Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nangis lagi part 2

“jam berapa ini?” Mataku terbuka. Seketika lidahku mengucapkan kalimat tersebut.

Selarik cahaya langsung menyilaukan mata dari luar rumah. Sudah pagi? Aku belum shubuhan hey.

“nah, udah bangun” tiba-tiba saja terdengar dari belakangku.

Aku bangkit duduk. Mulai menggosok mata. Menoleh perlahan ke belakang. Sudah kuduga. Ila yang bilang barusan.

“Belom shubuhan ya? Hahah” Ila menyeringai. Pagi-pagi gini dia sudah tersenyum lebar.

“gak kamu bangunin. Parah” aku berdiri. Berjalan perlahan ke suatu arah.

Dahi Ila mengernyit. “apa, kamu di bangunin susah. Tidur jam berapa sih semalam?”

“entah.. Kamar mandi di mana ya?” Jujur saja. Aku masih menahan menguap hingga saat ini.

“Disana lurus” Ila menunjuk ke dapur. Di sana ada sebuah pintu. Itulah kamar mandinya.

Aku langsung sholat shubuh setelah itu, walau qodlo. Ila berkali-kali nyengir ketika aku lewat di hadapannya. entah ada apa dengan anak itu?

“Bapak sama ibunya mana” Aku bertanya. Dari tadi ku periksa tidak ada di manapun.

“Mereka pergi ke pasar. Kita di suruh tunggu sampai jam sepuluh mungkin” Jawab Ila.

Diruang tamu. Entah kenapa rasanya biasa saja di tinggal di rumah orang lain. Tapi tetap saja canggung. Kami baru semalam bertamu di sini.

Aku menghempaskan diri ke atas kursi.

Ila duduk di hadapanku.

“Kau sudah telpon tadi malam?” Aku bertanya. Memulai percakapan.

Ila mengangguk. “sebenarnya kita agak terlambat. Salah satu penumpang lain ada yang berhasil menghubungi polisi, tapi tidak bisa memberikan lokasi karena tidak cukup sinyal. Dan beruntung nya aku bisa mengirimnya walau tidak terlalu presisi”

“Emang kau kasih lokasi mana?” Aku menyelidik.

Ila kembali tersenyum. “aku kasih lokasi hutan Jayagiri” gadis itu nyengir. “tapi aku kasih tau juga tempat nya di jalan tunggal yang bersebelahan dengan hutan tersebut”

“Ouh” aku lega.

Ila menyeringai. Padahal tidak ada yang lucu.

“kau menghawatirkan orang-orang di sana?” Ila bertanya.

Aku terdiam sejenak. Tidak “aku menghawatirkan barang-barang dalam tas besar ku”

“Ouh”

Ngomong-ngomong soal barang aku jadi teringat jika dompet Ila masih di dalam lempitan sarungku. Aku mulai menariknya. “ini. Barangmu untung aku inget”

Ila menerimanya dan terbahak. “haha, kalau ga inget?”

“Ya repot lagi aku nyariin kamu” balas seadanya.

Ila menyeringai. Sebenarnya ada apa dengan anak ini sih? Entah kenapa aku malah sedikit terganggu dengan sikapnya sekarang?

“kok ke liatan happy banget kamu” Aku iseng bertanya. Di lihat dari gambaran pada wajahnya berkata seperti itu.

Ila menyeringai lagi. “hari ini aku ultah”

Aku sedikit terkesima. Bisa kebetulan. aku hadir di ulang tahunnya. “ouh, yang keberapa?”

“Ke 17” balas Ila, tak berhenti membeberkan senyum.

Aku menatap Gadis itu sejenak. “Ouh selamat dah”

Lengang. Ila mulai membuka ponsel. Ibu jarinya mengetik diatas permukaan layar.

Aku berhembus, ponsel dan segala aksesoris ku mungkin sudah hilang di dalam tas kecil yang kuserahkan pada perampok saat di bis. Tapi setidaknya uangku aman.

“Eh iya..” Aku teringat sesuatu. Aku harus mengabari orang tuaku. “Minjem Ila. Aku harus memberi kabar orang tuaku di rumah”

Ila menaikkan kepala. “ini” dia langsung menyerahkan ponselnya.

Jariku mulai bergerak. Mengetik belasan huruf. Lalu mengirim pesan. Beberapa menit terlalui untuk itu.

Belum ada balasan. Aku langsung mengembalikan ponsel tersebut ke pada Ila.

“Lah gitu doang?” Ila heran.

Aku menaikkan alis. “emang mau gimana lagi?”

Senyap lagi. Ila kembali sibuk dengan ponselnya itu. Dia sedang menonton kartun.

“kau sebenarnya ke Jakarta ingin kemana?” Aku bertanya memecah lengang.

Ila terdiam, masih fokus melihat ke layar ponsel.

“hey..” Aku Menggeram.

“eh apa?” Ila baru tersadarkan. Sampe segitunya dia melihat kartun.

“kau di Jakarta mau kemana?” Aku mengulang pertanyaan sebelumnya.

Ila menatap ke arahku sejenak. “bukannya aku sudah bilang aku ingin mencari pengetahuan di sana?”

Alisku menurun. “iya. Tapi di mana? Jakarta luas Wee..”

Ila terdiam lagi. Alisnya mulai ikut menurun, bukan karena gemas sepertiku barusan. Gadis itu juga melihat ke bawah, menunduk.

Ila berhembus. “aku tidak tahu ingin kemana” Gadis itu berkata murung.

Aku sedikit terkejut. Jadi sudah sampai sini dia tidak tahu ingin kemana?

“maaf bang, ngerepotin. Tapi bisa tidak, temenin aku. Setidaknya aku tahu harus bersama siapa” lanjut Ila. Nadanya memelas. “Semua keluarga ku telah dibunuh ayahku. Kakak laki-laki ku tadi malam juga di bunuh. Sekarang adikku dalam pengejaran. Entah bisa atau tidak tapi mereka menyuruhku untuk bertahan”

Aku tersentak. Yang benar saja? “kenapa bisa? Maksudnya kenapa ayahmu melakukan itu”

Air mata Ila keluar. “Entah. Yang pasti ayahku mengincar diriku, nyatanya kakak-kakakku menyuruhku pergi. Dari itu aku baru sadar kalau pergi dari rumah hanya untuk melarikan diri”

“ibumu juga menjadi korban?” Tanyaku.

Ila mengangguk. “ibuku sudah sejak aku masih kecil”

Aku tersentak. Hatiku agak tertekan mendengar penjelasan Ila barusan. Aku pasti sudah tidak kuat jika bertempat di posisi nya. Tapi kasihan sekali Ila. Sudah menjadi buron, semua anggota keluarga nya malah di bunuh ayah kandung sendiri.

Ila mulai terisak. Air matanya tidak bisa dibendung. Miris sekali, padahal ini hari ulang tahunnya.

“Maaf, aku sudah meminta kau membahasnya” aku menatap lantai. Sedikit muram.

Ila menyeka air matanya. “gapapa bang. Terimakasih sudah pengertian”

Aku terdiam. Balasan tersebut semakin membuat perasaan ku tidak enak.

Jika begini. Aku bisa apa? Ila tidak tahu ingin kemana. Apakah aku harus membawanya ke rumah? Pasti tidak. Orang tuaku sibuk bertanya-tanya nanti. Selain itu, cepat atau lambat orang yang memburu Ila juga akan mendapatkan Ila bagaimanapun caranya. Setelah mendengarkan pembicaraan dengan Pak Baruh semalam. Aku semakin paham bahwa semakin berat dan dalamnya penderitaan Ila.

Namun aku bisa apa?

Ila masih menangis. Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal yang di sediakan diatas kursi.

“sabar Ila. Aku sudah janji akan bantu” Aku coba menghibur.

Ila hanya mengangguk sebagai balasan. Jeda Beberapa menit kemudian Pak Baruh dan ibu datang. Ila cekatan menghapus air matanya. Mereka langsung menyapa kami di ruang tamu.

“Hey. Itu hidungmu merah kenapa?” Pak Baruh menatap ke arah Ila. Benar, bukan hanya batang hidungnya yang merah. Wajahnya masih sedikit terlihat merah.

“dahlah. Nak, dari semalam kau terus menangis” Bu Evi berkata dari dapur. Berusaha menenangkan Ila. “syukurnya kamu kan selamat”

Ila ternyata sejak tadi malam sudah menangis.

Aku menatap wajah Ila. Pasti sangat sakit rasanya kehilangan keluarga. Bahkan di redam pakai apapun, tetap saja membekas.

“wudhu Ila” Ucapku. Wudhu biasanya kulakukan ketika aku stress atau depresi. Mungkin ini bisa sedikit membantu Ila agar lebih tenang.

Ila mengangguk. Langsung beranjak ke kamar mandi.

Pak Baruh lamat-lamat memperhatikan gadis itu dari jauh. “dia nangis lagi di depan kamu?”

Aku Mengangguk. Aku langsung paham mungkin Bu Evi mendapat cerita dari Ila semalam lalu kembali menceritakannya ke pada Pak Baruh.

Pak Baruh langsung duduk di kursi kayu kosong. “kasian. Keluarga nya..” Pak Baruh terlihat tidak sanggup melanjutkan.

“Iyah..” Aku turut prihatin.

“Kau akan membawanya kemana setelah ini.” Tanya Pak Baruh.

Aku terdiam sejenak. Berfikir. “kalo aku tidak bisa membantu banyak pak. Paling cuman mencari saudaranya aku masih bisa”

“Emang saudaranya ada di mana” Tanya beliau lagi.

“Setahuku ada di Kudus sana. Jauh pak” jawabku seadanya.

Bapak terdiam. Melihat ke bawah. Lengang kemudian mengisi langit-langit lengang ruangan. Ila sedang membantu Bu Evi di dapur. Dia tidak kembali ke ruang tamu. Kasian sekali dia, aku juga masih bingung mengenai apa yang harus kulakukan nanti nya.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!