Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Berapa Harganya?
Seluruh tubuh Livia kehilangan tenaga.
Keenan baru saja minum. Aroma alkohol yang ringan dan sedikit manis tertinggal dalam napasnya, kemudian bercampur di antara napas mereka.
Pria itu mencium tanpa menahan diri. Ciuman yang semula dangkal berubah semakin dalam, sampai Livia hampir kehabisan udara.
Satu tangan Keenan terus menahan belakang kepalanya. Livia tidak punya jalan untuk menghindar.
Ketegangan memenuhi ruang VIP yang sunyi.
Baru ketika napas Livia benar-benar kacau, Keenan akhirnya melepaskannya.
Livia bertumpu pada dada pria itu untuk bangkit dan duduk tegak. Ia menekan dada sendiri sambil terengah-engah, menghirup udara sebanyak mungkin.
"Bagaimana rasanya menciumku? Nyaman?"
Keenan memandang wajah Livia yang merah sampai ke telinga dan mengajukan pertanyaan tanpa sedikit pun rasa malu.
Nyaman dari mana? Ia hampir kehabisan napas!
Livia mengatupkan bibir dengan kesal. Namun ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya, sehingga hanya bisa mengangguk sambil memaksakan senyum.
"Nya-nyaman."
Benar-benar patuh.
Keenan mengangkat alis.
Dibanding ciuman singkat semalam, ia jauh lebih menyukai kedekatan barusan. Terutama ketika ia dapat menguasai keadaan, sedangkan Livia tak punya pilihan selain bertahan.
Livia jelas merasakan hal sebaliknya.
Keenan tidak membongkar kebohongannya. Ia mengangkat tangan dan menyapu lembut bibir Livia yang sedikit memerah dengan ibu jari.
"Bagaimana dengan mawar birunya? Kau menyukainya?"
Benar, bunga itu memang darinya.
Livia mengerutkan kening.
Ia tidak akan menerima pengejaran Keenan. Ia juga tidak ingin kembali diberi cap sebagai "perempuan miliknya". Karena itu, Livia langsung menggeleng tanpa ragu.
"Tidak suka."
Keenan mengambil sebatang rokok dari kotak di atas meja kaca. Namun ketika melihat Livia terus menatapnya, entah mengapa ia memasukkan rokok itu kembali.
"Kenapa?"
Pikiran Livia berputar cepat. Begitu menemukan alasan, ia langsung mulai mengarang.
"Mawar hanya bagus dilihat. Secantik apa pun saat mekar, suatu hari pasti layu. Tidak berguna dan tidak bisa dijual mahal. Untuk orang sebesar Tuan Keenan, mengejar perempuan hanya dengan penghangat tangan dan bunga terasa terlalu pelit."
"Pelit?"
Keenan tertawa. Ia mengangkat dagu ke arah Livia.
"Kalau yang itu? Masih pelit?"
Livia mengikuti arah pandangannya dan menunduk ke dada kiri. Barulah ia menyadari ada benda asing yang entah sejak kapan terpasang pada mantel wolnya.
Sebuah bros kupu-kupu dari safir biru.
Sayapnya dibentuk oleh deretan berlian kecil yang dipilih dan dipotong dengan sangat teliti. Kilauannya tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menarik seluruh cahaya di ruangan.
Safir di bagian tengah berwarna biru pekat dan misterius, seperti bintang paling terang di langit malam.
Yang paling mengejutkan, bentuk, warna, dan setiap lekuk pola bros tersebut sama persis dengan tato kupu-kupu di bahu Livia.
Tidak ada satu detail pun yang berbeda.
Baru sehari berlalu. Keenan hanya melihat tatonya sekilas.
Bagaimana pria itu bisa membuat benda seperti ini?
Tanpa sadar, Livia mengulurkan tangan dan menyentuhnya.
Ujung bros yang dingin mengenai jari, tetapi entah mengapa rasa itu seperti menembus sampai ke dalam dada. Livia diam-diam menarik napas panjang.
"Jawab."
Keenan mengangkat kelopak mata dengan malas, lalu mendekat ke telinga Livia. Lengan kanannya diletakkan santai pada sandaran di belakang gadis itu, seakan setengah memeluknya.
"Bros ini cukup berharga. Kau menyukainya?"
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Livia justru, "Berapa harganya?"
"Harganya..."
Keenan menatap matanya yang berkilau dan kehilangan kata-kata sejenak.
"Tiga ratus ribu."
Wajah Livia tidak berubah. Ia bahkan terlihat sedikit kecewa dan hendak melepaskan bros itu.
Keenan menahan emosinya, lalu menambahkan satu kata.
"Dolar."
Gerakan Livia langsung berhenti.
Tiga ratus ribu dolar Amerika berarti hampir empat miliar delapan ratus juta rupiah!
Tangannya yang semula hendak melepas bros berubah menjadi belaian sangat lembut. Dengan hati-hati, ia menyentuh seluruh bagian kupu-kupu itu sambil bergumam.
"Bagus. Yang ini sangat bagus..."
Kalau bisa ditukar menjadi uang tunai, pasti jauh lebih baik.
Mata Livia melengkung karena senang. Ujung alisnya ikut terangkat.
Orang kaya biasanya paling membenci perempuan materialistis yang hanya mengejar uang dan kekuasaan. Jika bersikap seperti itu bisa memberinya hadiah sekaligus membuat Keenan muak, Livia bersedia memainkan peran tersebut selama mungkin.
Dengan pikiran itu, ia menoleh tanpa ragu, mendongak, lalu mengecup pipi kiri Keenan.
Cup!
Livia berkedip manis kepadanya.
"Terima kasih, Tuan Keenan! Tuan benar-benar murah hati."
"Heh."
Keenan tersenyum puas dan menatapnya dari jarak dekat.
"Ternyata kau memang mata duitan kecil."
Ternyata?
Livia tidak memahami maksud kata itu, tetapi tetap mengangguk tanpa sedikit pun merasa malu.
"Dibanding payung yang dimiringkan ke arahku saat hujan, aku lebih menyukai mobil mahal yang benar-benar melindungiku dari angin dan hujan. Aku juga menyukai uang yang tidak akan habis meski dipakai bersenang-senang seumur hidup."
Ia berbicara dengan sangat serius sambil mengamati mata biru Keenan yang semakin dalam.
Di dalam hati, Livia gugup sekaligus bersemangat.
Benar. Seperti itu. Marahlah. Sebut aku murahan, lalu segera suruh aku pergi!
Ia hampir tidak bisa menahan senyum karena terlalu berharap. Namun Keenan terus diam, membuatnya semakin gelisah.
Akhirnya, Livia mencoba bertanya, "Tuan Keenan, semua orang menyukai uang. Perkataanku tidak salah, kan?"
"Tidak salah."
Sudut bibir Keenan melengkung penuh arti. Ia tiba-tiba membungkuk, membiarkan napas hangat menyapu telinga Livia, lalu menggigit daun telinganya pelan.
"Nona Livia, satu hal yang paling tidak pernah kurang dariku adalah... uang."
Hati Livia menegang.
"Apa maksudmu?"
"Sebutkan hargamu."
Bibir Keenan menyapu telinganya dan berhenti di sisi leher. Ia menghirup aroma Livia seolah tidak pernah puas.
"Berapa banyak yang kau inginkan agar bersedia menjadi perempuanku?"
Livia sama sekali tidak menduga Keenan akan bereaksi seperti ini.
Melihat gejolak terang-terangan di mata pria itu dan merasakan napas panas di leher, ia mempunyai firasat bahwa Keenan akan langsung menyetujui angka apa pun, lalu menuntut imbalannya saat itu juga.
Livia tersenyum getir dan mendorong bahunya.
"Tuan Keenan... aku sangat mahal. Aku belum sempat memikirkannya. Beri aku sedikit waktu."
"Berapa lama? Aku tidak terlalu sabar."
"Aku..."
"Tuan Keenan."
Suara Tegar terdengar dari luar. Ia mengetuk pintu dengan ragu.
"Ada telepon dari Bos Wendra, Geng Kayu Hijau."
Livia langsung bersukacita seolah menemukan tali penyelamat.
"Masuk!"
Setelah menjawab lebih cepat daripada tuan rumah, ia segera menatap Keenan.
"Tuan Keenan, Bos Wendra pasti menelepon karena masalah Codet. Dia sudah bertahun-tahun berkuasa di Kota Kayan, terkenal kejam dan suka menggunakan cara licik. Semua orang takut kepadanya. Kalau masih bisa berdamai, sebaiknya jangan menjadi musuh. Aku tidak akan mengganggu urusan pentingmu. Aku pergi dulu."
Tanpa menunggu Keenan menjawab, Livia mendorongnya dan buru-buru berdiri.
Tepat ketika Tegar membuka pintu, ia membungkuk dan melesat melewati bawah lengannya.
Livia berlari tanpa menoleh sedikit pun.