Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Hitam di Balik Pintu Korporasi
Matahari baru saja naik sepenggalah ketika sebuah mobil sedan sport hitam berteknologi tinggi mendarat mulus di halaman parkir utama West Corporation. Reina Lunox, yang pagi itu diantar langsung oleh Jino karena ada urusan mengurus berkas kelulusan kampus di sekitar distrik bisnis, melangkah keluar dengan balutan jas blazer kasual yang elegan.
"Ingat, jangan pergi ke mana-mana sendirian setelah urusanmu selesai. Hubungi aku, dan aku akan menjemputmu di lobby lantai dasar," pesan Jino dengan nada mutlak, merapikan sedikit kerah jas Reina sebelum mereka berpisah di depan lift eksekutif.
Reina memutar bola matanya malas, meski ada senyuman geli di bibirnya. "Iya, Tuan Sombong. Aku bukan anak TK lagi yang bisa tersesat di gedung pencakar langit," balas Reina mengejek.
Jino mengecup sekilas puncak kepala Reina sebelum membiarkan gadis itu pergi menuju lantai administrasi. Namun, pria itu tidak tahu bahwa di sudut lain tempat parkir basement, sepasang mata tajam sedang mengawasi interaksi manis mereka dari dalam mobil mewah bergelap kaca.
Orang itu adalah Nathaniel Vance—bukan, ia bukan kerabat dekat Elena, melainkan pewaris tunggal dari Arcturus Group, korporasi multinasional raksasa yang selama ini menjadi musuh bebuyutan West Corporation dalam memperebutkan proyek tender properti terbesar tahun ini. Nathaniel dikenal sebagai pria muda yang ambisius, dingin, kaya raya, dan tidak pernah suka melihat Jino West memenangkan apa pun di dunia bisnis.
Dan begitu Nathaniel melihat rekaman intelijen tentang gadis desa yang berhasil melumpuhkan hati sang Ice Prince dunia bisnis, sebuah rencana licik langsung terlintas di kepalanya. Jika aku tidak bisa meruntuhkan kerajaan bisnis Jino West... aku akan merampas harta paling berharganya, batin Nathaniel menyeringai sinis.
Dua jam kemudian, Reina telah selesai mengurus seluruh berkas kampusnya di lantai tiga gedung administrasi terpadu. Ia berjalan seorang diri menuju kafe lantai dasar untuk menunggu jemputan Jino.
Saat ia sedang memesan secangkir iced caramel macchiato di konter, seorang pria berjas tailored-fit berwarna navy dengan potongan rambut klimis dan senyuman menawan tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Pilihan minuman yang bagus. Tapi kurasa, caramel macchiato akan jauh lebih nikmat jika dinikmati di lantai eksekutif sambil melihat pemandangan kota, Nona Reina Lunox," sapa pria itu dengan nada suara yang terdengar ramah, namun menyiratkan kesan manipulatif yang kental.
Reina menoleh. Ia mengerutkan keningnya, menatap pria asing di hadapannya dengan sorot mata waspada. "Maaf, Anda siapa? Dan bagaimana Anda tahu nama saya?"
Pria itu mengulurkan tangan kanannya dengan senyuman lebar. "Ah, perkenalkan. Aku Nathaniel Arcturus. Pesaing bisnis calon suamimu tercinta, sekaligus seseorang yang sangat penasaran dengan wanita hebat yang berhasil membuat seorang Jino West bertekuk lutut."
Reina tidak menyambut uluran tangan itu. Ia melangkah mundur selangkah, menatap Nathaniel dengan sorot mata tidak suka. "Aku tidak tertarik berkenalan dengan orang asing. Dan urusanku dengan Jino bukan urusanmu."
Alih-alih tersinggung, tawa kecil justru meluncur dari bibir Nathaniel. Ia mendekatkan wajahnya sedikit, berbicara dengan nada berbisik yang disengaja agar terdengar menantang. "Kau wanita yang menarik, Reina. Pantas saja Jino menjagamu begitu ketat. Tapi sayangnya... pria sehebat Jino tidak akan pernah bisa melindungimu dari dunia bisnis yang kejam. Bagaimana kalau suatu saat nanti, kau bosan hidup di dalam sangkar emasnya dan memilih pria yang jauh lebih menghargaimu?"
Sebelum Reina sempat membalas ucapan lancang itu dengan makian pedas, sebuah cengkeraman tangan yang sangat kuat mendadak mencengkeram kerah jas Nathaniel dari belakang, lalu menarik tubuh pria itu hingga berputar kasar dan tersungkur membentur pilar marmer kafe.
Brak!
Suasana kafe mendadak gempar. Para pengunjung langsung berhamburan menjauh, sementara Reina membelalak kaget melihat siapa yang baru saja datang.
Jino West berdiri di sana. Wajah tampannya mengeras sempurna, rahangnya terkatup rapat, dan manik mata kelamnya memancarkan amarah mendarah daging yang siap membakar apa saja di hadapannya. Aura membunuh yang mematikan menguar pekat dari tubuh sang Tuan Muda.
"Nathaniel Arcturus," geram Jino dengan suara rendah yang menggelegar penuh ancaman, melangkah mendekati pria yang masih tersungkur di lantai. "Jika kau berani mendekati atau bernapas di sekitar wanita milikku lagi... aku pastikan perusahaan keluargamu lenyap dari muka bumi sebelum matahari terbit besok pagi."
Nathaniel menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah, lalu tersenyum miring, menatap Jino dengan sorot mata menantang. "Wah, wah... sang Ice Prince ternyata bisa semarah ini karena seorang gadis desa. Permainan baru saja dimulai, Jino!"
Jino tidak membuang waktu untuk berdebat. Dengan gerakan cepat, ia menarik tangan Reina, membawa gadis itu keluar dari kafe menuju mobilnya, meninggalkan Nathaniel yang masih menyeringai penuh kemenangan di lantai.
Di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan area gedung, suasana terasa begitu senyap dan tegang. Jino mencengkeram setir mobilnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Reina melirik ke arah calon suaminya yang sedang dikuasai kecemburuan dan amarah luar biasa. Dengan perlahan, Reina mengulurkan tangannya, menyentuh lembut jemari Jino yang mencengkeram setir.
"Jino..." panggil Reina lembut.
Jino menoleh sekilas, manik matanya yang masih menyala amarah perlahan melunak saat bersobek pandang dengan manik mata cokelat Reina. Pria itu menghentikan mobilnya di tepi jalan raya yang sepi, lalu langsung merengkuh tubuh Reina ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu dengan napas berat.
"Jangan pernah biarkan bajingan itu mendekatimu lagi, Reina," bisik Jino parau, penuh posesif yang teramat dalam. "Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sesuatu terjadi padamu."
Reina tersenyum tipis, membalas pelukan erat itu dengan penuh ketulusan. Tuh kan, bener dugaan kita... Jino kalau cemburu ternyata serem juga, tapi tetep bucin! batin Reina gemas.