Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 10: Persiapan Festival dan Perasaan yang Semakin Jelas
Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan sangat sibuk namun penuh kebahagiaan. Setiap hari sepulang sekolah, kami berempat berkumpul di salah satu ruang kosong untuk merencanakan segala hal tentang stan kue kami. Ethan dengan ketelitian dan ketegasannya mengatur desain stan, memilih warna-warna yang lembut dan ceria, serta menyusun tata letak agar pelanggan bisa dilayani dengan cepat dan nyaman. Mark dengan kemampuan organisasinya yang luar biasa mengurus semua kebutuhan, mulai dari meja, kursi, hingga bahan-bahan kue, serta berkoordinasi dengan panitia agar kami mendapatkan tempat yang strategis. Elena bertugas mengurus daftar menu dan dekorasi tambahan, sementara aku bertugas meracik resep-resep kue yang lezat dan memastikan rasanya sempurna. Kami bekerja sama dengan sangat baik, saling melengkapi kekurangan satu sama lain tanpa ada yang merasa terbebani.
Suatu sore, saat kami sedang menyusun daftar bahan kue, aku tidak sengaja menumpahkan gelas air ke atas kertas catatan yang sedang ditulis Ethan. Aku panik dan segera mengambil tisu untuk mengelapnya, namun kertas itu sudah basah dan tulisannya menjadi buram.
"Maaf! Maaf sekali, Ethan! Aku tidak sengaja!" seruku dengan wajah memerah karena malu dan takut dia marah.
Ethan menatap kertas basah itu sejenak, lalu menatapku yang terlihat sangat cemas dan bersalah. Bukannya marah, dia justru tersenyum lembut dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Lily. Ini bukan masalah besar. Kita bisa menulis ulang. Kau tidak perlu merasa bersalah begitu."
Mark yang sedang menyusun daftar bahan di sisi lain meja tertawa pelan. "Lihatlah itu. Dulu kalau ada orang yang menumpahkan sesuatu di dekatnya, dia pasti langsung pergi dengan wajah masam. Sekarang? Dia bahkan tidak marah walau catatannya rusak. Benar-benar berubah, bukan?"
Ethan tersenyum malu namun tidak membantah. Dia menatapku lekat-lekat, matanya penuh kelembutan. "Itu karena orang yang menumpahkannya adalah kau, Lily. Bagiku, kesalahan kecilmu jauh lebih tidak berarti dibandingkan melihatmu tersenyum kembali."
Wajahku memerah semakin dalam, dan aku menunduk untuk menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba menyerangku. Jantungku berdegup kencang sekali, begitu cepat hingga rasanya aku tidak bisa bernapas dengan tenang. Di sudut ruangan, Mark melihat itu semua dan perlahan menunduk, menyembunyikan kesedihan yang sesaat muncul di matanya. Dia tahu—dia sudah tahu sejak lama bahwa hatiku condong ke arah Ethan. Tapi dia tetap tersenyum dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak membiarkan hal itu merusak kebahagiaan kami berdua.
Malam itu, saat aku pulang ke rumah, aku duduk di tepi tempat tidur sambil memegang cangkir teh hangat yang disiapkan Tante Lisa. Pikiranku terus kembali ke tatapan Ethan sore itu—tatapan yang begitu tulus, begitu dalam, dan begitu penuh kasih sayang. Aku mulai menyadari sesuatu yang selama ini aku sembunyikan bahkan dari diriku sendiri: hatiku sudah memilih. Dan pilihannya adalah Ethan. Namun aku takut—takut menyakiti Mark, takut merusak persahabatan kami, dan takut bahwa perasaanku ini hanya sementara dan akan berakhir menyakitkan bagi kami semua.
"Kau sedang memikirkan sesuatu yang berat, Nona?" tanya Tante Lisa pelan saat masuk ke kamar untuk mengambil nampan kosong.
Aku mendongak dan menatapnya dengan tatapan bingung. "Tante… bagaimana kalau aku menyukai seseorang, tapi ada orang lain yang juga menyukaiku dan dia orang yang sangat baik? Bagaimana caranya aku memilih tanpa menyakiti salah satu dari mereka?"
Tante Lisa tersenyum lembut dan duduk di tepi tempat tidur di sampingku. "Nona, dalam hal cinta, tidak ada cara untuk memilih tanpa menyakiti sama sekali. Tapi yang paling penting adalah jujur pada hatimu sendiri. Kalau kau memilih karena rasa kasihan atau takut menyakiti, justru kau akan menyakiti mereka berdua lebih dalam di masa depan. Jujurlah pada dirimu, dan biarkan waktu yang menyembuhkan luka yang ada. Orang yang benar-benar menyayangimu akan mengerti dan menghargai keputusanmu."
Kata-kata Tante Lisa seperti cahaya yang menerangi kegelapan di hatiku. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku akan jujur pada hatiku sendiri, dan aku akan memberitahu mereka berdua dengan cara yang paling baik dan tulus. Namun… mungkin belum sekarang. Aku ingin menunggu sampai festival selesai, agar momen bahagia kami tidak ternoda oleh perpisahan atau kesedihan. Dan setelah itu… aku akan berbicara dengan mereka berdua.
Dengan hati yang lebih tenang dan penuh keyakinan, aku berbaring dan memejamkan mata. Besok adalah hari pertama festival, dan aku harus memastikan semuanya berjalan dengan sempurna untuk teman-temanku, untuk sekolahku, dan untuk diriku sendiri.