Indonesia
NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Nikah Kontrak / Kapten
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Aku Tidak Mau Bercerai

Renata turun ke lantai bawah dengan alat tes terbungkus tisu di dalam saku jubah.

Nathan menunggu di dekat pintu. Ia sudah berganti pakaian untuk pertemuan keluarga, tetapi tatapannya langsung jatuh pada wajah Renata.

“Kamu yakin bisa pergi?”

“Saya cuma perlu ganti baju.”

“Rena.”

“Opa memanggil semua orang. Saya datang.”

Renata kembali ke kamar sebelum Nathan melihat kegelisahan di matanya. Ia menyimpan alat tes itu di dalam kotak kosmetik tanpa berani memeriksa lagi, lalu memilih gaun longgar berwarna gelap.

Sepanjang perjalanan ke Kediaman Halim, telapak tangannya terasa dingin.

Tania mengirim satu pesan.

Semua bukti foto terjadwal dan pesan asli sudah kukirim ke Reno sesuai izinmu. Jangan biarkan Cheryl memutar cerita lagi.

Renata membalas singkat.

Terima kasih.

Saat mereka tiba, ruang keluarga sudah penuh. Opa William duduk di kursi utama. Fransisca, Yovita, Bernard, serta beberapa kerabat dekat berada di kedua sisi. Ponsel di tangan mereka menunjukkan grup keluarga sudah ramai sejak foto penjemputan tersebar.

Cheryl berdiri dekat jendela dengan mata merah. Papan sambutan dari bandara tidak lagi dibawanya, tetapi foto dirinya menunggu Nathan sudah terlanjur beredar.

“Duduk,” kata Opa kepada Renata.

Nathan menarik kursi untuknya. Renata duduk tanpa komentar.

Opa mengetukkan tongkat ke lantai. “Sekarang jelaskan. Kenapa kamu menunggu Nathan di bandara dengan fotografer?”

Cheryl menatap Nathan, bukan Opa.

“Saya nggak membawa fotografer. Mereka mungkin tahu dari petugas bandara.”

“Jadwal terminal khusus tidak terbuka untuk publik,” kata Reno dari dekat pintu.

“Saya cuma ingin menyambut teman lama.” Air mata Cheryl mulai turun. “Setelah semua fitnah tentang saya, saya ingin menunjukkan bahwa hubungan kami bersih. Saya dan Nathan nggak pernah punya hubungan apa pun setelah dia menikah.”

Fransisca berdeham. “Foto lama memang bukan kejahatan. Rena terlalu sensitif karena semua orang sekarang memperhatikan rumah tangga mereka.”

Yovita langsung menatapnya. “Kamu belum belajar dari arisan?”

Wajah Fransisca memerah.

Cheryl menggenggam kedua tangan. “Saya nggak ingin bertengkar dengan Rena. Tapi sejak dia kembali, Nathan menjauh, orang-orang menyerang saya, dan pekerjaan saya terancam. Saya cuma ingin tahu kesalahan saya apa.”

“Kamu menyebarkan foto dengan konteks palsu,” kata Reno.

“Itu kenangan pribadi.”

“Yang diunggah sesuai jadwal ketika Nathan berada satu vila dengan istrinya di Maladewa,” balas Reno.

Ruangan berubah sunyi.

Reno menyalakan layar besar. Catatan waktu unggahan muncul, disusul draf yang dibuat sebelum keberangkatan dan pesan Nathan yang lengkap.

Kenapa kamu mengunggah foto lama?

Berhenti. Jangan buat masalah lagi.

Hapus foto-foto itu. Jangan hubungi Rena atau keluargaku.

Tidak ada kata mesra. Tidak ada rayuan. Hanya tiga batas yang sengaja dipotong Cheryl ketika ia memberi tangkapan layar kepada akun gosip.

Reno menampilkan bukti berikutnya. Dalam salinan yang beredar, bagian waktu dipotong. Foto lama Nathan dipasangkan dengan balasan Cheryl pagi ini, menciptakan kesan keduanya baru saja mengenang masa lalu bersama.

“Ini bukan salah paham,” kata Reno. “Dua waktu berbeda disusun agar tampak sebagai satu percakapan.”

Tania juga menyerahkan invoice promosi dari akun yang sama dengan kampanye arisan. Nama Cheryl tidak tercetak sebagai pembayar, tetapi nomor penghubung cocok dengan nomor yang mengirim voice note ancaman kepada Renata.

Rekaman enam detik diputar.

Kamu pikir sudah menang? Nathan tetap milikku.

Suara Cheryl memenuhi ruangan.

Nathan menoleh kepada Renata dengan wajah menegang. “Kapan dia mengirim ini?”

“Setelah kampanye arisan dibongkar.”

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Karena selama ini mengatakan sesuatu kepadamu tidak pernah berarti kamu akan percaya.”

Kalimat itu membuat Nathan tak mampu bergerak.

Cheryl memucat. “Kalian mengambil data pribadiku.”

“Bukti jadwal berasal dari salinan kampanye yang dikirim ke akun publik,” jelas Reno. “Pesan Nathan berasal dari ponselnya sendiri. Tidak ada yang masuk ke akunmu.”

Opa menatap Cheryl. “Masih mau bilang ini kebetulan?”

“Saya hanya ingin Rena tahu saya dan Nathan punya sejarah. Itu benar.”

“Sejarah bukan izin mengganggu perkawinan orang,” kata Bernard.

Cheryl beralih kepada Nathan. Air matanya semakin deras.

“Nate, kamu tahu aku nggak berniat jahat. Aku panik karena kamu tiba-tiba memblokirku. Rena membuatmu membuang semua orang yang mengenalmu sebelum dia.”

Renata tidak bicara. Selama tiga tahun, momen seperti ini selalu berakhir sama. Cheryl menangis, Nathan berdiri, lalu seluruh kesalahan berpindah kepada Renata.

Fransisca tampaknya mengandalkan pola yang sama.

“Nathan, kamu harus adil,” katanya. “Cheryl memang salah unggah foto, tapi dia menyelamatkan hidupmu dulu. Jangan mempermalukannya hanya karena Rena cemburu.”

Nathan bangkit.

Cheryl menatapnya dengan harapan.

Namun lelaki itu tidak berjalan ke arahnya. Ia berdiri di samping kursi Renata.

“Rena nggak membuatku memblokirmu,” katanya. “Aku yang memutuskan.”

Wajah Cheryl kehilangan warna.

“Kamu memakai foto lama, fotografer, akun gosip, dan keluargaku untuk membuat istriku percaya aku masih memilihmu.” Suara Nathan dingin dan jelas. “Aku sudah bilang berhenti. Kamu tetap datang ke bandara.”

“Aku cuma takut kehilanganmu.”

“Kamu nggak pernah memilikiku.”

Kalimat itu menimbulkan bisik di seluruh ruangan. Beberapa kerabat langsung mengetik di grup keluarga meski duduk hanya beberapa kursi terpisah.

Grup keluarga berbunyi berturut-turut.

Tante Vita: Akhirnya Nathan bicara jelas.

Om Bernard: Jangan sebarkan keluar sebelum Papa selesai.

Kerabat lain: Jadi selama ini Cheryl sengaja membuat kesan mereka masih bersama?

Opa William mengangkat tangan, dan suara berhenti.

Ia menatap Nathan. “Kamu sudah tahu Rena mau melanjutkan cerai. Setelah semua ini, jawabanmu apa?”

Nathan memandang Renata.

Di Maladewa, ia menyadari perempuan itu dapat membangun hidup tanpa dirinya. Di pesawat, jaketnya dikembalikan. Di bandara, Renata berjalan turun sebelum ia sempat menahan.

Selama ini Nathan mengira pernikahan mereka selalu menunggu di Puri, sama seperti lampu teras dan sarapan Bik Inah. Baru ketika Renata benar-benar menarik diri, ia memahami bahwa rumah itu tidak pernah menjanjikan keabadian.

“Aku tidak mau bercerai,” katanya.

Tak ada keraguan dalam suaranya.

Opa William tidak langsung tersenyum. “Jangan menjawab hanya karena takut kehilangan. Besok kalau Cheryl menangis lagi, apakah jawabanmu berubah?”

“Tidak.”

“Kalau Rena tetap nggak memaafkan?”

Nathan menelan napas. “Hak Rena untuk menolak. Jawabanku tetap sama.”

“Kalau Vila Kenari sudah kembali dan dia pergi dari Puri?”

“Aku tetap mengembalikan rumah itu. Aku nggak akan menahannya dengan harta.”

Opa menatapnya lama, mengukur apakah cucunya memahami perbedaan antara mempertahankan dan mengurung.

“Kalau begitu, jangan minta keluarga menekan Rena,” katanya. “Kamu yang merusak, kamu sendiri yang memperbaiki. Kalau dia memilih pergi, tanggung akibatnya.”

Nathan mengangguk. “Saya mengerti.”

Renata mendengarkan tanpa merasa menang. Setidaknya untuk pertama kalinya, percakapan tentang hidupnya tidak berakhir dengan orang lain memutuskan kewajibannya untuk tinggal.

Ruangan meledak oleh bisikan.

Fransisca menjatuhkan ponsel ke sofa. Yovita menutup mulut, menahan seruan. Reno memandang Nathan seolah ingin memastikan ia tidak salah dengar.

Cheryl mundur satu langkah.

“Apa?”

Nathan tetap melihat Renata. “Aku akan menjalankan seluruh kewajiban perjanjian. Vila Kenari tetap dikembalikan. Aku nggak akan memakai Opa atau harta untuk memaksamu tinggal. Tapi kalau kamu bertanya apa yang kuinginkan, aku nggak ingin bercerai.”

Untuk sesaat, jantung Renata berdebar keras.

Inilah kalimat yang pernah ia tunggu tiga tahun. Nathan mengatakannya di depan keluarga, di depan Cheryl, tanpa menyembunyikan statusnya.

Kalimat itu tetap datang terlambat.

“Kamu tidak mau cerai,” jawab Renata, “bukan berarti aku mau melanjutkan.”

Nathan tampak terpukul, tetapi tidak membantah.

Cheryl justru kehilangan kendali. “Kamu serius memilih dia setelah semua yang kulakukan? Aku yang menemanimu saat Prima belum punya apa-apa. Aku yang menyelamatkan hidupmu!”

Nathan menoleh perlahan. “Itu juga sedang diperiksa.”

Ketakutan melintas di mata Cheryl.

Opa menangkapnya. “Apa yang kamu takutkan?”

“Nggak ada.”

“Kalau begitu tunggu hasilnya.” Opa memberi isyarat kepada staf. “Untuk malam ini, pulang. Jangan masuk rumah ini lagi tanpa undangan.”

Fransisca berdiri canggung dan memegang lengan Cheryl. “Ayo. Jangan tambah masalah.”

Cheryl menarik diri, tetapi akhirnya mengikuti karena semua mata menatapnya. Sebelum keluar, ia melempar pandangan penuh kebencian kepada Renata.

Renata berdiri. Rasa mual kembali naik.

“Saya juga mau pulang.”

“Rena,” panggil Opa lembut.

“Saya butuh udara.”

Ia berjalan keluar dari ruang keluarga. Nathan menyusul.

Di teras, udara malam terasa lebih dingin. Renata memegang pagar sebentar sampai rasa mual turun.

Nathan berdiri di belakangnya. “Aku nggak berharap kamu langsung percaya.”

“Bagus.”

“Tapi beri aku satu kesempatan untuk membuktikan.”

Renata berbalik. “Kesempatan bukan sesuatu yang bisa kamu umumkan lalu wajib kuberikan.”

“Aku tahu.”

“Kamu baru tahu.”

Nathan mendekat satu langkah, tetapi menjaga jarak. “Kalau perlu, aku mulai dari nol.”

“Nol berarti kamu bukan suamiku yang bisa meminta penjelasan, mengatur klien, atau menentukan kapan aku pulang.”

“Baik.”

“Nol berarti kamu nggak mendapat kepercayaan hanya karena mengatakan hal yang benar satu kali.”

“Aku tahu.”

“Dan kalau aku tetap memilih cerai, kamu menepati perjanjian.”

Wajah Nathan jelas menolak kemungkinan itu, tetapi akhirnya ia mengangguk.

“Aku akan menepatinya. Sampai hari itu, izinkan aku mencoba tanpa memaksamu menjawab.”

Renata ingin mengatakan upaya Nathan hanya akan membuat sisa waktu semakin rumit. Ia juga ingin mengatakan bahwa dirinya mungkin membawa rahasia yang dapat mengubah seluruh aturan.

Renata hendak menjawab. Tiba-tiba pandangannya menggelap di tepi. Lantai terasa bergeser.

Tangannya meraih kusen pintu.

Nathan menangkap bahunya sebelum ia jatuh.

“Rena!”

Wajah lelaki itu berubah panik. “Kamu kenapa?”

Renata menahan perut dengan satu tangan, sementara alat tes yang belum sempat ia lihat terasa seperti rahasia yang membakar di saku gaunnya.

1
Siti Kamisah Hasnul
Ya Allah sedihnya
Bulan-³
yuk mulai dari awal dengan lebih baik lagi
yuqana
berhasil bikin aku nangis bombay kak, 😭😭😭😭
tri septi
oh, Tante Sisca yang tantenya Nathan sering merendahkan Rena 😣 bisa ada kemungkinan kaitan dengan Cheryl ga? kok ada nyangkut angkasa juga🤔
tri septi
Tante Sisca siapa lagi ya.....🤔 apa harus scroll ke atas🤔🤭😄
Siti Kamisah Hasnul
😍
tri septi
keras kepala 😔
tri septi
penyesalan pada akhirnya 🌧️🌧️🌧️
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
kasihan opa, nama basar keluarga disalah gunakan anaknya dijadikan tameng untuk menutupi kejahatan mereka
tri septi
semangat thor💪
tri septi
mengapa Cheryl kekeh merebut Nathan dan niat menjadi pelakor ? apakah ada keturunan ?😣🤔🤔
tri septi
Cheryl, bisa2nya mengaku-ngaku karya orang lain , oh malunya....😄😄😄😄 🤭
tri septi
lanjut thor 👍💪
tri septi
jadi belibet ya 🤭😄
tri septi
apa itu 🤭
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
banyak kasus dan nama yang perlu pembaca cari sendiri hubungannya
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
jangan terlalu memaksa,, turutilah keinginan Rena
Siti Kamisah Hasnul
lanjutttt.....serruuuuu👍
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
Nathan gak sabaran
𝐙⃝🦜M⃟3💋eRo
wowww bom update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!