Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : DSKRR

**

Aroma kopi hitam buatan Ibu membumbung tipis di meja makan. Di depanku, laptop tua peninggalan masa kuliahku masih menyala perlahan. Bunyi kipasnya agak bising, tapi masih berfungsi cukup baik.

"Allhamdulillah masih lancar.." Ucapku.

Aku mencari dan membuka daftar kontak di ponsel lama yang sudah retak. Jemariku bergetar tipis saat menyusuri nama-nama yang sudah bertahun-tahun tidak ku sapa. Dulu, Fandi secara halus memutus komunikasi ku dengan teman-teman industri fashion dengan alasan, "Kamu udah jadi istri, gak usah terlalu dekat sama lingkaran lama."

Sekarang aku sadar, dia bukan mau menjagaku. Dia cuma takut aku berkembang melebihi dirinya.

"Kamu yakin mau hubungi mereka lagi, May?" tanya Ibu seraya meletakkan piring berisi pisang goreng hangat.

"Yakin, Bu. Aku harus jemput rezekiku sendiri," jawabku mantap.

Aku memilih satu nama yang dulu amat sangat disegani di dunia agensi majalah fashion dan runway catwalk yaitu Arch.

Pria itu adalah founder dari VANE Agency, salah satu fashion dan manajemen terbesar di tanah air. Dulu, sebelum aku mengenal Fandi, Arch lah yang pertama kali memprediksi bahwa aku bakal jadi model papan atas. Pertemuan terakhir kami terjadi lima tahun lalu, di hari pernikahanku dengan Fandi, di mana Arch hanya datang sebentar, menyerahkan kado, lalu pergi tanpa banyak bicara.

Aku menelan ludah, memantapkan hati, lalu mengetik pesan singkat.

"Selamat pagi, Mas Arch. Ini Maya. Maaf mengganggu waktunya. Saya mau menanyakan apakah di VANE sedang ada posisi terbuka untuk tim pengarah gaya atau konseptor visual? Saya punya beberapa draf portofolio baru. Terima kasih banyak sebelumnya."

Ku ketik itu lalu pesan terkirim dan langsung dua centang abu-abu.

Aku menghela napas panjang, menaruh ponsel di meja, dan memilih fokus menyuapi si kembar yang baru bangun tidur. Aku mencoba realistis, sudah lima tahun menghilang dari industri itu waktu yang sangat lama. Sangat wajar kalau pesan dari seorang "mantan model kusam" seperti diriku bakalan diabaikan.

Namun, baru lima belas menit berlalu, ponselku bergetar nyaring. Ada panggilan masuk.

Nama di layarnya membuat jantungku berdesir hebat: Arch

Aku buru-buru mengusap layar dan menggesernya. "Ha-halo, Mas Arch?"

"Maya?" Suara di ujung telepon terdengar berat, tenang, dan sangat dalam. Tidak ada nada terkejut yang berlebihan, tapi ada ketegasan yang khas.

"Iya, Mas. Ini aku, Maya," suaraku agak gugup. "Maaf ya Mas kalau tiba-tiba nge chat"

"Kamu ada waktu siang ini?" potong Arch langsung ke inti masalah, tipikal pria pekerja keras yang tak suka basa-basi. "Jam dua siang, di cafe lantai dasar gedung VANE Tower. Bawa semua draf sketsa mu."

Aku tertegun sejenak. "Bii.. bisa, Mas! Aku bisa ke sana."

"Bagus. Sampai ketemu nanti," ucapnya singkat sebelum mengakhiri panggilan.

Aku terpaku menatap layar ponsel yang kembali gelap. Ibu yang memperhatikan dari meja dapur langsung menghampiriku dengan raut wajah cemas bercampur penasaran.

"Gimana, May?"

Aku menoleh ke Ibu, sebuah ukiran tersenyum perlahan merekah di bibirku.. senyum tulus pertama setelah berminggu-minggu dikurung kesedihan.

"Aku dapat kesempatan wawancara, Bu. Siang ini."

"Wah.. selamat yaa nak. Semoga lancar ya wawancara nya."

"Aamiin Bu.." jawabku.

Aku pun bersiap-siap untuk membersihkan diri serta menyiapkan portofolio ku sebelum akhirnya aku berangkat dengan menggunakan mobil online yang ku pesan.

***

Gedung VANE Tower berdiri megah di pusat kota, dibalut kaca-kaca gelap yang memantulkan langit siang. Sudah lima tahun aku tidak melangkah ke tempat seperti ini.

Aku menatap pantulan diriku di pintu kaca. Kemeja putih polos yang sedikit kebesaran, celana kain hitam, dan sepatu flat sederhana. Tanpa riasan tebal, cuma pelembap bibir dan rambut yang ku kuncir kuda rapi. Anggun dengan cara yang sangat sederhana, meski di dalam hati jantungku berdegup kencang seperti mau melompat keluar.

Pukul dua kurang lima menit, aku sudah duduk di salah satu meja pojok kafe lantai dasar. Di depanku, sebuah map kulit cokelat berisi sketsa-sketsa buatan tanganku terpajang rapi.

"Duh kok agak deg-degan ya" gumam ku.

Tiba-tiba saja, ada seseorang yang memanggil ku.

"Maya." Panggilan berat itu membuatku mendongak.

Seorang pria tinggi tegap berjas abu-abu gelap berjalan ke arah ku hingga berada di sebelah meja ku.

Itu Arch. Garis wajahnya makin tegas dibanding lima tahun lalu, dengan sedikit guratan matang di sekitar mata dan rambut yang ditata sangat rapi. Pandangannya tenang, namun menyimpan aura intimidatif yang kuat.

"Mas Arch," aku berdiri, mengulurkan tangan.

Arch menyambut uluran tanganku sejenak, menggenggamnya erat dengan formal, lalu duduk di hadapanku. Matanya sempat tertahan beberapa detik di wajahku meneliti lingkar hitam tipis di mataku dan penampilanku yang jauh dari kata glamor. Tapi tatapannya sama sekali tidak menghina. Ada rasa hormat dan sedikit kekecewaan di sana.

"Kamu kelihatan beda," ujar Arch datar seraya memberi isyarat pada pelayan untuk memesan espresso. "Terakhir aku dengar, kamu sibuk membesarkan nama Fandi." Ucap nya membuat ku sedikit malu.

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang tak bisa ku sembunyikan. "Namanya udah besar sekarang, Mas. Tapi akunya yang udah gak ada di sana."

Arch tidak memotong. Dia menanti kelanjutannya dengan tenang.

"Emm aku udah pisah sama Fandi," lanjutku blak-blakan, tak ingin menutup-nutupi realita. "Aku bawa tiga anakku. Dan sekarang aku butuh kerjaan buat nyambung hidup."

"Silakan.. ini kopi nya" ucap pelayan.

"Terimakasih" ucap ku.

Arch terdiam sejenak. Pria itu menyesap kopinya pelan sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya ke map cokelat di atas meja.

"Buka mapnya," perintahnya singkat.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku membuka lembar demi lembar sketsa dan konsep visual yang kukerjakan selama dua minggu terakhir di rumah Ibu. Konsep perpaduan busana streetwear modern dengan sentuhan klasik yang tegas.

Arch menarik map itu mendekat. Jemari panjangnya membalik tiap lembar dengan teliti. Suasana meja kami hening selama hampir lima menit, hanya terdengar gesekan kertas dan deru mesin pembuat kopi di kejauhan.

"Ini bukan gaya Fandi," celetuk Arch tiba-tiba, matanya masih tertuju pada sketsa gaun malam dengan potongan leher asimetris.

"Ini gayaku, Mas," jawabku mantap. "Dulu... konsep-konsep kayak gini yang selalu aku kasih ke Fandi sebelum dia ambil foto. Tapi dia bilang ini terlalu berani."

Arch mendongak, menatap mataku lurus-lurus. Untuk pertama kalinya, sebuah sunggingan tipis muncul di sudut bibirnya.

"Bukan terlalu berani," potong Arch tegas. "Mantan suamimu itu cuma gak punya kapasitas seni buat mengeksekusi ide sebagus ini."

Kata-kata Arch meluncur begitu saja tenang, tapi menghantam tepat di sasaran.

"Gaya naskah dan konsepmu mahal, May," sambung Arch seraya menutup map itu kembali. "Tapi kamu tahu kan, dunia ini kejam? Kamu udah menghilang lima tahun. Maaf tapi tubuhmu, penampilanmu... kamu bukan Maya yang dulu berdiri di atas panggung." Ucap nya.

"Aku tahu, Mas. Makanya aku gak minta berdiri di depan kamera," balasku cepat. "Aku mau di balik layar. Aku mau kerja."

Arch menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada. "Aku gak akan kasih kamu posisi staf biasa. Itu pemborosan bakat. Aku enggak akan menyia-nyiakan bakat mu itu" ucap nya lagi.

Bersambung...

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!