Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengamati dalam Diam

Bibi Rosa menghentikan langkahnya di ujung lorong yang menghadap langsung ke taman belakang. Kepala pelayan itu tidak pernah lupa memperlihatkan senyumannya di hadapan Aurora.

"Nona Aurora, kurang lebih seperti inilah penampakan seluruh bagian utama Mansion Salvadore."

Aurora mengedarkan pandangannya sekali lagi. Rasanya masih sulit dipercaya bahwa bangunan semegah ini menjadi tempat tinggalnya.

Masih dalam bentuk kekagumannya, Aurora kembali memberi validasi terkait kemewahan pada bangunan milik suaminya tersebut.

"Mansion ini benar-benar luar biasa. Kurasa aku masih akan tersesat meskipun sudah diajak berkeliling seharian."

Bibi Rosa terkekeh lembut mendengar penuturan jujur dari majikan barunya.

"Itu sangat wajar. Bahkan beberapa pelayan baru pernah salah jalan selama berminggu-minggu."

Aurora ikut tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus sering berjalan-jalan supaya cepat hafal."

"Ide yang bagus, Nona."

Bibi Rosa menatap Aurora lalu tersenyum hangat. Bibi Rosa seolah mengerti akan rasa asing yang masih sering dialami majikannya tersebut.

"Semoga suatu hari nanti Nona Aurora tidak lagi merasa seperti tamu di rumah ini."

Hening.

Ucapan Bibi Rosa membuat langkah Aurora melambat.

Aurora menundukkan pandangannya. Senyum tipis yang semula menghiasi wajahnya perlahan memudar.

"Aku juga berharap begitu, Bibi." ucap Aurora lirih.

Seketika Bibi Rosa menoleh, memperhatikan raut wajah Aurora yang tiba-tiba berubah muram.

Kepala pelayan itu mendekat dan menyentuh lembut pundak Aurora. "Ada yang mengganggu pikiran Nona?"

Aurora menghela napas pelan sebelum menjawab. "Aku merasa semua ini bukan ditujukan untukku."

Tatapan sendu Aurora beralih menyusuri lorong mansion yang megah, lalu jatuh pada cincin yang melingkar di jari manisnya.

"Mansion ini, nama keluarga Salvadore, bahkan statusku sebagai istri Tuan Rozen." Aurora tersenyum tipis, tetapi senyum itu begitu jelas menyimpan kepahitan.

Ia kemudian melanjutkan kembali, "Semua seharusnya menjadi milik Kak Isabella."

Aurora menggenggam jemarinya sendiri hingga kuku pada jemari lentik itu tampak memutih sempurna.

"Aku hanya berdiri di tempat yang ditinggalkannya."

Keheningan sejenak menyelimuti keduanya. Bibi Rosa tidak menyela segala ungkapan tersebut.

Seluruh orang di Mansion Salvadore sudah mengetahui siapa Aurora dan kenapa menjadi istri Rozen Salvadore. Begitu juga dengan keluarga besar Salvadore. Tidak heran jika Bibi Rosa dapat mengerti tentang perasaan gundah yang Aurora alami. Menikah hanya untuk menggantikan pengantin yang lari.

"Bibi, aku datang ke keluarga ini bukan karena dipilih," lanjut Aurora dengan suara yang semakin pelan.

Aurora menatap Bibi Rosa dengan sorot mata yang dipenuhi keraguan.

"Bagaimana mungkin aku merasa pantas disebut Nyonya Salvadore?"

Rosa tidak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu hanya menatap Aurora dengan penuh kelembutan, seolah memahami beban yang selama ini dipendam gadis muda itu seorang diri.

Baginya, Aurora memang datang sebagai pengantin pengganti. Namun semakin lama mengenalnya, Bibi Rosa justru merasa bahwa gadis berhati lembut itu memiliki tempatnya sendiri di rumah ini. Bukan sebagai bayangan Isabella, melainkan sebagai Aurora.

Hanya saja, Aurora sendiri belum mampu melihatnya.

"Semuanya memang terasa asing sekarang. Tetapi rumah tidak selalu dibangun hanya dalam sehari. Kadang seseorang membutuhkan waktu untuk merasa benar-benar menjadi bagian darinya," ucap Bibi Rosa lembut.

Aurora mengangkat wajahnya, merasakan ketulusan yang nyata tercipta di raut wajah kepala pelayan tersebut. Aurora tersentuh dan tersenyum setelahnya.

"Terima kasih, Bibi Rosa."

"Sama-sama, Nona Aurora."

Dan Bibi Rosa kemudian mengalihkan pandangannya ke arah taman yang dipenuhi bunga.

"Bagaimana kalau kita menghirup udara segar sebentar? Taman belakang sedang sangat cantik hari ini." Bibi Rosa mengalihkan pembicaraan. Tujuannya untuk membuat Aurora tidak lagi memikirkan tentang takdir unik yang sedang dijalaninya.

Aurora mengikuti arah pandang Bibi Rosa. Dan benar saja, hamparan bunga yang bergoyang tertiup angin sore seolah mengundangnya untuk segera mendekat.

"Sangat cantik. Aku ingin melihatnya lebih dekat."

"Kalau begitu, mari."

Keduanya kembali melangkah berdampingan menuju taman belakang mansion. Sedangkan matahari mulai condong ke arah barat.

Hamparan berbagai macam bunga bermekaran dengan indah di sana. Aroma bunga yang lembut berpadu dengan semilir angin sore, menghadirkan suasana damai yang membuat siapa pun sangat betah berlama-lama di sana.

Namun di tengah kekaguman yang sedang Aurora nikmati, Bibi Rosa mengambil gunting taman dan sebuah keranjang rotan.

"Maaf, Nona. Saya harus merapikan beberapa bunga yang mulai layu," ucap Bibi Rosa sambil mulai melakukan pekerjaannya.

Aurora memperhatikan bagaimana wanita paruh baya itu memotong tangkai-tangkai bunga dengan cekatan.

"Biar aku bantu, Bibi." Aurora hendak mengambil posisi dekat dengan Bibi Rosa, namun dihentikan oleh kepala pelayan keluarga Salvadore tersebut.

Rosa segera menggeleng. "Jangan, Nona. Tangan Anda tidak seharusnya digunakan untuk pekerjaan seperti ini."

Aurora tersenyum kecil. Tidak setuju dengan penilaian tersebut.

"Kenapa begitu?"

Bibi Rosa menatap Aurora lalu berkata, "Karena sekarang Anda adalah istri Tuan Rozen Salvadore. Para pelayan akan mengurus semuanya."

Aurora justru memilih berjongkok di samping hamparan bunga tanpa menghiraukan larangan Bibi Rosa.

"Lalu apa gunanya aku jika hanya berdiri melihat Bibi bekerja sendirian?" ungkap Aurora dengan lembut.

"Tapi... "

"Aku terbiasa membantu pekerjaan rumah sejak kecil," sanggah Aurora cepat.

Aurora mulai memungut daun-daun kering yang berserakan di atas rumput, lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Gerakannya terlihat luwes, seolah pekerjaan itu memang sudah akrab dengannya.

Rosa hanya bisa menghela napas sambil tersenyum geli. "Kalau Tuan Rozen melihat ini, beliau pasti akan menegur saya."

Aurora terkekeh singkat lalu menanggapi dengan santai. "Kalau begitu kita selesaikan sebelum beliau melihat."

Ucapan lepas Aurora itu membuat Rosa tertawa kecil.

Sejenak, suasana taman yang biasanya sunyi mendadak dipenuhi obrolan ringan dan sesekali tawa lepas mereka. Tidak ada yang menyadari bahwa kegiatan kecil di itu akan menjadi awal perubahan besar di Mansion Salvadore yang selama bertahun-tahun dipenuhi keheningan.

...***...

Tampaknya Aurora masih sangat bersemangat membantu Bibi Rosa menyelesaikan pekerjaannya. Seusai membersihkan taman belakang, kini mereka sedang menata bunga di ruang tamu.

"Saya mohon cukup, Nona. Anda tidak perlu melakukan ini." Bibi Rosa mulai dilanda kecemasan karena telah membiarkan majikannya, Nyonya Salvadore, menyentuh pekerjaannya.

"Tidak apa-apa. Aku justru senang." Namun ternyata Aurora sama sangat menikmatinya.

Sekarang Aurora dengan telaten mengganti air vas dan merapikan bunga-bunga segar. Dan tanpa Aurora sadari, Rozen baru saja tiba di sana. Entah sejak kapan pria itu meninggalkan ruang kerjanya.

Langkah kaki yang mantap menggema di lantai marmer, menarik perhatian beberapa pelayan yang seketika menundukkan kepala memberi hormat.

Rozen dengan setelan jas hitam yang masih tampak rapi, meski baru terlepas dari pekerjaannya. Potongan jas yang pas menegaskan postur tubuhnya yang tegap. Bahunya yang bidang dan posturnya yang tinggi membuat kehadirannya sulit diabaikan. Garis rahangnya tegas, sementara rambut hitamnya tertata rapi disisir ke belakang, mempertegas wajah tampan yang selalu dihiasi ekspresi dingin dan sulit ditebak.

Sorot mata kelabunya yang tajam bergerak menyapu ruangan dengan tenang, memancarkan wibawa seorang pria yang telah terbiasa memimpin dan mengambil keputusan tanpa keraguan. Kehadirannya tidak disertai suara keras atau sikap yang mengintimidasi, tetapi cukup untuk membuat suasana di sekitarnya berubah menjadi lebih hening.

Langkah Rozen sempat terhenti ketika pandangannya jatuh ke arah ruang tamu. Di sana Aurora sedang berbincang hangat dengan para pelayan di meja bundar yang dihiasi sebuah vas kristal besar.

Saat itu Rozan menyaksikan ketika Aurora menuangkan air segar ke dalam vas dengan hati-hati, sementara Bibi Rosa menyerahkan beberapa tangkai bunga lili dan mawar putih yang baru dipetik dari taman. Rozen juga mengamati cara Aurora memiringkan kepalanya ketika mengatur letak setiap bunga dengan penuh perhatian hingga rangkaian itu tampak seimbang menurutnya.

"Begini lebih cantik, ya, Bibi?" tanyanya lembut.

Bibi Rosa mengangguk sambil tersenyum. "Jauh lebih hidup. Nona Aurora pintar menatanya."

Aurora tersipu malu. Suara tawa kecilnya juga membuat suasana mansion yang biasanya sunyi terasa menjadi lebih hidup.

"Sejak kapan mansion ini menjadi seramai ini?" gumam Christon yang berdiri di belakang Rozen.

Rozen tidak menjawab. Namun tatapannya masih tertuju pada Aurora, memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya itu dalam diam.

Rozen mulai menyadari bahwa mansion-nya yang selama ini terasa sunyi perlahan dipenuhi perubahan-perubahan kecil sejak Aurora datang. Tidak ada kemewahan, tidak pula sikap seorang nyonya besar yang gemar memerintah. Aurora justru sibuk menikmati hal-hal sederhana dan memilih mengotori tangannya demi mengganti air bunga yang mungkin tidak akan diperhatikan oleh kebanyakan orang.

Tidak mencolok.

Namun cukup membuat hunian yang selama bertahun-tahun dipenuhi keheningan terasa sedikit lebih hangat.

Rozen tidak mengatakan apa pun. Ia hanya memandang beberapa detik lebih lama sebelum kembali melangkah, membawa satu pemikiran yang kembali terlintas di benaknya.

Mungkin mempertahankan pernikahan itu memang bukan keputusan yang salah.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!