kosong. Sesal datang terlambat, seperti hujan yang turun setelah tanah terlanjur retak karena kemarau panjang.
Ia baru menyadari sebuah kenyataan yang begitu sederhana sekaligus menyakitkan.
Dalam usahanya memisahkan Liora dari Ravian, ia telah menghancurkan satu-satunya hubungan yang seharusnya ia jaga.
Dalam usahanya memiliki Liora, ia justru kehilangan hak untuk berada di dekatnya.
Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa kali ini, tidak ada permintaan maaf, janji, ataupun penyesalan yang mampu menghapus garis batas yang telah dibuat Liora.
Garis itu sudah ditarik.
Tegas.
Jelas.
Dan mungkin, untuk selamanya.