Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belut Raksasa

Kakiku terikat, lilitan rumput sangat kuat.

Gelembung air keluar dari hidungku.

Aku merasa sesak.

Sambil berenang teringat akan pisau bedahku yang terselip di saku lengan jubahku.

Aku menunduk memotong rumput, terlepas dari ikatan berusaha naik ke permukaan.

Mahluk berwarna hitam mendekat, sekarang ku lihat dengan jelas, belut raksasa.

Mahluk itu menyeretku dengan menarik kain jubahku, aku terseret masuk lebih dalam hampir kehabisan nafas, rambutku tergerai bebas di dalam air,

Aku berusaha sekuat tenaga melawan, untuk kembali ke permukaan.

Saat berada di samping tubuh belut, kutancapkan pisau bedahku di kulitnya, mantra yang terpatri dalam pikiranku kurapalkan, cahaya keemasan merobek tubuh belut raksasa.

Kugoreskan luka sejauh yang aku bisa, darah membuncah di dalam air.

Aku berenang ke permukaan.

Naik ke daratan terdekat, pinggiran pantai

Jubah putihku berlumuran darah, aku muntah, kupandangi sekelilingku.

Perahu-perahu selamat.

Semua perahu merapat di pinggir sungai.

Putri Rena berlari ke arahku,

“Jangan mendekat” pintaku.

Aku banyak muntah, dari ujung kepala sampai kaki, tubuhku berbau anyir darah.

Aku bergerak mengatur napas, dengan tenaga yang tersisa.

Kupandangi sungai, mayat belut raksasa itu muncul ke permukaan air sungai, air sungai berubah menjadi darah.

Aku mengigil kedinginan,

Mendekat ke sungai lagi, melihat belut itu masuk tersedot pusaran hitam lalu air sungai menjadi jernih.

Pengawal membawakan beberapa tong air bersih, untukku membersihkan tubuh, di balik batu yang besar aku bersender.

Aku teringat melihat Swanzi jelas di dalam sungai itu. Saat aku memutuskan rumput yang melilit kakiku tadi.

“Mayanza bagaimana keadaanmu?” tanya Putri Rena yang menungguku di balik batu.

Aku keluar dalam keadaan bersih.

Pakaian yang kukenakan tadi, kuminta Pengawal menguburkannya di tanah pinggiran sungai.

Kami melanjutkan berlayar.

**

Tubuhku terasa dingin, aku mengenakan jubah tebal berwarna biru.

Rambutku terurai basah.

Kami turun dari perahu, perkampungan kering, angin yang berhembus terasa bau.

Kami melangkahkan kaki masuk ke perkampungan, kumuh.

Aku, Putri Rena dan Dayang menggunakan masker kain yang sudah kusiapkan.

Kami berjalan menuju rumah tabib.

Tubuh Pasien seperti terkena cacar air, melepuh.

“Putri Rena, sebaiknya kalian berdua beristirahat, jangan mendekati warga yang sakit dulu, kondisi kesehatan kalian sedang tidak baik karena kelelahan”, Putri Rena mengangguk mereka menuju rumah penginapan yang disediakan.

Tubuhku terasa gatal, aku sudah mandi bersih untuk menghilangkan darah belut.

Perlahan aku buka kain jubah di tanganku, lenganku mulai melepuh mengeluarkan bentol-bentol berair.

Aku berusaha tenang,

Membantu meracik obat-obatan alami.

Tubuhku terasa sangat lemas, dua kali aku merasakan hampir hilang kesadaran.

Api perapian merebus obat terus membuat wajahku terasa panas, aku bercermin di air sumur, leherku mulai memerah.

Aku masuk ke bilik, merapalkan mantra.

Kembali ke duniaku.

**

Kamar mandi bersih, kubasuh seluruh tubuhku dengan sabun antiseptik.

Keluar dari kamar mandi.

“Raja Yuko, apa yang kau lakukan disini” aku terkejut ketika keluar dari kamar mandi melihat Raja Yuko duduk di sofa kamarku.

Aku mengambil baju di lemari lalu buru-buru berganti kembali ke kamar mandi.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku lagi.

“Kenapa kau kembali?” kata Raja Yuko.

Dia tidak menjawab pertanyaanku.

“Jangan mendekat” aku terserang wabah, aku mencegahnya mendekat.

Aku mengambil obat di laci, meminumnya.

Tubuhku terasa sakit dan demam.

“Kembalilah dulu ke negerimu, aku akan kembali setelah membaik” kataku.

“Aku masih ada urusan disini” katanya.

“Dengan pakaianmu begitu tentu kamu tidak bisa keluar dari rumah ini”

Perlahan aku membuka lemari.

Kupinjamkan Kaos dan Celana Pendek dari lemari.

“Pakailah ini dulu” kataku menyuruh mengganti Jubah merahnya.

Raja Yuko mengganti pakaian di kamar mandi.

**

Ketukan pintu kamar,

“Masuklah tidak dikunci” kataku di balik selimut.

“Nona apakah Nona baik-baik saja”

“Aku sedikit sakit, bisakah makanan diantar ke kamar” pintaku pada pelayan.

“Baik Nona…” pelayan pergi, mengantarkan makan malam.

Aku makan, dan mengajak Raja Yuko makan malam di kamar. Kami duduk berjauhan.

“Kondisiku semakin memburuk” aku membuka tangan dan kakiku melepuh leher dan pipiku mulai tumbuh bintik merah.

“Apa kau belum menemukan obatnya?” katanya.

“Aku pikir aku belum tau obatnya” aku menggigil dan terasa sangat perih.

Padahal obat-obatan yang kuminum tadi biasanya ampuh untuk infeksi kulit dan bakteri.

Raja Yuko mendekat.

“Jangan mendekat nanti tertular”, aku dibalik selimut.

Menyentuh tanganku, merapalkan mantra.

meniup kulit tanganku yang melepuh tubuhku yang panas dan kulitku yang gatal terasa dingin mataku mengantuk.

Aku tertidur, saat aku bangun aku sudah kembali di bilik Desa Barat.

**

Dayang mengelap keringatku yang menetes di dahi.

Apa semalam aku hanya bermimpi.

Aku melihat sekeliling.

“Nona…Nona istirahat saja” kata Dayang.

Aku duduk dari tempatku berbaring, Kulihat kulitku sudah di oles salep racikan tabib.

Aku mengambil cermin bulat yang ada di sisi ruangan, melepuh kulitku mengempis.

“Raja Yuko kemana?” tanyaku.

“Baginda di Istana dia tidak berada di sini Nona” kata Dayang.

Aku mengangguk.

**

Raja Yuko VIII adalah murid Tabib Zhi tentu saja dia mengerti ilmu pengobatan, aku terserang wabah seperti warga desa, di desa ini kurang kebersihan dan mereka mengambil air dari sungai yang tercemar kotoran belut raksasa.

Sekarang belut itu sudah mati, air yang di sungai sudah bersih tidak tercemar lagi.

Setelah membaik, pengawal dan warga desa mulai membersihkan lingkungan.

Aku, Putri Rena dan Dayang ikut memasak dan menyiapkan makanan sehat untuk warga desa.

Kulitku kembali normal. Warga yang terserang wabah juga sudah membaik.

Malam ini turun hujan, aku menginap di bilik kediaman tabib.

Besok pagi kami kembali ke Istana.

**

“Ibu…” Putri Rena kembali setelah perjalanan panjang yang melelahkan memeluk Permaisuri.

Aku pamit ke kediamanku di Istana Timur.

Masuk ke kamar tidur berbaring di Kasur Beralaskan Sutra.

Mataku menutup karena mengantuk.

“Betah sekali disini” aku bangun, sejak kapan Raja Yuko masuk ke kamarku.

“Tidak juga, aku lelah setelah ikut berkerja sosial” jawabku asal.

Raja Yuko meninggalkan kamarku, dia mengenakan Jubah yang kemarin dia gunakan di kamarku.

Aku melingkarkan jari membentuk portal kembali berbaring ke kamarku.

**

Angin sore hari yang sejuk, masuk ke kamar tidurku.

Aku terbangun mandi dan berganti pakaian, turun ke bawah siap berangkat berkerja.

“Nona, apakah Nona sudah mendapat kabar dari Tuan dan Nyonya?” tanya Pelayan.

Aku mengecek HPku di dalam tas.

Sepuluh panggilan tidak terjawab Paman Andrew.

“Paman, maafkan aku..terlambat menghubungi” kataku

“Ayah dan Ibumu kecelakaan, pesawat lokal yang mereka tumpangi jatuh ke jurang”

“Apa? Bagaimana sekarang” aku panik.

“Tenang saja ada Rey dan Judith, mereka baik-baik saja”

**

Raja Yuko ke tempat ini pasti ada tujuannya, dan selama ini dia bisa bebas menembus portal masuk ke duniaku, sejak kapan dia bisa masuk ke duniaku dengan mudah?

**

“Bu.. bagaimana keadaanmu” kataku.

Ibu terbaring lemah, ayah tertidur di ranjang perawatan di sebelahnya.

Aku terus menangis.

“Mayanza..tidak apa-apa yang penting kamu baik-baik saja”, Ibu memang selalu begitu.

Sudah tau dia yang sakit malah mengkhawatirkan aku.

“Aku baik-baik saja bu, tenang saja” kataku.

Tubuh ayah dan ibu terkena benturan, beruntung mereka semua selamat termasuk pilot.

Dari cerita yang aku dengar, pesawat mereka jatuh ada kabut hitam saat penerbangan angin kencang pesawat mereka meluncur jatuh hilang keseimbangan ke jurang, ada cahaya putih, setelah mereka mendarat darurat diatas pasir awan berubah cerah.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!