Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 DI ANTARA CINTA DAN BENCI
Malam itu, Maya makan sendirian.
Bara sedang pergi menghadiri pertemuan yang tak ia jelaskan. Papa sudah lebih dulu mengundurkan diri ke kamarnya, lelah oleh hari yang panjang. Mama masih dalam pengaruh obat penenang, di bawah pengawasan dokter pribadi yang disewa Bara.
Maya makan di dapur, bukan di ruang makan. Rasanya konyol duduk sendirian di meja raksasa, dikelilingi kursi-kursi kosong, seperti seorang ratu tanpa istana.
Bu Marta mengamatinya dari seberang meja marmer, kedua tangan bersedekap di dada, dengan raut yang masih menyiratkan curiga, tapi kini ada satu nuansa baru. Barangkali rasa ingin tahu.
"Ada lagi yang Nyonya butuhkan?" tanya Bu Marta.
Maya menggeleng.
"Tidak, terima kasih. Semuanya sempurna."
Bu Marta mengangguk lalu berbalik hendak pergi, tapi Maya menahannya.
"Bu Marta..."
"Ya?"
"Kenapa Ibu memandangku seperti itu? Seolah tak memercayaiku."
Bu Marta berhenti. Ia berputar dan menatap Maya lekat-lekat.
"Karena saya tidak percaya pada siapa pun yang mendekati Tuan Prakoso. Sudah banyak perempuan yang mencoba masuk lewat pintu itu. Semuanya menginginkan sesuatu. Uang, kekuasaan, perlindungan. Semuanya pergi dengan tangan hampa."
Ada yang menusuk di dada Maya. Bukan tusukan rasa bersalah, melainkan pengakuan.
"Aku juga menginginkan sesuatu," Maya mengakui. "Aku tak akan berbohong pada Ibu. Aku ingin ayahku selamat. Aku ingin ibuku pulih. Aku ingin pamanku membayar semua perbuatannya."
"Tapi Nyonya tidak menginginkan Tuan Prakoso," Bu Marta menyimpulkan.
Maya menggeleng.
"Tidak. Aku tak menginginkannya."
Bu Marta menatapnya lama. Lalu ada sesuatu dalam raut wajahnya yang melunak.
"Kalau begitu, Nyonya perempuan jujur pertama yang masuk ke rumah ini. Mungkin karena itulah dia memilih Nyonya."
Maya mengerutkan kening.
"Dia memilihku?"
Bu Marta tak menjawab. Ia hanya berbalik dan keluar dari dapur, meninggalkan Maya dengan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.
* * *
Di suatu sudut kota, di sebuah penthouse yang menghadap sungai, Om Mahendra mencengkeram ponselnya begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Apa maksudmu dia tidak masuk penjara?"
Suara di seberang saluran terdengar bimbang, gugup.
"Uang jaminannya sudah dibayar, Pak Mahendra. Lima ratus juta rupiah. Tunai. Tadi pagi."
Om Mahendra memejamkan mata. Rahangnya menegang.
"Siapa yang membayar?"
"Justru itu yang paling ganjil. Berkasnya atas nama seorang pengacara. Tapi hasil penelusuran menunjukkan uangnya keluar dari rekening yang terkait dengan... dengan Bara Prakoso."
Nama itu jatuh di apartemen mewah itu bagai sebuah bom.
Om Mahendra membuka mata. Tatapannya, yang tadi tenang, kini membara oleh amarah yang dingin.
"Si mafioso itu? Bajingan mafioso itu ikut campur dalam urusan ini?"
"Bukan cuma itu, Pak Mahendra. Kami dapat informasi bahwa Prakoso menikah tadi pagi. Di kantor catatan sipil pusat kota. Dengan keponakan Bapak. Dengan Maya."
Hening total.
Om Mahendra bangkit dari sofa kulitnya dan melangkah ke jendela. Di bawah sana sungai berkilau, disinari lampu-lampu kota.
Bayangan dirinya di kaca adalah bayangan seorang pria enam puluh tahun, berpakaian rapi, hidup berkecukupan, mapan. Tapi matanya menyimpan sesuatu dari binatang yang terjebak.
"Anak itu," gumamnya, lebih kepada diri sendiri ketimbang kepada lawan bicaranya. "Anak sialan itu akan menghancurkanku."
"Apa yang harus kita lakukan, Pak Mahendra?"
Om Mahendra berbalik. Wajahnya sudah kembali tenang. Kini hanya sebuah topeng es.
"Cari tahu segalanya tentang Prakoso. Bisnisnya, rekan-rekannya, kelemahannya. Semua orang punya kelemahan. Bahkan monster sekalipun. Temukan kelemahannya."
"Dan Maya?"
Om Mahendra tersenyum. Senyum buruk, miring, senyum seseorang yang siap melakukan apa saja.
"Maya cuma anak ketakutan. Anak orang kaya yang kehilangan hartanya lalu mencengkeram pelampung pertama yang ia temukan. Dia tak akan bertahan. Tak ada yang bertahan di sisi pria seperti Prakoso. Ketika pernikahan itu retak, seperti segalanya pasti retak, aku akan ada di sana. Untuk memunguti kepingannya. Dan untuk memastikan kakakku kembali ke penjara. Kali ini, selamanya."
Ia memutus sambungan tanpa menunggu jawaban.
Di luar, kota terus berkilau, tak acuh pada badai yang sedang berkecamuk di bayang-bayangnya.
* * *
Di kediaman Prakoso, jauh malam kemudian, ketika bulan sudah tinggi dan seisi rumah tertidur, Bara Prakoso pulang.
Ia menaiki tangga dalam diam, langkahnya teredam permadani Persia. Ia melewati kamar Maya. Pintunya tertutup. Tak ada suara apa pun dari baliknya.
Ia berhenti. Sesaat. Hanya sesaat.
Ia menempelkan tangan pada daun pintu kayu itu, tanpa berani mengetuk. Ia merasakan dinginnya permukaan itu di bawah jari-jarinya.
Apa yang sedang kaulakukan, Prakoso?* tanyanya pada diri sendiri. Ini urusan bisnis. Sebuah perjanjian. Tak lebih. Kenapa kauberi dia tiga miliar untuk pakaian? Kenapa kausuruh orang mengirim bunga? Kenapa kau memandangnya seperti itu?*
Ia tak punya jawaban.
Dan justru itu yang lebih mengganggunya daripada apa pun.
Bara menarik tangannya dan melanjutkan langkah ke kamarnya. Ia tak tidur nyenyak. Ia memimpikan rambut pirang dan mata bening, lalu terbangun berkeringat, dengan perasaan asing di dadanya.
Sesuatu telah bermula hari itu di kantor catatan sipil.
Sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.
Dan Bara Prakoso, yang mengendalikan segalanya, tak tahu harus berbuat apa dengan itu.