Indonesia
NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga teratai

Wang Hao menyuruhnya cepat. Xuan Han tidak suka, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Awalnya baik-baik saja, namun akhirnya ia tiba di sebuah kolam dengan air hijau yang meletup-letup. Ada jalan berbentuk persegi di atasnya. Aura panas menyebar ke udara dan terasa menyengat. Aromanya juga menyakitkan.

Xuan Han menatap permukaannya sebentar. Ia berpikir ini tempat seperti apa, dan mengapa tiga orang ini datang ke sini.

Ia sempat ragu, tapi kemudian melompat ke kotak persegi pertama.

Tidak ada yang terjadi. Xuan Han merasa selamat, tapi ia tetap waspada.

Melompat ke kotak kedua, tiba-tiba kotak itu sedikit tenggelam dan sebuah tangan mengerikan muncul dari dalam kolam, memegang kedua kaki Xuan Han dan berusaha menariknya. Dengan cepat ia mengayun pedangnya. Butuh beberapa kali untuk memotong tangan itu. Karena tangan itu, ia jadi tidak seimbang tapi berhasil menyeimbangkan tubuhnya sembari menatap cairan di bawahnya.

Potongan tangan itu terjatuh ke dalam kolam dan berubah menjadi cairan darah kental.

Lalu suara melengking muncul, beberapa anak panah melesat. Xuan Han mengerutkan keningnya dan ia memperhatikannya. Saat anak panah itu tiba, ia mengayun pedangnya dan memotong anak-anak panah itu menjadi dua, sehingga potongannya tersebar ke mana-mana lalu hancur ditelan air mematikan itu.

Menatap kotak ketiga. Memperhatikannya sebentar lalu melompat. Terasa aman dan kotak itu tidak turun. Sementara itu Nona Xie, Wang Hao, dan Meng Chahua masih berdiri di luar kolam memperhatikan Xuan Han berjalan. Sepertinya mereka akan melangkah ketika Xuan Han mencapai ujung.

Memegang pedang di tangannya erat-erat, Xuan Han meyakinkan dirinya dan segera melompat.

Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari air dan menarik kakinya. Xuan Han terkejut. Tubuhnya segera ditarik ke dalam air. Rasanya panas, menyakitkan seperti dimasak dalam air mendidih. Ia meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri dan naik ke atas, namun muncul satu tangan lagi yang menariknya ke dalam.

Tubuh Xuan Han sepenuhnya di dalam air dan kesulitan bergerak. Perlahan-lahan tubuhnya melepuh. Ia berteriak minta tolong, tapi tidak ada pertolongan yang datang. Menggertakkan giginya dan berusaha, tapi tidak bisa melakukannya.

Di dalam air itu hanya ada warna hijau daun muda, tidak ada apa pun, tetapi mata Xuan Han terasa panas dan sakit sehingga ia menutup matanya, menggertakkan giginya menahan panas.

Tidak ada gunanya berteriak, suaranya tidak akan terdengar keluar dan tidak ada gunanya ia meminta tolong. Bagi tiga orang itu, ia hanya umpan percobaan. Xuan Han membencinya, tapi tidak bisa melakukan apa-apa dan akhirnya berhenti meronta-ronta, lalu tubuhnya perlahan-lahan melemah. Daging dan kulitnya perlahan-lahan melepuh.

Ketika itu kesadaran perlahan-lahan menghilang. Xuan Han sudah pasrah. Namun tidak lama ia mendengar suara lonceng. Xuan Han membuka matanya dan ia sudah ada di kotak ketiga. Tidak terjadi apa-apa. Tapi sensasi panas dan luka-luka pada tubuhnya terasa nyata, bahkan detak jantungnya berdetak kencang. Ia bingung dan berbalik menatap tiga orang di belakangnya yang masih menonton. Ia melihat ekspresi meremehkan Wang Hao, dinginnya Meng Chahua, dan acuh tak acuh Nona Xie.

“Apa tadi itu hanya halusinasi?”

Menatap ke depan ada tiga kotak yang perlu dilewatinya lagi. Xuan Han ragu apa ia akan berhasil. Tapi mundur pun akan dibunuh oleh ketiga orang itu. Ia seharusnya tidak mengikuti Meng Chahua.

Tidak bisa melakukan apa pun, ia melompat dan beberapa tangan melesat. Xuan Han menginjaknya dan akhirnya tiba di kotak keempat.

Ketika ia melompat lagi, tiba-tiba getaran muncul di permukaan air lalu terbalik. Air menjadi di langit sementara langit gua menjadi lantainya. Xuan Han terjatuh begitu juga dengan air itu.

Saat tubuhnya melesat jatuh perlahan, ia melihat permukaan gua di bawah terasa aneh dengan garis-garis kuning. Itu berkedut-kedut beberapa saat lalu menyembur seperti lava di beberapa titik. Xuan Han memperhatikannya dan menyadari itu bukan dinding gua, tapi lava panas. Ia tercengang. Sementara di satu sisinya ada air panas yang bersifat menghancurkan itu.

Ia jadi panik, tapi tidak boleh panik. Berusaha tenang, pada akhirnya ia menemukan batu-batu yang menjulang di atas lava. Berusaha melompat di atas, Ia bertanya-tanya apa ini juga ilusi. Tiga orang bersamanya tidak terlihat. Xuan Han melihat sekitar dan mendapati ada tiga mata merah yang muncul di permukaan lava itu.

“Apa aku perlu menghancurkannya?” Ia mengamatinya sebentar. “Mengapa tidak dicoba saja?”

Ketika mendarat di salah satu batu menjulang, ia segera menginjak batu yang ada di sana lalu melompat. Dengan kedua tangannya mengayunkan pedang ke mata merah. Mata itu menatapnya dan berkedip-kedip. Ada kebencian di dalamnya. Xuan Han tidak peduli. Asal ia bisa selamat, mengapa tidak mencobanya saja? Menggertakkan giginya dan mengumpulkan tenaga, pedang diayunkan. Suara melengking terdengar. Mata itu memejam. Xuan Han mendorong pedangnya. Darah menyembur hingga menyentuh wajahnya.

Lalu perlahan-lahan suara menyakitkan itu menghilang dan mata itu menjadi layu. Getaran muncul bersamaan dengan bunga teratai yang tumbuh melesat ke atas. Cahaya kuning menyebar dan tiba-tiba waktu seperti berhenti. Xuan Han ada di dalam bunga itu. Mengamati ke langit, air hijau itu seperti awan-awan hujan yang berhenti bergerak.

Aroma bunga teratai itu wangi, tapi Xuan Han tidak punya waktu untuk menikmatinya. Ia mengamati mata selanjutnya dan segera melesat ke sana. Mata itu memiliki kebencian yang lebih dalam. Lalu muncul tangan merah yang ingin menghadangnya.

Pemuda itu segera memegang erat pedangnya. Tidak ada keragu-raguan. Melayangkan pedangnya, tangan itu terpotong dan jeritan kesakitan muncul. Lalu pedang itu menembus mata, terdengar suara teriakan, dan akhirnya mata itu menghilang. Bunga berkembang kembali dan waktu juga tiba-tiba berhenti sejenak. Itu membuat Xuan Han menarik napas panjang. Hanya tersisa satu mata lagi.

Ia melihat mata itu dari kejauhan. Hanya perlu melakukannya satu kali saja, tetapi jaraknya agak jauh. Tanpa berpikir panjang ia melompat, menekan satu batu kecil yang akhirnya tenggelam ke dalam lava, menggunakannya untuk melompat lebih jauh lagi. Ia mengarahkan pedangnya ke bawah, tepat di mana mata itu berada. Mata itu dipenuhi kebencian dan melotot pada Xuan Han.

Ketika itu ia memejamkan matanya, lalu ketika terbuka kembali, tidak ada pupil matanya, seolah sudah dicongkel. Itu membuat Xuan Han terkejut. Tapi bulu-bulu runcing di kulit matanya tumbuh membesar dan memutih seperti gigi. Ketika itu Xuan Han menyadari mata itu telah menjadi mulut. Suaranya melengking hingga membuat telinga Xuan Han sakit.

Lalu melesat, membuka mulutnya lebar-lebar dengan gigi tajamnya seperti jarum. Tidak ada jalan kembali dan Xuan Han tidak punya pilihan. Mulut itu melahapnya, dan ternyata ada tentakel yang menghubungkan mulut dengan lava. Bunga-bunga teratai terdengar mendengung dan terus mengeluarkan cahaya kuning keemasan.

Xuan Han tidak digigit, tapi dilahap. Segera tubuhnya masuk ke dalam tenggorokan makhluk itu.

Ia segera menancapkan pedangnya pada daging makhluk tersebut, sehingga makhluk itu meronta-ronta dan membuat Xuan Han bingung. Namun dengan tegas ia mengayunkan pedangnya ke segala arah dan berusaha menembus tenggorokannya yang licin dan bau. Tubuhnya basah karena air liur dan darah.

Setelah beberapa saat akhirnya muncul lubang. Xuan Han berusaha keluar, tapi perlahan-lahan lava masuk dan menghancurkan tubuh makhluk itu. Xuan Han merobeknya dan akhirnya berhasil keluar. Ia segera melompat dan berdiri di salah satu batu yang menjulang, namun dari atas air yang korosif itu jatuh dan lava di bawah meletup-letup. Udaranya sangat panas sehingga membuat tubuh Xuan Han dibanjiri keringat. Dua cairan itu semakin mendekat dan akan bersatu!

Melihat dua bunga teratai, perlahan-lahan suara dengungan mulai memudar dan bunga itu mulai layu.

Xuan Han tidak tahu harus melakukan apa.

Ia sudah mencoba melakukan segala cara. Ini seperti ilusi tapi di saat bersamaan juga bukan sepertinya. Berpikir sebentar, lalu akhirnya menghela nafas. Ia manusia lemah dan bodoh. Tanpa kekuatan, seharusnya ia layak mendapatkan hal seperti ini. Namun, mengapa hanya untuk hidup dan menjalani hidup dnegan baik saja rasanya sulit? Mengapa ia kehilangan ingatan tentang identitasnya? Apa yang terjadi?

Xuan Han tidak tahu harus, tapi tidak lama muncul sebuah pusaran di tempat mayat makhluk itu tenggelam. Pusaran itu semakin lama semakin keras. Pada akhirnya muncul sebuah tunas. Tumbuh dengan kecepatan tinggi dengan daun-daun lebat, membuat permukaan lava bergetar.

Lalu muncul kuncup bunga emas yang berputar-putar. Satu kelopak mulai mekar. Kemudian dua. Tiga. Lima. Sepuluh. Dua puluh. Lima puluh. Delapan puluh. Pada akhirnya bunga itu memiliki seratus kelopak bunga yang bermekaran berwarna kuning keemasan.

Cahaya kuning terpancar darinya dan sangat terang. Dengungan perlahan-lahan muncul. Waktu seperti tiba-tiba berhenti.

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!