Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pesta itu telah usai, meninggalkan jejak gelas-gelas kristal kosong dan gema tawa palsu. Di ruang kerja Dante, cahaya begitu redup, hanya bersumber dari perapian yang meregang nyawa dan dari layar sebuah laptop yang ditinggalkan Marco dalam keadaan menyala di atas meja kayu mahoni.
Dante telah melonggarkan dasi sutranya, tetapi posturnya tetap seperti seorang pria dalam medan perang. Mata kelabunya terpaku pada serangkaian foto berbutir kasar, diambil dari kejauhan di jalanan San Vicente. Itulah hasil penyelidikan menyeluruh atas "tahun-tahun yang hilang" dari hidup Victoria.
Dalam gambar-gambar itu tak ada kemewahan, hanya keindahan mentah dari keseharian. Namun di tengah beberapa foto, muncul seorang pria. Pria muda bertangan kasar dengan senyum lugas, mengenakan pakaian kerja. Namanya Julián. Di salah satu jepretan, Julián membantu Victoria memikul beberapa karung tepung. Di foto lain, ia tertawa bersama León dan Cristo sambil memperbaiki sebuah sepeda tua.
Bunyi pintu terbuka menyentak Dante keluar dari kekhusyukan gelapnya. Victoria masuk, masih terbalut gaun biru malam, mencari-cari anting yang ia kira tertinggal di sana. Ia berhenti melihat raut wajah suaminya. Itu bukan dinginnya sang Capo. Itu sesuatu yang jauh lebih purba dan berbahaya.
"Siapa dia?" tanya Dante. Suaranya bisikan yang bergetar oleh ancaman yang ditahan.
Victoria mendekati meja dan menunduk ke layar. Melihat wajah Julián, ia merasa udara meluput dari paru-parunya. Sengatan rasa bersalah dan takut menjalar di sepanjang tulang punggungnya.
"Dia teman, Dante," jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap tegar. "Seseorang yang menolong kami saat kami tak punya apa-apa. Seseorang yang tak meminta balasan apa pun."
"Teman?" Dante bangkit dengan kelambatan seperti kucing, mengitari meja hingga berdiri tepat di hadapannya. Aroma wiski dan tembakau yang menguar dari tubuhnya memabukkan sekaligus menindih. "Aku sudah melihat bagaimana dia menatapmu di foto-foto ini, Victoria. Aku sudah melihat bagaimana dia menyentuh bahu putraku León seolah dia berhak melakukannya. Apa dia tahu siapa kau sebenarnya? Apa dia tahu bahwa setiap malam dia tidur di bawah langit yang sama dengan istri Dante Moretti?"
"Dia tidak tahu apa-apa," desis Victoria, mundur selangkah hingga tumitnya membentur pintu. "Bagi dia, aku hanya seorang janda yang berusaha membesarkan anak-anaknya. Julián pria yang baik, sesuatu yang tak akan pernah bisa kau pahami sampai seribu kali kau lahir kembali."
Dante meninju kayu meja hingga laptop itu terlonjak. Nama "Julián" yang terucap dari bibir Victoria terasa bagai tikaman pada harga dirinya.
"Jangan pernah lagi menyebut namanya!" ia mengaum. "Lima tahun kuhabiskan mencarimu di setiap sudut gelap dunia, membayangkan kau sedang menderita, kau membutuhkanku… Sementara kau di sana, membiarkan seorang gembel duduk di mejaku! Membiarkan anak-anakku memanggilnya 'Om'!"
"Dia memberi mereka kasih sayang yang kau ingkari saat kau berubah menjadi monster!" jerit Victoria, air mata amarah akhirnya tumpah. "Dia tidak membawa senjata, Dante. Dia membawa roti. Dia tidak memandangku seperti sebuah harta benda, dia memandangku seperti seorang manusia."
Dante mencengkeram kedua lengannya, menariknya mendekat dengan kekuatan yang memancarkan keputusasaan mutlak. Matanya merah oleh darah, tersesat dalam pusaran cemburu penuh nafsu memiliki yang mengaburkan setiap sisa nalar.
"Kau milikku, Victoria," bisiknya di bibir Victoria, napasnya yang memburu berbaur dengan napas wanita itu. "Setiap pikiranmu, setiap kenangan tentang lima tahun itu… aku ingin menghapusnya. Aku ingin membakar desa itu sampai tak tersisa bahkan kenangan bahwa kau pernah di sana."
"Kau sudah melakukannya," ucap Victoria dengan kesedihan tanpa batas. "Kau mencabut kami dari sana. Kau sudah menang, Dante. Apa lagi yang kau mau? Kau mau darahnya juga?"
Dante membisu. Tatapannya berubah sedingin es, isyarat bahwa keputusan telah diambil. Ia melepaskan kedua lengan Victoria dan kembali ke meja, meraih telepon pribadinya.
"Marco," katanya ke gagang telepon, "aku mau regu pembersih kembali ke San Vicente. Bengkel kayu di pusat kota itu… aku mau tempat itu lenyap malam ini. Dan pemiliknya… pastikan dia paham bahwa ada utang yang tak dibayar dengan uang, melainkan dengan kematian."
"Tidak!" Victoria menerjang ke arahnya, berusaha merebut telepon itu. "Dia tidak berbuat apa-apa padamu! Jangan sakiti dia, kumohon!"
Dante menepisnya dengan gerakan tegas dan mengakhiri panggilan. Ia memandang Victoria, yang kini bertekuk lutut, memohon demi nyawa seorang pria lain. Pemandangan itu justru menyulut api cemburunya.
"Setiap tetes air mata yang kau tumpahkan untuknya adalah hukuman yang semakin panjang, Victoria," katanya, berlutut agar sejajar dengannya. Ia meraih dagu Victoria, memaksanya menatap. "Besok, saat kau terbangun di ranjang ini, aku ingin kau paham bahwa tak ada dunia di luar dinding-dinding ini. Tak ada 'teman', tak ada 'Julián'. Hanya ada kau, anak-anak, dan aku."
Di luar ruang kerja, dalam keremangan lorong, León dan Cristo mendengar teriakan-teriakan itu. León meletakkan tangannya di gagang pintu, buku-buku jarinya memutih. Cristo duduk di lantai, tabletnya menyala, menyadap sinyal radio Marco.
"Dante mengirim orang ke desa," bisik Cristo. "Mereka mengincar Julián."
León mengatupkan gigi. Ia ingat Julián mengajarinya memancing, ingat kedamaian bengkel yang berbau serbuk gergaji itu. Julián bukan ayahnya, tapi ia adalah kedamaian. Dan kini, pria di foto itu menghancurkan kedamaian itu demi keegoisan semata.
"Kita tidak akan membiarkannya terjadi," kata León, memandang saudaranya. "Cristo, bisa kamu putus komunikasi Marco?"
"Aku bisa mengacaukan sinyal GPS mobil-mobil mereka selama dua puluh menit," jawab Cristo, jari-jarinya beterbangan di atas layar. "Itu memberi mereka waktu untuk bersembunyi kalau kita bisa memperingatkan mereka. Tapi kita tidak punya saluran keluar."
"Rosa punya telepon lama di dapur," León teringat. "Ayo."
Kedua bocah itu menyelinap menembus bayang-bayang kediaman, digerakkan oleh kesetiaan yang tak akan pernah Dante pahami. Mereka bukan melindungi seorang saingan ayah mereka. Mereka melindungi kaitan terakhir dengan sosok ibu mereka yang pernah bahagia.
Dante melangkah masuk ke kamar Victoria, mengunci pintu, yakin bahwa ia telah melenyapkan ancaman dari masa lalunya. Sementara itu, dalam kegelapan, kedua putranya sendiri beroperasi bagai sebuah sel perlawanan, memakai teknologi imperium itu untuk menyelamatkan pria yang ingin dihapuskan oleh ayah mereka. Nafsu memiliki Dante baru saja menciptakan perpecahan terbesar dalam keluarga: anak-anaknya kini tak lagi hanya mengawasinya, mereka mulai menyabotase kehendaknya.