Indonesia
NovelToon NovelToon
Bercerai Dari Suami Keji, Demi Calon Anakku.

Bercerai Dari Suami Keji, Demi Calon Anakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Rumah Tangga
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Pagi ini Raisa bangun lebih awal, posisi sang suami masih tidur dengan hanya mengenakan boxer warna hitam.

Raisa sudah solat subuh dengan dua tungkainya yang sakit, dan dirinya mencoba pagi ini membuat sarapan untuk sang suami.

Semalam dirinya baru merasakan kenikmatan yang tak terhingga, namun Raisa tak tahu jika sang suami masih memendam rasa benci untuknya.

"Aku akan membuat sarapan buat kamu, Mas." Raisa bicara setelah mandi dirinya melaksanakan solat subuh, mendoakan sang suami.

Pagi ini Raisa mengenakan gaun berwarna kuning lemon cerah, gaun yang di ganti oleh sang suami semalam.

Sungguh Dion, menepati ucapannya itu.

Rambut Raisa seperti biasa di ikat setengah dengan sisa gerai di bawahnya.

Pagi ini Raisa menyiapkan sarapan untuk sang suami, roti lapis berisi ayam fillet dan sayuran.

Sungguh Raisa pagi ini berusaha menjadi istri yang sempurna, meski kedua tungkainya masih sakit akibat aktivitas semalam.

Raisa tengah sibuk di wastafel mencuci alat masak yang di gunakan untuk menyiapkan sarapan sang suami.

Sementara Dion sudah rapih di belakangnya, penampilannya sudah siap berangkat ke kantor.

Dion mengenakan kemeja warna bone yang dipadukan dengan celana hitam dan dasi merah.

Pagi ini tentu Dion wajahnya kesal, karena tak mendapati istrinya di sampingnya---padahal memang rutinitas Raisa bangun pagi dan memasak.

Hal yang lumrah bagi Raisa, memasak sarapan untuk suaminya---memastikan baju kerja suaminya siap, dan terakhir berangkat ke rumah sakit untuk menjaga mertuanya.

Raisa menoleh ke belakang mendapati sang suami makan roti lapis dengan wajah yang asam.

"Mas...ini susunya," ucap Raisa menuangkan susu ke gelas dan menyodorkan kepada suaminya.

Dion nampak jengkel, karena masih teringat saat bangun---istrinya tak ada di sebelahnya, semalam dirinya belum puas.

Belum puas untuk berkuda lagi.

"Kalo udah selesai aku akan cuci piringnya, Mas," ucap Raisa dengan tersenyum.

Raisa kembali ke wastafel, untuk menyiapkan makanan di bawa ke rumah sakit---menggunakan rantang.

Makanan yang di bawa Raisa sangat sederhana, hanya nasi, telur dadar, dan sayuran.

Raisa makan seadanya, asal sang mertua bisa sembuh.

"Raisa saya udah makan," ujar Dion, duduk sambil mengecek ponsel yang ada di saku celananya.

Baru saja Dion membuka ponselnya.

Malah mendapatkan pesan dari Chelsea yang kecewa karena sudah hampir seminggu, Dion tak berkunjung ke apartemennya.

"Ya yang penting transferan lancar sayang," ketik Dion seolah tak ada rasa bersalah sama sekali.

Namun, saat Raisa mau mencuci piring milik sang suami.

Tiba-tiba ponselnya yang ada di meja makan berdering, seketika Dion menatap layar ponsel itu dan menyipitkan matanya.

Dokter Hassan Razzak.

Ketenangan seketika luntur karena ponsel Rania yang tergeletak di atas meja makan itu, membuat darah Dion menjadi mendidih.

Raisa sempat mengeringkan tangannya sebelum berjalan ke arah meja makan, namun sebelum Raisa meraih ponsel itu.

Dion meraihnya lebih dulu, karena sangat emosi melihat sebuah nama tertera disana.

Rahangnya pagi ini mengeras memperlihatkan urat-urat lehernya yang menonjol.

"Sialan! Dokter ini terus menghubungi istriku!" umpatnya dengan jengkel.

Tanpa berkata apapun pada Raisa, Dion langsung mengambil ponsel itu dan menempelkan ke telinganya.

"Hallo selamat pagi, Bu Raisa." Dokter Hassan bicara dengan nada sopan, hanya untuk melaporkan soal kondisi Nyonya Raharja.

"Selamat pagi! Saya suami Raisa!" jawabnya.

"Saya meminta anda berhenti menelepon istri saya! Jangan pernah berani menganggu milik saya lagi!" geram Dion.

Suara Dion menggelegar di ruang makan yang tenang, tak segan Dion menggebrak meja.

Raisa yang tersentak hebat, berlari mendekati Dion dan tangannya berusaha meraih ponsel yang ada di tangan suaminya.

"Mas... Mas Dion, balikin HP aku! Itu mungkin soal kesehatan mama!" teriak Raisa, suaranya pecah oleh kepanikan.

Raisa yang berusaha meraih ponselnya melompat kecil, namun Dion yang lebih tinggi membuatnya tak bisa meraih ponselnya.

"Raisa itu istri saya, kenapa kamu nggak hubungin saya malah istri saya! Kamu Dokter tapi nggak tahu malu ya, menghubungi istri saya!" marah Dion sambil menempelkan ponselnya di telinganya.

"Mas Dion! Dokter Hassan mau ngabarin soal kesehatan mama!" teriak Raisa sekali lagi.

Pagi ini Raisa harus menghadapi suaminya yang posesif, dan berani mengambil ponselnya---rasa cemburu di dadanya memuncak saat sang Dokter berani menelepon istrinya.

"Dengar baik-baik, kamu Dokter urus saja ranah kamu menyembuhkan mama saya! Dan jangan coba kamu hubungin istri saya!" ujarnya.

"Dokter! Berpendidikan tapi senengnya ama istri orang! Nggak ada selera!" lanjutnya dengan emosi terluapkan.

"Astagfirullah Mas Dion!" marah Raisa, karena Dion terdengar memaki-maki sang Dokter.

Tangannya berusaha meraih ponsel yang di pegang tinggi oleh suaminya, ketegangan memuncak di dapur itu.

Raisa tampak meminta dengan wajah pucat, sementara Dion berdiri tegak dengan wajah merah---amarah yang meluap.

Setelah selesai menelepon Dion mematikan ponselnya, dengan cepat di raih oleh Raisa.

"Kamu udah berani save nomer dia!" bentak Dion.

Dion mencengkram pergelangan tangan Raisa dengan kekuatan yang membuat sang istri memekik kesakitan.

Plak!

Satu tamparan melayang di wajah Raisa, membuat mata Raisa berkaca-kaca dan tangan satunya memegang pipinya yang panas.

"Dasar Sundal!" hina Dion di hadapan sang istri.

"Saya punya pelajaran buat sundal kaya kamu!" tunjuk Dion ke wajah Raisa.

Dion langsung menarik Raisa dari dapur dan menyeretnya menuju tangga marmer, Raisa tersandung-sandung dengan benda di sekitarnya.

Raisa mencoba mengimbangi langkah sang suami.

"Mas, sakit! Lepaskan, Mas!" tangis Raisa pecah.

Sesampainya di kamar mereka, Dion membuka pintu dengan tendangan kaki---lalu melempar tubuh Raisa selayaknya hewan.

Tubuh itu terjerembap ke atas lantai marmer yang dingin.

"Mulai sekarang kamu di kurung di kamar ini, kamu akan jadi sundal pribadi saya! Untuk pekerjaan rumah saya akan tambah pelayan dan untuk mama di rumah sakit akan saya sewa suster!" tegasnya.

Dion berjongkok lalu mencengkram dagu Raisa, membuat wanita itu terpekik.

"Kamu di kamar ini, untuk makan dan minum akan diantar. Karena saya nggak mau kamu jadi sundal bagi Dokter itu lagi!" ucap Dion melepas cengkraman itu dengan kasar.

"Mas, tolong... jangan lakukan ini," bisik Raisa di sela isak tangisnya.

Seolah tuli Dion benar-benar mengurung istrinya di kamar, dan hanya menyisakan celah kecil di bawahnya untuk mengantarkan Raisa makanan dan minuman.

Raisa terisak pilu di lantai memeluk lututnya.

"Hiks..Hiks...Ya allah kuatkan hamba...hiks...Menghadapi imam hamba yang terus menyiksa hamba...Hiks," ucapnya sambil terisak.

*

*

*

*

1
Sunarti Narti
Thor ini ceritanya ganti judul,tapi tokonya masih sama,tapi Thor jangan banyak kekerasan dalam rumah tangga, serem baca nya,🙏🙏🙏🙏👍👍👍👍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Putri Sabina: yang ini KDRT, ceritaku yang mayor nggak ada kok kak🥲
total 1 replies
Ma Em
Raisa kamu jgn lemah dong lawan Dion kalau Raisa takut maka Dion akan semakin senang melihat hdp Raisa tersiksa , makanya lawan jgn cuma menangis sdh tanggung Raisa diam tdk melawan disiksa dipukul kalau melawan dipukul wajar tapi kalau diam dan menangis saja lbh parah .
Putri Sabina: gimana mau lawan kak, kan nggak punya penghasilan🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!