Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku
Matahari sore di San Vicente jatuh bagai emas cair ke atas jalan-jalan berbatu, tapi bagi Victoria, cahaya selalu punya nuansa pengawasan. Sudah lima tahun ia tinggal di sudut pesisir yang terlupakan ini, tempat aroma garam laut dan ikan segar menjadi kamuflase bagi masa lalunya. Di sini ia bukan istri pria paling ditakuti di pesisir timur; ia hanya "Vicky", perempuan yang menjahit seragam sekolah dan menjual pai lemon setiap hari Minggu.
Victoria membetulkan tali tasnya sambil berjalan menuju sekolah dasar. Tangannya, yang dulu dihiasi berlian yang bobotnya melebihi hati nuraninya, kini bertabur kapalan tipis dan berkuku pendek. Itu harga yang ia bayar dengan senang hati. Setiap kali ia merasakan berat kemiskinan atau lelah kerja dobel, ia teringat suara tembakan di kediaman Moretti dan dinginnya tatapan Dante. Itu sudah cukup untuk mengusir segala rindu.
"Mama!" Teriakan itu memecah lamunannya.
Dua bocah lima tahun berlari kencang ke arahnya. León dan Cristo. Melihat mereka, hati Victoria berjungkir balik—campuran antara kasih tak terhingga dan teror yang membisu.
Mereka rupawan, tapi mereka adalah dia.
León, yang lebih tua tiga menit, punya rambut gelap yang selalu berantakan dan rahang yang mulai mengeras dengan ketegasan yang tak sepantasnya dimiliki anak seusianya. Cristo, lebih kurus dan bergerak-gerik penuh pengamatan, melangkah dengan keanggunan alami yang mati-matian coba disembunyikan Victoria di balik pakaian katun murahan.
"Bagaimana hari kalian, para pemberani kecilku?" tanyanya sambil berjongkok untuk menyambut mereka dalam pelukan yang sebetulnya adalah tempat berlindung.
Cristo memeluk lehernya, tapi León tetap berdiri selangkah di belakang, tas ranselnya tergantung di satu bahu, matanya terpaku pada sekelompok anak kelas empat yang berbisik-bisik dekat air mancur.
"León berkelahi tadi," bisik Cristo, menyembunyikan wajahnya di bahu sang ibu.
Victoria merasakan tubuhnya meremang. Ia memegang bahu León, memaksa anak itu menatapnya. Bocah itu tidak menangis. Tak ada wajah merah karena mengamuk, tak ada tundukan mata karena bersalah. Ia punya mata Dante: dua serpih es kelabu yang seolah menembus manusia, bukan sekadar menatap mereka.
"León? Lihat Mama," pinta Victoria dengan suara bergetar. "Apa yang terjadi?"
"Enzo dan teman-temannya merebut buku tulis Cristo," jawab bocah itu dengan ketenangan yang membekukan darah. "Aku suruh dia mengembalikannya. Dia tidak mau."
"Lalu apa yang kamu lakukan?" Victoria mencari-cari bekas lecet, tapi anak itu bersih tanpa cela.
"Aku jelaskan padanya bahwa barang yang bukan miliknya membawa akibat," kata León. Suaranya kecil, tapi iramanya adalah irama seorang pria yang tahu persis seberapa besar kuasa yang ia punya. "Waktu dia coba mendorongku, aku cuma menekan pergelangan tangannya di titik yang bikin sakit. Dia ketakutan lalu pergi."
Victoria menelan ludah. "Di titik yang bikin sakit." Ia tak pernah mengajari anak itu bela diri, apalagi anatomi rasa sakit. Itu naluri primal, warisan genetis yang bermekaran seperti bunga beracun di taman bermain.
"León, ingat apa yang sudah kita bicarakan… kita tidak pakai kekerasan untuk—"
"Aku tidak pakai kekerasan, Mama," bocah itu memotong, dan selama sedetik, ia menatapnya dengan secercah kekecewaan. "Aku pakai logika. Tidak ada yang akan berani mengganggu Cristo lagi. Selamanya."
Mereka berjalan menuju rumah kecil mereka, sebuah bangunan kayu putih dengan bunga-bunga yang dirawat Victoria dengan obsesif. Sementara kedua bocah berlari mendahului untuk bermain truk kayu di teras, ia berhenti di ambang pintu, mengamati mereka.
Rasa bersalah adalah tamu tetap di mejanya. Ia merasa egois karena telah merampas warisan mereka, tapi pada saat yang sama, ia merasa sedang berpacu melawan waktu. Mampukah kesahajaan desa ini mengalahkan kegelapan yang berdenyut dalam DNA anak-anaknya?
Malam itu, saat ia menyiapkan makan malam sederhana berupa pasta dan sayuran, kesunyian rumah dipecah oleh raungan mesin bertenaga yang melintas di jalan utama. Victoria terpaku di depan kompor, sendok besar di tangan. Telinganya, yang terlatih dalam ketakutan, menangkap bahwa itu bukan traktor atau truk pos tua. Itu mesin yang disetel presisi, mahal. Seekor pemangsa di kandang domba.
"Mama, gosong nanti," kata Cristo, muncul di sisinya tanpa suara.
Victoria tersentak, menarik panci dari api. Tangannya gemetar.
"Cuma capek, Sayang. Sana cuci tangan."
"Itu mobil hitam, kan?" tanya Cristo, memandang ke arah jendela yang tertutup. "León bilang minggu ini dia sudah lihat tiga mobil serupa di dekat dermaga. Katanya orang-orang yang mengemudikannya bukan orang sini, karena mereka pakai sepatu yang tidak kotor kena lumpur."
Victoria merasa udara terhisap keluar dari paru-parunya. León, sang pengamat pendiam. Bocah yang tak bermain bajak laut, melainkan mengawasi perimeter halaman sementara adiknya berburu kupu-kupu.
"Bukan apa-apa, Cristo. Cuma turis," dustanya, meski ia tahu Cristo tak mudah dikelabui. Dialah "sang analis", yang bisa membaca ekspresi terkecil di wajahnya sebelum ia sempat menyembunyikannya.
Selepas makan, ia menyelimuti mereka di ranjang kecil mereka. León sudah tidur, atau setidaknya tampak begitu, tubuhnya menegang seperti busur yang siap melepas anak panah. Cristo membiarkan keningnya dicium, tapi sebelum Victoria keluar kamar, ia menahannya.
"Mama… kalau pria di foto itu datang lagi, apa aku dan León harus berkelahi?"
Victoria membeku. Foto apa? Ia sudah membakar semuanya. Atau begitulah kiranya.
"Kamu bicara apa, Sayang?"
"León menemukan kotak kecil di bawah ranjang Mama sebulan lalu," bisik Cristo dengan mata membelalak. "Ada seorang pria yang matanya sama seperti mata kami. León bilang dia seorang raja, tapi Mama takut pada mahkotanya."
Victoria keluar dari kamar dengan perasaan seolah dinding-dinding menutup rapat ke arahnya. Ia mengunci diri di kamarnya dan, dengan tangan yang bergetar demam, meraba di bawah papan lantai yang longgar. Kotak beludru biru itu masih di sana, tapi kancingnya tidak terpasang rapi. León telah menemukannya.
Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan satu-satunya foto yang tak sanggup ia hancurkan: Dante, duduk di meja kerja kayu ek-nya, satu tangan di atas peta dan tangan lain menggenggam cerutu yang tak menyala. Ekspresinya adalah keangkuhan mutlak, ekspresi pria yang memiliki dunia tapi memandang rendah mereka yang menghuninya.
Victoria membelai kertas dingin itu. Ia teringat terakhir kali melihatnya: kilau kancing manset emasnya saat ia mengokang senjata, aroma parfum mahalnya bercampur bau mesiu, dan janji yang dibisikkannya ke telinga Victoria sebelum ia berhasil kabur: "Kalau kau pergi, Victoria, aku akan menemukanmu. Tak peduli di kehidupan ini atau di kehidupan berikutnya. Apa yang jadi milikku selalu kembali pulang."
Tiba-tiba, patahan ranting di luar rumah membuatnya melonjak. Ia mematikan lampu seketika dan mendekati jendela, menyibak tirai setipis mungkin.
Di sudut jalan, di bawah cahaya redup sebuah lampu jalan, seorang pria berjas gelap dengan bahu bidang mengisap sebatang rokok. Ia tak bergerak. Ia tak mencari apa-apa. Ia sekadar berdiri di sana, seperti bayangan yang telah memutuskan untuk mengambil wujud.
Victoria mundur, menutup mulutnya agar tak menjerit. Itu bukan turis. Itu bukan kebetulan.
Masa lalu tak pernah terkubur; ia hanya menunggu sampai si kembar cukup umur untuk merebut tempat mereka di takhta yang berselimut abu. Sang CEO mafia, suami yang ia tinggalkan dengan hati remuk dan amarah yang menyala, telah tiba di depan pintu tempat perlindungannya.
Dan yang paling buruk bukanlah kembalinya Dante. Yang paling buruk adalah, saat menatap León sore tadi, Victoria menyadari bahwa—sekalipun Dante tak pernah melangkahi ambang pintu itu—ia sudah hidup di dalam rumahnya.
Ia ada dalam kedinginan putra sulungnya. Ia ada dalam kelicikan si bungsu.
Perang telah dimulai, dan anak-anaknya sudah memilih senjata mereka tanpa ia sadari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments