Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pengkhianatan di Balik Meja Kelas
Mangkuk bakso dan gelas es teh manis di meja kantin mendadak tak lagi menarik. Cassandra berdiri mematung dengan mata membelalak, menatap layar ponsel Narendra yang masih menampilkan siaran langsung dari dalam kelasnya.
"Nabila...?" bisik Cassandra penuh nada tidak percaya.
Teman sebangkunya yang paling polos, cewek yang selalu membagikan bekal kue buatan ibunya setiap pagi, kini berdiri di samping meja Cassandra sambil memegang kotak peledak berukuran kecil.
Narendra bergerak cepat tanpa membuang waktu satu detik pun. Ia meraih pergelangan tangan Cassandra, menarik cewek itu berlari membelah kerumunan murid di lorong kantin.
"Gue udah duga Kakek Subroto punya bidak cadangan di sekolah ini," kata Narendra di tengah napasnya yang memburu. "Tapi gue enggak nyangka kalau orang terdekat lu yang direkrut."
"Gue harus tanya langsung sama dia, Ren!" seru Cassandra seraya mempercepat langkah kakinya menaiki tangga menuju lantai dua.
Mereka berdua menerobos pintu kelas XI IPA 2 yang sedang lengang karena sebagian besar murid masih berada di luar. Di sudut ruangan dekat jendela, Nabila tampak duduk tenang sambil merapikan tas punggungnya.
Mendengar pintu dipukul cukup keras, Nabila mendongak. Senyum manisnya yang biasa terukir mendadak memudar ketika melihat raut wajah penuh amarah dari Cassandra dan Narendra.
"Cas? Narendra?" panggil Nabila dengan nada polos yang dibuat-buat. "Kalian kok ngos-ngosan gitu? Jam istirahat kan belum selesai."
Cassandra melangkah cepat menghampiri mejanya sendiri, melongok ke dalam tas sekolahnya. Sebuah kotak hitam berpendar merah tergeletak tepat di atas buku catatan matematikanya.
"Apa-apaan ini, Bil?!" bentak Cassandra seraya menunjuk kotak di dalam tasnya. "Kenapa lu tega nanam barang berbahaya ini di tas gue?!"
Nabila helaan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kayu. Raut wajah polosnya menguap seketika, berganti menjadi tatapan dingin nan sinis yang belum pernah Cassandra lihat sebelumnya.
"Lu emang selalu pinter, Cas," ujar Nabila seraya mengunyah permen karetnya santai. "Tapi sayangnya lu terlalu percaya sama orang cuma karena mereka bersikap ramah."
"Nabila! Lu kerja buat Kakek Subroto?!" pangkas Narendra tegas seraya menutupi posisi Cassandra dari jangkauan Nabila.
Nabila terkekeh pelan, melipat kedua tangannya di atas meja. "Kakek lu bayar biaya pengobatan adik gue di rumah sakit, Ren. Buat orang biasa kayak gue, uang Kakek lu jauh lebih berharga daripada persahabatan anak SMA."
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah remote kecil bertombol tunggal. "Pak Subroto cuma mau kalian turuti kemauannya. Kalau lu ber berdua tetap menolak penawaran Kakek lu hari ini, kotak di tas Cassandra bakal meledakkan seluruh koridor lantai dua."
"Jangan gila, Nabila!" seru Cassandra panik. "Di luar masih banyak murid yang lalu lalang!"
Narendra melirik ke arah sakelar pemadam kebakaran di dinding dekat pintu kelas. Jemarinya diam-diam meretas frekuensi remote di tangan Nabila menggunakan jam tangan pintarnya secara nirkabel.
"Lu pikir peretas tingkat atas cuma bisa main di komputer, Bil?" bisik Narendra dengan senyuman miring yang khas.
Tiba-tiba, jam tangan Narendra memancarkan sinyal distorsi frekuensi tinggi.
BZZZZT!
Remote di tangan Nabila mendadak panas dan mengeluarkan asap tipis, membuat cewek itu menjerit kaget seraya melemparkan alat tersebut ke lantai.
"Cas, ambil tas lu dan lari!" teriak Narendra kencang.
Cassandra menyambar tas sekolahnya, lalu berlari bersama Narendra menuju area tangga darurat belakang sekolah. Nabila yang panik mencoba mengejar mereka, namun langkahnya terhenti saat alarm kebakaran sekolah mendadak berbunyi nyaring akibat ulah peretasan Narendra.
TET! TET! TET!
Suara sirine menggema ke seluruh penjuru gedung SMA Garuda, memicu kepanikan massal dari seluruh siswa yang langsung berlarian keluar ruangan.
Di tengah hiruk-pikuk kerumunan murid yang panik di pelataran parkir, Narendra dan Cassandra bersembunyi di balik bus sekolah. Narendra dengan hati-hati mengeluarkan kotak hitam itu dari dalam tas Cassandra, lalu membuka panel penutupnya menggunakan obeng kecil.
"Ini bukan bom peledak asli, Cas," kata Narendra seraya bernapas lega. "Ini cuma bom asap beracun yang dirancang buat bikin kekacauan massal di sekolah."
Cassandra mengusap dadanya yang naik turun memburu. "Kakek lu bener-bener enggak segan bikin sekolah ini kacau cuma buat nakut-nakutin kita."
Narendra mematikan kabel pemantik di dalam kotak tersebut, lalu menatap Cassandra dengan raut penuh keteguhan. "Kita enggak bisa terus-terusan lari dan bertahan, Cas. Saatnya kita balik menyerang Kakek Subroto."
"Gimana caranya?" tanya Cassandra penasaran.
"Kakek menyimpan seluruh berkas rahasia dan sertifikat tanah ayah lu di dalam server pribadi rumah utamanya," jelas Narendra pelan. "Malam ini, ada pesta ulang tahun perusahaan Kakek. Semua orang berkelas bakal hadir di sana."
Ia memegang kedua bahu Cassandra dengan lembut. "Kita bakal menyusup ke pesta itu pakai gaun dan jas resmi. Kita ambil sertifikat itu langsung dari ruang kerjanya."
Cassandra menyunggingkan senyum tipis, menyetujui rencana nekat tersebut. "Misi pesta dansa dua peretas?"
"Misi pesta dansa dua peretas," ulang Narendra seraya membalas senyuman Cassandra.
Namun, ketika mereka berdua berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang dan bersiap-siap, seorang pria bertubuh kekar berpakaian serba hitam mendadak menghentikan mobil sedan hitam di depan mereka.
Kaca mobil itu turun perlahan, memperlihatkan sosok pria asing bersuara serak yang memberikan sebuah surat undangan perak berstempel khusus kepada Cassandra.
Pria asing itu menatap Cassandra dingin lalu berbisik, "Jangan datang ke pesta malam ini bersama Narendra, Cassandra. Kakek Subroto menyiapkan perangkap sungguhan untuk Narendra di ruang kerja tersebut."