Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Di Tengah Badai Tuduhan

Suasana ruangan seketika mencekam. Napas tertahan di tenggorokan semua orang yang hadir. Tatapan tajam dan penuh amarah tertumpu sepenuhnya padaku, seakan aku telah menjadi penjahat terbesar yang pantas dibenci seumur hidup.

Arga berdiri terpaku di ambang pintu. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak menatapku dengan sorot perih yang tak sanggup kukatakan. Langkah kakinya pelan mendekat, namun bukan untuk membela—melainkan untuk menatapku lekat-lekat, seakan berusaha mencari jejak kebohongan di mataku.

"Katakan padaku... bukan kau yang melakukannya," suaranya bergetar hebat, menggenggam bahuku erat hingga terasa perih. "Lihat mataku, Freya. Katakan padaku kau tidak berniat mencelakai Ayah."

Air mata perlahan jatuh di pipiku. Hatiku terasa remuk redam melihat keraguan di matanya—matanya yang baru saja kemarin penuh kasih sayang padaku. Laras berdiri tak jauh di belakang, menyembunyikan senyum kemenangan di balik wajah yang berpura-pura sedih.

"Aku tidak melakukannya, Arga..." suaraku pecah di tengah isak tangis. "Aku bersumpah... aku sama sekali tidak menaruh sesuatu ke dalam obat Ayah. Aku hanya menuangkan air dan menyiapkannya seperti biasa. Laras yang datang sesaat setelah aku selesai... dialah satu-satunya yang sempat berada di ruangan itu bersamaku!"

Laras seketika berlutut sambil menangis tersedu-sedu, tampak begitu tak berdosa dan ketakutan. "Tuan Arga... aku memang sempat masuk sebentar, hanya ingin menyapa Nyonya Freya. Aku bahkan tak mendekati meja tempat obat itu berada! Bagaimana mungkin aku berani melakukan hal mengerikan demikian pada Ayah yang selama ini begitu baik padaku? Nyonya Freya... mengapa kau menuduhku? Padahal hanya kalian berdua di ruangan itu..."

Kalimat itu bagai palu godam menghantam kepala semua orang. Hanya aku dan Laras. Dan tak ada saksi lain. Secara logika, jika bukan aku maka pasti Laras—namun semua orang sudah terlanjur menyukainya, mempercayainya sebagai wanita lembut yang tulus merawat Ayah. Sedangkan aku? Aku hanyalah Freya—wanita yang dulu kejam, sombong, dan penuh dendam. Siapa yang akan percaya padaku?

Bibi Ratih berseru lantang, wajahnya merah padam menatapku penuh kebencian. "Sudah jelas! Freya lah pelakunya! Mungkin ia tak sudi melihat keluarga Arga sehat-sehat saja! Atau... mungkin ia takut jika Ayah sembuh, posisinya akan semakin sulit! Sungguh wanita berhati racun!"

"Tidak! Aku tidak melakukannya!" teriakku, mencoba meraih tangan Arga. Namun Arga menarik tangannya perlahan. Gerakan kecil itu bagai belati yang menyayat hatiku. Ia ragu. Ia takut. Dan keraguannya itulah yang paling menyakitkan hatiku.

"Freya..." Arga menatapku dalam, suaranya dingin dan berat, penuh kepedihan yang tak terlukiskan. "Aku ingin mempercayaimu. Sungguh... aku ingin sekali. Tapi buktinya... semuanya mengarah kepadamu. Dan Laras... ia tak memiliki alasan apa pun untuk mencelakai Ayah."

"Karena akulah alasan sebenarnya, Arga!" teriakku tak kuasa menahan diri lagi. "Ia membenciku! Ia ingin mengusirku dari sisimu! Ia ingin menghancurkan hidupku persis seperti yang dilakukan dalam cerita aslinya! Mengapa kau tak bisa melihatnya?!"

Kalimat terakhir itu terucap begitu saja, tanpa kusadar. Arga mengernyitkan dahi bingung. "Cerita apa? Apa maksudmu, Freya?"

Aku terdiam seketika. Jantungku seakan berhenti berdetak. Hampir saja... aku hampir membocorkan rahasia terbesarku. Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menguasai diri.

"Maksudku... persis seperti yang selalu ia lakukan. Menjebakku dengan kelembutan palsunya hingga tak ada yang percaya padaku..." suaraku merendah kembali, penuh keputusasaan.

Namun kata-kataku tak lagi didengar siapa pun. Ayah masih terbaring lemah dengan napas yang makin sesak. Dokter berpesan agar siapa pun yang menyiapkan makanan dan minuman untuk Ayah harus diawasi ketat. Dan seketika itu juga, Arga berucap dengan suara yang terdengar bagai mimpi buruk bagiku.

"Sementara masalah ini belum jelas... kau tinggal di kamar saja, Freya. Jangan mendekati ruangan Ayah dulu."

Itu bukan permintaan. Itu adalah perintah. Sebuah pengasingan diam-diam. Matanya tak lagi menatapku penuh cinta, melainkan penuh rasa sakit dan... kewaspadaan. Ia memalingkan wajah, lalu berjalan pergi meninggalkanku bersama Laras yang melirikku sekilas dengan senyum mencemooh penuh kemenangan.

Aku tertinggal sendirian di ruangan itu. Langit di luar seakan runtuh bersamaan dengan hujan yang turun semakin deras. Hatiku hancur berkeping-keping. Yang paling menyakitkan bukanlah tuduhan semua orang kepadaku... melainkan keraguan yang terpancar dari mata Arga. Pria yang baru saja kemarin berjanji tak akan membiarkan siapa pun menyakitiku... kini sendirilah yang menjauhkanku darinya.

Namun di tengah keputusasaan yang menyelimuti hatiku, tekadku perlahan bangkit kembali. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku tidak akan membiarkan Laras menang dengan kecurangannya. Aku harus membuktikan kebenarannya. Aku harus menemukan bukti bahwa dialah pelakunya. Meski harus mencari sendiri, meski harus menanggung semua penderitaan sendirian... aku tak akan membiarkan takdir tragis Freya terulang kembali.

 

Lanjut ke Bab 10? 😊 Freya dikurung dan dicurigai, tapi tekadnya bangkit untuk membuktikan kebenaran~

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!