Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: DI DALAM KABIN YANG TERKUNCI

Mesin mobil Devan meraung halus sebelum akhirnya melaju membelah jalanan pagi yang mulai dipadati kendaraan. Di dalam kabin, pendingin udara berembus pelan, menyebarkan aroma kayu cendana yang menenangkan—aroma yang sangat khas milik Devan.

Namun bagi Aluna, suasana di dalam ruang tertutup ini justru jauh dari kata tenang. Ketegangan yang tercipta sejak dari meja makan tadi seolah terkumpul padat di dalam ruang sempit ini.

Aluna duduk kaku di kursi penumpang, matanya terus menatap lurus ke arah kaca depan. Tangannya memegang erat tali tas sekolah yang memangku di pangkuannya, menjadikannya perisai darurat demi menutupi rasa gelisah yang membakar dadanya.

Devan mengemudi dengan satu tangan di lingkar kemudi. Dengan santai, tangan kirinya menjangkau tombol kontrol di dasbor, lalu mengunci seluruh pintu mobil dari dalam.

Clek.

Suara mekanisme pengunci otomatis itu terdengar tegas. Devan tidak mengarahkan mobilnya ke rute utama menuju sekolah, melainkan membelokkan kemudi ke sebuah area parkir tersembunyi di balik bangunan tua beratap rimbun yang sepi dari lalu lintas.

Ia mematikan mesin. Seketika, keheningan yang pekat menyergap kabin mobil yang berkaca gelap itu.

"Kak Devan... mau ke mana? Ini bukan jalan ke sekolah!" seru Aluna panik saat menyadari mobil mereka telah berhenti total di area terisolasi.

Devan tidak menjawab. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu menekan tuas sandaran kursi Aluna hingga posisi duduk gadis itu merebah ke belakang. Sebelum Aluna sempat memprotes, Devan sudah mengikis habis jarak di antara mereka—berpindah menopang tubuh tegapnya di atas tubuh mungil Aluna, mengurung gadis itu sepenuhnya di dalam kungkungan matanya yang berkilat tajam.

"Kak Devan, jangan di sini..." bisik Aluna dengan napas yang mulai terengah. Tangannya menahan bahu tegap Devan, merasakan ketegangan otot pria itu.

"Kenapa? Takut?" suara Devan terdengar sangat serak, rendah, dan sarat akan dominasi yang begitu berani. "Bukannya di meja makan tadi kamu pinter banget berakting di depan Ayah sama Ibu? Tapi kenapa sekarang badan kamu gemetar begini, hm?"

Devan menjangkau kedua pergelangan tangan Aluna, menahannya di atas kepala gadis itu dengan satu genggaman tangannya yang kokoh. Tangan Devan yang bebas bergerak turun, mengusap leher halus Aluna dengan jemarinya yang hangat, lalu menyusup perlahan ke balik kerah kemeja seragam Aluna, memberikan tekanan sentuhan yang tegas dan membakar seluruh saraf gadis itu.

Aluna mendesah pelan, menengadahkan kepalanya saat Devan membungkam bibirnya dengan ciuman yang jauh lebih intens, dalam, dan menuntut dibanding sebelumnya. Ciuman Devan tak lagi memberikan ruang untuk menawar; ia menjelajahi bibir Aluna dengan dominasi mutlak yang membakar habis sisa pertahanan dan logika gadis itu.

Desah napas yang memburu memenuhi kabin mobil yang tertutup rapat. Jemari Devan bergerak lebih jauh, mengusap pinggang dan meremas pelan lekuk tubuh Aluna di balik seragam sekolahnya, mengirimkan gelombang desiran hebat yang membuat seluruh tubuh Aluna gemetar pasrah di bawah kungkungannya.

Ketika Devan akhirnya melepas ciumannya, ia menyandarkan dahinya pada leher Aluna yang merona basah, mendengarkan detak jantung mereka berdua yang berpacu hebat tak terkendali.

"Inget satu hal, Aluna," bisik Devan serak tepat di kulit leher Aluna, menancapkan kuku-kuku kecemburuan dan kepemilikannya. "Di depan mereka, kamu boleh berakting jadi adik yang baik. Tapi di mana pun kita cuma berdua... kamu sepenuhnya milik aku."

Aluna memejamkan mata rapat-rapat, meremas kuat baju di bahu Devan, sepenuhnya sadar bahwa ia telah tenggelam terlalu jauh dalam ikatan terlarang yang tak mungkin bisa ia lepaskan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!