Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: JEJAK YANG TERTINGGAL

Kejadian konfrontasi dengan Reno di belakang sekolah memang berhasil membungkam cowok itu sepenuhnya. Namun, rasa lega yang dirasakan Aluna tidak bertahan lama. Bahaya dari luar mungkin sudah netral, tetapi ancaman yang sebenarnya kini berada tepat di dalam rumah mereka sendiri.

Kamis malam, rumah berlantai dua itu kembali tenggelam dalam keheningan. Ayah Danu sedang menghadiri rapat asosiasi pengusaha hingga larut malam, sementara Ibu tertidur lebih awal di kamar utama karena kondisi fisiknya yang kurang fit akibat kelelahan bekerja.

Di lantai atas, Aluna melangkah keluar dari kamar mandi menyusuri lorong remang-remang yang sepi. Rambut hitamnya yang basah terurai di atas bahu, membasahi kaus tipis yang ia kenakan.

Saat melintas di depan kamar Devan yang pintunya sedikit terbuka, sebuah tangan kekar mendadak terulur dari dalam, merengkuh pergelangan tangan Aluna dan menariknya masuk ke dalam ruangan.

Cklek.

Pintu kamar kunci rapat. Suasana kamar Devan yang bernuansa maskulin dan beraroma kayu cendana seketika mengurung Aluna.

"Kak Devan!" bisik Aluna kaget, membelalakkan matanya seraya memegangi dadanya yang berdebar kencang. "Ibu ada di bawah, Kak..."

Devan tak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menyudutkan Aluna ke daun pintu yang terkunci, mengurung tubuh mungil adiknya dengan kedua tangannya yang tegap. Iris mata cokelat gelap Devan memancarkan gairah yang sudah tak sanggup lagi ditahannya setelah berhari-hari harus bersikap dingin dan menjaga jarak di depan orang tua mereka.

"Aku tidak peduli," bisik Devan serak tepat di depan bibir Aluna.

Devan langsung menunduk dan menyambar bibir Aluna dengan ciuman yang sangat dalam dan panas. Sentuhan Devan begitu menuntut dan sarat akan rasa kepemilikan mutlak. Aluna yang awalnya berniat menolak, perlahan meleleh di dalam kungkungan hangat kakak tirinya. Jemari mungilnya menyusup ke rambut hitam Devan, membalas perlakuan manis namun dominan tersebut dengan desah pasrah yang teredam di balik pagutan mereka.

Tangan Devan merayap merengkuh pinggang Aluna, mengangkat tubuh gadis itu sedikit ke atas agar makin merapat pada dirinya. Devan memindahkan kecupannya menyusuri garis rahang hingga ke ceruk leher Aluna yang terbuka, mendaratkan beberapa hisapan dan gigitan kecil yang meninggalkan tanda memar merah keunguan yang cukup jelas di kulit mulus adiknya.

"Kak... j-jangan di sana..." bisik Aluna terengah-engah, mencoba menghentikan kecupan Devan yang makin liar di lehernya.

Namun Devan justru makin mempererat dekapannya, menikmati setiap reaksi dan getaran halus dari tubuh Aluna di dalam genggamannya. Bagi Devan, tanda itu adalah bukti mutlak bahwa Aluna adalah miliknya yang tak boleh disentuh oleh siapa pun.

Keesokan harinya di meja makan saat sarapan pagi, atmosfer keluarga yang semula tenang mendadak berubah tegang secara instan.

Aluna duduk di samping Devan dengan sweater berkerah tinggi untuk menutupi jejak semalam. Namun, saat Aluna menjangkau cangkir susu hangat di tengah meja, kerah sweater tipisnya sedikit melonggar dan bergeser ke samping.

Mata Ibu yang tajam mendadak membeku. Dari sudut duduknya, Ibu menangkap jelas jejak tanda merah memar yang tercetak tegas di ceruk leher putri tunggalnya.

Kling.

Sendok di tangan Ibu terlepas dan jatuh merentang di atas piring porselen.

"Aluna," panggil Ibu dengan suara yang mendadak amat dingin dan bergetar menahan kebingungan yang membuncah. "Lehermu... itu tanda apa?"

Aluna seketika membeku kaku bagai patung. Darahnya mendesir dingin, dan seluruh persendiannya mendadak lemas seketika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!