Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Rombongan Faresta yang masih menyusuri area jurang tiba-tiba berhenti saat samar-samar mendengar suara teriakan.
“Kak, kau dengar suara itu? itu suara manusia atau hantu penunggu hutan ini,” tanya Lioenl dengan nada ketakutan.
Kelelahan membuat isi kepala pemuda itu tidak lagi bisa berfikir positif.
Faresta mengangguk pelan. Matanya menatap ke arah yang diyakini menjadi sumber asal suara tersebut.
“Eh, Kak. Mau kemana?” Lionel segera menarik lengan Faresta saat pria itu hendak menaiki batang pohon besar yang melintang di atas jurang.
“Kita harus kesana, Lio. Siapa tau itu suara orang tua kita.”
“Bisa jadi iya. Tapi bisa jadi juga bukan,” sahut Leonard yang baru datang bersama Lucas dan rombongannya. “Ingat, Kak. Ini hutan, bukan taman.”
“Kalian juga denger?” tanya Faresta.
“Iya. Dan suara itu terdengar lebih jelas dari tempat kami tadi,” jawab Lucas.
Faresta terdiam sejenak, menimbang keputusan yang harus diambil. Ia tidak bisa mengabaikan suara itu karena yakin jika suara itu berasal dari kedua orang tuanya. Namun, ucapan Leonard juga ada benarnya, meskipun ia tidak benar-benar percaya dengan hal-hal semacam itu.
“Kita tetap harus kesana. Sebagian tinggal disini dan lanjutkan pencarian di sekitar jurang!”
Mereka mengangguk patuh.
Keempat bersaudara itu memanjat batang pohon besar yang melintang dan terhubung dengan pohon lain di seberang jurang, seolah kedua pohon ini memang ditakdirkan menjadi jembatan penyebrangan.
Sebagian anak buah Faresta ikut bersama mereka, sementara sisanya melanjutkan pencarian di sekitar jurang.
***
“Kalian sedang apa disini?” Elara mendekat dengan tatapan heran melihat kedua paruh baya itu baru saja berteriak dengan wajah pucat.
“Oh ya ampun. Nak, kamu mengagetkan kami saja.” Livia menghela nafas lega saat melihat Elara yang berdiri di belakangnya.
“Kami hanya ingin melihat keadaan di luar. Siapa tau kami bisa menemukan jalan pulang dan menghubungi anak-anak,” ujar Danendra sambil menatap lingkungan itu dengan heran.
Elara mengikuti arah tatapan pria itu, lalu mengangguk pelan.
“Ini memang desa mati. Sudah lama tidak berpenghuni.”
Livia dan Danendra tentu terkejut mendengar penjelasan Elara.
“Lalu kamu … bagaimana bisa tinggal disini? Sendirian?” tanya Livia hati-hati.
Elara terdiam cukup lama. Alih-alih menjawab, ia justru melangkah masuk kedalam rumah, membuat pasangan itu mengikutinya.
“Aku… tidak punya keluarga. Dan hidup disini, cukup nyaman.”
“Tapi apa kamu tidak takut sendirian di tengah hutan dan… di antara bangunan kosong seperti ini?” Danendra masih sulit memahami bagaimana gadis itu bisa terlihat begitu tenang, seolah tempat ini memang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Elara tersenyum tipis, lalu berdiri dan mengambil minuman untuk kedua orang itu.
“Kalau kalian mau pulang aku bisa mengantarkan sampai ke jalan utama. Suruh anak-anak kalian untuk menjemput di lokasi kecelakaan kemarin.”
Livia berdiri perlahan dan mendekati Elara. Dimatanya, gadis itu terlihat begitu menyedihkan. Tangannya menggenggam lembut tangan Elara yang terasa dingin.
Livia tidak tau entah itu efek udara hutan yang memang dingin atau memang suhu tubuh gadis itu yang sedingin itu.
“Nak, ikut kami pulang ya. Kamu bisa menjadi anak kami. Jangan tinggal disini lagi, tempat ini terlalu berbahaya untuk kamu.”
“Iya, benar apa kata istri saya. Kami memang tidak tau apa yang terjadi sampai kamu tinggal di desa ini sendirian. Tapi akan lebih baik kalau kamu ikut kami ke kota. Disana kamu tidak akan sendirian. Kamu bisa tinggal di rumah kami dengan nyaman dan aman.”
Elara kembali diam, menatap kedua paruh baya itu bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.
Apa aku ikut saja? Hidup mereka dipenuhi keberuntungan besar, tapi juga seimbang dengan kesialan yang tidak kecil.
Belum sempat Elara menjawab. Suara teriakan samar tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Namun, suara itu cukup jelas untuk membuat ketiganya menoleh.
“Mama…. Papa …. kalian dimana?”
Livia langsung menoleh dan ekspresinya berubah terkejut saat mengenali suara itu.
“Pa, Itu suara Lionel.”
Danendra mengangguk cepat. “Benar, sepertinya mereka datang mencari kita. Ayo kita keluar dan lihat!”
Livia mengangguk lalu tanpa sadar menggandeng tangan Elara untuk keluar bersama.
Sementara itu keempat bersaudara yang baru saja memasuki kawasan desa mati itu menatap ngeri lingkungan di hadapan mereka.
“Kak, ini beneran kita harus masuk kesana? Desa ini terlihat seperti tidak ada kehidupan sama sekali.” Lucas menahan langkah Faresta yang entah mendapat keberanian dari mana hingga ingin terus melangkah.
“Masuk saja, siapa tau Mama sama Papa memang ada disana.”
“Mama… Papa… kalian dimana?”
“Pelankan sedikit suaramu, Lio. Kamu bisa saja mengganggu penghuni desa ini.” Leonard menutup telinganya dengan kesal karena saudara kembarnya itu berteriak tepat di sebelahnya.
“Kalau nggak teriak, mama sama papa gak mungkin dengar, Leon. Gimana sih!”
“Tuan, desa ini memang sepi. Tapi kalau dilihat lingkungannya, tempat ini masih cukup terawat. Mungkin memang masih ada yang tinggal di sini.”
Mereka langsung menatap sekeliling dan menyadari bahwa apa yang diucapkan anak buah Faresta itu memang benar.
“Ayo!”
Tanpa Ragu Faresta melangkah memasuki kawasan desa tersebut. Dibelakangnya, adik-adiknya mengikuti dengan langkah ragu.
Sepanjang perjalanan tatapan mereka tak lepas dari setiap bangunan kuno yang masih berdiri kokoh disana. Meski terbuat dari kayu sederhana, tapi setiap detail bangunan itu masih utuh seolah belum lapuk dimakan usia.
Suasana yang sunyi dan sepi menjadi pelengkap ketegangan di tengah hutan.
“Mungkin tempat ini baru dipakai untuk syuting film, dan bangunan bangunan itu adalah propertinya,” gumam Leonard yang berusaha berfikir positif.
“Anak-anak!”
Suara itu sontak menghentikan langkah mereka. Secara bersamaan, semua menoleh dan melihat Livia yang berdiri di depan salah satu rumah bersama Danendra.
“Mama!”
Lionel menjadi orang pertama yang berlari dramatis dan memeluk orang tuanya. “Huwaaa… Mama Lio kangen.”
Sementara itu, ketiga saudara lainnya berjalan cepat dengan tatapan penuh kelegaan dan haru.
Livia segera membalas pelukan anak bungsunya, sedangkan Danendra menghela nafas malu dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan melihat tingkah Lionel yang terlalu berlebihan.
“Pa, Ma… kalian baik-baik saja, kan?” tanya Lucas.
Danendra langsung memberi tatapan sinis pada putra keduanya. “Kamu masih bertanya kami baik-baik saja atau tidak? Sebagai seorang dokter, apa mata kamu sudah buta? Tidak lihat luka yang ada di tubuh orang tua kamu ini, hah?”
Lucas langsung menggaruk lehernya dengan canggung. Ia bukan tidak melihat, tentu saja ia tahu. Luka-luka yang ada di tubuh orang tuanya tampak hanya diobati dengan perawatan seadanya. Bekas dari tumbukan daun dan ramuan tradisional masih terlihat jelas di beberapa bagian.
Hanya saja bukankah pertanyaan itu terdengar sangat wajar di situasi seperti sekarang? Mungkin karena profesinya sebagai seorang dokter, pertanyaan itu menjadi kurang tepat di telinga ayahnya.
“Lebih baik masuk dulu, dan beristirahat lah sebentar sebelum kalian pulang.”
Sebuah suara asing membuat keempat bersaudara itu kompak menoleh dengan rasa curiga.
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔