Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Persiapan Pernikahan
Kabar tentang pernikahan Arthur dan Helena menyebar cepat di kalangan keluarga Fernando. Robert dan Maria sangat senang mendengar kabar itu. Maria langsung menelepon Helena untuk menanyakan detail pernikahan, sementara Robert sibuk menghubungi kontraktor untuk menyiapkan lokasi pesta di rumah pantai.
Pagi itu, Helena duduk di meja dapur, menatap daftar panjang yang dia tulis di buku catatan. Daftar itu berisi segala hal yang perlu dipersiapkan untuk pernikahan—mulai dari gaun, katering, dekorasi, hingga undangan. Dia tidak pernah membayangkan akan menikah lagi, apalagi dengan Arthur.
Arthur berjalan masuk ke dapur, mengenakan kemeja putih lengan pendek. Dia melihat Helena yang terlihat sangat serius menatap daftar itu.
"Hel, kamu terlihat sangat fokus. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Arthur.
Helena menghela napas. "Ada banyak hal yang harus disiapkan, Arthur. Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus memutuskan gaun, katering, dekorasi... semuanya."
Arthur tersenyum, duduk di kursi di seberang Helena. "Hel, kita bisa menyederhanakan semuanya. Yang penting kita bersama. Kita tidak perlu pesta yang megah. Cukup keluarga dan teman-teman terdekat."
Helena menatap Arthur. "Kamu yakin? Aku tidak ingin kamu merasa kecewa."
Arthur menggenggam tangan Helena. "Aku tidak akan kecewa, Hel. Yang aku inginkan hanyalah kamu dan James. Sisanya adalah bonus."
Helena tersenyum, merasa lega. "Baiklah. Kita buat pesta sederhana. Tapi aku tetap ingin gaun yang cantik. Ini pertama kalinya aku menikah dengan benar."
Arthur tertawa. "Kamu akan menjadi pengantin yang paling cantik, Hel. Aku janji."
James muncul dari kamarnya, berjalan ke dapur dengan rambut berantakan. "Pa, Ma, ada yang bisa aku bantu?"
Arthur menatap James. "Ada, Nak. Kamu bisa membantu Papa memilih katering. Papa tidak tahu makanan apa yang enak untuk pesta."
James tersenyum lebar. "Aku suka makanan Indonesia! Kita bisa pesan rendang, sate, dan nasi kuning!"
Helena tertawa. "Ide bagus, James. Kita akan pesan itu."
---
Sore harinya, Helena, Arthur, dan James pergi ke butik untuk memilih gaun pengantin. Helena mencoba beberapa gaun, sementara Arthur dan James menunggu di ruang tunggu.
"Aku ingin melihat Mama yang cantik," kata James.
Arthur tersenyum. "Mama kamu selalu cantik, James. Tapi hari ini, dia akan terlihat luar biasa."
Tak lama kemudian, Helena keluar dari ruang ganti. Dia mengenakan gaun putih panjang dengan detail renda halus di bagian dada, dan kereta yang menjuntai lembut di belakangnya. Rambutnya disanggul elegan, dan matanya berbinar.
Arthur berdiri, matanya tidak bisa berpaling dari Helena. "Hel... kamu... kamu sangat cantik."
James bersiul. "Ma, kamu seperti putri!"
Helena tersenyum, merasakan dirinya cantik. "Kalian suka?"
Arthur mengangguk. "Aku tidak bisa berkata-kata, Hel. Gaun ini sempurna."
Helena menatap dirinya di cermin. "Aku juga suka gaun ini."
Mereka memutuskan untuk memakai gaun itu. Setelah itu, mereka pergi ke toko katering, memesan makanan yang disukai James, dan mengunjungi toko bunga untuk memilih dekorasi.
Saat malam tiba, mereka duduk di teras belakang, menikmati pemandangan laut yang berkilau di bawah cahaya bulan.
"Arthur, apakah kamu tidak takut? Menikah lagi setelah semua yang terjadi?" tanya Helena.
Arthur menatap Helena. "Aku tidak takut, Hel. Aku bahkan tidak sabar. Aku ingin melewati sisa hidupku bersama kamu."
Helena tersenyum. "Aku juga, Arthur. Aku merasa bahwa ini adalah awal yang baru."
Mereka saling menggenggam tangan, merasakan kehangatan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Malam itu, James, Helena, dan Arthur berkumpul bersama, merasakan kebahagiaan yang sederhana namun sangat berarti.
---
Tiga hari sebelum pernikahan, Helena dan Arthur sibuk dengan persiapan akhir. Robert dan Maria datang untuk membantu, bersama dengan para pelayan yang sudah disiapkan. Rumah pantai itu mulai dihias dengan bunga-bunga segar, dan para tamu mulai dipersiapkan.
James berdiri di samping Arthur, membantu para pekerja memasang tenda besar di halaman belakang. "Pa, aku sangat senang. Kamu akan menikah dengan Mama."
Arthur menatap James. "Aku juga, Nak. Dan aku ingin kamu tahu, bahwa aku akan selalu mencintaimu, apa pun yang terjadi."
James tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Pa."
Malam sebelum pernikahan, Helena duduk di kamarnya. James masuk, duduk di sampingnya.
"Ma, aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah selalu sabar menghadapi aku. Terima kasih sudah melindungi aku. Dan terima kasih sudah membiarkan Papa masuk dalam hidup kita."
Helena menatap James, matanya berkaca-kaca. "James, Mama sayang kamu. Kamu adalah alasan Mama bertahan selama ini."
James memeluk Helena. "Besok, kamu akan menjadi istri Papa. Dan aku akan menjadi anak yang selalu membanggakan kalian."
Helena memeluk James erat. "Kamu sudah membanggakan Mama, James. Mama sangat bangga padamu."
---
Hari pernikahan tiba. Matahari bersinar cerah, dan angin laut berhembus lembut. Rumah pantai itu dihiasi bunga-bunga putih dan pastel, serta pita-pita yang berkilauan. Para tamu mulai berdatangan, dan Robert serta Maria berdiri di pintu masuk untuk menyambut mereka.
Arthur berdiri di depan altar yang didirikan di halaman belakang, menghadap ke laut. Dia mengenakan jas putih yang elegan, dan matanya menatap penuh harap ke arah pintu.
James, yang bertindak sebagai pendamping, berdiri di samping Arthur. "Pa, kamu gugup?"
Arthur tersenyum. "Sedikit, Nak. Tapi aku lebih bahagia."
Musik dimulai, dan semua mata tertuju ke pintu masuk. Helena muncul dengan gaun putihnya yang indah, berjalan perlahan menuju altar. Wajahnya bersinar, dan matanya menatap Arthur dengan penuh cinta.
Arthur menatap Helena, dan air matanya mulai mengalir. "Kamu... kamu sangat cantik, Hel."
Helena tersenyum, mencapai altar, dan menggenggam tangan Arthur. "Kamu juga tampan, Arthur."
James, yang berdiri di samping mereka, menyadari bahwa ini adalah momen yang paling berarti dalam hidupnya. Dia melihat ayah dan ibunya bersatu, dan dia merasa sangat bahagia.
Pendeta mulai membacakan janji pernikahan. Arthur menatap Helena dengan penuh ketulusan.
"Helena, aku berjanji akan mencintaimu, menghormatimu, dan melindungimu sepanjang hidupku. Aku akan menjadi suami yang setia, dan ayah yang baik untuk James. Aku tidak akan pernah membiarkan apa pun memisahkan kita."
Helena menangis, menggenggam tangan Arthur. "Arthur, aku berjanji akan mencintaimu sepanjang hidupku. Aku akan menjadi istri yang mendukungmu, dan ibu yang baik untuk James. Aku tidak akan pernah lari lagi."
Pendeta tersenyum. "Saya menyatakan kalian berdua sebagai suami istri. Silakan saling bertukar cincin."
Arthur dan Helena saling memasangkan cincin, dan kemudian Arthur mencium kening Helena. Para tamu bertepuk tangan dengan meriah, dan James melompat kegirangan.
"Akhirnya! Kamu sekarang resmi menjadi istriku!" seru Arthur.
Helena tertawa, mencium pipi Arthur. "Kamu sekarang resmi menjadi suamiku. Dan aku berjanji, kita akan hidup bahagia."
James memeluk mereka berdua. "Aku juga berjanji, aku akan menjadi anak yang membanggakan kalian."
Malam itu, mereka bertiga berdiri di teras belakang, menatap bintang-bintang yang bersinar terang. Ombak laut bergulir, dan angin sepoi-sepoi membawa kedamaian.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih telah memberi kami kesempatan kedua," bisik Helena.
Arthur menggenggam tangan Helena. "Kita akan selalu bersama. Selamanya."
James tersenyum, memandang ayah dan ibunya yang berdiri berdampingan. "Ini adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku. Aku akhirnya memiliki keluarga yang utuh."
Di kejauhan, ombak terus bergulir, dan bintang-bintang terus bersinar. Dan di rumah pantai yang baru itu, sebuah keluarga yang telah lama terpisah, akhirnya menemukan jalan pulang.