Indonesia
NovelToon NovelToon
Keira: Tersisihkan Dari Keluarga

Keira: Tersisihkan Dari Keluarga

Status: tamat
Genre:Penyesalan Keluarga / Teen Angst / Teen School/College / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.

Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Sakit..."

Seluruh tubuhnya terasa nyeri, seolah tak lagi mampu merasakan apa-apa selain rasa sakit yang melanda. Biasanya, jika tubuhnya terasa demikian, demam pasti segera menyusul.

Dan kali ini pun, ia tahu ia akan melewati hari-hari penuh rasa sakit sendirian, sebab pengasuhnya pulang ke kampung halaman.

"Tubuhku, kumohon janganlah jatuh sakit dulu. Tunggulah hingga pengasuhku kembali, baru boleh kau jatuh sakit," ucap Keira lembut kepada dirinya sendiri. Entah mengapa, namun begitulah yang selalu ia ucapkan dalam hati setiap kali tubuhnya tak sanggup lagi menahan rasa sakit.

Keira kini duduk di ruang belajarnya. Esok hari akan ada ujian, dan ia harus belajar. Namun tubuhnya terasa tak sanggup bergerak.

Terlebih lagi, beberapa hari belakangan ini ia nyaris tak pernah terlelap. Bagaimana mungkin ia bisa tidur nyenyak, punggungnya penuh luka yang senantiasa terasa perih? Setiap gerak terasa tak nyaman.

Namun Keira tetap berusaha berkonsentrasi pada buku di hadapannya, menahan setiap rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh. Satu jam berlalu, dua jam, tiga jam... ia habiskan waktunya untuk belajar meski tubuhnya merintih lemah.

Hingga kepalanya pun terasa berputar. Ia memejamkan mata sejenak, berharap rasa pening itu akan hilang.

Namun bukannya membaik, keadaan justru makin buruk. Hidungnya pun terasa hangat, cairan merah perlahan mengalir turun.

Keira pun berjalan gontai menuju kamar mandi, membersihkan darah yang menetes dari hidungnya.

Setelah darah itu berhenti mengalir, ia kembali ke meja belajarnya. Mengabaikan bekas noda merah yang masih tampak di lantai dan di tepi meja, ia kembali duduk seolah tak terjadi apa-apa.

Ia merasa pelajaran yang dipelajarinya sudah cukup. Berjalan menuju tempat tidurnya, ia pun berbaring. Kini lukanya di punggung telah mengering di beberapa bagian, sehingga ia tak lagi harus berbaring telungkup seperti sebelumnya. Seharusnya ia kini bisa terlelap dengan tenang.

Namun mengapa rasa sakit itu tak lagi hanya di punggungnya? Seluruh tubuhnya kini terasa nyeri, seolah tulang-tulangnya pun ikut remuk. Dalam keadaan demikian, bagaimana mungkin ia bisa tidur?

'Tak ada pilihan lain.. aku harus tidur, agar tak terlambat menghadapi ujian esok'

Keira bangkit kembali, mengambil sebutir obat penenang dari lemari, obat yang diketahuinya dapat membantu tidur. Ia meminumnya tanpa air, lalu kembali berbaring. Tak lama kemudian, kelopak matanya pun terasa berat, dan ia pun terlelap dalam kelelahan yang mendalam.

"Bagus sekali, Keira. Pertahankan prestasimu ini," ucap Bu Susi, guru Matematika yang mengajar di kelasnya. Beliau menyerahkan lembar kertas hasil ujian itu kepadanya, disana tertulis angka sembilan puluh lima dengan tinta merah yang nyata.

"Terima kasih, Bu," jawab Keira tersenyum tulus. Ia menerima lembaran itu dengan rasa bangga di hatinya.

Belum sempurna, memang, namun ia berhasil menyelesaikannya sendiri tanpa mencontek seperti yang dilakukan banyak temannya.

"Sama-sama, Nak," ucap Bu Susi sambil tersenyum, lalu beranjak memberikan hasil ujian kepada murid yang lain.

"Bangga sekali tampaknya. Pasti kau mencontek, bukan?" cibir seorang teman di sebelahnya bernama Iren.

Keira tak menyukai kata-kata itu. "Tak ada buktinya, jangan menuduh sembarangan," jawabnya tenang, tak ingin memperpanjang perdebatan yang tak berguna.

"Pasti saja mencontek, aku yakin sekali," Iren tetap tak percaya, tertawa meremehkan.

Keira tak lagi menanggapi. Ia memilih menundukkan kepala dan memejamkan mata di atas meja. Daripada meladeni orang yang penuh rasa iri, lebih baik ia beristirahat sejenak, kepalanya kembali terasa pening dan perih.

"Sombong sekali bercampur angin," gerutu Iren, lalu pergi meninggalkan tempat duduk Keira.

"Istirahatlah kalian," ucap Bu Susi sebelum meninggalkan ruangan.

Keira tetap terbaring di atas meja. Ia tak ingin keluar ruangan, bukan karena takut, melainkan karena ia tak sanggup lagi mendengar segala cemoohan yang terus diucapkan orang-orang di sekitarnya.

Hingga perutnya pun terasa lapar. Ia pun berjalan mengambil bekal dari dalam lemari penyimpanannya, lalu memakannya dengan tenang.

"Makanlah pelan-pelan, tak ada yang akan merebutnya darimu," terdengar suara seseorang yang tiba-tiba berdiri di sampingnya sambil tersenyum melihat cara makannya yang terburu-buru.

Keira mendongak. "Siapa kau?" tanyanya penasaran.

"Kenzo," jawab pemuda itu sambil tersenyum lebar, matanya menatap Keira dengan pandangan yang membuatnya merasa sedikit canggung namun tak sepenuhnya tak nyaman.

"Mengapa menatap terus? Pergilah, jangan sampai orang lain melihat dan mengira yang tidak-tentang," ucap Keira dingin, lalu kembali memakan bekalnya.

Kenzo pun tertawa kecil. "Kau sungguh menarik," ucapnya pelan, lalu ia mengacak rambut Keira yang sedikit berantakan.

Keira merasa kesal namun tak benar-benar marah. "Pergilah, jangan berdiri di sini terus-menerus," ucapnya menatap tajam.

"Baiklah, aku pergi. Lanjutkan makan mu. Jika kita bertemu lagi..." Kenzo tersenyum penuh makna, lalu melangkah pergi meninggalkannya.

Keira mendengus kesal namun tak mampu menahan rasa aneh yang menjalar di hatinya. "Orang itu... tiba-tiba datang dan berkata begitu saja," gumamnya pelan, namun tangannya tak berhenti memegang makanan itu.

Sesampainya di rumah, Keira pun dengan gembira menceritakan hasil ujiannya kepada ayahnya. "Ayah, aku mendapat nilai sembilan puluh lima dalam ujian Matematika hari ini!" Ia berharap ayahnya akan tersenyum dan memujinya.

Namun ayahnya yang bernama Bara hanya menjawab singkat, "Belum sempurna."

Keira tak patah semangat. "Yang sempurna itu hanya milik Tuhan, Ayah," ucapnya polos dengan tulus hati.

Mendengar itu, Bara pun berhenti melangkah dan menatap putrinya.

"Nilaimu belum sempurna. Masih ada yang kurang," ucap Bara dingin, seolah tak ada yang dapat memuaskannya.

"Jika kelak aku mendapat nilai seratus, bagaimana pendapat Ayah?" tanyanya penuh harap.

"Itu baru bagus," jawab ayahnya singkat.

"Hanya bagus?" tanya Keira sekali lagi, berharap ada kata-kata lain yang lebih hangat keluar dari mulut ayahnya.

Ayahnya menghela napas panjang, lalu menatap putrinya yang berdiri menanti dengan penuh harap.

"Nilai yang sempurna itu adalah hal yang biasa didapatkan oleh saudara-saudaramu. Hanya kau yang selalu berada di bawah mereka," ucap Bara dengan nada datar dan tak tersenyum sedikit pun. "Dan janganlah kau berharap lebih kepadaku. Tak pernah aku memberikan sesuatu yang berlebih kepadamu selain kebutuhan yang sekadarnya saja."

Setelah berkata demikian, Bara pun berjalan pergi meninggalkan putrinya yang terpaku di tempat.

Keira berusaha sekuat tenaga agar menjadi anak yang berharga di mata ayahnya. Namun kenyataannya, tak ada satu pun hal yang pernah ia lakukan mampu memuaskan hati ayahnya.

1
Sulati Cus
g usah berharap py temen klu semua palsu, mending sendiri apapun akan aman jika sendiri🤔
Sulati Cus
km nya aneh msh bertahan dg keluarga toxic😔 mending pergi kerja sambil sekolah, ku dulu kg kek gitu pdhl jmn dulu tu susah nyari duit g kek sekarang dg ngoten, nulis online apapun keknya menghasilkan uang😅
Herlina Susanty
buat Keira pergi thor
Herlina Susanty: pergi ke mana aj lah thor yg penting gag kecewa trus 🤣🤣💪
total 2 replies
Cty Badria
karena kamu bodoh 1000% bodoh
Cty Badria
kok cmn 1 up nya
lily
masih membaca kpn bangkitnya ni si keira...
Murni Dewita
ya udah gak usah aja gabung sama orang2 yg spt t
Cty Badria
lupakan saja mereka dari pd sakit hati. buat hekulah hatimu tuk mereka
Cty Badria
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Cty Badria
kenapa g keluar Dr rmh itu setiap hr dipukuli...aj rasanya bodoh banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!