Indonesia
NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Studio Mandiri

Layar ponsel pintar yang tersangga di atas meja tamu rumah Bu Lidya memancarkan tawa hangat. Melalui panggilan video tiga arah, Yunita yang sedang duduk bersandar di sofa rumah Surabaya mengarahkan kamera ponsel ke arah Bu Lidya. Di sudut layar atas, raut wajah Vino terpampang jernih, mengenakan kemeja santai dengan latar belakang meja gambarnya di Yogyakarta.

"Ini lho, Vin, Ibu tadi bikin kue lumpur kesukaanmu," ujar Bu Lidya dengan binar mata seorang ibu yang dipenuhi kebanggaan. "Yunita sampai nambah dua porsi."

Vino terkekeh halus dari balik layar. "Simpankan buat Vino ya, Bu. Nanti kalau ada waktu senggang Vino pulang ke Surabaya."

Yunita mencondongkan tubuhnya ke arah layar, memiringkan kepala dengan raut penasaran. "O iya, Vin. Tadi pas aku main ke sini, Bu Lidya cerita katanya kamu sudah mulai survei tempat buat studio desainmu sendiri? Beneran?"

Vino tersenyum mantap, mengangguk pelan. "Iya, Yun. Insya Allah setelah proyek besar yang sekarang aku pegang selesai, aku mau mulai jalan sendiri. Tabungan dan modal teknisnya rasanya sudah cukup."

Bu Lidya mengelus layar ponselnya pelan, menatap putra tunggalnya dengan pandangan penuh harap. "Vin... kalau sudah mau buka studio mandiri, apa nggak sebaiknya bukanya di Surabaya saja? Biar dekat sama Ibu. Ibu kan juga pengen melihat kamu ada di rumah setiap hari, nggak merantau terus di Jogja."

Vino terdiam sejenak, menatap ibunya dengan sorot mata yang amat lembut namun sarat akan keteguhan sikap.

"Ibu... Vino paham banget kangennya Ibu," tutur Vino dengan nada suara yang tenang dan santai. "Tapi untuk tahap awal ini, jaringan relasi, klien, dan rekanan material Vino semuanya sudah terbentuk kokoh di Yogyakarta. Mas Danang juga banyak membukakan jalan di sini. Kalau Vino langsung balik ke Surabaya sekarang dan mulai dari nol lagi tanpa basis relasi, biayanya tinggi dan risikonya terlalu besar buat usaha baru."

Yunita mengangguk-angguk setuju, membantu menyuarakan sudut pandang logis sahabatnya. "Iya, Bu Lidya. Di Jogja kan industri arsitekturnya lagi berkembang pesat banget. Lagi pula, Vino di sana kan sudah punya nama dan portofolio yang dipercaya orang-orang."

Bu Lidya menghela napas panjang, lalu tersenyum pasrah memaklumi kedewasaan berpikir anaknya. "Ya sudah kalau begitu, Vin. Ibu cuma bisa mendoakan dari sini. Yang penting kamu sehat, jujur, dan jangan lupa jaga salatnya."

"Pasti, Bu. Terima kasih banyak ya, Bu, Yunita..." balas Vino tulus dari balik layar.

Dua bulan berlalu cepat.

Goresan pengerjaan Villa Amarta di kawasan Sleman akhirnya mencapai garis akhir. Bangunan resor dua lantai itu berdiri begitu megah di tengah bentangan alam hijau Kaliurang. Perpaduan antara struktur kayu jati lokal, bukaan kaca besar, dan atap melayang berangka baja membuat siapa saja yang melintas terpana oleh estetika dan kepresisian pembangunannya.

Serah terima kunci dengan Pak Surya berjalan tanpa hambatan sedikit pun. Pengusaha kaya itu bahkan menyalami Vino berulang kali, mengekspresikan kepuasan mutlak atas hasil kerja keras sang arsitek muda.

Sore harinya, suasana di balkoni lantai dua Studio Danang Design terasa begitu syahdu. Langit Jogja dinaungi warna jingga keemasan. Garis-garis angin dingin Gunung Merapi berembus pelan, mengibaskan helai kemeja yang dikenakan Vino dan Mas Danang.

Mas Danang menyandarkan punggungnya di pagar pembatas besi, merogoh saku kemejanya, lalu menyulut sebatang rokok. Uap asap tipis membumbung tinggi, terhias oleh deretan lampu-lampu kota yang mulai menyala di kejauhan.

"Pak Surya baru saja menelepon saya lagi tadi," ujar Mas Danang seraya mengembuskan asap rokoknya perlahan. "Dia memuji-muji caramu mengawasi detail pelataran dan sirkulasi udara di Villa Amarta. Katanya, dia mau merekomendasikan namamu ke relasi pengusaha hotel di Bali."

Vino yang berdiri di samping mentornya mengulas senyum tipis. "Itu semua karena nama besar studio Mas Danang juga."

Mas Danang menoleh, menatap murid kesayangannya itu seraya terkekeh pelan. "Jangan merendah terus, Vin. Jam terbangmu sudah tinggi. Cara berpikirmu sudah independen. Kamu bukan lagi anak laki-laki yang datang ke sini dengan gambar skala ngawur empat tahun lalu."

Vino menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Dari dalam tas kerjanya, ia mengeluarkan sebuah map dokumen rapi lalu meletakkannya di atas meja kecil teras.

"Mas Danang... saya mau menyampaikan permohonan pamit," tutur Vino tegas, lugas, namun sarat akan rasa hormat yang amat dalam. "Proyek Villa Amarta sudah serah terima kunci. Seluruh laporan evaluasi dan pengerjaan studio juga sudah saya rampungkan."

Mas Danang tidak terkejut. Ia mengambil rokoknya, menyeruput kopi hitam yang tersaji, lalu menatap Vino dengan pandangan seorang guru yang bangga.

"Jadi... ruko di daerah Seturan yang kamu bayar uang sewanya minggu lalu itu bakal jadi markas barumu?" tanya Mas Danang santai.

Vino tersenyum tipis, mengangguk jujur. "Iya, Mas. Saya mau menguji diri saya sendiri. Saya mau mendirikan biro jasa arsitektur dan interior mandiri. Namanya Lazuardi Design."

Mas Danang mengembuskan asap rokoknya ke udara malam, lalu menepuk bahu Vino dengan dorongan yang cukup kuat, sebuah gestur pelepasan dari seorang senior kepada junior terbaiknya.

"Genggam nama itu baik-baik, Arvino," tegas Mas Danang dengan suara berat yang hangat. "Saya tidak pernah menahan burung yang sudah punya sayap kuat untuk terbang. Kamu belajar dengan cepat, kamu bekerja dengan kehormatan, dan kamu punya integritas yang jarang dimiliki arsitek muda zaman sekarang."

Mas Danang merogoh laci meja teras, mengambil sebuah buku catatan tebal bersampul kulit hitam lalu menyerahkannya kepada Vino.

"Ini kontak seluruh supplier kayu, besi, dan pemborong batu alam kepercayaan saya di Jawa Tengah dan Jogja," lanjut Mas Danang. "Bilang sama mereka kalau kamu murid utama Danang. Kamu bakal dapat harga rekanan terbaik."

Vino menerima buku catatan itu dengan dada yang bergetar hebat oleh rasa haru. "Mas Danang... terima kasih banyak. Buat ilmu, bimbingan, dan kepercayaannya selama empat tahun ini."

"Jangan bikin malu nama alumni studio ini," seloroh Mas Danang terkekeh seraya mengacungkan rokoknya. "Buktikan kalau Lazuardi Rancang bisa jadi biro arsitektur papan atas di negeri ini."

"Siap, Mas!" balas Vino mantap.

Malam itu, di bawah temaram lampu teras dan embusan angin sore Yogyakarta, dua pria itu berdiri bersisian. Tak ada lagi hubungan antara atasan dan bawahan, melainkan dua arsitek profesional yang saling menghormati. Arvino kini telah siap sepenuhnya untuk mengukir garis sejarahnya sendiri di atas lembaran dunia yang baru.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!