Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Matahari pagi merambat pelan di atas langit London yang berselimut kabut tipis. Cahaya keemasan menembus tirai sutra tebal di kamar utama sayap utara, membiaskan pendar hangat di atas lantai marmer yang dingin. Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama.
Baxeena terbangun dengan gelombang mual yang mendadak menghantam dadanya. Rasa asam yang pekat mendesak naik dari tenggorokannya dengan amat hebat, jauh lebih menyiksa daripada hari-hari sebelumnya. Dengan wajah yang mendadak pucat dan peluh dingin yang membasahi keningnya, Baxeena bergegas bangkit dari peraduan sutra, berlari kecil menuju kamar mandi mewah di sudut ruangan.
Ia membungkuk di atas wastafel porselen berukir emas, memuntahkan cairan bening berulang kali hingga tubuhnya gemetar dan lemas. Suara napasnya memburu parau di tengah keheningan kamar mandi. Fase morning sickness yang sesungguhnya kini benar-benar menghantam pertahanan fisiknya tanpa ampun.
Mendengar suara gaduh dan rintihan pelan dari dalam kamar mandi, Violet yang sedang berada di area ruang duduk kamar segera berlari masuk. Wajah gadis remaja itu dipenuhi kecemasan murni.
"Mommy!" panggil Violet panik. Jemari kecilnya dengan cekatan mengusap-usap punggung Baxeena, sementara tangannya yang lain menyodorkan segelas air hangat yang diambilnya dari meja. "Mommy tidak apa-apa? Apa Adik Bayi membuat Mommy sangat sakit?"
Baxeena membasuh mulut dan wajahnya dengan air dingin, lalu menyandarkan tubuhnya yang lemas pada dinding marmer. Ia menatap Violet, memaksakan sebuah senyuman hangat meski bibirnya sedikit memucat.
"Mommy tidak apa-apa, Sayang..." bisik Baxeena parau, meminum sedikit air hangat yang disodorkan putrinya. "Ini hal yang wajar. Adik Bayi hanya sedang menyapa kita di pagi hari."
Kepanikan di sayap utara ternyata dengan cepat terdengar oleh para pelayan senior. Tidak butuh waktu lama, Dr. Harrison—dokter pribadi kepercayaan keluarga kerajaan yang dikenal sangat senior dan objektif—tiba di kamar utama membawa tas medisnya.
Baxeena berbaring kembali di atas tempat tidur berlapis sprei sutra putih. Dr. Harrison memeriksa tekanan darah, denyut nadi, hingga melakukan pemeriksaan abdomen secara cermat dan lembut. Violet berdiri setia di samping tempat tidur, menggenggam jemari Baxeena dengan raut wajah sangat serius, seolah-olah dirinya adalah pengawal pribadi sang ibu.
Setelah selesai merapikan stetoskopnya, Dr. Harrison menyunggingkan senyum hangat yang amat lega. Pria tua itu membungkuk hormat.
"Selamat, Nyonya Baxeena," ujar Dr. Harrison dengan suara bariton yang mantap. "Gejala mual hebat yang Anda alami adalah fase morning sickness klasik yang menandakan perkembangan janin yang sangat sehat. Rahim Anda sangat kuat, dan kondisi usia kandungan Anda saat ini diperkirakan memasuki minggu-minggu awal yang krusial. Anda resmi mengandung calon pewaris Pangeran Alistair."
Mendengar konfirmasi medis tersebut, dada Baxeena meluap oleh rasa haru yang tak terlukiskan. Air mata hangat menetes pelan di sudut matanya. Ia mengelus perut ratanya yang masih tersembunyi di balik piyama silk dengan jemari yang bergetar.
Violet yang berdiri di sisinya seketika menepuk tangannya girang. "Aku tahu! Aku akan jadi kakak!" serunya dengan mata berbinar-binar.
Namun, kebahagiaan hangat di dalam kamar itu seketika terganggu oleh suara ketukan sepatu yang menghentak nyaring di atas lantai koridor.
Pintu ganda kamar terbuka lebar. Ratu Lizzeebeeth melangkah masuk dengan gaun kebesarannya yang kaku. Di belakangnya, beberapa pelayan senior mengekor dengan wajah menunduk.
Sang Ratu menatap pemandangan di dalam kamar dengan raut wajah yang amat masam—gabungan antara rasa tidak percaya, kekesalan yang terpendam, dan sikap 'julid' khas penguasa tua yang enggan mengakui kekalahannya.
Ratu Lizzeebeeth berdiri di dekat kaki tempat tidur, menatap Dr. Harrison dengan mata memicing tajam.
"Kau yakin dengan pemeriksanmu itu, Dokter?" sindir Ratu Lizzeebeeth dengan nada suara yang amat pedas dan ketus. "Jangan-jangan wanita ini hanya mengalami gangguan pencernaan biasa karena makanan Gaya Amerika yang tidak jelas, atau sengaja berpura-pura mual demi menarik perhatian publik saat putraku berada di garis depan!"
Dr. Harrison membungkuk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh sindiran beracun sang Ratu. "Saya menjamin keakuratan hasil pemeriksaan saya dengan nama baik profesi saya, Yang Mulia Ibu Ratu. Nyonya Baxeena positif hamil dan kondisi janinnya sangat stabil."
Ratu Lizzeebeeth mendengus dingin. Matanya berganti menatap Baxeena yang masih berbaring anggun di atas kasur. Sang Ratu mengibaskan tangannya di udara dengan gestur merendahkan.
"Ck, mual-mual berlebihan seperti orang yang sangat rapuh," cetus Ratu Lizzeebeeth lagi dengan mulutnya yang tajam. "Dahulu saat aku mengandung Alistair, aku tetap menghadiri sidang dewan bangsawan tanpa merengek sedikit pun! Jangan membiasakan dirimu bermanja-manja di istana ini, Baxeena. Lagipula, belum tentu janin itu laki-laki yang sanggup meneruskan takhta!"
Mendengar ocehan dan sindiran judes dari ibu mertuanya yang tampak sangat gemas karena rencana obat penunda kehamilannya gagal total, Baxeena sama sekali tidak menunjukkan raut marah atau tersinggung.
Sebaliknya, Baxeena justru menyunggingkan senyum yang teramat manis—senyuman santai yang justru sangat memancing emosi lawan bicaranya.
Dengan gerakan yang amat tenang dan elegan, Baxeena sama sekali tidak menanggapi atau membalas kata-kata pedas Ratu Lizzeebeeth. Ia mengabaikan keberadaan sang Ratu seolah wanita paruh baya berkerudung keagungan itu hanyalah patung angin di dalam kamar.
Baxeena menundukkan kepalanya sedikit, mengusap perutnya yang hangat dengan kelembutan seorang ibu, lalu berbicara dengan suara yang sengaja diatur cukup keras agar terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
"Dengar kan, Sayang...?" tutur Baxeena dengan nada suara yang amat lembut dan penuh godaan humor.
"Hey, anak Mommy... tumbuhlah dengan sehat di dalam sini, ya. Tunggu Daddy-mu pulang dari garis depan dengan selamat... Habis itu, kita bertiga—Mommy, Kakak Violet, dan kamu—akan ambil alih dan kuasai istana ini sepenuhnya."
Ratu Lizzeebeeth seketika membelalakkan matanya hingga hampir melompat keluar dari kelopaknya. Tangannya mendadak bergetar di genggamannya karena Emosi. "A-apa kau bilang?! Menguasai istana?!" bentak sang Ratu dengan wajah yang memerah padam oleh rasa terkejut dan gelombang kekesalan yang meluap.
Violet yang berdiri di samping Baxeena tidak sanggup menahan rasa gelinya lagi. Melihat wajah sang Nenek yang biasanya tampak kaku dan agung kini berubah menjadi sangat konyol karena panik dan emosi oleh ucapan santai Baxeena, Violet seketika tertawa terpingkal-pingkal.
"Pfft... Hahaha!" tawa Violet pecah begitu saja di dalam kamar. Gadis remaja itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, namun bahunya berguncang hebat karena geli melihat ekspresi sang Nenek yang 'zonk' total.
Baxeena ikut terkekeh pelan, menatap Violet dengan kedipan mata jahil. "Benar kan, Vio? Nanti kalau Daddy pulang, kita minta Daddy ganti warna cat dinding istana ini jadi warna yang lebih cerah, supaya tidak terlalu suram seperti wajah orang tua yang suka marah-marah."
"Baxeena! Kau... kau wanita tak tahu sopan santun!" bentak Ratu Lizzeebeeth dengan napas terengah-engah, dadanya naik turun menahan amarah yang meledak karena merasa diolok-olok secara terang-terangan oleh menantu dan cucunya sendiri.
"Saya hanya sedang mengajarkan calon pewaris kerajaan untuk bermimpi besar sejak di dalam kandungan, Yang Mulia Ibu Ratu," sahut Baxeena santai, memiringkan kepalanya dengan senyuman paling mahal yang ia miliki. "Bukankah seorang penguasa harus memiliki visi untuk menguasai tempatnya berpijak?"
Ratu Lizzeebeeth mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia menyadari bahwa semakin ia melancarkan kalimat pedas atau sindirannya, Baxeena justru membalasnya dengan sikap cuek segar yang membuat martabat kerajaannya terasa tidak berguna di kamar tersebut.
dengan keanggunan yang mendadak dipaksakan untuk menutupi rasa malunya, sang Ratu memutar tubuhnya dengan menghentakkan kaki secara kasar.
"Dr. Harrison! Berikan dia vitamin paling kuat dan pastikan dia tidak berkeliaran merusak pemandangan istana!" perintah Ratu Lizzeebeeth galak sebelum melangkah lebar-lebar keluar kamar, membiarkan gaun mewahnya berkibar tertiup angin.
Pintu ganda kamar tertutup kembali dengan dentuman pelan.
Sepeninggal sang Ratu, tawa Violet pecah makin keras di dalam kamar. Dr. Harrison yang berada di sudut ruangan pun hanya bisa menyunggingkan senyum penuh arti sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaimana Baxeena dengan sangat cerdas melumpuhkan dominasi sang Ratu tanpa perlu mengeluarkan makian atau emosi yang merusak martabatnya.
"Mommy luar biasa!" seru Violet, melompat kecil di samping kasur lalu memeluk Baxeena erat-erat. "Wajah Grandma tadi benar-benar lucu sekali! Aku belum pernah melihat Grandma sebingung dan sebal itu seumur hidupku!"
Baxeena tertawa hangat, mengelus rambut pirang Violet dengan rasa kasih yang membuncah. "Di dalam hidup ini, Vio... cara terbaik menaklukkan orang yang membencimu bukanlah dengan ikut-ikutan menjadi kotor seperti mereka, tapi dengan menunjukkan bahwa kebahagiaanmu sama sekali tidak bisa disentuh oleh kebencian mereka."
Baxeena menyandarkan punggungnya di bantal, mengusap perutnya kembali. Di tengah kepungan intrik kaku Istana Buckingham dan perpisahan sementara dari Alistair yang sedang bertarung di medan perang, sepercik kehangatan, tawa, dan harapan baru telah berakar kuat di dalam jiwa mereka—sebuah kehidupan baru yang siap meruntuhkan segala tembok konspirasi dinasti.
untung lawan nya xeena 😝
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭