Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Ayahnya?
"Di ruang kelas Marcella CCTV sedang tidak berfungsi," sahut guru wali kelas.
Anne tercengang, ia menggeleng, dan berpikir jika pihak sekolah hanya sedang
mempersulitnya, "tidak bisa. Bagaimana mungkin CCTV tiba-tiba rusak saat ada
kejadian seperti ini, harusnya pihak sekolah bersikap profesional dan tidak menutupi apapun!" berang Anne.
Bu kepala sekolah cemas dengan protes Anne, "'bu Anne, jika anda menganggap
sekolah kami tidak profesional maka silahkan saja pindahkan anak anda ke sekolah lain."
"Ya, itu lebih bagus!" sahut Selina.
Anne tercengang, seketika anaknya pun waspada.
"Bagaimana kamu bisa bicara seperti ini?
Anak ku belum mendapat keadilan, tapi kenapa anak ku yang harus keluar dari
sekolah? Seharusnya anakmu yang di sekolahkan ke tempat pendidikan bermoral!" Balas Anne menatap Selina dengan sengit.
Selina tak suka dengan ucapan Anne, "seberapa kamu yakin jika anakmu ini benar?"
"Seratus persen aku yakin," jawab Anne mantab.
Anne lalu terpikir, "baiklah jika memang
kalian tidak mau menunjukan CCTV itu aku masih bisa bertanya pada anakmu." Anne lalu menatap anak Selina dengan tajam seperti belati yang ingin menusuknya, hingga membuat pria kecil itu takut.
Selina membungkuk lalu bertanya pada putranya, "sayang, katakan pada mereka jika kamu tidak salah!"
Anak kecil itu menatap Selina, kemudian
memperhatikan Marcella yang masih menangis, "Marcella, aku minta maaf ya... Kamu jangan nangis."
Saat itu Selina terbelalak, Bu guru dan bu kepala sekolah serta semua yang ada di sana pun tercengang.
Secara tidak langsung anak Selina mengakui bahwa ia memang bersalah dan ia yang telah melakukan itu pada Marcella.
Anne tersenyum puas saat kebenaran memihaknya, "bagaimana kamu mendengarnya sendiri kan?"
Selina langsung memelototi anaknya dengan tajam, dia langsung menunduk takut.
"Kamu tidak mungkin melakukan itu kan
sayang?" Selina masih tak percaya.
"Aku melakukan itu karena aku ingin berkenalan dengan Marcella, tapi Marcella cuek, jadi aku hanya ingin mencari perhatiannya saja." ungkap anak Selina terus terang, Selina pun makin tercengang, Anne menghela nafas karena anak laki-laki itu pada akhirnya mengakui.
Bu guru dan kepala sekolah pada akhirnya pasrah.
Mereka sudah biasa melihat anak-anak kecil bertengkar dan berfikir jika masalah yang di alami anak kecil ini adalah hal yang lumrah.
"Ya sudah kalau begitu, anak nyonya Selina sudah meminta maaf, dan mengakui, jadi saya harap bu Anne juga memaafkannya."
"Tidak bisa! Masalah ini tidak bisa selesai begitu saja. Karena bagaimana juga, secara tidak langsung anaknya lah yang telah mengundang keributan ini." Selina masih tetap tak terima.
"Jadi anak dia harus tetap dipindahkan dari sekolah ini, jika tidak mau maka sekolah ini akan saya tutup!" lanjut Selina.
Guru wali kelas dan kepala sekolah tercengang, tentu saja mereka tak mau
masalah akan merembet kemana-mana, jika sekolah ini di tutup maka ini akan berpengaruh dengan pekerjaan mereka.
Bu guru menatap Anne dengan memohon.
Tapi Anne tetap bersikeras, "lebih baik sekolah ini di tutup saja jika tidak bisa
menangani masalah sepele ini dengan adil. Jadi anak-anak akan mencari sekolah barunya masing-masing."
Bu guru menggeleng, "bu Anne mohon
pengertiannya."
"Dan jika aku menutup sekolah ini maka ku pastikan jika tidak akan ada sekolah manapun yang menerima anak-anakmu." seru Selina lalu menarik putranya dan menjauh.
Anne tercengang dengan ancaman itu.
Bu guru menatap Anne dengan kesal, "bu Anne anda harus tahu jika bu Selina bukan orang sembarangan jadi saya mohon pindahkan anak anda saja."
Anne termenung memindahkan anaknya
ke sekolah lain hanya akan menguras uang, lagi pula ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk masuk kesini bagaimana bisa ia harus memindahkan anaknya.
"Saya bisa memastikan jika bu Anne akan
terus di usik olehnya jika tak mau menurut." imbuh bu guru.
"Siapa yang berani mengusiknya?"
Tiba-tiba sebuah suara pun memecah keributan mereka.
Bu guru menoleh, Anne juga ikut menoleh dan terbelalak saat melihat Davin datang.
Pria itu mendekat lalu berdiri di depan Anne.
Melihat wajah dingin penuh arogansi, ketiga anak Anne mendekat melingkarinya seakan ingin melindunginya dari bahaya.
Davin tertegun melihat pemandangan itu, melihat ada tiga anak kecil yang mirip memeluk Anne dengan sayang.
Selesai meeting saat melakukan perjalanan pulang ia mendapat kabar bahwa anaknya terlibat perkelahian, hingga membuatnya kesini meski telah di wakili oleh istrinya.
Sebab ia tahu jika Selina tak akan menggunakan kepala dingin ketika menghadapi keributan.
Namun sungguh tak ia sangka jika ia malah akan di pertemukan dengan Anne dan di perlihatkan dengan fakta lain ini.
Melihat mereka berempat serasi seperti anak dan ibu fikiran Davin begitu rumit, begitu pun Anne, sewaktu bertemu di kantor ia melihat Davin sangat dingin dengannya seakan tak ingin mengenalnya, tapi kini ketika bertemu untuk yang kedua kali dia melihat kelembutan serta kepedulian di matanya, hingga membuat Anne termenung kembali terhanyut dalam kisah kelam mereka beberapa tahun silam saat mereka masih saling menyayangi.
"Tuan Davin, maaf sekali, tadi istri anda
sudah pergi." ucap bu guru.
Saat itu Anne langsung tersadar jika benar mereka telah menikah, kini perasaan Anne jadi tak menentu.
Ia merasa seperti ada retakan yang terdengar, namun kemudian dia menggelengkan kepalanya.
Davin mengangguk mendengar ucapan bu guru, "biarkan saja, saya kesini hanya ingin memberi sikap seadil-adilnya pada siapapun yang menempuh pendidikan disini. Mereka akan tetap bersekolah disini, pihak sekolah tidak bisa mengeluarkannya begitu saja tanpa persetujuan dari saya." ucap Davin dengan tegas.
Membuat bu guru juga Anne segan padanya.
"Untuk kamu Anne, aku minta maaf, anakku salah, nanti aku akan memperingati anakku lagi dan berbicara dengan Selina supaya dia tidak ikut campur lagi masalah ini." Terang Davin.
Anne tertegun, merasa bahwa Davin masih peduli padanya.
Davin juga meminta untuk guru-guru itu tak mendengar perkataan Selina dan mengedepankan norma, dan moral kegiatan bersekolah sehingga tidak akan ada kesenjangan atau apapun di sekolah ini.
"Anak-anak yang baik, kalian besok bisa
tetap bersekolah, jadi berangkatlah seperti biasa." terang Davin pada ketiga anak Anne sambil berjongkok.
Mereka melihat wajah Davin melembut
penuh sayang, Matteo menatap Anne dahulu lalu beralih ke Davin, "terimakasih uncle."
Davin tersenyum lalu mengangguk,"ya
sama-sama, yasudah kalau begitu kalian
kembali belajar lagi." pintanya lalu mengusap kepala Matteo, Marco juga Marcella.
Mereka bertiga merasa lebih tenang saat
ini, ketiganya menatap Anne meminta persetujuan.
"Ya, masuklah ke kelas, mami harus lanjut bekerja lagi." ucap Anne.
Ketiganya pun keluar dari kantor kepala
sekolah dan kembali ke kelas setelah di antar oleh guru.
Sementara Anne dan Davin keluar sambil berjalan berdampingan melewati sepanjang koridor.
Ada perasaan yang tidak bisa Anne jelaskan saat ini.
"Apa mereka semua adalah anak kandungmu?" tanya Davin tiba-tiba memecah keheningan, juga menuntaskan perasaan penasaran yang sejak tadi mengganggu hatinya.
Anne pun menoleh menatap Davin kemudian mengangguk, "ya." sambil sedikit tersenyum, ia tak ragu mengakui.
Entah mengapa mendengar jawaban itu Davin seolah tak senang, pria itu mengepal tangannya tanpa orang lain sadari.
Ia bukan tak ingat tentang empat tahun yang lalu, namun semakin jauh dia merenunginya, itu seperti bukan Anne yang dia kenal saat dengan sengaja melakukan malam panas itu, jadi ia sedikit ragu jika Anne telah melakukannya dengan kesadaran penuh.
"Kamu terlihat sayang dengan mereka."
"Tentu saja, aku ibunya, aku yang melahirkannya, aku menyayangi mereka sama seperti kamu menyayangi anakmu juga." Terang Anne, bahkan menyinggung soal anaknya dengan Selina yang bisa seumuran dengan anaknya.
Davin merunduk, pasti Anne merasa bingung kenapa ia bisa memiliki anak
seumurannya, karena tak lama setelah Anne keluar kota dia langsung menikah dengan Selina saat itu.
Ia jadi merasa bersalah sudah melakukan itu, pasti Anne sangat hancur saat itu.
Keduanya terus berjalan walau banyak sekali hal yang sebenarnya ingin mereka
ungkapkan namun mereka tahan karena
status mereka yang kini telah berbeda.
Suasana kembali menghening, Davin makin di landa penasaran dengan kehidupan Anne sejauh ini.
Apakah ketiga anaknya adalah anak-anaknya dengan pria malam itu atau dengan kekasih barunya.
"Siapa suamimu?"
Anne langsung terhenyak begitu pertanyaan itu terlontar.
Udara seolah pergi dari sekelilingnya hingga dia merasakan sesak.
Apakah tidak salah pertanyaan ini terlontar? Davin pasti penasaran dan ingin memastikan jika anak itu adalah anaknya dengan suaminya, bukan pria di malam itu, tapi faktanya adalah benar.
Anne bingung, harus menjawab apa ia?